Fall In Love With Mr. Leon

Fall In Love With Mr. Leon
Lepaskan aku Tuan Leon.



Sudah 10 hari, setelah Karin mengajukan cuti untuk memulihkan dirinya. Hingga akhirnya, Karin kembali bekerja bersamaan dengan Jean.


Tepat di hari ini juga, rapat ulang pada minggu lalu akan dilaksanakan.


Saat ini, Karin bertekad untuk melanjutkan hidupnya. Meskipun bayang-bayang penyesalan, masih ada dalam benaknya.


Karin mulai bisa menerima kenyataan tentang kesalahan yang memang sudah terjadi, akibat ulahnya sendiri.


"Meskipun aku tidak akan bersama dengan pria manapun, aku tetaplah beruntung karena aku masih memiliki Jean. Sahabat, yang bagaikan saudara untukku." Ujarnya dalam hati, sambil menatap ke arah Jean.


Karin dan Jean turun dari bus, mereka bergegas berjalan kaki beriringan menuju Perusahaan tempat mereka bekerja.


Dari kejauhan, terlihat di depan halaman perusahaan banyak segerombolan orang layaknya mengelilingi sesuatu yang menarik perhatian mereka.


"Apa yang terjadi?" Tanya Karin, kepada Jean dengan rasa penasaran.


"Ayo kita lihat" Ujar Jean, sambil menarik pergelangan tangan Karin untuk bergegas melihat sesuatu yang menjadi pusat perhatian orang-orang itu.


Ternyata, ada sebuah mobil mewah edisi terlangka sedang terparkir di depan Perusahaan tempat mereka bekerja.


Entah siapa pemilik dari mobil itu, yang jelas harga mobil itu sangatlah mahal dan hanya terdapat 7 unit di seluruh dunia. Hal itulah, yang menjadi perhatian orang-orang di sana.


Tak hanya itu, banyak para pegawai wanita bergosip mengatakan, "Sungguh, pria itu sangat tampan." Ujar salah satu, dari mereka.


"Kau benar, ia bagaikan pangeran. Tampan, kaya dan menawan. Pasti aku akan menjadi wanita yang beruntung, jika bisa memikat hatinya." Ujar dari yang lainnya.


"Astaga, lihatlah betapa bodohnya mereka yang selalu saja berkhayal." Ujar Jean, bergosip kepada Karin.


"Sudahlah, ayo kita masuk ke ruangan kerja kita saja." Ujar Karin.


Merekapun bergegas masuk ke dalam Perusahaan, untuk segera masuk ke ruangan mereka.


...----------------...


Meja kerja mereka, berada dalam satu ruangan dan saling berdekatan. Sehingga meskipun di tempat kerja, mereka tetap tidak terpisahkan oleh jarak.


Lalu, Karin dan Jean duduk di kursi mereka masing-masing dan segera memulai pekerjaan mereka masing-masing.


"Aku sangat rindu, pada suasana ruangan ini." Ujar Karin, sambil tersenyum mengelilingi seluruh ruangan.


"Kau bisa menikmati kerinduanmu sekarang." Ujar Jean, menggoda Karin.


Tak lama kemudian, Asisten Kevin datang ke ruangan mereka untuk memberitahu pada mereka. Bahwa rapat ulang dari rapat sebelumnya, akan dilaksanakan jam 11:00 pagi ini.


Di mana artinya, Karin dan Jean hanya memiliki waktu 1 Jam dari sekarang untuk mempersiapkan diri.


"Aku berharap kali ini, kalian tidak mengacaukannya. Karena ini, adalah kerja sama antar Perusahaan yang besar. Apakah kalian mengerti?" Tanya Asisten Kevin.


"Ka-kami mengerti." Ujar mereka bersamaan.


Asisten Kevin keluar dari ruangan mereka, selanjutnya mereka berdua segera bergegas mempersiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan untuk rapat nanti.


Karin dan Jean merasa sangat panik karena, belum sempat memperbaiki file yang sebelumnya. Segalanya, serasa sedikit berantakan.


Beruntungnya Karin cukup pandai mencari solusi, dan Jean sangat pandai memberi arahan tepat waktu. Akhirnya mereka segera memperbaiki detail filenya, secara bersamaan.


Sebelum melakukan rapat, Jean membawakan secangkir kopi untuk Karin yang masih menyelesaikan bagian akhir file. Ia meletakkan cangkir kopi itu, di atas meja Karin.


"Akhirnya selesai!!" Teriak Karin, dengan semangat.


"Kerja bagus, Karin!" Ujar Jean.


"Untukmu juga, Jean." Sahut Karin.


Terpancar rasa bahagia, di wajah mereka.


Sebelum bergegas, Karin meminum kopi yang sudah dibuatkan oleh Jean.


Sayangnya, waktu sudah terlalu sempit. Sehingga, Karin tidak bisa menghabiskan kopi buatan sahabatnya itu.


Asisten Kevin memanggil mereka, untuk segera datang ke ruang rapat lewat telepon. Lalu tanpa basa-basi, mereka segera mengumpulkan berkas-berkas dengan tergesa-gesa dan berlari menuju ruangan rapat.


Mereka menaiki lift, agar segera tiba di ruang rapat. Saat di dalam lift, Jean berusaha mencairkan ketegangan.


"Karin, kau akan terkejut melihat ketampanan CEO dari Perusahaan Leoparadise itu." Ujar Jean kepada Karin.


Mereka saling menatap dan tertawa, sambil bergosip dengan membawa tumpukan berkas di tangan mereka masing-masing.


Karin berpikir dalam benaknya, mendengar gosip yang dikatakan Jean. 'Dalam situasi mendesak seperti ini, Jean tetap bisa bergosip.'


Sesampainya di pintu ruang rapat, kedua tangan Karin dan Jean penuh dengan membawa banyak berkas sehingga tidak ada celah untuk tangannya membuka pintu ruangan.


Namun, seakan Asisten Kevin sudah mengetahui hal itu dan menunggu mereka di depan ruang rapat untuk membantu mereka.


Lalu, Mereka masuk ke ruang rapat secara bersamaan. Saat memasuki, ruang rapat. Terlihat jika Leon yang merupakan CEO Perusahaan Leoparadise itu, sedang membaca sebuah berkas di atas mejanya dengan dagu yang tertopang oleh kedua telapak tangannya bagian atas.


"Semuanya sudah hadir. Apakah kita bisa memulai rapatnya sekarang?" Ujar Asisten Kevin.


Sontak mendengar suara Asisten Kevin itu, membuat Leon memalingkan pandangannya ke arah Asisten Kevin.


'Braaaak.'


Tiba-tiba, terdengar suara tumpukan berkas jatuh dari arah belakang Asisten Kevin.


Ternyata suara itu disebabkan oleh Karin, berkas-berkas yang dibawa olehnya terjatuh berantakan ke lantai.


Ekspresi Karin seketika berubah karena sangat terkejut, saat melihat ke arah Leon. Tidak hanya Karin yang terkejut, Leon juga langsung reflek berdiri dari kursi karena sangat terkejut saat melihat Karin.


Seperti ada hal yang tidak terduga, telah terjadi di depan mata. Mereka saling terdiam, dalam rasa terkejut. Hanya mata merekalah yang dapat bereaksi, untuk saling menatap. Suasana ruang rapat itu, sejenak menjadi hening.


"Apa yang kau lakukan, Karin? Cepat bereskan berkasnya!" Ujar Asisten Kevin, berbisik kepada Karin.


Sontak Karin tersadar, dan segera mengambil berkas-berkas itu dari lantai.


Kemudian, Jean meletakkan berkas yang ia bawa di atas meja terlebih dahulu. Lalu, ia kembali menghampiri Karin untuk membantunya.


"Ma-maaf, kesehatan Karin baru saja pulih dan berkas ini juga cukup berat untuk dibawa olehnya." Ujar Jean, yang coba mencairkan suasana hening itu.


Lalu, Jean segera mengambil alih tumpukan berkas itu dari tangan Karin.


"Karin, apakah terjadi sesuatu?" Tanya Jean, berbisik di telinga Karin.


"A-aku baik-baik saja." Sahut Karin, dengan tergagap.


Lalu, mereka bergegas duduk di kursi pada meja yang sudah disiapkan untukĀ  masing-masing.


Ternyata, Karin diharuskan duduk berhadapan dengan Leon yang tadi membuatnya terkejut itu.


Tubuh Karin terasa gemetar, Leon terus menatap ke arahnya dengan tatapan kosong. Hal yang membuat Karin terkejut, bahwa pria yang menjadi CEO Perusahaan Leoparadise itu adalah pria yang telah tidur bersamanya pada beberapa waktu yang lalu, yaitu Leon.


Lalu, Leon yang adalah pria itu juga sangat terkejut karena bertemu dengan Karin kembali. Yang ternyata, Karin adalah salah satu pegawai penting di Perusahaan yang akan bekerja sama dengan Perusahaannya.


Jelas saja, kalau mereka berdua sangat terkejut saat ini.


Karin merasa suasana sangat sesak, nafasnya pun sangat berat.


Bagaimana tidak? Ia sudah berusaha, melupakan yang terjadi dalam hidupnya. Tidak disangka, ia harus diingatkan lagi dengan kembali bertemunya antara dirinya dan Leon.


Namun, ia tidak bisa lari saat ini. Ia harus tetap profesional pada keadaannya, yang di mana ia harus mempresentasikan berkas penting Perusahaannya di depan pria yang membuatnya saat ini sangat ingin kabur dari ruangan itu.


Kemudian, Presdir Chand dari Perusahaan tempatnya bekerja meminta ia dan Jean segera mempresentasikan hasil perbaikkan berkas yang sebelumnya.


Lalu, rapatpun dimulai.


...----------------...


2 Jam telah berlalu.


Karin dan Jean dapat mempresentasikan isi berkasnya, dengan sangat baik. Pada bagian akhir rapat, Karin memberanikan diri untuk menutup presentasinya itu.


"Berikut inilah hasil dari analisis perusahaan kami mengenai kerjasama ini, Perusahaan kami juga sudah mempertimbangkan dengan baik perihal keseluruhannya. Kami harap Perusahaan kami dan perusahaan Leoparadise, dapat saling menguntungkan kali ini. Sekian presentasi dari kami, Terima kasih." Ujar Karin.


Selama presentasi yang dilakukan oleh Karin dan Jean, Leon selalu menatap ke arah Karin tanpa berpaling sedetik pun. Selama itu pula, Karin harus menahan rasa ketidaknyamanannya.


Akhirnya rapat itu selesai, semua orang di ruangan itu bubar. Kemudian, Leon memutuskan untuk ikut keruangan Presdir Chand untuk menandatangani kontrak kerja sama.


Sementara itu, Karin segera mengajak Jean kembali ke ruangannya.


Jean menyadari sikap aneh Karin. Sontak saja sesampainya di ruangan, ia langsung bertanya. "Karin, kau kenapa? Apa yang membuatmu tidak merasa nyaman?"


Karin menjawabnya, dengan gugup. "Ti-tidak ada apapun, aku hanya gugup untuk presentasi."


"Sudah kubilang, CEO itu sangat tampan. Sehingga, membuat kita gugup. Ah, sungguh tampannya." Ujar Jean yang ternyata berpikir bahwa Karin gugup, karena ketampanan yang dimiliki Leon.


"Jean, Aku akan keluar sebentar untuk membeli makan siang. Apa kau ingin makan sesuatu? Biar aku membelikannya untukmu." Tanya Karin, mengalihkan topik pembicaraan.


"Ah, kau benar! Aku sangat lapar, bolehkah belikan aku mie siput?" Ujar Jean, sambil mengelus perutnya yang kelaparan.


"Baiklah, aku akan segera kembali." Sahut Karin.


Karin langsung bergegas, meninggalkan ruangan itu. Tak hanya ruangan itu saja, ia pun bergegas meninggalkan gedung Perusahaan untuk membeli makanan yang berlokasi cukup jauh dari gedung itu.


Ia sengaja melakukan hal itu, untuk menjauhkan dirinya dan memberikan ketenangan pada dirinya sendiri.


Sayangnya, Karin tidak dapat melarikan diri dari Leon. Leon menangkap tangannya di sebuah gang sempit, saat Karin hendak memasuki rumah makan untuk membeli makanan.


Leon menghimpit tangan Karin ke dinding gang itu, wajah Leon terlihat sangat marah menatap tajam ke arah mata Karin.


Ternyata, sebelumnya Leon sudah memperhatikan gerak-gerik Karin sejak tadi. Leon juga sudah memperhatikannya dari kejauhan dan bergegas mengikutinya, pada saat Karin keluar dari gedung Perusahaan.


Karin merasa kesakitan, pada bagian pergelangan tangannya yang digenggam erat oleh Leon saat itu.


"Le-lepaskan aku!" Ujarnya yang sambil berusaha untuk memberontak.


"Mencarimu susah payah, setelah kutemukan. Kau memintaku untuk melepaskanmu begitu saja? Apa kau sudah gila?" Ujar Leon, dengan ekspresi wajah seperti ingin menikam mangsangya.


"Me-mencariku? U-untuk apa kau mencariku?" Tanya Karin, tergagap dan ketakutan.


Karin melihat jika sikap Leon sangat menakutkan saat ini, ia juga merasa jika saat ini Leon sedang sangat marah.


"Jelas aku mencarimu, atas apa yang kau lakuka-" Ujar Leon.


Namun, ia belum menyelesaikan perkataannya. Karin sudah membekap mulutnya, agar Leon tidak melanjutkan kata-katanya itu.


"Kumohon, jangan mengungkit hal itu. Anggap saja, tidak pernah terjadi apapun di antara kita. Aku telah, berusaha melupakannya."


"Jadi, kumohon lepaskan aku. Aku sangat memohon padamu, aku ingin hidup tenang tanpa mengingat bayang-bayang itu."


"Karena semua itu, telah membuatku hancur. Aku juga sangat meminta maaf padamu, mungkin aku telah menghancurkanmu juga."


"Maka dari itu, mari kita berdamai dan akhiri sampai di sini." Ujar Karin, sambil mengeluarkan air mata memohon kepada Leon.


Leon yang mendengar dan melihat hal itu, sangatlah terkejut. Hingga membuatnya, tidak dapat berkata-kata.


Secara perlahan, ia melepaskan genggaman tangannya pada tangan Karin.


Di saat yang bersamaan, Karin merasa sangat mual seperti ingin muntah. Sontak saja, ia reflek menutup mulutnya.


"Apa yang terjadi padamu? Apa kau sakit?".


Tanya Leon, dengan khawatir.


"A-aku baik-baik saja, mungkin hanya terlambat makan. Kumohon, kau pergilah sekarang juga. Jangan memperdulikan aku!" Ujar Karin, ia melebarkan jari-jari tangannya di hadapan Leon.


Lalu, Karin melangkah pergi meninggalkan Leon dan masuk kedalam rumah makan yang ingin ia tuju sebelumnya.


Saat yang bersamaan, Sean menghampiri Leon untuk memberitahunya. Kalau ada panggilan mendesak, untuknya saat ini.


Seakan tidak ada pilihan, ia pun melangkahkan kakinya menuju mobil mewah yang sebelumnya menjadi pusat perhatian para pegawai. Ia juga sambil, menatap ke arah Karin dari kejauhan.


Keadaan seakan tidak mendukung dan harus memisahkan mereka lagi, ditambah dengan Karin yang memohon kepada Leon agar melupakan apa yang terjadi antara mereka.


Dalam mobilnya, Leon termenung membayangkan perkataan yang diucapkan Karin baru saja. "Sangat keterlaluan!" Gumamnya dalam hati, sambil mengeluarkan ekspresi yang sangat marah.


...----------------...


Sementara itu, Karin kembali ke Perusahaan dan menemui Jean untuk memberikan makanan yang telah ia beli untuk Jean.


Karin tak pernah berharap akan bertemu Leon kembali, bahkan ia tidak pernah berpikir akan bertemu kembali dengan Leon.


Saat ini ia terasa sangat sesak dan ruang geraknya terhimpit, ketika mengetahui jika Perusahaan yang akan bekerja sama dengan Perusahaan tempatnya bekerja adalah Perusahaan milik pria yang tak sengaja tidur bersamanya.


Karin merasa khawatir, jika suatu saat nanti semua yang telah terjadi itu akan diketahui oleh seluruh orang di Perusahaan. Ia berniat menutup rapat-rapat kenyataan, bahwa Leon adalah pria yang tidur bersamanya. Bahkan, Karin berniat untuk menutupi kenyataan tersebut dari Jean.