
Setelah itu, bergegas Leon membenarkan posisi duduknya dan kembali mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat. Sedangkan Karin hanya diam saja, dengan perasaan yang sangat terkejut.
Saat itu, alam sedang tidak bersahabat. Langit seraya menangis, dengan terus menurunkan hujan yang sangat lebat. Sambaran suara petir juga sangat menggelegar.
Mereka tiba di depan halaman rumah keluarga Kaivan. Tanpa banyak bicara, Leon turun dari mobil di bawah derasnya hujan yang mengguyur sekujur tubuhnya.
Ia tergesa-gesa menuju pintu penumpang tempat Karin berada, dan membuka pintu mobil itu secara paksa. Kemudian, ia menggenggam pergelangan tangan Karin dengan sangat erat.
“Ah!” Teriak Karin, yang merasa kesakitan.
Namun, seakan Leon tidak memperdulikan perasaan Karin. Ia juga langsung menarik Karin keluar dari dalam mobil secara paksa.
“Le-“
“Leon, apa yang kau lakukan?” Tanya Karin tergagap, dengan perasaan takut.
Leon tetap tidak menghiraukannya, ia langsung membawa Karin masuk secara paksa dengan cara menyeret pergelangan tangannya.
Sesampainya di dalam rumah, bibi Elena menyambut mereka.
“Selamat dat-“
“Matikan semua listriknya, sekarang!” Ujar Leon, dengan sangat tegas tanpa menatap ke arah bibi Elena.
Bibi Elena seakan sudah memahami amarah Leon, tidak ada yang bisa menyangkalnya saat keadaan marah seperti ini. Lalu, ia pun langsung menyuruh asisten lain menurunkan meteran listrik rumah itu. Hingga, keadaan rumah menjadi gelap gulita sepenuhnya.
Lalu, Leon menyeret Karin masuk kedalam kamar yang sebelumnya menjadi kamar Karin. Ia juga melempar Karin ke atas ranjang, dan mengunci pintu kamar itu.
“Leon, apa yang akan kau lakukan?” Tanya Karin, merasa sangat ketakutan.
Leon menghampiri Karin, dengan merobek paksa kemeja yang ia gunakan saat itu. Lalu, ia naik ke atas ranjang dan menibani tubuh Karin. Kedua tangannya menggenggam erat kedua pergelangan tangan Karin, dan menghimpitnya pada bantal.
“Le-Leon, kau keterlaluan. Lepaskan aku!” Teriak Karin.
“Apa kau bilang?”
“Aku keterlaluan?”
Emosi Leon semakin berapi-api, merasa bahwa Karin tidak sedikitpun memikirkan perasaannya.
Ia melepaskan genggaman tangannya pada kedua pergelangan tangan Karin, lalu ia melayangkan kedua jemari tangannya di atas tubuh Karin. Setelah itu, ia mencabik-cabik sutra sisa yang menutupi tubuh Karin. Hingga, saat ini tubuh Karin tidak terbalut dengan sehelai kain sutra.
“Leon, kau tidak waras! Lepaskan aku, sekarang!” Teriak Karin, sambil memberontak.
Namun, lagi-lagi Leon tidak menghiraukannya. Ia malah melepaskan ikat pinggangnya, dan mengikatkannya pada kedua pergelangan tangan Karin secara paksa.
Lalu, ia menjambak rambut Karin dan mendekatkan wajahnya pada telinga Karin.
“Apa kau ingat semua di kamar ini?” Tanya Leon berbisik di telinga Karin, sambil menghimpit tubuh Karin dengan tubuhnya.
“Apa yang kau bicarakan, aku sama sekali tidak mengetahuinya. Lepaskan aku!” Sahut Karin dengan memberontak.
Hal itu membuat Leon semakin terpancing emosi, ia pun segera membuka celana bahannya dan menghempasnya ke lantai. Setelah itu, ia mengingatkan Karin dengan sesuatu milik pribadinya yang menerobos masuk pada kepunyaan Karin.
“Aaah.” Teriak Karin mendesah kesakitan.
“Apa kau sudah mengingat situasi ini?” Tanya Leon.
“Leon, kumohon. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau katakan.”
“Mungkin kau berhalusinasi, karena saat ini kau sedang mabuk. Aku mencium aroma alkohol saat kau menciumku di mobil tadi.” Ujar Karin.
“Persetan!” Ujar Leon dengan sangat tegas.
Ia mengarahkan kedua jemari tangannya meliar di sekujur dada Karin, ia juga meremas bagian dada Karin dengan diri yang dipenuhi oleh gairah.
Tak hanya itu, pinggulnya terus bergerak naik turun menghimpit pinggul dan ************ Karin.
Lalu, ia merampas belakang lutut Karin dan menariknya agar sedikit terangkat.
Ia terus melakukan hal itu, terus mendalami dan semakin mendalami.
Karin tidak dapat berontak dengan keadaan tangan yang terikat, ia tidak menyangka bahwa Leon melakukan hal ini kepadanya. Perlahan air matanya terjatuh, merasakan kepahitan dan kesakitan secara paksa seperti ini.
“A-apa ini? Mengapa aku seakan pernah berada di situasi seperti ini?”
“Ingatan apa itu barusan?” Gumamnya dalam hati.
Leon tetap pada pergerakannya yang hendak melahap seluruh tubuh Karin, sedangkan Karin perlahan memejamkan mata. Ia berusaha untuk mengingat, kejadian yang terputar ulang pada memori ingatannya ini.
Tiba-tiba, Leon mengarahkan kedua lengan Karin yang diikat untuk mengalung ke lehernya. Hingga kini, Leon dan Karin saling bertatap mata di bawah gelapnya suasana tanpa secerca cahaya.
Saat itu, perasaan Karin semakin yakin. Lalu beberapa saat kemudian, ia pun mengingat suasana seperti ini sebelumnya.
Leon terus menatap Karin sambil memainkan pinggulnya, gerakan itu semakin cepat. Hingga keduanya semakin terasa bergairah.
“Ah.”
“Ah.”
Karin semakin terhanyut dalam ******* suaranya yang lemah lembut. Leon menjambak rambut Karin dengan sangat kuat. Ia merasakan seperti ada sesuatu yang ingin meletus. Begitupun dengan Karin. Lalu, Leon semakin mempercepat gerakannya.
Hingga akhirnya, “Ah.” Suara teriakan keduanya terdengar hingga satu ruangan kamar.
Leon pun menghempaskan tubuhnya dan berbaring di samping Karin.
“A-apa kau sudah mengingatnya?” Tanya Leon, terengah-engah.
“Ya, aku mengingatnya.” Sahut Karin, dengan sangat gugup.
Mereka berdua pun mengistirahatkan diri untuk sejenak, sebelum membersihkan tubuh dan mengganti pakaian mereka.
...----------------...
Beberapa saat kemudian, mereka telah menutupi tubuh dengan mantel handuk yang melilit di tubuh mereka. Lampu-lampu pun sudah kembali menyala.
“Sadarkah kau saat ini? Bahwa yang keterlaluan adalah dirimu!” Ujar Leon, dengan suara yang terdengar merasa kecewa.
“Le-Leon. Maafkan aku, sungguh saat itu aku kehilangan akal sehatku.” Sahut Karin, sambil meneteskan air mata.
“Aku tidak pernah bermaksud untuk memperlakukanmu seperti itu.”
“Semua ini adalah kesalahpahaman, aku akan memastikan bahwa semua ini tidak akan terjadi lagi.”
“APA??” Tanya Leon, merasa terkejut dengan apa yang dikatakan Karin.
Karin memalingkan pandangannya ke arah langit-langit kamar.
“Leon, maaf telah membuatmu terbebani. Akupun juga merasa terbebani pada semua hal itu yang telah terjadi diantara kita.”
“Aku tidak akan mengganggumu lebih jauh dari ini.”
“Apalagi, kini kau sudah bersama dengan Maira.”
“Ditambah lagi, hubungan kita hanya sebatas kontrak yang telah kita setujui.”
“Semua ini akan segera berakhir, seperti apa yang kita harapkan sebelumnya.” Ujar Karin, sambil meneteskan air mata.
“Omong kosong!” Sahut Leon dengan sangat dingin.
Tanpa banyak bicara, Leon meninggalkan Karin didalam kamar itu. Saat keluar dari kamar Karin, ia pun membanting pintu kamar itu untuk menutupnya.
Terdengar langkah kakinya tergesa-gesa menuju ke kamarnya.
Tak lama kemudian, Leon keluar dari kamarnya dengan mengenakan celana bahan berwarna hitam dan kaos putih polos di balut dengan kardigan tebal.
“Kau mau kemana malam-malam begini?” Tanya bibi Elena kepada Leon.
“Cari angin.” Sahut Leon dengan sangat dingin.
Karin keluar dari kamar dengan mengenakan piyama, saat mendengar perbincangan bibi Elena bersama Leon dari luar.
Leon sempat memalingkan pandangannya ke arah Karin. Lalu, ia bergegas pergi dari rumah dengan mengemudikan mobilnya.
“Hallo, Sean. Segera datang ke bar tempat biasa.” Ujar Leon pada telepon.