
"Dengar, sekarang aku adalah Ibu mu juga. Kau jangan merasa canggung denganku, apa kau mengerti? Jika ada sesuatu yang terjadi, kau bisa langsung mencari ku" Ujar Nyonya Meilan.
"Ba-baik Nyonya.. " Ujar Karin. Kembali Nyonya Meilan menatapnya tajam saat ia memanggilnya Nyonya lagi. Sontak Karin mengerti maksudnya.
"Ehm, maksudku. Ma" Ujar Karin meralat kalimat nya.
"Nah, seharusnya seperti itu" Ujar Nyonya Meilan yang saat ini menjadi Ibu mertua sekaligus Ibu sambungnya.
"Sudahlah, kalian pasti belum makan. Kalian pergilah untuk membersihkan diri sekarang. Setelah itu, temui aku di meja makan segera. Kita akan makan malam" Ujar Nyonya Meilan.
Kemudian, Leon mengantarkan Karin kembali ke kamarnya dan memberitahu dimana letak kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.
"A-apakah ini kamar mandinya?" Tanya Karin kepada Leon.
"Hmm" Sahut Leon mengangguk.
Karin perlahan melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar mandi itu, ia sangat terheran-heran melihat kamar mandi yang sangat luas itu. Kalau dibandingkan dengan rumahnya bersama Jean, kamar mandi itu seluas kamar tidurnya. Bahkan, shower dan toiletnya dilapisi dengan emas. Sungguh keluarga yang amat sangat kaya, membuat Karin merasa sangat minder dan berkecil hati.
"A-aku rasa, aku tidak bisa menggunakan kamar mandi ini. Aku takut jika lapisan emas di toilet dan shower akan lecet" Ujar Karin.
"Dasar bodoh, kau pikir shower dan toilet itu untuk apa? Untuk pajangan? Ya untuk di pakai!" Ujar Leon kepada Karin sambil tertawa kecil.
"Eh." Sahut Karin dengan ekspresi polos dan noraknya.
"Sudahlah, cepat bersihkan tubuhmu. Apa kau tuli tadi? Ibu menunggu kita di meja makan. Aku akan membersihkan diriku juga di kamarku" Ujar Leon. Lalu, Leon perlahan melangkahkan kakinya keluar dari sana dan tak lupa menutup pintu kamar itu. Karin pun masih bengong sambil memegang handuk, memandangi kamar mandi yang sangat mewah itu. Ia bahkan sangat berhati-hati saat menyentuh shower itu.
"Leon!!" Teriak Karin dengan sangat keras, hingga terdengar ke seluruh ruangan rumah. Untung saja kamar Leon bersebelahan dengan kamarnya, Leon yang mendengar suara teriakan Karin langsung berlari ke kamar Karin, disusul dengan Ibunya. Kemudian, mereka masuk secara bersamaan kedalam kamar Karin. Suara teriakan itu berasal dari kamar mandi, tanpa berpikir panjang Leon langsung membuka pintu kamar mandi itu yang ternyata tidak di kunci oleh Karin.
Mereka menemukan Karin terjatuh di lantai dengan pergelangan kaki kanan yang memar melepuh.
"Karin apa yang terjadi?" Tanya Leon. Leon langsung menggendong tubuh Karin dan membawanya ke ranjang. Disusul dengan Nyonya Meilan.
"Ya ampun, apa yang terjadi padamu, sayang." Ujar Nyonya Meilan. Semua orang sangat panik melihat keadaan Karin saat itu.
Leon meletakkan Karin di atas ranjang dengan sangat hati-hati. Saat itu, Karin merintih kesakitan.
"Cepat ambilkan kotak P3K!" Teriak Nyonya Meilan kepada Asisten Rumah Tangganya, Molly. Kemudian, Molly langsung segera berlari keluar mengambil kotak P3K.
"Nana, cepat hubungi dokter!" Ujar Nyonya Meilan kepada Asisten Pribadinya, Nana. Nana pun langsung bergegas keluar kamar mencari ponselnya untuk menghubungi dokter.
"Karin, apa yang terjadi?" Tanya Leon.
"Sa-Saat aku hendak mematikan shower setelah memakai mantel handuk, tak sengaja aku tergelincir karena lantainya sangat licin. Aku berpegangan dengan shower, ternyata shower nya berputar dan mengeluarkan air yang sangat panas. Lalu, kaki ku terguyur air panas itu" Ujar Karin.
"Astaga, pasti karena tidak ada yang membersihkan lantainya. Besok aku akan memanggil orang untuk merenovasi kamar mandinya" Ujar Nyonya Meilan. Mendengar hal itu, Karin merasa tidak enak hati. Karena, bukan kesalahan shower atau lantainya. Hanya saja ia yang kurang berhati-hati.
"Nyo.. ehm maksudku, Ma. Itu tidak perlu, aku yang kurang berhati-hati. Mungkin karena aku belum terbiasa, lagi pula ini hanya luka kecil saja. Pasti akan segera sembuh, jadi tidak perlu merepotkan dokter juga." Ujar Karin. Saat itu, Leon duduk di sampingnya sambil melihat luka di kaki Karin itu.
Bersamaan dengan itu, Molly kembali membawa kotak P3K kepada Nyonya Meilan. Nyonya Meilan mengambilnya dan duduk di samping Karin untuk memberinya salep sebagai pereda rasa terbakar pada kulitnya. Karin merasa tidak enak hati dan merasa tidak pantas, jika Nyonya Meilan yang mengobatinya. Karena bagaimanapun Nyonya Meilan adalah orang tua yang harus ia muliakan, bukan yang harus memuliakannya. Ia pun berkata, "Ma, biar aku saja." Ujar nya. Leon langsung mengerti maksud dari penolakan Karin.
"Ma, berikan padaku. Biar aku saja" Ujar Leon sambil menatap Karin, mengisyaratkan jika Karin jangan mencoba untuk menolaknya juga. Nyonya Meilan pun memberikan kotak P3K itu kepada Leon. Kemudian, Leon memberikan salep oles pada luka bakar di kaki Karin.
Tak lama kemudian, Nana kembali bersama dengan Dokter yang akan memeriksa luka Karin.
"Dokter, tolong periksalah putri menantuku" Ujar Nyonya Meilan dengan sangat khawatir, ia langsung menuntun Dokter menghampiri Karin.
"Nyonya, tenanglah. Aku akan memeriksanya" Ujar Dokter. Kemudian, Leon turun dari ranjang Karin agar Dokter bisa memeriksanya dengan leluasa.
Setelah beberapa saat Dokter memeriksa Karin, ia pun berkata. "Nyonya Meilan, lukanya cukup serius. Sehingga membutuhkan waktu 3 hari untuk ia dapat berdiri, dan memerlukan waktu satu bulan untuk memulihkan kulitnya" Ujar Dokter itu.
"Ba-baik, Dokter." Ujar Nyonya Meilan.
"Aku sudah menuliskan resep untuknya, berupa salep luka bakar dan juga obat yang harus ia minum" Ujar Dokter itu memberikan resep obat.
"Jaga dia dengan baik, jangan biarkan ia banyak bergerak agar lukanya cepat sembuh" Ujar Dokter itu. Kemudian, Dokter itu diantarkan keluar oleh Nana.
Lalu, Nyonya Meilan memberikan resep dari dokter kepada Asisten Michael untuk di tebus di apotik.
"Melihat kondisimu yang terluka seperti ini, aku rasa pertunangannya lebih baik di undur dulu" Ujar Nyonya Meilan dengan ekspresi yang sangat mengkhawatirkan Karin.
"A-apa?" Ujar Karin terkejut dengan kata-kata Nyonya Meilan. Karin merasa ini adalah kesalahannya. Jika pertunangannya di undur, maka waktu bersama antara dirinya dan Leon semakin lama. Hal itu membuat Karin semakin lama untuk menyelesaikan hubungan antara dirinya dan Leon.
"Ma, acara pertunangannya tidak perlu di undur. Semua persiapannya sudah selesai, dan undangan pertunangannya sudah disebarkan. Percayalah, aku bisa melaksanakannya. Aku bisa berdiri dan berjalan perlahan, Leon juga ada di sampingku. Aku berjanji, aku akan baik-baik saja" Ujar Karin, memohon kepada Nyonya Meilan.
"Tapi, Karin. Dokter bilang.. " Sahut Nyonya Meilan. Karin pun terus meyakinkannya.
"Ma, ku mohon percayalah. Ini juga demi nama baikmu dan Leon" Ujar Karin memohon dengan menggenggam tangan Nyonya Meilan. Karin melirik Leon untuk mengisyaratkannya.
"Y-ya, Ma. Tenanglah, aku akan menjaganya di pertunangan" Ujar Leon membantu Karin memohon kepada Ibunya.
Melihat mereka berdua, membuat Nyonya Meilan tidak dapat menolak nya meskipun sesungguhnya ia merasa sangat khawatir sekali kepada Karin. Setelah beberapa saat ia berpikir, akhirnya ia menyetujui permohonan mereka untuk tetap melaksanakan pertunangan.
"Baiklah. Namun berjanjilah, kalau kau akan menjaga Karin dengan baik" Ujar Nyonya Meilan kepada Leon.
"Tenang saja, Ma" Ujar Leon.
"Ya sudah kalau begitu, aku akan meminta Ameta mengantarkan makan malam untuk mu ke kamar. Kau tidak boleh banyak bergerak malam ini, apa kau mengerti?" Ujar Nyonya Meilan kepada Karin. Karin menganggukkan kepala untuk menuruti perkataan Nyonya Meilan.
Setelah itu, Nyonya Meilan dan Leon keluar dari kamar Karin. Dengan perlahan, Karin memakai pakaiannya. mengingat dirinya saat ini masih menggunakan mantel handuk. Tak lama kemudian, Ameta dari Asisten Rumah Tangga di rumah itu mengantarkan makanan kepada Karin. Lalu, Karin pun memakan makanan itu.
Beberapa saat kemudian, Leon masuk ke dalam kamar Karin untuk memberikannya obat yang sudah di tebus oleh asisten Michael sebelumnya.
"Setelah meminum obat mu, segeralah istirahat. Agar besok, kau merasa jauh lebih baik" Ujar Leon. Karin pun menuruti perkataannya. Setelah meminum obat, Karin pun tertidur.