
Pada pukul 9 pagi, Karin terbangun dari tidurnya. Ia merasa seluruh badannya sangat lemas dan pegal, namun ia tidak tahu apa yang membuat tubuhnya terasa seperti ini. Bahkan ia tidak mengingat apa yang terjadi semalam, yang ia ingat hanya listrik padam dan dirinya terjebak di dalam kamar mandi lalu pingsan. Ia melihat sekujur tubuhnya.
“Eh, ternyata aku sudah memakai pakaianku?” Gumamnya sambil memukul pelan kepalanya.
“Karin, kau sudah bangun?” Tanya Bibi Elena yang masuk kedalam kamarnya dengan membawakan semangkuk bubur.
“Bibi, apa yang semalam terjadi?” Tanya nya yang masih bingung. Bibi Elena tertawa kecil sambil meletakkan semangkuk bubur itu pada meja yang ada di samping ranjang Karin.
“Bibi, mengapa kau tertawa?” Tanya Karin yang merasa semakin bingung karena perilaku Bibi Elena.
“Tidak apa, jika aku katakan mungkin kau akan merasa malu” Ujar Bibi Elena. Karin merasa jika ia tidak mendapatkan jawaban apapun dari Bibi Elena.
“Di mana Leon? Apakah semalam ia pulang?” Tanya Karin.
“Pagi tadi ia sudah berangkat ke Perusahaan walau ia belum tidur semalaman” Ujar Bibi Elena sambil tersenyum. Kemudian, Bibi Elena pergi meninggalkan Karin secara perlahan.
“Anak muda jaman sekarang, bahkan terlalu bodoh untuk menutupi apa yang terjadi” Gumam Bibi Elena sambil tertawa kecil.
Karin masih tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Bibi Elena. Namun, ia tidak mengambil pusing hal itu. Setelah sarapan, ia bergegas bersiap diri berangkat ke Perusahaan Leoparadise untuk menyelesaikan pekerjaannya yang sudah hampir selesai.
Saat tiba di Perusahaan, Karin berpapasan wajah dengan Leon yang saat itu sedang berbicara pada koleganya sambil berjalan di koridor untuk mengantar koleganya ke lobby.
“Karin, datanglah ke ruanganku” Ujar Leon saat bertemu Karin.
“Baiklah” Ujar Karin. Kemudian, kolega yang sedang bersama Leon bertanya kepada Leon.
“Siapakah itu, Presdir Leon?” Tanya sang kolega.
“Oh, ini...” Sahut Leon.
“Perkenalkan Tuan, saya Karina Mouri utusan dari Perusahaan lain untuk menyelesaikan pekerjaan di Perusahaan ini” Ujar Karin sambil tersenyum memotong perkataan Leon.
“Oh begitu, salam kenal” Ujar Kolega itu. Kemudian, ia saling berpisah. Karin langsung menuju ke ruangan Leon menunggu Leon kembali dari mengantar Kolega ke lobby.
Beberapa saat kemudian, Leon kembali ke ruangannya. Karin sedang duduk di sofa sedang mengerjakan pekerjaannya menggunakan laptop. Leon datang menghampirinya dan duduk di sebelahnya.
“Bagaimana keadaanmu? Apakah kau baik-baik saja?” Tanya Leon.
“Tentu, aku baik-baik saja” Sahut Karin tanpa menatap wajah Leon. Namun, Leon merasa ada yang aneh pada diri Karin.
“Semalam..” Tutur Leon.
“Ada apa dengan aku yang semalam pingsan di kamar mandi? Oh apakah kau yang membantuku?” Tanya Karin dengan ekspresi wajah seperti tidak terjadi apa-apa.
“A-apa?” Tanya Leon dengan sangat terkejut dengan perkataan Karin.
“Mengapa kau terkejut? Oh ternyata bukan kau ya yang menolongku” Ujar Karin dengan santainya.
Leon semakin bingung dengan pernyataan Karin.
“Apakah tidak ada hal lain yang terjadi?” Tanya Leon.
“Aku rasa tidak, semalam listrik padam lalu aku berteriak. Kemudian, aku pingsan. Setelahnya, aku tidak tahu apa yang terjadi lagi” Ujar Karin.
“Baiklah, kau bisa kembali ke ruanganmu” Ujar Leon dengan sangat ketus dan dingin. Melihat sikap Leon yang seperti itu, membuat Karin merasa sangat aneh.
“Kenapa kau jadi seperti itu?” Tanya Karin.
“Keluar!!!” Teriak Leon membentak Karin. Lalu, Karin merasa jika sikap Leon kali ini sangatlah tidak biasa. Sebelumnya, Leon tidak pernah membentak Karin dengan sikap kasar seperti ini. Karin merasa hatinya tersakiti, lalu ia bergegas melangkah pergi sambil menangis.
Saat itu, Leon tidak mengejarnya. Ia duduk di sofa dengan ekspresi wajah yang sangat stress.
‘Bisa-bisanya ia melupakan hal seperti itu’ Gumamnya dengan sangat kesal.
Sementara itu, Karin kembali ke ruangannya sambil menangis. Ia tidak tahu kesalahan apa yang telah ia buat kepada Leon, hingga ia mendapatkan perlakuan kasar dari Leon.
Siang harinya, tepat di mana para pegawai sedang makan siang. Karin tidak keluar dari ruangannya, seluruh gorden di ruangannya ditutup olehnya. Karin terus menangis sambil duduk di kursi kerjanya.
Sedangkan saat itu, Leon mencarinya di kantin Perusahaan ternyata tidak ada Karin di sana, sampai akhirnya Leon berlari menuju ruangan Karin. Saat masuk ke ruangan Karin, ia juga tidak menemukan Karin di sana. Segera ia menghubungi Bibi Elena untuk memeriksa, apakah Karin pulang ke rumah atau tidak. Ternyata Bibi Elena juga mengatakan bahwa Karin tidak pulang ke rumah, sontak Leon merasa khawatir. Leon langsung berlari ke ruangan Sean.
“Sean, apa kau melihat Karin?” Ujar Leon.
“Bukankah ia ada di dalam ruangannya?”
“Tidak ada, ia tidak ada di mana-mana” Ujar Leon dengan ekspresi yang sangat panik.
“Apa? Sejak tadi ia ada di ruangannya, dia tidak kemana-mana” Ujar Sean.
“Iya, akan tetapi saat ini ia menghilang”
“Apakah kalian sedang bertengkar?” Tanya Sean dengan rasa curiga.
“Ah, kau sangat bawel. Bantu aku menemukannya!” Ujar Leon yang enggan memberikan komentar pada pertanyaan Sean.
Lalu, mereka mencari ke seluruh ruangan yang ada di Perusahaan Leoparadise. Namun, Karin sama sekali tidak dapat ditemukan. Leon pun mengitari seluruh taman Perusahaan dan seluruh tempat makan yang ada di sekitar Perusahaan. 3 Jam lamanya Leon dan Sean mencari Karin, namun mereka tidak menemukannya. Mereka berdua duduk istirahat di bangku taman perusahaan dengan nafas yang terengah-engah.
Tak di sangka Karin melintas di depan mereka dengan bersiul tanpa ada rasa bersalah sedikitpun. Bahkan Karin tidak menyadari bahwa Leon dan Sean duduk di bangku taman yang ia lewati.
“Karin” Teriak Leon. Sontak Sean memalingkan pandangannya ke arah Karin. Karin pun memalingkan pandangannya pada asal suara yang memanggil namanya itu.
“Eh” Sahutnya dengan ekspresi yang datar.
“Ke mana saja kau?” Tanya Leon yang menghampiri dirinya.
“A-aku?” Tanya Karin. Sontak Karin melihat map coklat yang ada di tangannya. Kemudian, ia menyembunyikan map itu di balik badannya.
“Emmm, Tidak ke mana-mana. Bukan urusanmu juga. Aku masuk dulu ya” Ujar Karin, ia langsung bergegas masuk kedalam gedung Perusahaan dan kembali ke ruangannya. Leon hanya terdiam melihat dirinya yang terlihat baik-baik saja, Sean merasa heran dengan Leon.
"Presdir, sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Sean. Leon memalingkan wajahnya kepada Sean.
"Tadi pagi aku membentaknya hingga ia menangis" Ujar Leon.
"Presdir, kau memang orang yang sangat kejam" Sahut Sean. Lalu, Sean meninggalkan Leon masuk kedalam gedung Perusahaannya dengan ekspresi wajah yang mengolok Leon.