Hilang

Hilang
Bab 41 : Kesal



Setelah pesta selesai, Juna dan Zara pulang ke rumahnya. Sedari setelah berpesta, Zara seolah tersenyum sumringah. Dia sudah menyusun rencana ingin pergi dari kehidupan Juna.


"Sayang?"


"Ya?"


"Kenapa kok senyum-senyum sendiri?" tanya Juna.


Zara menggelengkan kepala, ia tidak mungkin memberitahu yang sebenarnya. Dia berharap rencananya akan berhasil setelah itu ia memutuskan untuk pergi ke luar negeri.


Juna tersenyum melihat senyum tergambar di wajah Zara.


Setelah sampai rumah. Zara dan Juna segera masuk lalu berganti pakaian.


Juna berjalan mendekati Zara untuk membantu melepaskan gaun Zara. Tidak hanya itu saja, Juna terlihat mencium punggung Zara dengan penuh sensasional.


"Apaan sih honey?" tanya Zara kegelian.


"Sudah beberapa hari kita tidak melakukannya. Aku ingin melakukannya sayang"


Zara menghadap Juna, wajah tampan Juna membuat Zara luluh dengan sendirinya.


Gadis cantik itu langsung mengecup pipi Juna dan menarik untuk segera ke ranjang.


Zara menindih badan Juna, ia memberikan kecupan mesra di tengkuk leher sang suami. Juna merasa keenakan, tangannya asyik menggerayangi lekuk tubuh istrinya.


"Muah... muah... muah... muah..."


Juna merasa keenakan sampai ke ubun-ubun. Dia menahan desahannya. Gelora nafsunya menggebu-gebu dan nampak batangnya sudah mengeras.


"Zara, langsung mulai saja sayang," ucap Juna.


Zara menganggukan kepala. Juna segera melepas jasnya lalu melepaskan rudalnya dan dihantamkan pada milik istrinya.


"Akh...," teriak kecil Zara.


Juna tersenyum, ia lalu melakukan apa yang harus dilakukan. Zara terlihat keenakan sampai ia merem*s sprei di ranjangnya. Juna terus saja memompa tanpa berhenti membuat Zara menggigit bibirnya kuat.


"Emmmhh.. ehhmmm..."


"Jangan menggigit bibir sayang nanti robek," ucap Juna sambil mengelus wajah Zara.


"Enak banget honey. Honey memang udah pengalaman banget ya"


Juna tersenyum kecut dan malu karena ia memang pria brengsek yang sering merasakan surga dunia milik beberapa wanita. Tetapi setelah ia menikah dengan Zara, ia berjanji tidak akan melakukan itu lagi selain bersama Zara.


Juna lalu ******* bibir Zara dengan lembut, mereka memainkan lidah satu sama lain. Jantung Zara berdegup kencang ketika mendapat perlakuan menyenangkan dari sang suami.


"Eeehhmmm... Emmmm..."


Nafas mereka terengah-engah sampai mereka kehabisan nafas lalu melepaskan ciumannya.


"Honey... terus honey... enak banget"


"Iya sayang"


Juna mempercepat laju gerakannya membuat Zara semakin mendesah. Sampai lima menit kemudian Juna benar-benar keluar. Juna mengerang dan menyemprotkan cairan itu lalu berbaring kelelahan disamping Zara.


"Hah... hah... hah... seperti habis lomba maraton," ucap Juna.


Zara mencubit hidung Juna, ia lalu memeluk lengan sang suami.


Juna mengelus perut Zara, permainannya tadi tidak mungkin sampai melukai bayi kembarnya.


Hawa kamar terasa panas sampai suhu AC terdinginpun tidak mampu mendinginkan kamar mereka. Juna merasa bahagia ketika Zara mulai patuh kepadanya.


"Besok aku mulai berangkat bekerja sayang. Sayang lebih baik pulang ke rumah mamamu dan sepulang kerja aku akan menjemputmu," ucap Juna.


"Gak usah, Zara mau disini aja"


"Tidak papa dirumah sendirian?"


"Gapapa honey"


Juna berdiri lalu membersihkan area milik Zara dengan tisu basah lalu juga mengelap miliknya sampai benar-benar bersih. Setelah itu mereka memakai baju masing-masing.


Mereka langsung terkapar tidur karena sudah sangat kelelahan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya,


Juna lebih bangun terlebih dahulu. Dia ke kamar mandi lalu mencuci wajahnya.


Dia menatap cermin dan tersenyum betapa beruntungnya ia mendapatkan Zara.


Juna meraih pasta gigi dan menyikat giginya sambil tersenyum sendiri.


Zara, aku sungguh mencintaimu.


Setelah menggosok gigi, ia menuju ke dapur untuk membuatkan sarapan Zara.


Tetapi keegoisan Zara merusak semuanya, Zara belum tersadar walaupun Juna sudah menunjukan jika ia sangat menyayangi Zara.


Juna melirik kamar, Zara masih tertidur pulas. Terlihat wajah imut Zara saat tidur mengingatkannya saat Zara masih kecil sering di gendong olehnya.


Saat itu Juna sedang memeriksa Zara kecil yang sedang demam. Juna begitu sangat gemas dengan wajah yang sudah dianggap keponakannya itu.


"Zara, kakak suntik ya?" ucap Juna.


"Enggak mau. Mama... Zara gak mau suntik," teriak Zara kecil.


Juna tersenyum lalu menggendong Zara kecil, ia meminta izin kepada mama Zara untuk mengajak Zara jalan-jalan ditaman supaya bisa membujuk Zara untuk mau di suntik.


Zara mau di gendong Juna karena ia merasa di gendong papanya sendiri. Juna memegang kening Zara yang panas lalu mengusap kepala Zara.


"Zara, sakit itu tidak enak. Kau harus disuntik"


"Zara gak mau"


"Kenapa?" tanya Juna.


"Sakit, kak"


"Jika tidak mau maka kakak tidak mau mengajak Zara ke pantai jika sudah sembuh. Kakak mau pergi ke pantai bersama Sera dan Kak Sean," ucap Juna.


Zara melotot menatap Juna. Juna tersenyum kearah Zara.


Gadis kecil itu memukul bahu Juna.


"Kakak kok gitu? Zara ingin ikut ke pantai," rengek Zara.


"Jika ingin ikut ke pantai kau harus mau di suntik," ucap Juna senang.


"Iya Zara mau di suntik. Tapi janji ya harus ajak Zara ke pantai"


"Iya Zara imut, nanti kita ke pantai bersama-sama ya?" jawab Juna.


Flashback selesai.


Juna mencium bau gosong, ia lupa jika sedang menggoreng ikan. Dia berlari kearah wajan dan terlihat ikan sudah gosong sebagian.


Hahaha... teringat Zara imut membuatku lupa jika sedang menggoreng ikan.


"Honey?" ucap Zara.


Gadis manis itu baru terbangun dan mencium aroma gosong. Dia mengucek matanya yang masih belum tersadar sempurna.


"Morning sayang," ucap Juna sambil mengecup kening Zara.


"Kok bau gosong?"


"Honey goreng ikan tapi gosong"


"Tumben gosong?" tanya Zara.


"Honey asyik mikirin kau sayang," jawab Juna sambil memeluk Zara.


Hueeeeeek...


Zara langsung mual, ia berlari menuju kloset. Juna dengan sabar menepuk punggung sang istri.


Hueeeeek...


"Zara gak betah mual terus," rengek Zara.


"Sabar sayang. Ini wajar untuk ibu hamil seperti Zara"


Zara berdiri lalu dibantu berjalan oleh Juna. Juna mendudukannya di depan meja makan. Dia dengan sigap memberinya minum tetapi Zara menepisnya membuat gelas itu jatuh lalu pecah dilantai.


"Honey selalu bilang sabar, sabar dan sabar! Zara tersiksa seperti ini terus. Honey enak hanya merasa puas setiap malam tetapi Zara yang menanggung gak enaknya," bentak Zara dengan emosi.


"Maaf jika honey egois. Honey gak bisa menanggung rasa tidak enakmu selama kau hamil. Honey minta maaf," ucap Juna.


Zara langsung berlari ke kamar. Dia menangis kesal karena penderitaannya selama ini. Badannya terasa nyeri, mual parah di setiap pagi, jiwanya belum siap merasakan itu semua di umur nya yang hampir 18 tahun ini.


Zara memeluk guling, ia menumpahkan seluruh tangisannya sedangkan Juna memperhatikannya seolah merasa bersalah.


"Zara, honey harus bagaimana? Honey minta maaf. Jangan membuat honey bingung!" ucap Juna.


"Pergi! Pergi! Sana pergi kerja! Aku gak mau melihat honey," teriak Zara.


Juna mendekati Zara, ia sangat wajar jika istrinya begitu. Dia mengusap air mata Zara.


"Honey akan berangkat bekerja setelah ini. Tapi janji ya jika Zara harus minum susu hamil dan makan sarapan yang honey sudah buatkan?"


Zara tidak menjawab. Juna menghela nafas, ia membiarkan Zara sendirian lalu menuju ke kamar mandi untuk mandi. Juna terus termenung. Sifat Zara menang tidak mudah untuk ditebak.


Jiwa Zara sedang tergoncang. Aku harus memakluminya.