
Beberapa hari kemudian, setelah pertemuan tak terduga dengan Leon. Karin sedikit merasa lega, karena Leon tidak pernah muncul lagi di hadapannya ataupun datang ke Perusahaan tempat ia bekerja.
Perlahan juga, Karin mulai melupakan dan melanjutkan hidupnya kembali secara normal.
Malam ini, Karin dan Jean telah menyelesaikan pekerjaannya.
"Ah, akhirnya selesai." Ujarnya, sambil meregangkan kedua tangannya.
"Aku punya ide. Sebelum pulang ke rumah, kita makan di kedai langganan kita dulu. Bagaimana menurutmu, Karin?" Tanya Jean.
"Ide yang bagus, ayo." Sahutnya, dengan ekspresi wajah yang semangat.
Sebelum pulang ke rumah, Jean mengajak Karin untuk mampir ke kedai Hotpot yang tidak jauh dari rumah mereka. Kemudian, mereka berdua bergegas keluar dari gedung Perusahaan menuju kedai itu.
...----------------...
Sesampainya di sana, Karin dan Jean segera memesan Hotpot porsi Jumbo yang semestinya menjadi menu untuk makan 6 orang.
Beberapa lama kemudian, pelayan datang mengantarkan pesanan mereka.
"Wah, terlihat sangat enak. Selamat makan." Ujar Jean, dengan ekspresi wajah yang gembira.
"Selamat makan." Ucap Karin, sambil berekspresi sumringah.
Mereka memakannya, dengan sangat lahap hotpot ukuran jumbo tersebut.
Karin dan Jean menyantap makanan sambil berbincang-bincang dan bergosip, tentang hal-hal lucu yang mereka alami dalam keseharian mereka.
Saat mereka sedang asik menikmati hidangan dan bergosip, tak disangka secara tiba-tiba Morgan datang.
"Karin, ikut denganku!" Ujar Morgan. Sontak ia langsung menggenggam pergelangan tangan Karin, yang masih memegang sumpit dengan sangat erat.
Melihat perilaku Morgan kepada Karin, Jean merasa geram dan mengarahkan sumpit yang ia pegang menunjuk ke arah wajah Morgan.
"Lepaskan tangan kotormu, dari pergelangan tangan Karin!" Ujar Jean, yang terlihat sangat marah.
Sontak Karin menarik tangannya, agar terlepas dari genggaman tangan Morgan.
"Jangan menyentuhku!" Ujarnya kepada Morgan.
"Mau apa kau disini?" Tanya Jean, pada Morgan.
"Aku tidak ada urusan denganmu!" Jawab Morgan dengan sinis, pada pertanyaannya Jean.
"Tentu ada, Karena Karin-" Ujar Jean.
Karin buru-buru menggenggam tangan Jean, sambil menatapnya dengan lembut.
Ia berkata pada Jean, "Biar aku saja yang melakukannya."
Lalu, ia memalingkan pandangannya ke arah Morgan.
"Ayo, bicara di luar kedai." Ujarnya, kepada Morgan.
Karin melangkahkan kakinya, menuju pintu keluar dengan diikuti oleh Morgan di belakangnya.
Sesampainya di luar kedai, tanpa basa-basi Karin langsung bertanya pada Morgan.
"Katakan! untuk apa kau disini?"
Mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Karin, Morgan melangkahkan kakinya untuk berhadapan dengan Karin.
"Karin, kumohon maafkan aku." Ujar Morgan, ia juga menggenggam kedua telapak tangan Karin.
Karin hanya diam sambil mengerutkan alis, sambil menatap ke arah wajah Morgan.
"Karin, aku mengakui. Jika aku bersalah, kumohon maafkan aku. Aku tidak bisa hidup, tanpa dirimu. Kumohon, kembalilah menjadi kekasihku." Ujar Morgan, dengan ekspresi wajah memelas.
Dengan seketika, Karin melepaskan genggaman tangan Morgan.
"Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu? Atas apa yang kau lakukan kepadaku dan atas semua penghinaan darimu itu, kau memintaku untuk menjadi kekasihmu lagi?" Tanya Karin kepada Morgan dengan ekspresi yang marah, karena tak habis pikir dengan perkataan Morgan.
"Karin aku tak sengaja melakukannya, lagi pula semua yang terjadi bisa dianggap impas. Karena, kau juga di sana bersama pria lain. Jadi, kita tidak ada bedanya. Anggap saja, semua impas." Ujar Morgan.
Mendengar perkataan Morgan itu, membuat Karin tertawa nyeleneh karena merasa aneh.
"Dasar kau ini, bukan hanya pria yang suka berselingkuh! Tapi, kau juga adalah pria yang tidak tahu malu!" Ujarnya, dengan sangat kesal.
Keadaan di luar kedai sangat ramai, sehingga Morgan menyadari jika perkataan Karin didengarkan oleh semua orang dan mereka menjadi tontonan semua orang.
Saat itu, Morgan merasa jika Karin merendahkan dirinya dengan mengatakan jika dirinya suka berselingkuh dan tidak tahu malu.
"Apa bedanya denganmu? Kau ada di sana bersama pria asing, kau juga mau disentuh oleh pria asing. Apa bedanya, kau dengan seorang pelacur yang kubayar waktu itu?" Ujar Morgan, mengungkit kejadian saat itu.
"A-apa kau bilang?" Tanya Karin terkejut.
Perasaan Karin kembali tersakiti, dengan penghinaan yang dilontarkan oleh Morgan.
"Kau adalah pria bajingan yang pengecut, bahkan kau tidak jauh beda seperti pria-pria rendah yang suka bermalam dengan pelacur!" Teriaknya, memaki Morgan.
Morgan yang mendengar perkataan itu, semakin terbawa emosi.
"Dengarkan ini, Karin."
"Kau, hanya seorang wanita malang. Kau bahkan tidak tahu, cara membahagiakan pasanganmu."
"Harusnya kau bersyukur, karena aku masih mau menerima dirimu yang sejak dulu selalu dipandang sebelah mata dan wanita yang biasa saja." Ujar Morgan.
Lalu, Morgan memalingkan pandangannya ke semua orang yang melihat mereka berdua.
"Kalian lihat! Apakah ada yang spesial, dari penampilan wanita ini? Apakah wanita ini, terlihat cantik dan memiliki kelebihan? Tidak kan?!" Tanya Morgan kepada orang-orang yang sedang melihat mereka, sambil menunjukkan jari telunjuknya kepada Karin.
Karin terdiam menundukkan kepalanya, ia merasa sangat malu, sedih dan juga merasa kecewa.
"Karin, lihatlah orang-orang di sekitarmu! Aku yakin, bahkan mereka sebenarnya ingin menertawakanmu. Harusnya kau sadar, masih bagus ada pria yang mau menerimamu seperti aku." Ujar Morgan, sambil memegang bahu Karin.
"Jujur saja, sebenarnya aku memang merasa malu saat berkencan denganmu. Penampilanmu biasa saja, kau juga selalu bertingkah sok suci. Mempertahankan tubuhmu sampai menikah, bahkan kau menahannya untukku yang selama 7 tahun bersamamu."
"Harusnya kau bisa mempercayaiku, aku tidak akan meninggalkanmu setelah kau memberikan tubuhmu kepadaku. Percayalah!" Ujarnya lagi tanpa rasa ragu, di depan semua orang.
Kemudian, ia memegang dan mengangkat dagu Karin. Agar Karin menatap ke arah wajahnya.
"Karin, jujurlah. Bahkan, saat kusentuh lehermu hingga ke bagian atas dada mu. Tubuhmu bergetar menunjukkan hasrat."
"Tidak ada salahnya kau memuaskan aku dengan tubuhmu, maka aku juga akan memuaskan hasratmu. Ayo kita mengulang semuanya dari awal."
"Harus kau tahu, dengan kau memuaskan hasratku, aku berjanji tidak akan berselingkuh." Ujar Morgan, sambil menatap wajah Karin.
"Apakah pria ini sudah gila?" Terdengar suara bisikan dari orang-orang yang sedang melihat ke arah mereka.
Sontak Karin melepaskan tangan Morgan, yang memegang dagunya itu. Lalu, ia memalingkan wajahnya dan meludah tepat ke samping kiri Morgan.
"Cuih" Suara dari mulut Karin, yang mengeluarkan air liur.
"Kurang ajar kau, wanita pelacur!" Teriak Morgan kepada Karin, sambil melayangkan tangannya yang berniat menampar Karin.
Melihat tangan Morgan yang hendak menamparnya, Karin memejamkan matanya seakan pasrah pada situasi itu.
Dengan cepat tangan Morgan ditepis oleh seseorang dari sisi kiri Karin, dan ternyata orang itu adalah Leon.
Kembali mengulang kejadian sebelumnya,
Leon menghempaskan tangan Morgan.
Sontak saja mereka semua terkejut, dengan kedatangan Leon yang sangat tiba-tiba.
"K-Kau lagi!" Ujar Morgan tergagap, sedang ekspresi marah kepada Leon.
"Kau selalu mencampuri urusan kami! Kau tidak berhak ikut campur! Kau hanya pria asing! Enyahlah!" Ujarnya lagi, berteriak pada Leon.
"Yang pria asing di sini adalah, Kau! Jangan sampai tangan kotormu itu, menyentuh tunanganku!" Ujar Leon, dengan sangat keras sambil menunjuk wajah Morgan menggunakan jari telunjuknya.
"A-apa? Tunangan!" Ujar Morgan terkejut, dengan perkataan Leon.
Tak hanya Morgan, bahkan semua orang yang ada di sana termasuk Karin pun ikut terkejut dengan apa yang dikatakan Leon.
Karin menatapkan pandangannya ke arah wajah Leon, sambil menganga karena sangat terkejut.