Fall In Love With Mr. Leon

Fall In Love With Mr. Leon
Milik Presdir Leon



"Ya! Akan aku perjelas." Ujar Leon, sambil menatap tajam ke arah wajah Morgan.


"Dengarkan baik-baik, untukmu dan untuk orang-orang yang ada di hadapan kami saat ini." Ujarnya lagi, sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah Morgan. Kemudian, memalingkan pandangannya pada seluruh orang-orang yang ada di sana.


"Aku adalah, Kaivan Leon Azura. Aku akan mengumumkan pada kalian semua, bahwa wanita di samping kananku yang bernama Karina Mouri ini adalah TUNANGANKU!" Ujarnya dengan sangat lantang, sambil menggenggam pergelangan tangan Karin dan mengangkatnya hingga sejajar dengan bahu.


"Siapapun dari kalian yang berani menyentuhnya, kalian berhadapan denganku!" Ujarnya, mengumumkan kepada semua orang yang ada di sana termasuk Morgan.


Semua orang terkejut mendengar hal itu. Bahkan, Karin juga ikut terkejut mendengar pengumuman itu.


"Bu-bukankah itu Kaivan Leon Azura pemilik Perusahaan besar Leoparadise yang terkenal dalam dunia bisnis itu?"


"Kau benar, dia adalah Kaivan Leon Azura pemilik Perusahaan Leoparadise!"


Orang-orang di sekitar mereka, langsung bergosip tentang identitas Leon.


"I-itu tidak mungkin!" Ujar Morgan, menyangkal perkataan Leon.


"Itu adalah kenyataannya! Pergilah! Jangan pernah menunjukkan wajahmu, di depanku dan di depan tunanganku lagi!" Ujar Leon, mengusir Morgan.


Morgan yang saat itu merasa sangat shock, tidak bisa bertindak apa-apa. Ia pun berniat untuk pergi dari sana.


"K-kau!" Ujar Morgan, Morgan melangkahkan kakinya mendekati Leon sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah wajah Leon.


Leon hanya diam, melihat ke arah Morgan dengan perasaan berani.


"Lihat saja, aku akan membalasmu!" Ujar Morgan, ia pun melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana.


Tak lama kemudian, Morgan hilang dari pandangan mereka.


Semua orang-orangpun dibubarkan oleh Sean, Asisten pribadi Leon. Sementara itu, Karin masih terdiam tak berkata-kata karena merasa dirinya dalam situasi yang sangat membingungkan. Leon berusaha menyadarkannya, dengan menggoyangkan bahunya.


"Hey, kenapa kau diam?" Tanyanya, pada Karin.


Sontak Karin tersadar dari lamunannya, dan menatap tajam ke arah Leon.


"Dengar, Terima kasih karena kau telah menolongku. Tapi yang barusan kau lakukan, terlalu berlebihan!" Ujar Karin, kepada Leon.


"Aku dan kau, tidak ada hubungan apapun. Tidak seharusnya kau berkata, bahwa aku adalah tunanganmu. Apalagi kau dan aku hanya sebatas orang asing, yang tidak sengaja bertemu." Ujarnya lagi, memberi penjelasan kepada Leon.


Saat mendengar hal tersebut, ekspresi wajah Leon berubah seketika. Alis matanya mengerut, seperti sangat marah.


"Kau bilang kita hanya orang asing?" Tanya Leon, dengan ekspresi yang sinis.


Saat ia sedang mengajukan pertanyaan, Tiba-tiba Karin merasa kepalanya sangat pusing.


"Dengar, aku bukan orang yang bisa diperlakukan-" Ujar Leon, kepada Karin.


"Uweek" Mulut Karin spontan mengeluarkan suara hendak ingin muntah, di saat Leon sedang berbicara.


Tiba-tiba, pandangan matanya juga terasa sangat buram. Tak lama kemudian, ia pingsan. Sontak Leon reflek memeluk tubuh Karin, terlihat ekspresi Leon sangatlah panik.


"Karin.. Karin.." Ujar Leon menggoyangkan pipi Karin, dengan jemari tangannya.


Di saat yang bersamaan, Jean datang dengan merasa khawatir karena Karin tak kunjung kembali kedalam kedai.


Bersamaan dengan hal tersebut, Jean langsung berlari ke arah mereka.


"Karin!" Teriak Jean, sambil berlari ke arah Karin yang pingsan di pelukan Leon.


Leon terkejut dengan suara teriakan Jean, ia langsung memalingkan wajahnya ke arah Jean yang berlari menghampiri mereka.


"Presdir Leon, apa yang terjadi dengan Karin?" Tanya Jean, dengan ekspresi yang sangat cemas.


Leon pun tidak menjawab pertanyaannya, ia langsung memalingkan pandangannya kepada Sean.


"Sean, cepat buka pintu mobil." Ujarnya, kepada asistennya itu.


Kemudian, ia segera menggendong Karin untuk masuk kedalam mobil. Jean juga ikut bersama mereka. Dengan rasa panik, mereka segera bergegas membawa Karin menuju rumah sakit.


...----------------...


Tak lama kemudian, mereka tiba di rumah sakit terdekat.


"Dokter.. Dokter.." Teriak Leon, yang berlari sambil menggendong Karin masuk kedalam rumah sakit.


Jean dan Sean ikut berlari di belakang Leon yang menggendong Karin, mereka terlihat sangat panik.


Kemudian, seorang Dokter dan para perawat datang menghampiri mereka untuk bergegas membawa Karin ke ruang perawatan.


"Tunggulah di sini, tidak ada yang boleh masuk." Ujar salah satu perawat, menahan mereka di depan pintu ruangan.


"Tapi.." Ujar Jean, dengan ekspresi yang sangat panik.


Kemudian, pintu ruangan pemeriksaan ditutup oleh perawat itu agar Karin segera mendapat penanganan.


Leon, Jean dan Sean menunggu di luar ruangan dengan rasa penuh khawatir.


...****************...


1 jam 30 menit telah berlalu.


Seorang Dokter pria tampan yang menangani Karin, keluar dari ruang perawatan itu.


Mereka yang menunggu di luar ruangan, segera menghampirinya.


"Dok, bagaimana keadaan Karin?" Tanya Jean, dengan ekspresi yang terlihat sangat cemas.


"Tenanglah, pasien sudah sadar. Ia hanya kelelahan, dan sangat membutuhkan istirahat yang cukup." Ujar Dokter itu.


Mendengar hal itu, Jean langsung masuk kedalam ruangan meninggalkan yang lainnya untuk melihat keadaan Karin.


"Karin, apa kau baik-baik saja?" Tanya Jean, sesampainya di hadapan Karin.


Saat itu, Karin duduk di kasur pasien bersama perawat yang sedang memberinya suntikan.


"Jean, aku baik-baik saja." Ujar Karin. Wajahnya, masih terlihat pucat.


"Dasar bodoh, aku sangat mengkhawatirkanmu!" Ujar Jean. Sontak ia langsung memeluk Karin, yang saat itu masih dalam penanganan oleh perawat.


Leon dan Sean melangkah masuk kedalam ruangan, untuk melihat keadaan Karin. Melihat keadaan Karin saat ini yang sudah sadar dan baik-baik saja, membuat Leon merasa sangat lega.


Leon berdiri di dekat Karin, tanpa mengatakan apapun.


Setelah Karin selesai mendapat perawatan, perawat itu memberitahu kepada semua bahwa ada beberapa obat yang harus ditebus untuk dikonsumsi oleh Karin.


"Ada beberapa obat yang harus ditebus. Ini adalah resep yang sudah di tuliskan oleh Dokter." Ujar perawat itu, kepada mereka.


Kemudian, Leon mengambil resep obat itu. Ia juga memberi arahan kepada Sean, untuk ikut dengan perawat menebus resep obat yang dikatakan perawat.


"Jean, aku ingin pulang." Ujar Karin, dengan suara yang terdengar sangat lemas


"Ya, kita pulang. Berjanjilah, kau tidak boleh terlalu kelelahan setelah ini. Kau membuatku sangat khawatir, Karin." Ujar Jean. Karin hanya tersenyum, dan menganggukkan kepalanya.


Tak lama kemudian, Sean kembali pada mereka dengan membawa kantung obat-obatan.


Lalu, Leon dan Sean mengantarkan mereka pulang ke rumah.


...****************...


Sesampainya di depan rumah, mereka semua turun dari Mobil.


"Presdir Leon, terima kasih banyak." Ujar Karin, sambil sedikit menundukkan kepalanya.


"Terima kasih banyak karena telah menolong Karin, Presdir Leon." Ujar Jean.


Leon menganggukkan kepalanya untuk menjawab perkataan Jean. Lalu, Leon menoleh ke arah Karin dan perlahan menghampirinya.


"Jaga kesehatanmu." Ujar Leon, sambil memberikan kantung obat kepada Karin.


"Segeralah masuk kedalam, dan istirahat." Ujarnya lagi.


Tak lama kemudian, Karin dan Jean melangkah masuk kedalam rumah meninggalkan Leon dan Sean.


Leon masih berdiri di sana, untuk memastikan Karin dan Jean masuk kedalam rumah dengan aman. Setelah mereka menutup pintu rumah, Leon dan Sean bergegas masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan rumah Jean dan Karin.


Sementara itu, Karin langsung masuk kedalam kamar untuk beristirahat. Jean menyusulnya, dengan membawakan segelas air untuknya minum obat.


"Ini airnya, minumlah obatnya dan segeralah istirahat." Ujar Jean, sambil memberikan segelas air itu kepada Karin.


"Besok aku akan bicara pada Asisten Kevin, untuk meminta izin padanya agar kau bisa istirahat dulu di rumah." Ujarnya lagi.


Karin langsung menuruti perkataan Jean tanpa membantah, ia mengambil gelas yang diberikan Jean dan segera meminum obat yang diberikan oleh Dokter.


Setelah itu, Karin merebahkan tubuhnya di atas ranjang untuk mengistirahatkan tubuhnya sesuai anjuran Dokter.


"Tidurlah, aku akan segera kembali." Ujar Jean.


Jean keluar dari kamar dengan membawa gelas, yang sebelumnya diberikan kepada Karin untuk minum obat.


Sebelum tidur, Karin memandang ke langit-langit kamarnya.


"Ini seperti mimpi bagiku" Gumamnya, sambil menatap ke arah langit-langit kamar. Kemudian, perlahan matanya terpejam dan langsung tertidur pulas.