Hilang

Hilang
Bab 30 : Kemarahan.



"Selamat datang Ayah, Ayah pasti lelah," ucap Mama Sean.


Kakek Askar baru datang dari luar negeri, ia nampak masih segar bugar seperti anak muda. Bagaimana tidak? Hidupnya yang seorang sultan membuatnya selalu bahagia walau di hari tua.


"Sepi sekali rumah ini. Dimana cucu kembarku?" tanya Kakek Askar sambil duduk sofa yang sangat nyaman.


Mama Zara terdiam, ia bingung harus menjawab apa sedangkan Mama Sean lah yang menjawab.


"Sera sedang sekolah, sebentar lagi pulang dan Zara..."


"Dimana Zara?" tanya kakek sambil meraih ponsel yang berada di sakunya.


"Kakek... I miss you," ucap Zara tiba-tiba datang bersama Dokter Juna.


Zara memeluk sang kakek, ia begitu rindu dengan cucu perempuannya.


Zara melepas pelukannya lalu duduk disebelah kakek.


"Duduklah Juna!" ucap Mama Zara.


Dokter Juna duduk di seberang kakek Askar. Kakek Askar masih menatapnya dengan biasa. Suasana menjadi tegang termasuk Dokter Juna, badannya menjadi dingin karena takut dan khawatir jika sang tuan akan marah besar kepadanya.


"Ada apa kau kemari, Juna?" tanya Kakek Askar.


"Maafkan saya Tuan Askar"


Kakek Askar menyeruput kopinya. Kata maaf adalah kata yang tidak boleh tersebut didepannya. Kata maaf adalah kata terpantang dari Kakek Askar karena dibalik kata maaf pasti ada suatu kesalahan.


Praaaang.... Duaaaaak...


Segelas cangkir kopi tepat mengenai kepala Dokter Juna, darah segar seketika mengalir membasahi kening lalu turun ke hidung dan bibir.


Semua orang terkejut termasuk Zara, ia berteriak histeris lalu mendekati suaminya yang sudah berdarah-darah.


"Honey... kau tidak apa-apa honey? Kenapa kakek begitu?" ucap Zara sambil mengelap darah yang mengalir di kepala sang suami.


"Pengkhianat! Dasar pengkhianat! Ambil semua pakaianmu lalu pergi dari kehidupan cucuku! Mulai sekarang kau ku pecat menjadi pimpinan rumah sakit Young Group dan berhentilah menjadi dokter pribadi Sean. Dasar tidak tau terima kasih! Bisa-bisanya kau memperkosa cucuku," ucap Kakek Askar sangat marah.


Semua semua orang terkejut, mereka tidak menyangka jika Kakek Askar sudah tahu. Sedangkan Mama Zara menenangkan sang ayah.


"Aku tidak sudi menganggap jika yang dikandung Zara adalah cicitku karena buah hasil perzinaan. Pergi kau! Jangan pernah temui Zara lagi! Ajudan?"


"Iya, Tuan?"


"Bawa Zara ke kamarnya!"


Zara di seret paksa oleh ajudan Kakek Askar, sedangkan Kakek Askar berjalan meninggalkan ruangan itu.


"Honey... jemput aku honey! Bawa aku bersamamu lagi," ucap Zara.


"Aku pasti akan datang lagi sayang. Tunggulah aku!"


Dokter Juna berdiri lalu Mama Zara menepuk bahunya.


"Kau bisa pulang dulu! Pikirkan cara supaya ayahku memaafkanmu. Jangan khawatir aku juga akan membujuk ayahku!" ucap Mama Zara.


Dokter Juna menganggukan kepala, kepalanya pun kian merasa pusing karena sudah banyak mengeluarkan darah. Dia pulang tanpa Zara, ia bingung harus melakukan apa.


Aku tidak masalah kehilangan pekerjaanku tetapi aku takut lebih kehilangan Zara.


Dokter Juna berjalan lemas melewati halaman rumah konglomerat itu. Tetapi ia bertemu Sera yang terlihat pulang dari sekolah.


Sera terkejut melihat Dokter Juna berjalan lesu dan berdarah-darah.


"Paman? Paman tidak apa-apa?"


"Sera, bisakah kau sampaikan kepada Zara jika aku akan segera menjemputnya?"


"Zara ada di dalam?"


Dokter Juna menganggukan kepalanya.


"Apakah Paman terluka gara-gara kakekku?" tanya Sera.


"Satu yang harus selalu kau ingat Sera! Kau tidak boleh menyukai Kim jika kau tidak ingin Kim terluka sepertiku," ucap Dokter Juna tersenyum sambil berjalan melewati Sera.