Hilang

Hilang
Bab 22 : Sandiwara Zara



"Honey, Zara mau pulang. Zara gak betah disini. Bau obat, Zara gak suka," rengek Zara kepada Dokter Juna.


Dokter Juna mendekatkan diri ke wajah Zara membuat Zara merona, ia lalu mencubit pipi Zara.


"Ku bolehkan pulang tapi janji jika dirumah Sayang harus minum vitamin dan susu hamil?"


Zara mendengus mendengar ucapan Dokter Juna. Dia mengerucutkan bibirnya membuat Dokter Juna semakin gemas.


"Iya, Honey. Zara mau minum itu, tapi Zara mau pulang sekarang"


"Baiklah. Biarku urus administrasinya dulu, Sayang tunggu disini!"


Zara tersenyum lalu Dokter Juna mengecup pipi Zara dan setelah itu keluar meninggalkan Zara sendirian di ruangan VIP.


Saat itu juga Zara menjambak rambutnya sendiri karena menyesal telah bersandiwara menerima Dokter Juna.


"Honey, honey.. iiishhh jijik banget aku manggil Om Juna begitu. Tapi gak apalah yang penting Om Juna gak curiga jika aku mau berpacaran dengan Kak Reno. Asyik... Bebeb Reno I Love you.. Tunggu dulu! Aku harus segera menggugurkan bayi ini sebelum Kak Reno tahu jika aku sedang hamil," ucap Zara sambil memeluk bantal.


Tiba-tiba Dokter Juna datang membuat Zara terkejut setengah mati. Apakah pria itu mendengar ucapan Zara atau tidak?


"Eh busyet Om Juna ngagetin Zara aja. Eh... maaf, maksudku Honey ngagetin Zara aja," ucap Zara keseleo.


Dokter Juna tersenyum, ia mengacak gemas rambut Zara dan suster masuk di ruangan itu untuk melepas infus yang masih terpasang di pergelangan tangan Zara.


Zara memperhatikan suster yang sedang melepas infusnya sampai ia terkejut melihat jarum tipis dan kecil keluar dari pergelangan tangannya.


"Uaaaaaa... Mama.... itu jarum sedari tadi ada di dalem tangan Zara, Honey? Uaaaaa... Zara takut Om... eeh.. Honey... uaaaa...," teriak Zara sambil menangis histeris.


"Zara sayang, diam dulu! Jangan bergerak nanti jarum itu melukai tanganmu!" ucap Dokter Juna menenangkan Zara yang tidak bisa diam.


Zara semakin ketakutan ketika melihat darah segar keluar dari bekas infus itu. Badannya semakin gemetar dan langsung refleks menggigit paha Dokter Juna dengan sangat kuat hingga pria itu


berteriak kesakitan.


"Lepaskan sayang! Aaaaaaww..."


Sang suster panik, ia segera mengelap darah itu lalu menenangkan Zara yang semakin kuat menggigit paha Dokter Juna. Dokter Juna menahan rasa sakit itu, ia tidak ingin menyakiti Zara.


"Nona Zara, infusnya sudah terlepas, anda tidak perlu takut lagi," ucap Suster.


Zara melepas gigitannya, nampak Dokter Juna mengelus pahanya yang teramat sakit karena digigit Zara.


Zara lalu memukul-mukul dada Dokter Juna karena saking kesalnya.


"Aw... aw... aw... kenapa Zara? aw.. aw... hentikan Sayang!"


"Honey jahat! Aku takut sama jarum"


"Sejak kapan kau takut jarum sayang? Bukannya kakakmu yang takut jarum?"


"Aku mau pulang... aku mau pulang... pulang!" rengek Zara seperti anak kecil.


Dokter Juna menganggukan kepala, ia membantu Zara untuk berdiri lalu memapahnya keluar dari ruangan itu.


Dokter Juna begitu perhatian dengan Zara tetapi Zara malah menikungnya dan mengkhianatinya.


Sesampainya di mobil, mereka segera masuk dan Dokter Juna melajukan mobilnya menuju apartemen.


Dalam perjalanan, Zara fokus membalas pesan dari Reno. Sesekali dia melirik Dokter Juna supaya pria itu tidak curiga.


Kak Reno


Malam ini bisa bertemu?


Zara


Bisa Kak. Mau ketemu dimana?


Kak Reno


Di hatimu


"Aaaah... so sweet," ucap Zara refleks membuat Dokter Juna meliriknya.


"Kenapa sayang?" tanya Dokter Juna.


"Ah... tidak papa, Honey. Nih si Seratun dapet bunga dan coklat dari pacarnya"


Dokter Juna tersenyum lalu berpikir jika Zara juga suka dengan hal romantis.


Dia lalu akan membuat pesta kejutan untuk Zara yang romantis dan pasti Zara akan senang.


Zara


Love you, Kak Reno.


Kak Reno


Love you too, Zara


"Aaaaaaaaaah...," teriak Zara senang sambil menjejak-jejakan kakinya.


"Honey, aku ingin makan daging," ucap Zara sambil tersenyum lebar.


"Baik sayang"


Dokter Juna lalu melajukan mobilnya menuju ke restoran Jepang yang menyediakan membakar daging sendiri supaya Zara puas.


Dalam perjalanan, Zara selalu terfokus dengan ponselnya sambil tertawa sendiri membuat Dokter Juna risih.


"Sayang, bisakah ponselmu kau simpan dulu?"


"Kenapa, Honey? Suka-suka Zara dong"


Dokter Juna terdiam, ia tidak ingin berdebat dengan Zara. Dia menghela nafas panjang dan tidak ingin terlalu egois.


Aku hanya takut dia berselingkuh.


Tetapi apa aku yang terlalu curiga dan posesif setelah dia mengakui cintanya kepadaku? Ya, benar. Aku terlalu takut kehilangan Zara.


Setelah sampai di restoran Jepang.


Mereka segera memesan 2 porsi daging yang siap di bakar. Terlihat Zara sangat antusias melihat daging-daging segar itu, Dokter Juna langsung membakarkannya.


"Oh ya Honey, Honey tidak canggung dengan Mamaku? 'Kan kalian pernah menjalin hubungan?" tanya Zara.


"Sudah Sayang, tidak usah dibahas. Hubungan kami tidak sedekat itu, kau hanya salah paham"


"Salah paham bagaimana? Kalian 'kan pernah ke hotel bareng"


Dokter Juna menatap kesal Zara, Zara terlihat ketakutan. Dia memalingkan wajah lalu Dokter Juna menghela nafas.


"Kalian salah paham sayang, waktu itu kami ke hotel karena ada seminar dan kebetulan aku bertemu Mamamu"


"Yaudah, tapi gak usah marah juga. Zara 'kan hanya tanya," jawab Zara cemberut.


"Maaf sayang, aku tidak marah. Maafkan aku ya sudah membuatmu takut"


Zara tersenyum lalu Dokter Juna mencubit hidung Zara. Dia lalu mengambilkan daging yang sudah matang di piring Zara.


Gadis itu melahapnya, ia sangat menyukai daging itu.


Melihatmu makan dengan lahap pun sudah membuatku senang, Zara.


I love you istri kecilku.


"Oh ya Honey, masih bisakah aku bertumbuh tinggi? Tubuhku pendek banget 'kan, Honey?" tanya Zara.


"Diusiamu kini kau masih bisa bertumbuh tinggi. Tapi kenapa tanya hal itu? Segini saja kau sudah sangat imut"


"Aku malu jika berjalan denganmu, Honey. Kau sangat tinggi sedangkan aku pendek"


Padahal aku malu jika berjalan dengan Kak Reno, dia tinggi banget sedangkan aku pendek. Batin Zara.


Dokter Juna tertawa, ia tidak menyangka jika Zara berpikir seperti itu.


Baginya, Zara sangat imut. Dia malah suka gadis berpostur pendek seperti Zara.


"Honey kok ketawa sih? Ngejek Zara, ya?"


"Tidak sayang, aku menyukaimu apa adanya. Tidak usah berpikir aneh-aneh tentang dirimu!" ucap Dokter Juna menghibur Zara.


Cih! Om mesum itu bisa berpikir seperti itu, beda lagi dengan Kak Reno, pasti dia tidak suka jika aku terlalu pendek untuknya.


Mereka melanjutkan makannya lagi sampai habis. Setelah itu mereka kembali ke apartemen dan dalam perjalan pulang terlihat Zara sibuk dengan ponselnya lagi.


Sampai ponsel Zara berdering tetapi ia ragu untuk mengangkatnya karena itu dari Reno.


Zara melirik Dokter Juna yang fokus menyetir mobilnya lalu Zara mematikan ponselnya.


"Kenapa tidak diangkat?" tanya Dokter Juna.


"Dari Mama, males banget," jawab Zara berbohong.


"Kenapa? Sepertinya kau tidak dekat dengan Mamamu?"


"Iya, Mama selalu memikirkan dirinya sendiri dan selalu sibuk bersama teman-temannya sampai melupakanku dan Sera"


"Zara, jangan berpikir begitu! Tidak ada orang tua yang tidak sayang kepada anaknya"


"Eh... ngomong-ngomong tentang orang tua. Orang tua Honey sebenarnya ada dimana?"