Hilang

Hilang
Bab 45 : Menangis



Pukul 6 pagi.


Zara terbangun dari tidurnya. Dia memandang langit-langit kamar. Semalaman dia tidak bisa tidur karena memikirkan suaminya. Sudah 2 minggu ia merenungi kesalahannya.


Aku kangen Om Juna.


Aku harus gimana?


Aku kok jahat banget


Sera yang sedang memakai sepatu melihat Zara. Dia tersenyum lalu melempar boneka ke wajah Zara.


"Isssh... apaan sih tun?" ucap Zara.


"Udah gih sana mandi. Dandan yang cantik, temuin Paman Juna di bandara!" ucap Sera.


Zara menghela nafas, ia menarik selimut sampai ke kepalanya. Sera terus saja mengejeknya karena saudari kembarnya begitu munafik akan perasaannya.


"Aku mau berangkat sekolah dulu, ya? Jangan lupa jam 8 samperin Paman Juna di bandara," ucap Sera.


Setelah Sera keluar dari kamar, Zara terduduk di ranjangnya. Dia melihat ponselnya berdering dari suaminya.


Zara sangat senang tetapi ia ragu untuk mengangkatnya.


Zara hanya memandang foto wallpaper suaminya yang begitu tampan sampai telepon dari Juna berhenti dan tidak berdering lagi.


Zara beranjak dari kamarnya, ia menuju balkon lalu memandang langit cerah. Dia bingung harus melakukan apa, dia tidak mungkin menghampiri Juna duluan karena merasa malu sudah meninggalkannya.


Sang mama tiba-tiba datang dari belakang. Dia mengelus kepala Zara, ia tahu kegundahan anaknya.


"Zara, kesetiaan itu mahal. Jarang ada pria yang setia dan tanggung jawab seperti Juna. Jangan memikirkan masa lalunya! Pikirkan masa sekarang dan masa depan! dan juga pikirkan bayi kembarmu! Merawat dan membesarkan anak tanpa seorang ayah itu berat, Zara. Mama sudah merasakannya," ucap Mama.


"Udahlah mah! Ini masih pagi jangan ceramah! Zara mau cuci muka dulu," jawab Zara.


Mamanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Zara semakin kekanakan saja. Memang Zara belum siap di usianya untuk menikah tetapi nasi sudah menjadi bubur karena Zara sudah hamil duluan akibat perbuatan Juna.


Zara masuk ke kamar mandi untuk mencuci wajah dan menggosok gigi. Pikirannya masih terfokus pada Juna.


Zara menangis dan merasa menyesal.


Aku harus bagaimana?


Masak aku harus temuin Om Juna duluan? Malu dong.


Setelah keluar dari kamar mandi ia bergegas menuju ke dapur. Dia duduk di kursi sambil melamun. Biasanya Juna yang akan membuatkan makanannya. Dia sangat merindukan makanan Juna.


"Bik, tolong bikinin Zara nasgor dong!" ucap Zara.


"Baik, non"


"Telurnya pecahin aja, aduk bareng nasinya," ucap Zara.


"Tumben, non? Biasanya tidak suka jika telurnya dipecahin?"


"Pengen aja kok"


Zara mengingat Juna sering membuatkan nasi goreng seperti itu. Dia sangat merindukan nasi goreng ala Juna.


"Non Zara kok banyak melamun sih? Kangen den Juna ya?" goda bibi.


"Ish... enggak kok. Zara bosen aja dirumah," jawab Zara.


Setelah hampir 20 menit menunggu. Zara akhirnya bisa menikmati nasi goreng kesukaannya. Dia makan dengan lahap walau rasanya sangat berbeda dengan buatan Juna.


Aku kangen Om Juna.


Setelah menghabiskan makanannya. Dia beranjak menuju ke taman.


Pikirannya yang kalut membuat dirinya sangat bingung.


Disisi lain.


Juna sehabis mandi lalu mengenakan pakaiannya. Pikirannya selalu memikirkan Zara apalagi gadis itu tidak mengangkat telponnya.


Kau pasti sudah melupakanku Zara?


Kenapa secepat itu?


Juna meraih ponselnya lalu mencoba menelpon Zara lagi.


"Hallo?" ucap Zara.


Juna tersenyum. "Zara, bagaimana kabarmu?"


Tut... tut... tut...


Zara langsung menutup telponnya membuat Juna sangat sedih.


Juna hanya ingin mengucapkan salam perpisahan kepada Zara.


Baiklah Zara. Aku mengerti jika kau sudah tak cinta lagi. Aku tidak mau memaksamu.


Juna lalu berjalan menuju dapur. Dia membuat nasi goreng favorit Zara. Dia mengupas bawang dan memetik cabai merah.


Mungkin karena efek bawang membuatnya mengeluarkan air mata atau mungkin karena sedih memikirkan Zara.


Juna mencuci tangannya dan duduk di kursi. Dia menangis menumpahkan kesedihannya. Pernikahan keduanya harus bernasib sama.


"Aku pesan makanan saja," gumam Juna.


Juna meraih ponsel lalu memesan makanan. Dia tidak ingin melanjutkan memasak karena teringat oleh Zara.


Status duda akan menghampiriku.


Duda menyedihkan. Belum ada 4 bulan menikah sudah jadi seperti ini.


Tiba-tiba bel rumah berbunyi. Juna segera membukanya yang ternyata Sean dan Asisten Kim datang.


Sean langsung memeluk Juna. Dia akan kehilangan teman sintingnya.


"Hoi sentet... Jangan sedih! Kau bisa main kesana," ucap Juna sambil mengelus punggung Sean.


"Kau teman terbaikku Juna walau kau playboy dan brengsek dan mata keranjang," ucap Sean.


"Kau kesini untuk mengejekku, pulang saja sana!" jawab Juna.


Sean melepas pelukannya dan langsung masuk ke rumah Juna tanpa disuruh.


Juna terlihat geram tetapi ia menyabarkan diri karena ini hari perpisahan mereka.


"Buatkan aku kopi, Juna!" suruh Sean.


Juna mendengus, ia langsung membuatkan kopi untuk mereka berdua.


Setelah beberapa menit membuat kopi. Juna membawa kopi itu ke ruang tamu dan menyerahkan ke kedua temannya.


"Sampai detik ini Zara belum mengangkat telponmu?" tanya Sean.


"Tadi sempat mengangkat setelah itu langsung di matikan. Eh tapi kenapa kalian disini?"


"Kami ingin mengantar anda ke bandara, dok," ucap Asisten Kim.


Huh... mereka terlihat senang saat aku akan pergi.


Mereka meminum kopi buatan Juna sedangkan Juna terlihat memandangi ponselnya siapa tahu Zara mengirim pesan.


***


Zara terus saja mengelus perutnya. Dia sangat kesal dengan perasaannya sendiri.


Harusnya aku sangat senang dong jika Om Juna pergi?


Aku bisa bebas dan bisa cari cowok lain.


Zara meraih ponselnya lalu memandangi foto Juna. Dia mengelus foto itu.


Om Juna aja gak nanyain anaknya. Huh... tega banget.


Ayo move on Zara! Ini sudah keputusanmu. Jangan menyesalinya!


Zara langsung terduduk dan mengacak rambutnya. Juna, Juna dan Juna yang berada di pikirannya sampai ketika Juna menelponnya lagi. Ingin sekali menolaknya tetapi kata hati ingin berbicara dengan suaminya itu.


"Hallo?" ucap Zara.


"Zara, kau baik-baik saja?"


"Hem"


"Aku ingin berpamitan," ucap Juna.


"Pergilah!"


"Sepertinya kau sangat senang ya?"


"Hem"


Juna menghela nafas, ia tersenyum walaupun terasa berat.


"Tolong jaga anak kita! Aku mempercayakanmu," ucap Juna.


"Om bilang begitu seperti pergi dan tidak kembali saja? Om harus ikut merawat anak ini," jawab Zara.


"Jika kau menginginkanku kembali aku akan kembali, Zara"


Zara langsung mematikan ponselnya. Dia menangis tersedu-sedu. Sang mama hanya menatapnya. Dia tidak harus selalu membela Zara.


"Za... sudah sana mandi! Kita ke bandara. Setidaknya kau harus mengucapkan salam perpisahan kepada Juna," ucap Sang mama.


"Jika Om Juna pergi anak ini gimana, mah?" tanya Zara sambil terisak.


"Makanya sebelum bertindak harus berpikir dulu, Zara! Kau selalu membuat Juna kecewa sampai ia pergi meninggalkanmu. Sekarang baru sadar 'kan namanya kehilangan?"


Sang mama memeluk Zara. Dia menenangkan Zara yang menangis sesegukan.


Semoga air matamu bukan palsu, Zara.


Semoga air matamu tulus menangisi Juna dan tidak dibuat-buat.