
"Ya, tentu! Aku tidak akan membiarkan siapapun lolos lagi. Aku sudah menetapkan hal ini. Pokoknya, besok kalian akan bertunangan. Lalu satu bulan kemudian, kalian akan menikah. Tidak ada yang boleh membantah hal itu!" Ujar Nyonya Meilan dengan tatapan mata yang serius dan ekspresi yang menyeramkan.
"Per-pernikahan?" Ujar mereka secara bersamaan karena kembali terkejut. Sementara itu, Nyonya Meilan menghubungi seseorang lewat telepon.
"Michael, segera persiapkan undangan pertunangan untuk seluruh rekan kolega dan keluarga untuk Leon dan Karin. Kemudian, segera kau persiapkan sebuah gedung yang megah untuk melakukan acaranya besok. Segalanya harus dipersiapkan dan harus selesai malam ini. Apa kau mengerti?!" Ujar Nyonya Meilan di telepon. Lalu, ia menutup telepon itu. Sedangkan Leon, Karin dan Sean hanya melongo menatap Nyonya Meilan.
"Kalian bertiga terlihat seperti orang bodoh. Sudahlah, ayo Karin ikut denganku. Hari ini kita akan mempersiapkannya!" Ujar Nyonya Meilan. Tanpa basa-basi, Nyonya Meilan menggenggam pergelangan tangan Karin dan menariknya untuk bergegas keluar ruangan itu. Karin masih merasa sangat shock tubuhnya hanya lemas mengikuti pergerakan yang diarahkan Nyonya Meilan, wajah Karin terus menatap Leon memberi isyarat meminta pertolongan Leon dengan menunjukkan ekspresi bodohnya.
Melihat sikap ibunya, Leon juga hanya bisa terdiam menganga. Hanya pandangan matanya, yang mampu melihat pergerakan dan langkah kaki ibunya yang menarik Karin. Setelah Karin dan ibunya meninggalkan ruangan, Leon berdiri menghampiri Sean dengan perasaan yang masih sangat terkejut.
"Se-sean.." Ujar Leon terbata-bata pada Sean dengan tatapan mata kosong, ia memegang erat bahu Sean.
"Y-ya, Presdir?" Tanya Sean terbata-bata.
"Ka-kapan Ibuku pulang dari inggris dan kenapa tidak ada yang memberitahukan hal kepadaku?" Tanya Leon berteriak dengan ekspresi yang menyedihkan.
"Presdir, percayalah. Aku juga tidak tahu kapan Nyonya Presdir pulang" Ujar Sean dengan ekspresi yang sama menyedihkannya dengan Leon. Lalu, tiba-tiba Leon menyandarkan kepalanya di bahu Sean.
"Habislah kita" Ujar Leon berbisik.
Setelah beberapa saat Leon dan Sean dalam suasana terkejut yang menyedihkan, Leon langsung berlari keluar ruangan sambil menarik dasi Sean untuk ikut dengannya mengejar Karin dan Ibunya.
"Kita harus menyusul mereka!" Ujar Leon berlari dengan sangat cepat sambil menarik dasi Sean, hingga leher Sean hampir tercekik karenanya.
Sementara itu, Karin terjebak dalam mobil mewah milik Nyonya Meilan. Tubuh Karin sangat gemetar ketakutan, saat melihat Nyonya Meilan yang berekspresi serius. Karin coba memberanikan diri untuk menjelaskan situasi yang sebenarnya
"Nyo-Nyonya.." Ujar Karin gugup.
Lalu, seketika Nyonya Meilan memotong pembicaraannya. "Karin, apa kau tahu? Aku baru saja kembali dari Inggris, aku sangat bahagia melihat putra tunggalku telah memiliki pasangan. Selama ini, dia adalah pria yang bodoh hanya tau bekerja mengurus Perusahaan dan hanya memiliki keahlian pada sikapnya yang dingin. Mungkin ini terlalu cepat untuk kalian, namun aku harus menyegerakan hal itu. Aku sudah cukup tua, setiap hari aku tidak merasa tenang memikirkan anak bodoh itu. Beruntungnya ada kau, kini aku merasa amat sangat lega" Ujar Nyonya Meilan sambil mengeluarkan air mata dengan ekspresi terharu. Mendengar hal itu, Karin hanya terdiam. Karin merasa tersentuh, namun Karin merasa jika ia memang harus mengatakan kesalahpahaman ini kepada Nyonya Meilan. Saat Karin coba menjelaskannya kembali, Lagi-lagi Nyonya Meilan seakan tak menghiraukan dan malah menyuruh pengemudi mobilnya membelokkan stir mobil ke sebelah kiri untuk masuk ke parkiran mall.
Lalu, Nyonya Meilan segera mengajak Karin turun dari mobil dan masuk kedalam mall itu. Nyonya Meilan tidak memberikan kesempatan pada Karin berbicara untuk menjelaskan, ia selalu memotong pembicaraan Karin dengan terus membelanjakan Karin barang-barang untuk acara pertunangan besok. Segala barang-barang yang akan dibeli oleh Nyonya Meilan sudah dipilihkan olehnya secara random dan cepat. Mata dari Nyonya Meilan sangat teliti, sehingga memilih barang-barang dan pakaian sangat cepat. Saat ini, Karin merasa sangat terpojokkan. Ia sangat berharap kalau Leon segera hadir, untuk membantunya menjelaskan situasi sebenarnya kepada Nyonya Meilan.
"Ini juga"
"ini, ini dan ini"
"Wah, perhiasan ini sangat bagus, aku bungkus ini untuk menantuku" Ujar Nyonya Meilan menunjuk satu set perhiasan yang harganya sangat mahal. Karinpun sangat terkejut melihat harganya, dalam hatinya bicara. '*Harga berlian itu seharga biaya hidupku selama 2 tahun*'
Nyonya Meilan amat sangat royal terhadap Karin, tanpa melihat harga dalam memilihkan barang-barang di Mall untuk diberikan kepada Karin. Banyak para pelayan toko di sana merasa sangat iri, melihat Karin yang dibelanjakan sangat banyak oleh Nyonya Meilan. Bahkan, tidak sedikit yang merayu Nyonya Meilan agar tertarik pada mereka agar dijadikan menantu oleh Nyonya Meilan.
Setelah beberapa jam selesai belanja di Mall, Nyonya Meilan membawa Karin ke rumahnya. Rumah itu sangat megah seperti istana, halamannya sangat luas. Bahkan memiliki basement untuk memarkirkan puluhan mobil miliknya. Saat di dalam rumah itu, lagi-lagi Karin tidak bisa berkata apapun, karena Nyonya Meilan sibuk menghubungi banyak orang untuk mempersiapkan pertunangan besok. Terlebih lagi, ia tidak putus-putusnya menghubungi kolega dan teman-temannya untuk memberitahu bahwa putra tunggalnya akan melangsungkan pertunangan besok.
"Hallo, Nyonya Mey. Besok kau harus datang, putraku akan segera melangsungkan pertunangan.. " Ujar Nyonya Meilan di telepon.
"..... " Suara bisik dalam telepon menjawab ujaran Nyonya Meilan.
"Hey apa maksudmu, Nyonya Mey?! Putraku benar-benar akan melakukan pertunangan besok! Dia tidak seperti apa yang kau ucapkan barusan! Lihat saja nanti!" Ujar Nyonya Meilan di telepon. Kemudian Leon dan Sean datang, lalu mereka segera menghampiri Nyonya Meilan. Saat melihat kedatangan Leon dan Sean, Nyonya Meilan langsung menutup teleponnya.
"Akan kuhubungi kau lagi nanti!" Ujar Nyonya Meilan. Lalu, ia menutup teleponnya untuk menyambut kedatangan Leon dan Sean. Sementara itu, Karin yang melihat kedatangan Leon langsung berdiri dari sofa dan perlahan menghampiri mereka. Lalu, Leon menghampiri Ibunya dan berkata, "Ma, kami tidak bisa melangsungkan pertunangan seperti yang kau rencanakan. Kau salah paham dengan situasinya" Ujar Leon menjelaskan kepada ibunya. Saat itu Nyonya Meilan terkejut dan hanya dapat terdiam, tangannya gemetar memegang ponsel dengan sangat erat. Tak lama kemudian, Nyonya Meilan tidak sadarkan diri. Melihat hal itu, Karin dan Leon langsung berlari ke arah Nyonya Meilan untuk menangkapnya yang hampir terjatuh karena tidak sadarkan diri. Semua orang sangat panik, Leon berteriak-teriak meminta pertolongan untuk membawa Ibunya ke rumah sakit.