
Dokter Juna mengobati lukanya sendiri di apartemen dan ia juga sudah mendapat surat pemutusan hubungan kerja dari pihak rumah sakit. Dia tidak heran jika berhubungan dengan sang tuan akan secepat itu.
Aku tidak mungkin meminta bantuan Sean. Aku tidak ingin menjadi pria lemah.
Tok... tok... tok...
Dokter Juna mendengar suara pintu diketuk, setelah selesai memperban lukanya ia membuka pintu dan terkejut melihat dua pria berjas rapi sambil menenteng sebuah dokumen ditangannya.
"Kami suruhan Tuan Askar hanya ingin menyuruh anda untuk segera meninggalkan apartemen ini sekarang juga!"
"Aku akan pergi. Aku akan mengemasi pakaianku," ucap Dokter Juna telah menduganya.
Apartemen yang di tempati Dokter Juna memang fasilitas yang di dapatkannya ketika menjadi dokter pribadi Sean dan rumahnya kini sudah diberikan kepada Anita setelah perceraian itu karena Anita meminta harta gono-gini.
Dokter Juna mengambil koper besar, ia mengemasi baju dan barang-barangnya.
Terlihat dua orang berjas tadi masih berdiri diam di depan pintu tanpa ekspresi.
Setelah mengemas barangnya, Dokter Juna mulai menarik kopernya lalu berjalan keluar melewati dua orang tadi.
Dokter Juna langsung menelpon Asisten Kim untuk bisa tinggal sementara di apartemennya.
"Anda bisa langsung masuk, Dok. Di kulkas juga ada makanan dan saya mungkin pulang agak terlambat," ucap Asisten Kim melalui telpon.
"Terima kasih Kim. Kau memang teman yang baik"
Dokter Juna langsung menuju ke apartemen Kim menggunakan mobilnya. Dia memilih menginap di tempat Kim karena ingin menghemat uangnya untuk pernikahannya dengan Zara jika sudah direstui.
Dering ponsel berbunyi ternyata dari Zara, ia segera mengangkatnya sambil menyetir mobil.
"Zara sayang kau tidak apa-apa?" tanya Dokter Juna.
"Aku tidak papa honey. Lukamu sudah diobati?
"Sudah sayang. Jangan khawatir!"
"Honey, bagaimana jika kita melarikan diri ke luar negeri saja? Kita bisa hidup disana"
"Jangan sayang! Aku akan segera merebut hati Tuan Askar. Kau jaga kehamilanmu saja dan jangan terlalu banyak pikiran!"
"Baik Honey. I love you"
"Love you too sayang"
Setelah Dokter Juna menutup telpon, ia melajukan mobilnya dengan kencang menuju apartemen Kim. Dia hanya menaruh kopernya saja setelah itu ia kembali ke rumah sakit untuk mengambil barang-barangnya.
Ketika masuk ke rumah sakit, para pegawai disana meliriknya sinis. Tetapi Dokter Juna cuek karena tidak ada urusannya dengan mereka.
Dia masuk keruangannya lalu terkejut semua barang-barangnya sudah dimasukan kardus dan melihat Dokter Alan menata barang-barangnya sendiri.
"Aku turut berduka cita Juna atas pemecatanmu secara tidak hormat dan kau juga sudah di blacklist seluruh rumah sakit di negeri ini," ucap Dokter Alan mengejek.
Dokter Juna tidak menggubris ucapan Dokter Alan, ia segera mengambil kardus yang berisi barangnya lalu berjalan keluar.
"Tunggu Juna! Kembalilah kepada Anita! Dia sangat mencintaimu, kau mendambakan anak darinya 'kan? Dia sudah membuatkannya untukmu," ucap Dokter Alan menghentikan langkah Dokter Juna.
"Membuatnya saja tidak denganku, kenapa aku harus ikut tanggung jawab? Ada lebih penting lagi darinya yaitu istri dan bayi kembarku sekarang yang membutuhkan perlindunganku," jawab Dokter Juna dengan wajah datar.
Dokter Juna lalu berjalan keluar membawa semua barangnya masuk mobil. Dia bingung setelah ini harus melakukan apa, yang ada di pikirannya sekarang adalah meminta bantuan Sean. Tetapi ia cukup gengsi meminta bantuan dari Sean.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Panjang umur. Ternyata Sean yang menelponnya.
Dokter Juna segera mengangkatnya.
"Hallo, Sean?"
"Untuk apa?"
"Ini tentangmu dan Zara"
"Baiklah, aku akan kesana"
Dokter Juna melajukan mobilnya menuju kantor Sean. Dia menduga Sean sudah tahu masalahnya. Dia berharap Sean bisa membantunya.
Sesampainya di kantor milik Sean.
Dokter Juna masuk ke ruangan Sean, ia melihat Sean sedang bersantai diskusi termahalnya. Sean melirik Dokter Juna lalu menyuruhnya untuk mendekat.
"Ada apa, Sean?"
"Pijat punggungku!" pinta Sean sambil menepuk bahunya sendiri dua kali.
"Kau menyuruhku datang hanya untuk memijat punggungmu? Aku seorang dokter bukan tukang pijat, lagipula aku sudah dipecat menjadi dokter pribadimu," jawab Dokter Juna protes.
Sean menguap mendengar ucapan Dokter Juna, dia lalu berdiri dari kursinya dan mendekati Dokter Juna.
"Aku tidak pernah memecatmu. Memang siapa yang membayarmu saat ini? Kakek tua itu atau aku? Kau masih bekerja untukku dan kau tidak usah hiraukan celotehan kakek itu, aku akan membantumu mendapatkan pekerjaanmu lagi dan membawa Zara untukmu," ucap Sean sangat berwibawa.
"Keren sekali kau, Sean"
"Aku memang keren. Kau baru sadar?"
Pede sekali Sean. Batin Dokter Juna.
Sean lalu memanggil Asisten Kim untuk menyiapkan mobil dan mereka segera berangkat kerumahnya untuk menemui sang kakek.
Di dalam mobil milik Sean, Dokter Juna seakan takut jika Sean ikut terlibat maka Sean akan terkena imbasnya.
"Jangan khawatir, Juna! Kakek tua itu tidak akan berani melawanku apalagi sebagian saham sudah atas namaku. Berani menentangku berarti dia menyiapkan kuburannya sendiri," ucap Sean.
"Aku percaya padamu, Sean. Terima kasih telah membantuku. Tapi kau harus melindungi Mauren juga, aku takut dia akan disakiti oleh kakekmu"
"Tidak akan kubiarkan seorang pun menyakiti Orenku. Kim? Mulai sekarang kau harus temani Oren jika ia bepergian diluar. Hajar orang itu jika menyakiti Orenku!" ucap Sean.
"Baik, Tuan"
Sedangkan di rumah Sean.
Terlihat Zara sedang mengobrol dengan sang kakek. Dia memohon untuk merestui pernikahannya, ia juga meyakinkan jika Dokter Juna baik dan sudah bertanggung jawab.
Sang kakek sedari tadi hanya memainkan ponselnya tanpa memperdulikan celotehan Zara.
"Plis Kek. Om Juna itu baik. Zara juga suka sama Om Juna. Nih diperut Zara ada dua cicit kakek. Ihh... kakek ini jahat banget," ucap Zara.
"Jangan-jangan kau tidak diperkosa melainkan kalian memang sengaja berzina?" tanya kakek.
"Pertamanya sih diperkosa kek tapi lama-lama enak kek. Zara sampe nambah setelah menikah," jawab Zara memang sengaja.
"Benarkah, Zara?" tanya Sera penasaran.
"Jika gak percaya coba sendiri aja! Tapi setelah menikah saja Sera," jawab Zara.
Sang kakek hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar obrolan sang cucu.
Dia lalu fokus dengan ponselnya lagi memandangi foto-foto gadisnya.
Zara mengintip, ia mengelus dada melihat kelakuan sang kakek.
Kakek lebih parah. Cih! Munafik.