
Dokter Dylan memalingkan pandangannya, melihat ke arah jam ditangannya. Tak terasa, sudah jam 1:30 malam.
"Karin, aku akan pergi. Kau harus isti-" Ujar Dokter Dylan, setelah melihat jam ditangannya.
"Uweeek." Di saat yang bersamaan, Karin tiba-tiba mual. Wajahnya juga terlihat sangat pucat, dan terlihat sangat berkeringat.
Tiba-tiba, ia merasa lemas dan tubuhnya hampir terjatuh. Menyadari hal itu, Dokter Dylan bergegas menangkap tubuh Karin.
"Karin." Teriak Dokter Dylan, sambil menangkap tubuh Karin.
"A-aku, baik-baik saja." Sahutnya dengan suara yang lemas, sambil menutup mulutnya.
Lalu, Dokter Dylan membawanya untuk duduk di sofa.
"Tunggu di sini, aku akan segera kembali." Ujar Dokter Dylan dengan ekspresi yang cemas.
Ia bergegas keluar dari rumah menuju mobilnya, untuk mengambil tas peralatan dokternya.
Tak lama kemudian, ia kembali dengan membawa tas peralatan dokternya. Lalu, ia membawa Karin kedalam kamar untuk diperiksa olehnya.
"Aku akan memeriksamu." Ujar Dokter Dylan, kepada Karin.
Saat itu, Karin terlihat sudah sangat lemas dengan wajah yang pucat. Dokter Dylan langsung memeriksanya, dengan sangat cepat.
Setelahnya, ia memberikan Karin obat untuk menekan rasa mual dan rasa lemas di tubuhnya.
"Apakah kau sudah merasa jauh lebih baik?"
"Aku sudah merasa baik." Sahut Karin.
"Tunggulah di sini, jangan kemana-mana. Aku akan segera kembali." Ujar Dokter Dylan. Lalu, ia bergegas keluar dari rumah Karin dan menutup pintu rumahnya dengan rapat.
Kemudian, ia masuk kedalam mobilnya dan bergegas pergi.
Sementara itu, Karin merasa haus dan berusaha ingin mengambil segelas air putih untuk dirinya sendiri. Langkah kakinya sudah tertatih-tatih, karena masih merasa lemas. Ia pun melangkahkan kaki sambil berpegangan pada dinding, menuju dapur.
Beberapa saat kemudian, Dokter Dylan kembali dengan membawa beberapa kantung plastik berisi belanjaan dari supermarket. Lalu, ia masuk kedalam rumah dan menghampiri Karin di dalam kamarnya. Akan tetapi, ia tidak menemukan Karin di dalamnya.
"Karin.."
"Karin.."
"Kau di mana?" Teriak Dokter Dylan, dengan sangat cemas. Lalu, ia bergegas mencari Karin ke seluruh ruangan.
Hingga, akhirnya ia menemukan Karin sudah tergeletak di dapur tak sadarkan diri.
"Karin, apa yang terjadi padamu?" Teriak Dokter Dylan, sambil menghampiri Karin.
Segera ia menggendong Karin dan membawanya keluar dari rumah, untuk masuk kedalam mobil. Setelah membawa Karin kedalam mobil, ia kembali untuk mengunci pintu rumah Karin. Lalu, bergegas ia masuk kembali kedalam mobil dan bergegas menancapkan gas untuk membawa Karin ke rumah sakit.
...----------------...
Tak lama kemudian, mobil milik Dokter Dylan tiba di rumah sakit Landy's. Bergegas ia menggendong Karin, dan membawanya masuk kedalam rumah sakit.
Sesampainya di dalam rumah sakit, para perawat langsung menghampirinya.
"Dokter Dylan, apa yang terjadi?" Tanya salah satu perawat.
"Siapkan ruang perawatan, aku harus segera memeriksanya." Sahut Dokter Dylan, kepada perawat itu.
Kemudian, para perawat itu bergegas menyiapkan ruang perawatan dan peralatan pemeriksaan. Lalu, Dokter Dylan bergegas membawa Karin kedalam ruang perawatan.
Ia merebahkan Karin di atas kasur pasien. Saat itu, Karin masih belum sadarkan diri. Terlihat dari raut wajah Dokter Dylan, yang sangat cemas. Lalu, bergegas ia melakukan pemeriksaan lebih lanjut kepada Karin.
...----------------...
Tak terasa, sudah pukul 4 dini hari.
Setelah 1 jam kemudian, Karin perlahan tersadar dan membuka matanya secara perlahan. Ia melihat ke arah sekeliling, ia juga mengangkat lengannya. Terlihat di bagian tangannya, sudah tersambung selang infus. Lalu, ia memalingkan pandangannya ke arah Dokter Dylan yang duduk di sofa sambil menunduk dan kepalanya ditopang menggunakan tangannya.
"Do-dokter Dylan.." Ujar Karin tergagap.
Sontak Dokter Dylan terkejut, mendengar suara Karin memanggil namanya. Ia pun langsung menghampiri Karin.
"Kau sudah sadar?"
"Bagaimana keadaanmu?"
"Apa yang kau rasakan saat ini?" Tanya Dokter Dylan, dengan ekspresi wajah yang cemas.
"Ha-hanya masih merasa sedikit pusing." Sahut Karin.
"Syukurlah kalau begitu, kau tetaplah istirahat." Ujar Dokter Dylan.
"Maaf, karena selalu merepotkanmu." Ujar Karin.
"Jangan berkata hal yang tidak perlu, istirahatlah. Kau sudah sangat kelelahan, mungkin karena tadi membersihkan rumah. Aku yang bersalah, atas hal ini." Ujar Dokter Dylan.
"Tidak, itu sangat menyenangkan." Sahut Karin, sambil tersenyum.
"Jangan terlalu banyak bergerak. Kalau kau membutuhkan sesuatu, kau bisa memanggilku."
"Terima kasih, Dokter Dylan."
Tak lama kemudian, Dokter Dylan menganjurkan agar Karin tetap beristirahat. Sedangkan ia, keluar dari ruangan dan melangkahkan kaki menuju ruang kerjanya di rumah sakit itu.
Sesampainya di ruang kerja, ia duduk di kursinya untuk menyandarkan punggungnya. Terlihat bahwa raut wajahnya sangat letih, sesekali ia juga menutup mata menggunakan lengannya.
Beberapa saat kemudian, ia menghubungi seseorang dari telepon.
"Hallo, tolong bawakan baju ganti untukku." Ujarnya kepada seseorang dari dalam telepon. Lalu, ia memutuskan panggilan itu.
Kemudian, sesekali ia melihat sebuah berkas yang ada di atas mejanya. Berkas itu tertulis nama Karina Mouri, yang di mana berkas itu adalah hasil laporan pemeriksaan Karin. Ia pun membacanya dan menganalisanya, sambil menopangkan kepalanya menggunakan satu tangan.
Terlihat kecemasan pada raut wajahnya yang letih.
"Semoga, tidak terjadi hal buruk lagi padanya." Ujarnya, sambil melihat isi berkas itu.
...----------------...
Satu jam kemudian.
Seseorang pria muda yang terlihat tampan datang dan masuk kedalam ruangan Dokter Dylan, sambil membawa Tote bag kecil yang berisikan baju Dokter Dylan. Pria itu menghampiri Dokter Dylan, yang ternyata tidak sengaja tertidur di meja kerjanya.
"Dylan.." Ujar pria itu, yang mencoba untuk membangunkan Dokter Dylan dengan cara menggoyangkan bahunya.
Sontak saja, Dokter Dylan terbangun. Ia tidak sadar bahwa, ia telah tertidur.
"Hemm, kau terlihat sangat letih dan semalam tidak pulang ke rumah." Ujar pria itu kepada Dokter Dylan.
"Ya, ada beberapa pasien yang harus kutangani." Sahutnya, sambil mengucak mata.
Lalu, pria itu meletakkan Tote bag yang ia bawa di atas meja kerja Dokter Dylan. Di saat yang bersamaan, pria itu melihat berkas pemeriksaan Karin di atas meja kerja Dokter Dylan.
"Eh, sepertinya ada pasien yang menjadi prioritasmu." Ujar pria itu, menggoda Dokter Dylan ingin merebut berkas itu. Dokter Dylan yang menyadari hal itu, bergegas ia mengambilnya dan menyimpannya di dalam loker.
"Jangan banyak berpikir, aku hanya sedang menganalisa hasil pemeriksaan." Sahut Dokter Dylan.
"Baiklah." Sahut pria itu, sambil memalingkan matanya ke arah lain.
"Oh ya, mengapa kau yang mengantarkan pakaianku, kak? Kemana Asisten Vins?" Tanya Dokter Dylan, kepada pria itu.
Ternyata itu adalah kakaknya.