Fall In Love With Mr. Leon

Fall In Love With Mr. Leon
Meninggalkan Jean.



"Iya, Jean. Maaf ini sangat mendadak" Ujar Karin, sambil menundukkan kepala dengan ekspresi wajah yang murung dan merasa bersalah.


"A-apa yang sebenarnya terjadi? Jelaskan padaku" Ujar Jean. Karin merasa bingung untuk menjelaskan kepada Jean, tangan Karin gemetar dan berkeringat. Lalu, ia melirik ke arah Leon.


"Biar aku yang menjelaskannya" Ujar Leon.


"Baiklah, silahkan kau jelaskan. Presdir Leon" Sahut Jean.


"Pada saat Karin bertemu mantan kekasihnya di kedai Hotpot beberapa hari lalu, ia mengancam akan melakukan hal gila kepada Karin. Aku mengatakan, bahwa Karin adalah tunanganku. Semua itu kulakukan bertujuan untuk menjaga Karin. Dan selain itu, aku menyayangi Karin" Ujar Leon menjelaskan kepada Jean dengan sebuah kebohongan.


"Eh, benarkah begitu? Aku bersyukur jika Presdir Leon menyayangi Karin. Tapi, untuk menjaga Karin dari Morgan. Ku rasa ada benarnya juga. Karena tadi.. " Ujar Jean sambil memainkan kuku ibu jadinya.


"Karena tadi apa, Jean?" Tanya Karin penasaran.


"Morgan datang ke sini, ia menanyakan keberadaan dirimu" Sahut Jean dengan ekspresi wajah yang cemas.


"Lalu, kemana dia?" Tanya Leon, yang mengeluarkan ekspresi marah.


"Entahlah, dia pergi setelah kuusir dan berkata kalau Karin tidak ada di rumah" Sahut Jean.


"Mungkin memang sebaiknya kau pergi sementara dari sini demi keselamatanmu. Karena, aku sendiri tidak dapat menjamin keselamatanmu. Apalagi kita adalah perempuan, tidak kuat seperti laki-laki" Ujar Jean sambil menggenggam telapak tangan Karin.


"Lalu, bagaimana denganmu?" Tanya Karin dengan ekspresi sedih setelah Jean mengatakan hal itu, Jean terlihat merelakan Karin pergi dari sisinya. Namun, di wajahnya mengekspresikan bahwa ia merasa berat melepaskan Karin. Tentu saja Jean merasa berat hari, selama 12 tahun mereka berdua hidup dalam satu atap yang sama dan melakukan apapun selalu berdua. Kini, mereka harus berpisah dengan keadaan yang sangat kebetulan terjadi. Namun, Jean juga tidak ingin Karin bertemu kembali dengan Morgan.


"Tenanglah, Asisten Kevin bilang kalau minggu besok perusahaan mengirimku untuk pekerjaan di luar kota. Maka itulah, aku sangat memikirkanmu. Kalau kau tetap di sini saat aku pergi ke luar kota, Morgan pasti akan mengusikmu saat tak ada diriku. Lalu, siapa yang akan menjaga gadis kecilku yang bodoh ini?" Ujar Jean. Ternyata, Jean juga akan pergi untuk pekerjaan sebentar lagi.


"Tenang saja, aku akan bersama Karin setiap waktu. Ia juga akan tinggal di rumahku setelah pertunangan, jadi Morgan tidak akan bisa mendekatinya" Ujar Leon.


"Syukurlah, untung ada kau Presdir Leon" Sahut Jean.


Sementara itu, tiba-tiba Jean terdiam merasa heran. Seketika ekspresi Jean berubah menatap Karin dan Leon, Jean tersenyum dan bertanya dengan rasa penasarannya.


"Tunggu dulu, bukankah sebelumnya kalian tidak ada hubungan spesial? Kalian juga baru bertemu saat meeting antar Perusahaan waktu itu. Jadi, bagaimana kalian bisa memutuskan untuk melangsungkan pertunangan?" Tanya Jean, penasaran dengan ekspresi konyol menggoda Karin dan Leon.


"Sebenarnya, aku bertemu dengan Karin saat dia pergi ke klub malam beberapa waktu lalu" Ujar Leon.


"A-apa? Jadi, kau adalah.... " Sahut Jean terkejut dengan cerita Leon. Sebelum menyelesaikan kalimatnya, Karin langsung membekap mulut Jean agar ia tidak melanjutkan kalimatnya dengan gegabah. Karena Karin sudah tahu apa yang akan dikatakan oleh Jean.


"Jean kumohon jangan diungkit, aku sudah lama melupakannya" Ujar Karin berbisik di telinga Jean. Jean pun tak tega melihat ekspresi Karin, dan ia menganggukkan kepala mengerti untuk tidak mengungkitnya.


"Sudahlah, aku akan membantumu membereskan barang-barang yang akan kau bawa, Karin" Ujar Jean.


"Baiklah, terimakasih Jean" Ujar Karin. Lalu mereka berduapun masuk kedalam kamar untuk merapikan barang-barang Karin.


Sesampainya di kamar, Karin langsung memasukkan pakaiannya kedalam koper. Jean membantunya memasukkan barang-barang perlengkapan yang Karin butuhkan kedalam koper yang lain.


"Jean, jangan bicara seperti itu. Bagaimana bisa aku akan melupakanmu, kita akan tetap bisa saling bertemu nantinya. Kau satu-satunya yang kumiliki, kau adalah tempatku untuk pulang, Jean" Sahut Karin. Lalu, Karin langsung berlari kearah Jean dan memeluknya dengan sangat erat.


"Hey, gadisku yang bodoh. Apakah ada rahasia yang ingin kau ceritakan, sebelum kau meninggalkan aku?" Ujar Jean sambil memeluk erat Karin. Sontak Karin terdiam beberapa saat.


"Ti-tidak, kau sudah mengetahui semua rahasiaku" Sahut Karin.


"Baiklah tidak apa. Jika ada yang ingin kau katakan, segera hubungi aku. Jika Presdir Leon menindasmu, kau juga harus melapor padaku. Akan kuhajar dia dengan tinjuku, kalau ia sampai menindasmu" Ujar Jean melepaskan pelukan dengan menggenggam kedua bahu Karin.


"Tenanglah, aku yang akan meninjunya nanti" Sahut Karin berusaha menenangkan hati Jean.


"Baiklah, semua sudah selesai. Aku harus segera pergi, jaga dirimu baik-baik di sini ya, Jean. Kalau terjadi sesuatu, segera hubungi aku" Ujar Karin sambil mengambil kedua kopernya untuk dibawa ke luar.


"Tenang saja, kau tau aku adalah wanita bar-bar. Tidak ada yang berani menindasku" Ujar Jean.


Kemudian, mereka berdua keluar dari kamar sambil menggeret kedua koper yang akan dibawa oleh Karin.


"Apakah sudah selesai?" Tanya Leon.


"Semua sudah selesai" Sahut Karin.


"Sean, tolong bawa koper-koper itu ke dalam bagasi mobil" Ujar Leon kepada Sean.


"Baiklah, berikan padaku" Ujar Sean kepada Leon dan Karin. Lalu, Sean langsung menggeret koper-koper itu untuk dibawa ke mobil.


Sementara itu, Leon dan Karin berpamitan dengan Jean. Jean dan Karin saling berpelukan dengan sangat erat sambil menangis. Mereka harus rela melepaskan kali ini demi kebaikan semua orang, terutama agar Karin terselamatkan dari Morgan.


"Jean, besok kau harus datang ke acara pertunangan kami. Aku akan mengirimkan alamatnya" Ujar Leon.


"Baiklah, aku akan datang tepat waktu" Ujar Jean.


"Rekan-rekan dari perusahaan kalian juga sudah dikirimkan undangan untuk acara pertunangan kami besok, kau bisa datang bersama mereka" Ujar Leon.


"Baiklah" Sahut Jean. Kemudian, Jean melangkah mendekati Leon.


"Presdir Leon, aku titipkan gadis bodohku kepadamu. Kau harus bertanggung jawab penuh atas dirinya, tolong jaga dia untukku" Ujar Jean di hadapan Leon sambil menangis.


"Jean, tenanglah. Aku akan memperlakukannya dengan baik, aku berjanji padamu akan selalu menjaga dan tidak menyakitinya" Sahut Leon berjanji dengan Jean.


Kemudian, mereka melangkah perlahan ke luar rumah menuju teras. Jean mengantarkan mereka hingga mobil, Karin dan Leon segera masuk kedalam mobil untuk pulang ke rumah utama.


Di dalam mobil, Karin masih saja menangis sambil memandangi Jean yang berdiri di luar jendela mobil mereka. Jean melambaikan tangan kepada mereka, Jean juga menahan tangisannya agar Karin tidak terlalu mengkhawatirkannya. Lalu, mobil yang ditumpangi Leon, Karin dan Sean pun perlahan melaju meninggalkan Jean.