
Keesokan harinya.
Karin tiba di sebuah halte bus, yang ada di depan gedung Perusahaan Leoparadise milik Leon.
Sesuai dengan tujuannya, ia datang ke sini untuk menyelesaikan pekerjaan yang dikatakan oleh Presdir Chand.
Karin tidak bermaksud untuk melakukan hal lain, selain hubungan pekerjaan.
Setelah turun dari bus, ia perlahan melangkahkan kakinya menghampiri pintu masuk Perusahaan Leoparadise.
Sesampainya di depan pintu masuk Perusahaan Leoparadise, tak disangka jika Sean sudah menunggu kedatangannya di pintu masuk Perusahaan.
Begitu Sean melihat Karin, ia langsung menghampirinya.
"Karin, aku sudah menunggumu sejak tadi. Kenapa kau lama sekali? Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan."
"Namun, Presdir Leon menyuruhku untuk tetap berdiri di sini menunggumu." Ujar Sean.
"Ma-maafkan aku, Asisten Sean." Sahut Karin, sambil nyengir menggaruk kepala.
"Ah.. Sudahlah. Lupakan saja. Ayo masuk, aku akan mengantarkanmu ke ruangan" Ujar Sean.
Mereka berdua melangkah masuk kedalam Perusahaan dengan jalan berdampingan, semua pegawai yang ada di sana seketika terdiam menatap ke arah Karin dengan tatapan mata yang sangat tajam.
Karin merasa canggung dalam situasi tersebut, perlahan ia mencuri pandangan melihat ke seluruh pegawai yang menatapnya.
"Hey, bukankah dia wanita yang difoto dan divideokan oleh paparazi kemarin?" Ujar salah satu pegawai wanita yang ada di sana, sambil menatap ke arah Karin.
Mereka semua mulai berbisik dan bergosip, sambil menatap tajam ke arah Karin.
"Kau benar. Lihatlah! Memang dia orangnya." Ujar yang lainnya, sambil menunjukkan sebuah video di ponselnya kepada pegawai yang bergosip.
Sean segera membawa Karin masuk kedalam lift, untuk menuju ruangan yang dikatakan Sean saat di depan pintu masuk Perusahaan.
"A-asisten Sean.." Ucap Karin gugup.
Seakan Sean sudah tau apa yang akan dipertanyakan oleh Karin saat itu, maka Sean langsung menjawab.
"Tidak perlu dipikirkan, mereka memang sering bergosip hal yang tidak penting." Ujar Sean cengengesan, sambil menggaruk kepalanya belakangnya.
Karin hanya terdiam seakan mengerti apa yang dibicarakan Sean, walaupun pikirannya masih merasa bingung.
Tak lama kemudian, lift berhenti dan pintunya terbuka.
Saat ini, mereka tiba di lantai 14. Sean langsung mengajak Karin, untuk terus mengikutinya.
Setelah berjalan melewati lorong dan 6 ruangan yang ada di lantai 14 itu, Sean berhenti pada sebuah ruangan. Lalu, ia langsung membuka pintu ruangan itu dan mengajak Karin masuk kedalam.
Leon berada di dalam ruangan megah itu dan sedang duduk di kursi mewah, di sana ada meja besar di depannya dan terdapat papan nama kecil di atas meja yang bertuliskan (Presiden Direktur Kaivan Leon Azura).
"Presdir, Karin sudah tiba di sini. Aku akan kembali ke ruanganku, untuk menyelesaikan pekerjaanku." Ujar Sean, kepada Leon.
Saat itu, Leon menganggukkan kepala. Lalu, Sean meninggalkan ruangan megah itu setelah menutup pintunya.
Karin perlahan melangkahkan kakinya, untuk menghampiri meja di dekat Leon.
"Duduklah." Ujar Leon mengarahkan Karin, untuk duduk di sofa yang ada di sisi kiri ruangan.
Karin melangkah perlahan dan duduk di sofa itu. Lalu, Leon menghampirinya.
"Aku datang ke sini, untuk menyelesaikan pekerjaanku. Setelah itu, aku tidak akan mengganggumu lagi." Ujar Karin.
Leon menatap Karin, dengan ekspresi datar.
"Baiklah." Sahut Leon dengan suara yang terdengar sangat dingin.
Lalu, ia melemparkan beberapa berkas di atas meja yang di hadapan Karin.
"Aku sudah membuat berkas yang diperlukan, untuk ditambahkan dalam proposal Perusahaan tempatmu bekerja." Ujar Leon, dengan sikap yang angkuh.
Lalu, Karin mengambil berkas itu dan melihatnya.
"Kau bisa mengerjakannya di ruangan ini, mulai dari sekarang." Ujar Leon, sambil menggebrak meja yang ada di hadapan Karin.
Sontak Karin terkejut, namun ia tidak merasa takut. Hanya saja, suara dari gebrakan meja itu membuatnya kaget.
"Eh kaget." Gumamnya, sambil menatap ke arah tangan Leon yang menggebrak meja. Kemudian, ia kembali melihat isi berkas tanpa menghiraukan sikap Leon kepadanya.
Leon hanya diam dengan ekspresi dingin, dan kemudian ia memalingkan pandangannya menatap ke arah Karin dengan tatapan yang sangat tajam.
"Tunggu dulu, apa kau sudah gila? Semua berkas yang kau berikan ini, sangat banyak dan terlalu rumit untuk dipahami." Ujar Karin, yang memalingkan pandangan matanya ke wajah Leon.
"Mengapa, kau harus melakukan semua persyaratan ini? Saat kita sedang meeting tempo hari, kau bahkan tidak mempermasalahkan sedikitpun proposalnya ketika sedang aku presentasikan." Ucap Karin, sambil menunjuk ke arah isi dari berkas yang diberikan Leon.
"Ya, kau benar. Aku memang tidak mempedulikannya, bahkan aku tidak memperhatikannya. Karena aku saat itu sangat terkejut melihatmu, aku telah mencari dirimu kemana-mana. Ternyata justru aku dapat menemukanmu di ruang lingkup, yang sangat dekat." Ujar Leon sambil memalingkan pandangannya, ke arah luar jendela.
Leon menatap tajam, ke wajah Karin.
"Dengar. Kau pikir kau bisa mempermainkan aku dengan caramu ini? Kau yang memulainya, maka kau yang harus bertanggung jawab." Ujar Leon, sambil berteriak kencang membentak Karin dengan mengerutkan dahi.
Sontak Karin terkejut, wajahnya berkeringat dan tubuhnya gemetar. Lalu, Leon perlahan mencoba untuk mendekatinya dan duduk di sebelahnya.
Menyadari hal itu, ia segera bangun dari sofa itu bermaksud untuk menghindari Leon. Namun, tidak disangka high heels yang digunakannya tersangkut pada karpet lantai.
Bersamaan dengan hal itu, seseorang membuka pintu ruangan megah itu dan masuk kedalamnya.
Kemudian di saat yang bersamaan, Karin tergelincir jatuh kepelukan Leon.
Seseorang yang hendak masuk itu adalah seorang wanita paruh baya yang berusia 49 Tahun, wanita itu menggunakan kacamata hitam yang terlihat sangat mewah, dengan penampilannya sangat elegan, banyak perhiasan dan berlian yang menghias tubuhnya.
Wanita paruh baya itu tercengang saat melihat kedalam ruangan, perlahan ia membuka kacamatanya dan sangat terkejut melihat mereka berdua.
Karin terjatuh dalam pelukan Leon, ia juga meniban tubuh Leon dan tidak sengaja bibirnya mencium bibir Leon saat terjatuh.
Menyadari ada orang yang masuk, Leon dan Karin memalingkan mata mereka saat sedang berciuman itu secara bersamaan.
Sontak keduanya terkejut, Karin bangun dari tubuhnya Leon dengan reflek Leon juga mendorong tubuh Karin menjauhi tubuhnya.
"Ma.." Ujar Leon, sambil menatap ke arah wanita paruh baya itu.
Saat mendengar Leon, memanggil orang yang masuk ke ruangan itu dengan sebutan Ma. Sontak Karin melotot menatap Leon, dengan sangat terkejut.
"Mamamu?" Tanya Karin, kepada Leon dengan mata melotot karena terkejut.
Leon memalingkan pandangannya ke arah Karin dengan mengeluarkan ekspresi kaku, dan ia menganggukkan kepala kepada Karin.
Ternyata wanita itu adalah Ibu dari Leon, yang bernama Meilan yang biasa disebut Nyonya Meilan.
Suasana di dalam ruangan itu, menjadi sangat kaku dan menyeramkan.
Karin terdiam tak bisa berkata-kata lagi, merasa sangat amat canggung. Karena hal yang memalukan tidak sengaja terjadi, dan disaksikan oleh orangtua Leon.
Nyonya Meilan melangkahkan kakinya perlahan, dengan ekspresi wajah yang masih dalam keadaan terkejut menyaksikan mereka berdua.
Lalu, Nyonya Meilan menghampiri Karin dan duduk di sampingnya dengan mulut masih menganga karena masih sangat terkejut.
Wajah Nyonya Meilan, terlihat sangat dingin dan kaku. Hal itu membuat tubuh Karin, sangat gemetar ketakutan.
Lalu, Nyonya Meilan memegang kedua bahu Karin dengan sangat kencang.
Beberapa saat kemudian, Nyonya Meilan memeluk Karin dengan sangat erat sehingga membuat Karin merasa sesak.
"I-ini yang akan menjadi menantuku?" Tanya Nyonya Meilan memeluk Karin dengan erat, sambil menatap dengan tatapan terharu ke arah Leon.
Mendengar hal itu, Karin ikut terkejut dalam pelukan Nyonya Meilan.
"A-apa?! Me-menantu?" Tanyanya, dalam pelukan Nyonya Meilan.
Tidak hanya dirinya, Leon juga terkejut tak mampu berkata-kata. Leon hanya bisa melongo memasang wajah bodoh, karena terkejut melihat sikap ibunya.
Nyonya Meilan melepaskan pelukannya, untuk melihat wajah Karin. Lalu, memeluknya kembali. Hal itu dilakukan berulang-ulang, hingga Karin tidak berkesempatan untuk berkata apapun.
"Ma, lepaskan Karin. Lihatlah, ia hampir mati dipeluk olehmu." Ujar Leon, kepada Ibunya sambil meregangkan jari tangannya di hadapan Ibunya.
"Jadi, namanya adalah Karin? Nama menantu, yang sangat indah." Ujar Nyonya Meilan, sambil mengeluarkan air mata karena terharu.
"Ma.. K-kau salah paham." Ujar Leon.
Leon sedikit gugup dan kaku saat berusaha menjelaskan kepada Ibunya. Namun, Nyonya Meilan tidak menghiraukan perkataan itu.
"Setelah bertahun-tahun, akhirnya. Akhirnya, kau memiliki seorang kekasih lagi." Ujar Nyonya Meilan, sambil memeluk Karin.
"Aku sungguh, sangat amat bahagia." Ujar Nyonya Meilan.
Bersamaan dengan situasi itu, tiba-tiba Sean masuk ke ruangan itu karena mendengar ada suara keributan dari dalamnya.
Akan tetapi saat melihat ke dalam ruangan itu, Sean ikut terkejut melihat kehadiran Nyonya Meilan.
"Nyo-Nyonya.. I-ini.. Ke-kesalahpahaman." Ujar Karin terbata-bata, karena merasa sesak dipeluk kencang oleh Nyonya Meilan.
Mendengar hal itu, Nyonya Meilan melepaskan pelukannya dan menatap wajah Karin. Karin semakin merasa malu, saat Nyonya Meilan menatap wajahnya.
"Sudahlah! Kalian tidak usah menutupinya lagi. Semua sudah jelas, terlihat oleh mata kepalaku." Ujar Nyonya Meilan dengan tatapan sinis.
"Ayo Karin, ikut denganku. Aku akan segera, melangsungkan pertunangan kalian besok!" Ujar Nyonya Meilan.
"A-apa? Pe-pertunangan? Besok?" Ujar Karin, Leon dan Sean secara bersamaan dengan sangat terkejut.