Fall In Love With Mr. Leon

Fall In Love With Mr. Leon
Dokter Dylan



"Bukankah sudah kukatakan, untuk menjaga k-" Ujar Dokter Dylan kepada Karin.


"Dokter Dylan, Kesehatanku sudah baik-baik saja. Tenanglah" Ujar Karin memotong kalimat yang ingin diucapkan oleh Dokter Dylan. Lalu, Dokter Dylan menatap matanya dengan tatapan yang sangat dalam.


"Karin" Ujar Leon yang berdiri di dekat mereka. Dengan sangat buru-buru, Karin melepaskan pelukan dari Dokter Dylan yang menyelamatkannya untuk membangunkan tubuhnya dan berdiri di hadapan Leon.  Kemudian, disusul dengan Dokter Dylan yang membangunkan tubuhnya itu dan ikut berdiri di hadapan Leon.


"Siapa kau?" Tanya Leon, sambil menatapkan tatapan tajam kepada Dokter Dylan.


Suasana terlihat sangat canggung, Karin gemetar saat melihat ekspresi Leon yang seperti itu saat menatap ke arah Dokter Dylan. Lalu, ia menatap wajah Leon.


"Leon, ini adalah Dokter Dylan" Ujar Karin memperkenalkan Dokter Dylan kepada Leon. Leon menatap ke wajah Karin.


"Dokter Dylan yang selalu memeriksa kesehatanku, saat terakhir kali aku pingsan di depan kedai karena kemunculan Morgan. Apa kau ingat?" Ujar Karin. Lalu, Leon mencoba untuk mengingat peristiwa itu.


Dokter Dylan adalah Dokter yang pernah menyelamatkan Karin saat terjadi peristiwa yang telah dijelaskan oleh Karin. Selain itu, Dokter Dylan adalah seorang Dokter pria muda tampan yang berprestasi dalam ilmu kedokteran dan juga telah menjadi Dokter Utama di rumah sakit Landy'S Health. Yaitu salah satu rumah sakit terbesar dan terkenal di kota mereka. Ia juga seorang pria yang sangat baik dan juga hangat, ia sangat memperhatikan orang-orang yang menjadi pasiennya. Selain itu juga, ia adalah seorang Dokter yang seringkali membantu para pasien yang tidak memiliki uang untuk biaya perawatan untuk memberikan perawatan kepada mereka secara gratis. Dokter Dylan juga sangat menyukai anak-anak, sehingga ia seringkali menemani dan bermain dengan anak-anak yang menjadi pasien rumah sakit Landy's Health karena penyakit kanker


"Ah benar, aku mengingatnya" Sahut Leon saat mengingatnya.


"Hallo Presdir Leon, senang bertemu denganmu kembali" Ujar Dokter Dylan, sambil mengulurkan tangan kepada Leon untuk berjabat tangan.


"Hallo Dokter Dylan, terima kasih telah membantu Karin waktu itu dan hari ini" Sahut Leon. Namun, Leon langsung menggenggam pergelangan tangan Karin dan menariknya meninggalkan Dokter Dylan, tanpa merespon Dokter Dylan yang sudah mengulurkan tangan untuk mengajaknya berjabat tangan.


Saat itu, Dokter Dylan hanya diam memandang sikap Leon dan memandang Karin yang berjalan dengan pergelangan tangan ditarik oleh Leon sambil menoleh ke arahnya beberapa kali. Kemudian, ia menarik kembali tangan yang telah ia ulurkan sambil tersenyum kepada Karin. Lalu, ia perlahan beranjak pergi dari sana.


Sementara itu, Leon membawa Karin masuk kedalam mobil dengan sangat kasar. Tanpa ia sadari, akibat genggaman tangannya yang terlalu erat membuat pergelangan tangan Karin memerah.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Karin, sambil melihat pergelangan tangannya yang memerah.


"Sejak kapan kau dan Dokter itu sangat akrab?" Tanya Leon kepada Karin, sambil menatap dengan tatapan tajam.


"Kau bisa mencari Dokter yang lain, aku akan mencarikan Dokter spesialis untumu" Ujar Leon.


Mendengar apa yang dikatakan Leon dengan seenaknya, membuat Karin merasa bingung dan kesal.


"Dengar, kau tidak berhak melarangku seperti ini. Ingatlah pada perjanjian kontrak yang telah kita tandatangani. Jadi, jangan mengaturku seenak jidatmu" Ujar Karin dengan kesal. Lalu, Karin membuka pintu mobil. Karin hendak keluar dari mobil Leon itu.


Saat ia ingin keluar, tiba-tiba ia kembali menoleh kepada Leon karena merasa ada sesuatu yang terlupakan.


"Satu hal lagi, jangan pernah memperlakukanku dengan kasar lagi!" Ujarnya saat menoleh kepada Leon. Lalu, ia bergegas keluar dari dalam mobil. Sontak saja, Leon turun untuk menyusulnya.


"Karin, kau-" Ujar Leon berteriak memanggil Karin.


"Tutup mulutmu! Jangan ikuti aku, dan kau tidak berhak mengatur hidupku!" Teriak Karin kepada Leon. Lalu, ia bergegas menjauhi Leon dan melangkahkan kakinya untuk mengarah ke depan jalan.


Tak disangka, Maira datang secara tiba-tiba dan memeluk lengan Leon dengan sangat erat. Karin melihat ke arah mereka, secara yang bersamaan ia memberhentikan taksi yang melintas di depannya. Lalu perlahan ia masuk kedalam taksi itu.


Secara bersamaan, Tiba-tiba, Maira pingsan dan wajahnya terlihat sangat pucat.


"Le-leon" Ujar Maira memanggil nama Leon, dengan suara yang terdengar sangat lemah.


"Maira, apa yang terjadi padamu?" Ujar Leon berteriak saat melihat ke arah Maira. Sontak saja, Leon langsung menangkap tubuh Maira dan menggendongnya masuk kedalam mobil.


Karin yang melihat itu saat sudah masuk kedalam taksi, terlihat mencemaskan Maira. Kemudian, ia berniat untuk turun dari taksi dan menghampiri mereka. Akan tetapi, Leon dengan sangat cepat memasukkan Maira kedalam mobil dan membawanya pergi. Tanpa menoleh ke arah Karin lagi. Karin hanya terdiam melihatnya, terlihat raut wajahnya murung dan juga cemas. Akhirnya, ia masuk kembali kedalam taksi itu.


"Pak, tolong ikuti mobil yang di depan" Ujar Karin kepada supir taksi itu.


"Baik, Nona" Sahut sang supir taksi. Kemudian, mereka pun bergegas mengikuti mobil yang dikendarai Leon tadi.