Hilang

Hilang
Bab 38 - Zara plin-plan



"Hueeek... hueeeek..."


"Kenapa sayang? Mual lagi?" tanya Dokter Juna khawatir.


Zara menganggukan kepala dengan sigap Dokter Juna membopong Zara menuju ke ranjang.


Perut Zara sangat mual lalu Dokter Juna memberikan minyak kayu putih pada kening dan dibawah hidung Zara.


"Honey, aku gak kuat," rengek Zara.


"Ayo ke rumah sakit saja!"


"Zara mau pulang aja"


"Baiklah, ayo kita pulang! Aku tidak ingin memaksamu"


Dokter Juna membereskan barang-barang mereka lalu memasukan kedalam koper dan setelah itu ia memesan tiket pesawat menuju kotanya.


"Honey, maafin Zara yang merusak bulan madu kita"


Dokter Juna tersenyum lalu mengelus kepala Zara. Dia merasa kasian dengan gadis yang berumur 17 tahun sudah mengandung anak kembarnya. Dokter Juna harus menjadi suami yang siaga apalagi umur Zara yang masih sangat muda untuk mengandung.


Setelah mengemasi barang-barang mereka, Dokter Juna memesan tiket pesawat untuk kembali ke kota asal mereka.


"Honey?"


"Iya sayang?"


"Honey belum memberi tahu nama anak kita nantinya"


Dokter Juna mengacak gemas rambut Zara. Dia berjongkok di hadapan Zara yang sedang terduduk di pinggir ranjang.


"Sayang mau memberi nama anak kita siapa?" tanya Dokter Juna.


"Zara gak tau, Zara gak pandai bikin nama. Tapi bikin anak Zara pandai, hahaha"


Dokter Juna tertawa mendengar ucapan Zara, ia mencubit hidung Zara dengan gemas.


"Bagaimana jika dari nama kita saja? Naira dan Naiza singkatan dari Juna Zara," ucap Dokter Juna.


"Nama panjangnya?"


"Naira Anggun Pahlevi dan Naiza Anggun Pahlevi," jawab Dokter Juna.


Zara mengerutkan dahi. Dia seolah tidak setuju dengan nama pemberian sang suami.


"Pahlevi? Kenapa bukan Adinata?" tanya Zara.


"Kau sudah ikut denganku makanya tidak bisa mendapat marga Adinata. Anak kita adalah keturunanku dan mewarisi marga Pahlevi"


Zara menganggukan kepala seolah paham. Dia tidak ingin berdebat dengan suaminya.


Setelah itu Dokter Juna mengelus perut Zara, ia tidak sabar ingin bertemu dengan buah hatinya itu.


Setelah itu mereka memutuskan untuk kembali ke kota mereka. Bulan madu ini bukan termasuk bulan madu terindah bagi mereka tetapi setidaknya mereka sudah merasakan berkeliling danau besar itu.


Di dalam pesawat, Zara tertidur pulas. Dokter Juna mengelus kepalanya. Dia sangat mencintai istri kecilnya.


.


...****************...


Keesokan harinya...


Dokter Juna terbangun lalu mendapati sang istri tengah tertidur pulas di sampingnya lalu membangunkannya.


Zara menguap dan mengucek matanya lalu memandangi sang suami yang sudah tersenyum kearahnya.


"Eh, kita dimana, honey?" tanya Zara kebingungan karena sudah tidak berada di dalam pesawat lagi.


"Kita sudah sampai rumah, kau ketiduran. Jadi honey mengangkatmu dari pesawat sampai mobil"


"Jadi di bandara aku di lihatin banyak orang dong. Iiih... Honey bikin malu aja"


Dokter Juna mencubit pipi Zara. Ekspresi Zara selalu menggemaskan.


Dokter Juna lalu menyuruh Zara untuk mandi dan ia menyiapkan sarapan.


Semoga saja hasil tes DNA itu palsu. Aku yakin jika itu bukan anakku.


Dokter Juna mengiris sayur mayur, ia pagi ini memaksakan sup untuk sang istri. Zara harus makan yang benar-benar bergizi. Dokter Juna selalu memperhatikan makanan yang akan dimakan istrinya.


Disisi lain, Zara menangis dibawah guyuran shower. Dia sudah tidak tahan lagi untuk bersandiwara jika ia baik-baik saja. Zara hanya ingin kehidupannya normal seperti dulu. Bayangan saat Dokter Juna menodainya membuatnya trauma.


Aku benci dia. Aku ingin pergi dari nya. Semua aktingku sia-sia. Aku tetap tidak bisa menerimanya. Mending aku jomblo seumur hidup daripada hidup dengan pria brengsek seperti Om Juna.


Satu-satunya cara aku harus menggugurkan bayi ini. Setelah itu Om Juna akan membenciku lalu menceraikanku.


Zara mengambil sabun lalu mengusapkan ke seluruh tubuhnya. Bocah labil seperti Zara hanya ingin kebebasan seperti teman-temannya.


Setelah selesai mandi, ia memakai pakaiannya lalu keluar dari kamar mandi. Zara melihat sang suami tengah sibuk memasak di dapur.


Apa aku harus sekongkol dengan tante Anita? Ku rasa tante Anita masih menyukai Om Juna.


Zara mengambil ponselnya lalu diam-diam menelpon Anita.


"Tante, bisakah besok kita bertemu? Ada hal yang aku ingin ku bicarakan," ucap Zara.


"Pasti tentang Juna?" tanya Anita.


"Iya, ku tunggu besok siang di cafe X"


Zara menutup telponnya lalu tersenyum menyeringai. Dia tertawa sendiri seperti orang gila membuat Dokter Juna heran lalu menghampirinya.


"Kenapa sayang?" tanya Dokter Juna.


"Eh... Honey ngagetin aja. Haha... aku tadi lihat cuplikan lucu di ponselku. Maaf ya bikin honey heran"


"Ku pikir ada apa, ya sudah ayo ke meja makan! Makanannya sudah siap," ucap Dokter Juna.


Zara mengikuti Dokter Juna. Dia duduk di depan meja makan. Zara melihat sayuran di atas meja.


"Aku gak mau makan ini. Aku mau makan mie goreng saja," ucap Zara.


"Sayang, tidak baik untuk kandunganmu jika makan mie terus. Coba makan sayur ini! Honey udah masak capek-capek masak gak mau makan?"


Zara cemberut lalu dengan terpaksa makan makanan sang suami tetapi baru 3 suapan perutnya terasa bergejolak lalu ia berlari kearah kamar mandi.


Hueeek... Hueeeek...


Dokter Juna menepuk punggung Zara dengan sabar. Zara memuntahkan isi perutnya. Badannya langsung lemas seketika.


"Zara capek gini terus, setiap makan sesuatu pasti muntah," rengek Zara.


"Sabar sayang! Setelah 4 bulan pasti mualmu akan berkurang"


Dokter Juna membantu Zara untuk menuju ke kamar. Pria itu langsung membalurkan minyak kayu putih pada leher Zara dan memijatnya. Zara seketika menangis, ia langsung mengusap air matanya.


"Kenapa sayang? Sabar dulu ya! Ini wajar untuk wanita yang sedang hamil muda," ucap Dokter Juna.


Om Juna ngomong seperti itu gampang. Aku yang ngerasain rasanya ingin mati. Aku selalu tersiksa seperti ini.


"Gapapa kok honey, aku akan sabar tapi aku laper. Aku ingin makan roti saja," jawab Zara.


Dokter Juna mengelus kepala Zara. Sebenarnya ia tidak tega melihat sang istri seperti itu tapi mau bagaimana lagi Zara harus menjalaninya.


Tapi di pikir-pikir Om Juna itu baik. Aku memang mulai nyaman sih tapi aku tetep gak terima jika hidupku harus berakhir seperti ini. Umurku belum ada 18 tahun, aku ingin kebebasan. Tapi nasib tidak berpihak kepadaku.


Ah... aku ngomong apasih? Jadi aku harus bersama Om Juna atau aku harus ninggalin dia?


Kenapa aku plin plan? Aku ingin ninggalin dia tapi aku takut kehilangan dia.


Jadi aku maunya apa? Huh....


****


Tolong jangan bully Zara ya.


Anak seusia Zara memang labil apalagi saat hamil membuatnya jadi plin plan.


Author saat hamil dulu juga plin plan, mungkin bawaan bayinya ya..wkwk..