
Setelah menempuh beberapa perjalanan, mobil yang mereka tumpangi tiba di depan gerbang rumah utama kediaman keluarga Kaivan. Rumah yang akan menjadi tempat singgah yang baru bagi Karin. Mereka turun dari mobil, Leon mengajak Karin masuk disusul dengan Sean sambil membawa koper-koper Karin.
Mereka membuka pintu rumah utama yang megah itu,
"Selamat datang, Karin" Sambut Nyonya Meilan meregangkan kedua lengannya dan menghampiri Karin untuk memeluknya. Di sana juga terdapat banyak orang yang menyambut Karin.
> Pengenalan Orang-orang di rumah keluarga Kaivan <
Nyonya Meilan, yang bernama lengkap Kaivan Meilan Margareta. Seperti yang kita tahu, ia adalah ibu dari Leon. Ia bersikap dan sifat sangat baik dan sopan, wawasannya sangat luas dan juga pengetahuannya sangat rinci. Meski sudah berusia tidak muda lagi, ia seringkali keluar negeri untuk perjalanan bisnis. Penampilan Nyonya Meilan sangatlah heboh dan juga elegan, meski ia sangat kaya raya akan tetapi ia bukanlah orang yang sombong. Bahkan, ia selalu mengajarkan Leon untuk tidak menjadi orang yang sombong. Hanya saja, Leon tidak pernah mendengarkannya. Justru Leon bertolak belakang dengan sifat dan sikap ibunya.
Mona, Della, Ameta, Kaira, Jena, Debri, Bela, Aulia, Sandrina, Aleya dan Molly. Mereka adalah beberapa orang dari Asisten Rumah Tangga yang bekerja di rumah utama keluarga Kaivan. Mereka sangat ramah dan memiliki tugas masing-masing.
Bibi Elena. Ia adalah Asisten kepercayaan keluarga Kaivan dan sudah bekerja pada keluarga Kaivan semenjak Leon masih bayi. Bibi Elena sudah berusia 65 Tahun, namun ia masih terlihat sangat gagah. Selama ini, Bibi Elena lah yang lebih sering mengurus Leon semasa hidupnya karena Nyonya Meilan harus sering meninggalkan Leon ke luar negeri karena urusan pekerjaan. Leon juga menyayanginya dan menganggapnya seperti seorang nenek.
Asisten Michael, adalah Asisten kepercayaan pertama sekaligus bodyguard Nyonya Meilan. Asisten Michael adalah satu-satunya orang kepercayaan Nyonya Meilan untuk mengurus pekerjaan yang tidak sempat di handle dalam waktu tertentu olehnya. Sikap dan sifatnya terlalu pendiam, sehingga hanya mengabdi dan mendengarkan apa yang dikatakan Nyonya Meilan saja.
Asisten Nana, adalah Asisten kepercayaan kedua Nyonya Meilan. Asisten Nana yang seringkali diberikan kepercayaan oleh Nyonya Meilan untuk menyusun kegiatan perjalanan bisnisnya. Terlebih lagi, jika terjadi sesuatu pada Nyonya Meilan. Asisten Nana selalu sigap membantu merawat Nyonya Meilan.
Paman Bima, Paman Nino dan Rega. Adalah Asisten Rumah Tangga keluarga Kaivan untuk mengurus halaman rumah utama keluarga Kaivan.
Meski rumah mereka megah, semua terasa ramai karena banyak orang di dalamnya. Terlebih lagi, Nyonya Meilan tidak pernah membeda-bedakan status pekerja yang ada dirumahnya. Meski begitu, para Asisten rumah tangga mereka tidak merasa enak hati karena Nyonya Meilan sudah sangat baik kepada mereka selama ini. Maka merekalah yang mengambil tindakan untuk menghormati keluarga Kaivan.
"Ikut denganku, Karin" Ujar Nyonya Meilan.
Nyonya Meilan membawa Karin masuk ke dalam menuju sebuah ruangan kamar, diikuti dengan Leon dan Sean dibelakang mereka. Lalu, dua orang Asisten rumah tangga yang ada di sana membawa koper milik Karin mengikuti langkah kaki Nyonya Meilan dan Karin.
Sesampainya di depan sebuah ruangan, Karin sangat terkejut melihat dalam ruangan itu. Ruangan itu sangat amat luas seperti layaknya kamar seorang putri raja, desain kamarnya juga sangat indah dengan lampu mewah yang menggantung di langit-langit kamar. Ranjang yang ada di sana sangat besar sehingga mungkin bisa 4-5 orang yang tidur di atasnya.
"Ini akan menjadi kamarmu sampai acara pertunangan mu selesai" Ujar Nyonya Meilan.
"Oh ya, dimana kedua orang tuamu? Biarkanlah mereka datang ke sini, aku juga sudah menyiapkan kamar untuk mereka" Ujar Nyonya Meilan. Mendengar hal itu, Karin terdiam tak mampu berkata-kata dan mengeluarkan ekspresi.
"Ma.. " Ujar Leon, menggenggam lengan ibunya itu seakan memberikan isyarat.
"Kita bisa bicarakan nya di ruangan lain" Ujar Leon menggenggam pergelangan tangan Karin untuk menahannya melanjutkan kalimatnya.
"Debri, Ameta. Bawa masuk koper-koper Karin. Setelah itu, Kalian bisa kembali untuk membantu yang lain menyiapkan makan malam. " Ujar Nyonya memberitahukan kepada Asisten Rumah Tangganya yang membawa koper-koper Karin.
"Presdir, aku akan segera pulang ke rumah" Ujar Sean. lalu, Leon pun menganggukkan kepala. Setelah itu, Sean pun pergi meninggalkan mereka.
Kemudian, Leon membawa Karin dan Ibunya menuju ruangan lain di lantai dua. Yaitu ruang private bagi keluarganya saat membicarakan hal yang penting.
Sesampainya di dalam ruangan itu. Nyonya Meilan membawa Karin duduk di sofa bersama dengan Leon.
"Bicaralah, Karin. Ceritakan kepadaku" Ujar Nyonya Meilan dengan sangat lembut sambil menggenggam tangan Karin. Karin terdiam, menarik nafas dengan sangat dalam. Ia ingin berterus terang menceritakan tentang keluarganya tanpa ada air mata. Maka dari itu, ia membutuhkan waktu untuk menguatkan hatinya sebelum berbicara.
"Kedua orang tua ku sudah meninggal sejak aku masih kecil, selama ini aku tinggal dengan sahabat yang sudah seperti kakak perempuan bagiku. Namanya Jean. Aku tidak memiliki siapapun selain Jean. Begitupun dengan Jean, ia memiliki hal yang sama denganku. Jadi, sejak kecil kami sudah saling menjaga satu sama lain" Ujar Karin secara perlahan-lahan. Mendengar hal itu, Nyonya Meilan mengeluarkan air mata dan langsung memeluk erat Karin.
"Pasti kau hidup dengan sangat kesulitan, pasti banyak hal buruk terjadi denganmu" Ujar Nyonya Meilan sambil menangis memeluk erat Karin. Nyonya Meilan juga membelai rambut Karin dengan sangat lembut. Karin tidak menyangka jika ternyata respon Nyonya Meilan terhadapnya benar-benar sangat ramah dan baik.
Saat itu Leon hanya diam menutupi wajahnya dengan telapak tangan yang memijat dahinya tanpa berekspresi, sebelumnya ia sudah mencari tahu kebenaran tentang Karin secara rinci. Bahkan, Leon sudah mengetahui bagaimana cerita kesulitan yang dialami Karin dan Jean. Selain itu, Leon juga sudah mencari tahu seluruh profil tentang Karin. Leon tidak pernah menyinggung tentang keluarga Karin, karena ia tahu itu akan melukai Karin. Leon pun lupa untuk memberi tahu kepada Nyonya Meilan sebelumnya.
"Tidak apa-apa, Nyonya Meilan. Asalkan bersama Jean, kami bisa menghadapinya. Apa kau tahu? Jean menjagaku dengan sangat baik, ia juga seperti preman yang melindungi ku dari orang-orang yang menindas ku" Ujar Karin menenangkan Nyonya Meilan. Mendengar hal itu, ekspresi Nyonya Meilan seketika berubah. Ia melepaskan pelukannya dengan memegang kedua bahu Karin menghadapkan wajahnya ke wajah Karin.
"Dengar, mulai sekarang kau harus memanggilku dengan sebutan Mama! Apa kau mengerti?! Aku tidak menerima jika kau memanggilku seperti tadi! Sekarang aku adalah ibu mertua mu dan aku adalah ibu sambung mu! Apa kau mendengar nya?" Ujar Nyonya Meilan dengan sangat marah. Hal yang membuat Nyonya Meilan marah adalah saat Karin memanggilnya dengan sebutan Nyonya.
"Ta-tapi.. " Ujar Karin. Melihat Nyonya Meilan yang marah terhadapnya dengan ekspresi yang menakutkan, membuat Karin amat sangat gugup. Suasana berubah menjadi tegang saat Nyonya Meilan marah.
"Ma, Karin masih merasa canggung" Ujar Leon yang melihat suasana tegang itu.
"Ayo, sebut aku dengan panggilan Mama!" Ujar Nyonya Meilan memaksa Karin. Karin sangat berkeringat dan kaku.
"Ma-Mama" Ucap Karin terbata-bata memberanikan diri memanggil Nyonya Meilan dengan sebutan Mama sesuai perintah Nyonya Meilan.
Mendengar Karin menyebutnya dengan sebutan Mama, Nyonya Meilan pun mengeluarkan air mata haru dan langsung memeluk erat Karin kembali.