
Saat yang bersamaan, Leon mendapat telepon dari Sean.
"Presdir Leon, orang yang kau cari tidak dapat ditemukan. Seluruh rekaman CCTV gedung juga sedang tidak berfungsi, sehingga aku tidak dapat menemukannya" Ujar Sean dari dalam telepon.
"Sial! Aku tidak tahu bagaimana caranya kau harus menemukan orang itu!" Jawab Leon dengan marah.
"Baiklah" Sahut Sean. Lalu, Leon menutup telepon itu.
Keesokan paginya, Leon keluar dari kamar yang berbeda dengan Karin dengan penampilan yang sudah rapi dan akan segera berangkat ke perusahaannya. Sebelum berangkat, ia masuk ke kamar tempat Karin tidur untuk melihat keadaan Karin terlebih dahulu yang masih tertidur pulas. Kemudian, ia bergegas berangkat ke perusahaannya setelah mengunci pintu apartemennya.
Tak lama kemudian, Karin terbangun karena wajahnya terpapar cahaya matahari dari jendela kamar apartemen yang menyorot lembut ke wajahnya.
"Hoaaam" Gumamnya menguap. Ia merasa seluruh tubuhnya sangat amat sakit, kaki nya yang terluka pun saat ini susah untuk digerakkan. Lalu, ia melirik kearah tubuhnya yang ternyata sudah berganti pakaian dari gaun yang terakhir kali ia kenakan di acara pertunangan kemarin.
"Aaaaaaaaa!" Teriaknya dengan sangat kencang. Ia terkejut karena saat ini ia memakai pakaian Leon.
"Leon, kau sangat brengsek. Aku akan membuat perhitungan besar denganmu!" Ujar Karin dengan sangat marah.
Saat itu, ia langsung bangun dari ranjangnya dan berdiri didepan cermin untuk memeriksa penampilan dirinya. Ia sedikit terkejut saat melihat wajahnya penuh memar, namun terdapat olesan salep yang membalutnya. Lalu, pandangannya mengarah pada luka di kakinya. Ternyata, luka itu juga sudah dibalut dengan perban dengan balutan yang sangat rapih. Karin terdiam sejenak sambil melihat pada balutan perban itu. Ia menyadari, bahwa Leon lah yang semalam mengurusnya. Perasaan yang sebelumnya kesal, kini sedikit mereda saat ia memikirkan sisi baik Leon yang mengurusnya.
"Tidak! Tidak! Aku harus tetap membuat perhitungan besar dengannya!" Ujar Karin menggelengkan kepala untuk memaksa pikirannya tidak melihat Leon dari sisi kebaikannya.
Kemudian, ia keluar dari kamar itu berteriak memanggil nama Leon berulang-ulang kali. Sayangnya, ia tidak menemukan Leon. Yang ia temukan adalah semangkuk bubur dan segelas susu dengan secarik note di atas meja makan yang bertuliskan '*Kau bisa membuat perhitungan besar denganku. Tapi sebelum kau menemui ku, sarapan dulu ya agar kau memiliki tenaga saat memukulku*' Isi dari secarik note itu. Setelah membaca note itu, ia duduk di kursi yang seakan memang sudah di siapkan untuk Karin menikmati sarapan yang sudah ada di atas meja makan itu. Perasaan Karin sangat tersentuh. Ia pun langsung mencicipi semangkuk bubur itu.
"Enak sekali" Gumamnya. Lalu, ia memakannya dengan lahap.
Di saat yang bersamaan, rupanya Leon yang sedang di ruang kerjanya melihat Karin sedang menikmati sarapan buatannya dari CCTV ruangan apartemen yang sudah tersambung pada ponselnya. Bahkan, Leon juga melihat saat Karin berteriak memanggil namanya di apartemen dengan ekspresi yang marah.
"Ehem" Leon menutupi bibirnya yang tersenyum kecil saat melihat Karin dari rekaman CCTV yang tersambung pada ponselnya.
"Presdir, apa yang sedang kau tertawakan?" Tanya Sean yang duduk di hadapannya.
"Bukan apa-apa" Sahut Leon dengan sedikit gelisah, ia langsung mematikan layar ponselnya.
"Presdir, aku telah menemukan orang yang kau cari kemarin malam" Ujar Sean kepada Leon sambil memberikan Leon map kecil yang berisi beberapa cetakan foto. Leon langsung membuka map itu dan melihatnya.
"Orang itu adalah Morgan" Ujar Sean saat Leon melihat foto-foto di map itu.
"Kurang ajar! Segera cari tahu latar belakangnya dan temukan dimana tempat tinggalnya. Aku akan membuat perhitungan yang sangat besar padanya" Ujar Leon dengan ekspresi yang sangat marah.
'Ding dong' Suara bel apartemen berbunyi.
"Itu pasti pesanan ku" Ujar Karin. Ia langsung menuju ke pintu dan segera membukanya.
"Ini paket mu, Nona Karin" Ujar pengantar paket itu sambil memberikan totebag yang isinya pesanan Karin.
"Terimakasih" Ujar Karin setelah mengambilnya. Lalu pengantar paket itu pergi dan Karin kembali menutup pintunya.
Ia memesan sepasang baju untuk ia kenakan, mengingat bahwa di apartemen Leon tidak ada baju miliknya. Setelah itu, ia bergegas bersiap untuk pergi ke perusahaan Leoparadise dan menemui Leon.
Sesampainya di perusahaan Leoparadise, ia langsung menemui Leon di ruangannya.
"Hey kau pria mesum, aku harus buat perhitungan denganmu!" Ujar Karin sambil berjalan pelan menghampiri Leon.
"Ka-karin" Ujar Leon. Sean tertawa mendengar Karin memanggil Leon dengan sebutan pria mesum. Leon langsung mendaratkan tatapan tajam pada Sean agar Sean berhenti tertawa.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Leon kepada Karin.
"Eh, oh ya kau benar. Cepat duduklah dan kerjaan pekerjaanmu. Te-tentang perhitungan itu, kita bicarakan di rumah saja ya" Sahut Leon. Lalu, Karin duduk di samping Sean yang berhadapan dengan Leon. Matanya tertuju pada foto-foto yang ada di atas meja, ia mengambil salah satu foto itu.
"Eh, apa ini?" Tanya Karin yang merasa bingung.
"Itu adalah orang yang hampir mencelakai mu semalam" Sahut Leon.
"Morgan" Ujar Karin.
"Kau sudah mengetahuinya?" Tanya Sean.
"Ya, aku bisa mengenali suaranya saat ia berteriak menamparku" Ujar Karin dengan ekspresi takut. Melihat Karin yang ketakutan, Leon menyuruh Sean keluar dari ruangannya untuk segera melakukan tugasnya. Lalu, Leon membawa Karin untuk duduk di sofa bersebelahan dengannya.
"Tenanglah" Ujar Leon. Karin menatap Leon dengan wajah penuh harap.
"Oh ya, bagaimana keadaanmu. Apakah sudah lebih baik?" Tanya Leon.
"Ehm" Sahut Karin menganggukkan kepalanya.
"Sini biar ku lihat memar di wajah dan kakimu" Ujar Leon memegang dagu Karin perlahan dan melihat memar yang ada di wajah Karin.
"Sepertinya memar di wajahmu sudah membaik" Ujar Leon sambil melirik kan pandangan ke arah kaki Karin yang terluka.
"Baiklah, sebagai toleransi untukmu. Hari ini kau tidak perlu melakukan pekerjaanmu, kau bisa kembali ke rumah untuk istirahat" Ujar Leon dengan ekspresi sok keren. Karin yang menatap itu tersenyum lebar.
"Toleransi kepala mu bau ayam! Kau tidak bisa lari dariku! Aku akan membuat perhitungan denganmu karena kau melanggar perjanjian kontrak. Pertama, kau mencium ku dengan sengaja di pertunangan. Lalu, kau.. " Ujar Karin. Karin melirik ke tubuhnya dengan ekspresi yang sangat malu hingga ia tidak melanjutkan kata-kata yang ingin dia utarakan.
"Apa?" Tanya Leon.
"Ah, dasar pria mesum!" Karin melempari Leon menggunakan bantal yang ada di sofa.
"Sudah, Sudah. Maafkan aku, aku tidak punya pilihan lain. Ini salahku, aku akan memberikanmu kompensasi. Aku akan kirimkan kompensasi nya ke rekening mu sekarang" Ujar Leon, ia langsung mengambil ponselnya untuk memberikan kompensasi kepada Karin.
"Lihatlah, apakah ini cukup?" Ujar Leon memperlihatkan layar ponselnya.
(Sejumlah uang 500,000,000 berhasil dikirim ke rekening Karina Mouri)
Saat melihat itu, Karin melotot dan mulutnya mangap karena terkejut uang yang dikirimkan Leon amat sangat banyak. Bahkan saat ia bayangkan, uang itu cukup untuk biaya hidupnya selama 5 Tahun ke depan.
"Hey, kenapa kau diam? Jawab aku. Apakah ini cukup?" Tanya Leon kembali.
Karin tersadar.
"I-ini sangat banyak sekali" Gumam Karin. Leon merasa bingung karena Karin berkata jumlah uang itu sangat banyak, karena menurutnya itu tidak seberapa untuk dijadikan kompensasi karena melanggar kontrak perjanjian.
"Ba-baiklah, aku memaafkanmu kali ini" Ujar Karin.
"Huh" Leon menghela nafas merasa dirinya sudah aman. Lalu, ia teringat sesuatu.
"Oh ya, pagi ini ibu menghubungiku menanyakan dimana dirimu. Aku berkata padanya jika kau dan aku semalam menginap di apartemen ku. Ibu sangat mengkhawatirkan mu" Ujar Leon.
"Pasti ibu sangat mengkhawatirkan ku, jelas saja begitu. Karena kini, posisimu sebagai anaknya telah ku rebut. Jadi ibu lebih menyayangiku dari pada kau" Sahut Karin mengejek Leon.
"Mana mungkin begitu, ibu hanya khawatir padamu" Ujar Leon.
"Sudahlah, lebih baik aku pergi menemui ibu. Dari pada bersama denganmu disini, membuatku ingin memukuli mu" Ujar Karin dengan rasa semangat. Ia pun bergegas bangun untuk pergi. Namun, langkah kakinya terhenti di depan pintu ruangan. Ia kembali menghampiri Leon.
"Kenapa kau kembali lagi?" Tanya Leon dengan heran.
"Ibu pasti akan sangat khawatir melihat memar di wajahku ini" Ujar Karin dengan ekspresi melas.
"Ehmm, kau benar. Karena memar itu membuat wajahmu semakin jelek, takutnya ibu malah akan memukulmu" Sahut Leon mengejek Karin.
"Dasar brengsek!" Ujar Karin.
"Maafkan aku, aku hanya bercanda" Sahut Leon tertawa kecil. Lalu Karin kembali duduk di sofa memikirkan jalan keluarnya.
"Aku akan merias wajahku untuk menyamarkan memar ini, agar ibu tidak khawatir saat melihatnya" Ujar Karin. Lalu, ia pun merias kan wajahnya.
Setelah beberapa saat merias wajah.
"Hey, apakah memar di wajahku sudah tersamarkan?" Tanya Karin menunjukkan wajahnya kepada Leon dengan sangat dekat pada wajah Leon. Leon terdiam memandangi wajah Karin setelah di rias tanpa berkata-kata.
"Hey, bicaralah!" Ujar Karin.
"Ekhem, ya-ya. Su-sudah tidak terlihat" Sahut Leon dengan sedikit batuk.
"Baguslah, aku akan pergi sekarang" Ujar Karin. Ia pun melangkah perlahan menuju pintu ruangan.
"Hey, Hati-hati kakimu" Teriak Leon.
"Tenanglah, ini sudah membaik. Ini juga bukan hal yang perlu dikhawatirkan" Sahut Karin.
"Aku akan menghubungi Sean untuk mengantarmu" Ujar Leon. Lalu, Karin menganggukkan kepalanya dan pergi dari ruangan Leon. Setelah itu, Leon segera menghubungi Sean untuk menunggu Karin di Lobby dan mengantarkannya kembali ke rumah utama.
Karin berada di depan pintu lift untuk turun ke lobby. Saat
pintu lift terbuka, seorang wanita yang terlihat sangat cantik keluar dari dalam lift berpas-pasan dengan Karin yang masuk kedalam lift. Karin sempat melamun melihat wanita cantik itu, ia merasa jika wanita itu bagai dewi yang sempurna dari penampilannya.