
Ternyata wanita itu masuk keruangan Leon. Setelah membuka pintu ruangan,
"Leon, aku sudah kembali" Ujar Wanita itu meregangkan tangannya dengan senyum manis di bibirnya.
"Ma-Maira" Ujar Leon terkejut melihatnya.
Maira adalah mantan kekasih Leon 6 Tahun lalu yang meninggalkan Leon untuk pergi ke Amerika mengejar mimpinya, banyak desas-desus bahwa saat di Amerika Maira akan menikah dengan pria tua yang sangat kaya raya. Maira juga cinta pertama dari Leon, Maira lah yang membuat Leon selama ini menutup hatinya untuk wanita.
Maira juga yang mengubah sifat dan sikap Leon menjadi pendiam dan angkuh, berkat luka yang digoreskan Maira membuat Leon trauma dengan cinta.
Sementara itu, Karin sudah berada dalam perjalanan untuk pergi menemui Nyonya Meilan.
"Leon, aku sangat merindukanmu!" Ujar Maira, ia pun berlari menghampiri Leon dan memeluknya dengan sangat erat. Hal itu membuat Leon terkejut dan tidak dapat berkata apa-apa.
Dalam lamunannya saat di peluk oleh Maira, membuat dirinya memutar kembali kenangan manis bersama Maira. Hingga teringat juga hal yang paling menyakitkan dalam hidupnya.
"Lepaskan aku, Maira" Ujar Leon memaksa Maira melepaskan pelukannya. Sontak Maira sedikit terkejut melihat Leon melepaskan pelukannya.
"Hey, apakah kau masih marah denganku? Sudahlah maafkan aku. Sekarang aku kembali untukmu" Ujar Maira sambil mengangkat dagu Leon secara perlahan.
"Maira, untuk apa kau ke sini?" Tanya Leon menjauhi dagunya dari sentuhan Maira.
"Jelas untuk menemuimu, apakah kau tidak merindukanku?" Sahut dan tanya Maira kepada Leon dengan ekspresi wajah layaknya sedang merayu.
"Tentang kita sudah lama selesai, saat ini aku sedang sibuk. Kau bisa kembali nanti" Ujar Leon mengusir Maira secara halus.
"Hemm, ternyata kau masih marah kepadaku. Baiklah, aku tidak akan mengganggumu. Akan tetapi, besok aku akan kembali menemuimu. Sampai jumpa" Ujar Maira, tanpa basa-basi ia langsung meninggalkan Leon begitu saja.
Hal itu membuat Leon kembali teringat betapa kejamnya Maira saat meninggalkannya tanpa merasa bersalah ataupun melihat kesedihannya. Maira selalu saja datang dan pergi semaunya, namun saat Maira selalu melakukan hal itu padanya dulu, Leon tidak pernah bisa berontak ataupun menolaknya. Karena cinta Leon kepada Maira sangat besar sejak dulu. Bahkan Leon sering kali mengalah demi membuat Maira bahagia. Sekarang Maira kembali, kembali mengungkit luka lama yang sudah hampir Leon lupakan.
Leon hanya duduk diam merenung di kursinya dengan memijat perlahan dahinya.
Sementara itu, Karin tiba di depan rumah utama dan langsung bergegas menemui nyonya Meilan. Tidak disangka, rupanya Nyonya Meilan juga sudah menunggunya.
"Oh putri menantuku sayang" Ujar Nyonya Meilan. Ia meregangkan kedua lengannya untuk bersiap memeluk Karin.
"Ma.. " Ujar Karin perlahan menghampirinya. Kemudian, ia langsung memeluk Nyonya Meilan.
"Kemana saja kau semalaman, bahkan tidak memberi kabar kalau rupanya kau dan Leon menginap di apartemen" Ujar Nyonya Meilan.
"Maafkan aku, Ma. Semalam kami berbincang dengan teman-teman hingga larut malam dan aku sudah sangat kelelahan, jadi Leon membawaku ke apartemennya" Sahut Karin memberi penjelasan dengan tutur bahasa yang lembut.
"Baiklah kalau begitu, aku hanya merasa khawatir kepadamu. Sekarang aku merasa tenang saat melihatmu, ayo masuk ke dalam." Ujar Nyonya Meilan sambil membawa Karin masuk ke dalam.
Nyonya Meilan membawa Karin ke meja makan untuk menyuruhnya makan terlebih dahulu sambil berbincang-bincang.
"Nyonya Presdir, ada sebuah informasi. Jika nona Maira telah kembali" Bisik Asisten Michael kepada Nyonya Meilan.
"Hem, awasi dia" Sahut Nyonya Meilan yang berbisik kepada asisten Michael.
"Ada apa, Ma?"
"Ah, ti-tidak" Sahut Nyonya Meilan dengan gugup. Karin tidak memiliki rasa curiga sedikit pun, dan ia juga merasa tidak ingin kurang ajar karena terlalu banyak bicara. Mengingat ia dan Nyonya Meilan baru bertemu kemarin lusa.
"Sudah ayo habiskan makananmu, setelah ini Dokter Nora spesialis kulit akan datang untuk memeriksa luka bakar di kaki mu. Aku juga sudah menyuruh beberapa pekerja untuk memperbaiki kamar mandi di kamarmu" Ujar Nyonya Meilan dengan sangat lembut.
Dokter Nora adalah Dokter spesialis kulit kepercayaan keluarga Kaivan, sama seperti Dokter Shui yang merawat Nyonya Meilan selama ini.
"Ma, aku merasa jauh lebih baik. Leon juga menjagaku dengan sangat baik, jadi ku rasa tidak perlu memanggil Dokter"
"Jangan nakal, lukamu harus segera diobati. Kalau tidak, kau akan lama dalam penyembuhan" Sahut Nyonya Meilan. Karin pun tidak bisa membantah, karena ia tahu jika apa yang dikatakan dan ditentukan oleh Nyonya Meilan sulit untuk diubah.
"Baiklah, Ma. Jangan marah lagi, kau juga harus menjaga suasana hatimu" Ujar Karin memasang ekspresi penurut seperti kucing kecil, sambil memeluk dan menyandarkan kepalanya di bahu Nyonya Meilan.
Nyonya Meilan memperlakukan Karin dengan amat sangat baik, ia tidak seperti ibu mertua lainnya yang sangat canggung dan menjaga jarak pada menantunya. Hal itu juga membuat Karin merasa tidak memiliki rasa canggung kepadanya, melainkan hanya dengan waktu 3 hari dapat membuat mereka terlihat seperti mertua dan menantu yang serasi dan kompak. Hubungan mereka terlihat sangat amat indah, namun tak jarang juga Karin merasa bersalah karena ia sedang membohongi Nyonya Meilan soal pertunangannya dan perjanjian kontrak yang ia buat bersama Leon. Namun, ia tidak memiliki pilihan lain. Semua untuk membuat Nyonya Meilan bahagia dalam kondisi kesehatannya. Meski ia tahu, jika Nyonya Meilan mengetahui yang sebenarnya. Mungkin Nyonya Meilan akan merasa sangat kecewa kepada dirinya. Saat itu terjadi, Karin hanya berharap jika Nyonya Meilan dapat memaafkannya.
Tak lama kemudian, Dokter Nora datang untuk memeriksa luka di kaki Karin. Mereka segera berpindah tempat ke ruangan lain agar Dokter Nora dapat memeriksa Karin dengan leluasa.
Saat Dokter Nora membuka perban yang membalut luka Karin, semua orang terkejut karena luka itu ternyata semakin parah hingga mengeluarkan darah. Dokter Nora mengetahui kalau darah itu keluar akibat gesekan sebuah tali sepatu yang mengikat lukanya terlalu kencang.
"Mengapa kau lakukan itu, pada luka mu? Lihatlah, bekas tali sepatu yang mengikatnya terlalu kencang. Mengakibatkan lapisan kulitmu robek dan mengeluarkan darah" Ujar Dokter Nora. Nyonya Meilan merasa sangat khawatir kepada Karin, mendengar apa yang dikatakan Dokter Nora.
"Hehe, bukan begitu. Aku hanya tidak ingin mengacaukan hari pertunangan ku. Lagipula, sepatu itu sangat bagus dan cocok dipadukan dengan gaun yang ku pakai" Sahut Karin mencari alasan. Padahal, Nyonya Meilan sudah mengetahui alasan sebenarnya. Karin memaksakan diri memakai sepatu high heels, karena ia tidak ingin membuat kesalahan di depan rekan dan kolega keluarga besar Kaivan.
"Baiklah, aku mengerti maksudmu. Saat ini, aku akan memberikan obat untuk mengeringkan lukanya dan kau harus rutin memakai obatnya. Jangan terlalu banyak menggerakkan kakimu, atau lapisan kulitmu akan semakin robek. Minggu besok aku akan kembali memeriksanya dan memberikan obat tahap pemulihan" Ujar Dokter Nora.
"Ba-baiklah, Dokter Nora. Terimakasih banyak" Sahut Karin.
"Nyonya Meilan, aku pamit dahulu. Mohon bantuannya untuk mengawasi dirinya, Karena kalau ia tidak melakukan yang ku katakan, mungkin lukanya akan sulit di pulihkan" Ujar Dokter Nora kepada Nyonya Meilan.
"Baiklah, Dokter Nora" Sahut Nyonya Meilan. Lalu, Asisten Nana mengantar Dokter Nora hingga luar gerbang.
"Karin, dengarlah apa yang dikatakan oleh Dokter Nora" Ujar Nyonya Meilan sambil mengelus kepala Karin dengan penuh kasih sayang.
"Ma, apakah kau merasa kalau Dokter Nora sangat cerewet? Lihatlah, bahkan ia tidak tersenyum saat memeriksa ku tadi. Aku rasa kekasihnya pasti ketakutan setiap hari saat bersama dengan Dokter Nora" Ujar Karin bergosip kepada Nyonya Meilan. Nyonya Meilan tertawa terbahak-bahak dengan ucapan Karin yang bergosip tentang Dokter Nora.
"Dasar gadis bodoh, kau sangat lucu. Tidak ada rasa canggung saat berbincang denganmu. Sungguh kau memang menantu idamanku" Ujar Nyonya Meilan sambil tersenyum.
"Sudahlah, sekarang kau istirahat di kamar mu dan jangan terlalu banyak bergerak. Aku harus segera pergi karena memiliki urusan, aku akan segera kembali. Jika kau memerlukan sesuatu, kau bisa memintanya pada Asisten Rumah Tangga yang ada di rumah ini. Apa kau mengerti?" Ujar Nyonya Meilan dengan sangat lembut.
"Mama mau kemana? Bukankah kesehatanmu sedang tidak baik? Jangan tinggalkan aku, Ma" Tanya Karin memasang ekspresi melas.
"Sebenarnya aku juga ingin berlama-lama disini dengan putri menantu ini. Saat melihatmu datang tadi, membuat hatiku amat sangat tenang. Namun, aku harus pergi karena sebuah urusan. Tapi aku akan segera kembali, jadi kau istirahatlah dulu ya, menurut lah" Ujar Nyonya Meilan. Lalu, Karin mengangguk perlahan dengan ekspresi wajah yang memelas.
Kemudian, Nyonya Meilan pergi meninggalkannya dari ruangan itu dengan diikuti oleh Asisten Michael yang berjalan di belakangnya.