Hilang

Hilang
Bab 35 : Malam pertama?



Resepsi kedua dilakukan pada malam hari dan hanya mengundang petinggi perusahaan naungan Young Group yang jumlahnya tidak sedikit.


Mereka nampak berwibawa dan elegan menyalami sang pengantin yang kini menggunakan baju senada.


Senyum cerah terpancar dimimik wajah Dokter Juna dan Zara.


Zara melirik Dokter Juna yang menatap kearah depan, ia menggenggam tangannya sampai Dokter Juna menengoknya.


"Apa malam ini bisa dibilang malam pertama kita?" tanya Zara.


"Anggap saja seperti itu sayang, maafkan aku membuat malam pertama kita jadi hancur gara-gara aku memperkosamu"


Zara tersenyum, ia tidak mau memikirkan hal tersebut. Dia hanya ingin menatap masa depan.


Baginya mendapatkan suami seperti Dokter Juna adalah hal terindah baginya.


"Honey, aku lelah dan ngantuk nih," rengek Zara.


Wajar saja ia lelah karena sedari pagi ia harus menyalami ratusan bahkan hampir ribuan tamu.


Mengingat Zara sedang hamil muda, Dokter Juna menyuruh Zara kembali ke kamarnya saja mengingat acara tinggal 1 jam lagi.


"Honey tidak papa ku tinggal? Entar kalo udah selesai acaranya susulin Zara di kamar"


"Iya sayang"


Zara langsung ke kamarnya ditemani Sera. Acara pada malam hari itu memang diadakan dirumah sang kakek.


Sera nampak membantu Zara berjalan karena gaun Zara memang sangat berat dan Zara memakai sepatu berhak tinggi.


"Za, tidak bisakah kau tinggal di kota ini? Coba bujuk Paman Juna! Suruh dia bekerja dikota ini saja!"


"Om Juna 'kan hanya disuruh Kak Sean supaya mengelola rumah sakit di kota itu. Sebenernya aku juga kurang setuju sih pindah kota, entar ku bujuk kak Sean dulu deh"


Sera tersenyum, mereka lalu masuk ke kamar dan Zara segera melepas gaun dan sanggulnya yang dibantu Sera.


Sera juga terlihat membantu membersihkan make up Zara. Dia sangat senang jika saudari kembarnya sudah membuka hati untuk Dokter Juna.


"Temen-temen sekolah kita kok gak datang, Za?" tanya Sera.


"Aku undang beberapa saja kok"


"Oh pantesan. Tinggal kak Mauren nih yang kasian banget. Kak Sean kurang tegas, masak pernikahan hampir 4 bulan gak mau diungkapin ke publik. Jangan-jangan Kak Sean hanya manfaatin Kak Mauren saja?" ucap Sera heran.


"Menurut aku bener Kak Sean sih, secara gitu ya Kak Sean tuh primadona negeri ini. Jika mereka tau Kak Sean udah nikah pasti fansnya menghujat Kak Mauren. Kita doakan yang terbaik buat mereka dan semoga mereka cepat diberi momongan," jawab Zara bijak.


"Amin"


Tok... tok... tok...


Pintu kamar mereka diketuk lalu langsung terbuka yang ternyata Mama mereka berdua.


Sang Mama langsung memeluk Zara, ia tidak menyangka Zara akan secepat itu menikah dan harus berpisah dengan sang Mama.


Sera juga terlihat ikut memeluk mereka berdua. Tangis mereka pecah membuat suasana menjadi haru.


"Kalian cepat sekali besarnya, sepertinya Mama baru melahirkan kemarin tetapi kalian sudah hampir 17 tahun. Dan kau Zara, jodohmu datangnya cepat sekali. Tapi jangan pernah menyesalinya, Juna sangat baik dan ia akan membimbingmu," ucap Mama kepada Zara.


"Mama gak ada kata-kata untuk, Sera?" tanya Sera iri kepada saudari kembarnya.


Sang Mama tersenyum lalu menangkup wajah Sera. "Jadilah anak yang baik! Jangan bandel! Jangan berpacaran dulu!"


"Mah, Sera suka sama Asisten Kim. Jodohin Sera sama dia dong, Mah!"


Mama mengerutkan kening, ia menatap wajah Sera dengan heran. Mama lalu menggelengkan kepalanya seolah tidak setuju.


"Kenapa, Mah?"


Mama terdiam, ia tidak mau menjawab. Lantas ia mengalihkan pembicaraan dengan mengambil sebuah kalung berlian di sakunya lalu memasangkannya pada leher Zara.


"Hadiah pernikahanmu dari Mama, simpan baik-baik. Jangan di jual!" ucap Mama.


"Iya Mah, Zara bakal simpan dengan baik di pegadaian"


Sang Mama mencubit tangan Zara, ia merasa gemas dengan ucapan Zara tetapi Sera hanya memandang sang Mama dengan nanar, ia berjalan kearah pintu lalu keluar dengan sangat kesal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah pesta selesai, Dokter Juna mengajak Zara kembali ke hotel. Dia tidak sabar ingin main kuda-kudaan bersama sang istri. Ketika di dalam mobil Dokter Juna melirik Zara yang sudah terlelap.


Sepertinya Zara sudah sangat kelelahan karena acara hari ini.


Sampai Dokter Juna teringat jika Anita tidak datang ke pestanya.


Huh! Dia malah teringat kepada anaknya yang sedang dikandung Anita.


Dokter Juna meraih ponselnya, sambil menyetir ia menelpon seseorang untuk menyelidiki fakta tentang hasil tes DNA itu. Sepertinya memang janggal dan dia curiga jika hasilnya disabotase.


Setelah menelpon, ia fokus menyetir mobil lagi membelah jalan raya saat malam hari.


Setengah jam kemudian.


Dokter Juna menggendong Zara yang sudah terlelap masuk ke hotel. Dia mencium kening Zara dengan gemas membuat Zara terbangun dan langsung sadar jika ia di gendong sang suami.


"Honey?"


"Sudah, bobok lagi saja!"


Zara menggelengkan kepala, ia tersenyum kearah sang suami yang sangat tampan.


"Apa malam ini kita melakukannya?" tanya Zara.


"Sebenarnya tidak boleh terlalu sering sayang. Mengingat jika kau sedang hamil muda dan apalagi kembar"


Zara mengerucutkan bibir, ia sangat kecewa dengan Dokter Juna.


"Iya Zara sayang. Tapi pelan-pelan saja mainnya ya? Kau biasanya terlalu bersemangat, Zara"


Zara tersenyum lagi, ia mencium pipi Dokter Juna.


Setelah sampai kamar hotel, Dokter Juna membaringkan Zara diranjang dengan pelan. Dia mengelus rambut Zara, Zara tidak sabar, ia mencium bibir sang suami dengan penuh gairah.


Dokter Juna membalasnya lalu membuka baju milik sang istri dan mencumbunya tanpa ampun.