Fall In Love With Mr. Leon

Fall In Love With Mr. Leon
Temukan salah satunya



3 Hari telah berlalu, Karin semakin giat dalam pekerjaannya. Namun, ia tidak lupa untuk membantu Leon mencari kekasih baru. Sejauh ini, Karin sudah memperkenalkan 3 orang wanita kepada Leon dan bertemu wanita itu sehabis pulang kerja. Namun, Leon masih enggan memilih salah satu dari mereka. Karin tidak menyerah untuk membantu Leon mencari kekasih, rasa semangat pada dirinya semakin membara. Ia merasa jika menemukan kekasih yang sesuai keinginan Leon adalah sebuah tantangan besar yang harus ia selesaikan.


Semakin hari, Karin semakin sibuk. Pagi hingga sore, ia menyelesaikan pekerjaannya. Setelah pulang kerja, ia membawa Leon untuk bertemu para wanita yang telah diseleksi olehnya. Tepat hari ke-7, malam itu Karin membawa Leon pada cafe tempat biasa ia memperkenalkan wanita hasil seleksinya kepada Leon.


"Bagaimana dengan ini? Apakah sesuai dengan kriteriamu?" Tanya Karin.


"Tidak" Ujar Leon dengan sikap dingin.


"Hemm, baiklah. Selanjutnya" Ujar Karin memanggil wanita yang selanjutnya.


"Tidak"


"Tidak"


"Tidak"


"Dan Tidak" Ujar Leon pada setiapkali wanita yang diperkenalkan oleh Karin berdiri di depan Leon secara bergantian.


Wajah Karin terlihat bosan saat itu, tidak ada satupun yang sesuai dengan kriterianya.


Hari terus berlanjut, saat ini memasuki hari ke -11. Karin terus memperkenalkan banyak wanita kepada Leon.


"Mungkin kau akan menyukai ini" Ujar Karin memperkenalkan wanita lagi.


"Tidak"


"Hem, selanjutnya"


"Tidak"


"Tidak"


"Tidak"


Ternyata Karin masih belum bisa menemukan kriteria yang diinginkan Leon.


Memasuki hari ke-15. Karin membawa sebanyak 30 orang wanita dan telah mencatatnya dalam daftar. Karin berpikir, lama-lama ia seperti membuka sayembara untuk mencarikan Leon jodoh.


"Masuklah" Ujar Karin.


"Tidak"


"Selanjutnya" Karin memanggil yang lain.


"Tidak"


"Lanjut" Karin memanggil yang lainnya.


"Tidak"


Jawaban Leon tetap sama pada ke-30 wanita itu.


"Tidak adakah dari salah satu mereka yang sedikit saja kau sukai? Ini sudah wanita ke-112 lho. Kau tetap menjawab tidak" Ujar Karin kepada Leon dengan memberikan ekspresi yang bosan.


Tiba-tiba telepon Karin berbunyi, ia segera melihat ponselnya. Ternyata Nyonya Meilan yang menelponnya. Lalu, Karin mengangkat telepon itu.


"Hallo, Ma" Ujar Karin.


"Baiklah, Ma. Aku mengerti, aku akan memberitahu kepada Leon" Ujar Karin dari telepon. Kemudian, ia menutup teleponnya.


"Mama bilang, ia akan kembali Minggu depan karena masih ada urusan yang harus diselesaikan" Ujar Karin


"Oh" Sahut Leon.


"Dengar, waktu kita hanya 2 Minggu lagi sebelum pernikahan. Setelah ibu kembali pasti akan segera melangsungkan pernikahan kita, kita harus cepat mencarikan kekasih untukmu" Ujar Karin. Leon hanya terdiam santai.


"Biarkan saja" Ujar Leon. Karinpun terkejut.


"Hey, ekspresi apa yang kau berikan itu? Dengar ya, aku tidak ingin terlibat lama-lama olehmu" Ujar Karin.


Di saat yang bersamaan, seorang wanita datang menghampiri mereka dan duduk di hadapan mereka. Karin merasa bingung, karena sepengetahuan dirinya semua wanita yang ingin dikenalkan kepada Leon sudah habis semua karena Leon telah menolaknya. Karin menyadari bahwa wanita itu adalah wanita yang sudah dua kali ia temui di Perusahaan Leoparadise.


"Hai Leon" Ujar wanita itu kepada Leon. Leon hanya diam tak bersuara sambil terkejut saat melihat wanita itu.


"Eh, kau. Bukankah kau wanita yang dua kali berpapasan denganku di Perusahaan Leoparadise?" Tanya Karin dengan senyuman.


"Benar, biar aku perkenalkan diriku. Namaku Maira, aku adalah kekasih Leon" Ujar wanita itu kepada Karin, yang ternyata adalah Maira.


Karin sontak terkejut mendengar hal itu. Kemudian, ia menatap ke arah wajah Leon.


"Be-benarkah itu?" Tanya Karin kepada Leon. Leon hanya terdiam tanpa sepatah kata pun. Ekspresi yang ditunjukan Leon layaknya ekspresi mati rasa.


"Benar sekali. Oh iya, ada hubungan apa denganmu dan Leon?" Tanya Maira kepada Karin. Karin langsung memalingkan wajah dan menatap ke arah Maira.


"A-aku, A-aku.." Karin merasa bingung memperkenalkan status dirinya kepada Maira.


"Oh ya, Aku adalah Wakil Asisten Presdir Leon. Aku bawahan Asisten Sean" Ujar Karin memperkenalkan dirinya, mereka saling berjabat tangan. Kemudian, Maira melepaskan tangannya yang sedang berjabat tangan dengan Karin dengan mengeluarkan ekspresi sombong.


"Oh ternyata hanya seorang wakil asisten" Gumam Maira. Karin dan Leon mendengar gumam Maira itu, wajah Leon memerah karena emosi. Namun, Karin menghentikan emosi Leon dengan menggenggam erat pergelangan tangannya di bawah meja.


"Baiklah, aku sangat senang mendengar bahwa kau adalah kekasih Leon" Ujar Karin.


"Ups, maksudku. Presdir Leon" Ujar Karin sambil nyengir malu, ia keceplosan memanggil Leon seperti itu di depan Maira.


"Kalau begitu, nikmatilah waktu kalian. Aku tidak akan mengganggu" Ujar Karin. Karin langsung bangun dari kursi itu dan menundukkan kepalanya sambil mendekatkan bibirnya di telinga Leon.


"Hey, kenapa kau tidak bicara kalau kau sudah memiliki kekasih? Jadi aku tidak sia-sia membuang waktuku untuk seleksi para wanita itu. Dasar kau keterlaluan!" Bisik Karin di telinga Leon. Leon tetap diam tanpa bicara apa-apa.


"Sudahlah, nikmati kencanmu. Kulihat dia sangat cantik, elegan dan mewah. Sangat cocok denganmu" Bisik Karin kepada Leon sebelum meninggalkan mereka. Lalu, Karin menoleh kepada Maira dan memberikan senyuman. Setelah itu, Karin meninggalkan mereka berdua di sana.


"Karin, perlukah aku mengantarmu?” Tanya Sean, saat Karin tiba di parkiran pinggir jalan.


"Tidak perlu, aku akan memesan taksi. Aku harus membeli beberapa barang yang aku butuhkan untuk perayaanku" Ujar Karin dengan wajah senang. Sean tidak berani menatap ke wajah Karin saat itu, ia juga mempersilahkan Karin pergi tanpa diantar olehnya.


"Hey, apa kau tahu Sean? Aku sangat senang melihat Leon dan Maira. Bukankah mereka terlihat serasi?" Tanya Karin dengan wajah sumringah kepada Sean. Sean hanya menunduk dan menganggukkan kepala.


"Ah, akhirnya. Pekerjaanku dengan Perusahaan kalian akan segera berakhir, dan hubunganku bersama Leon juga akan segera berakhir. Aku sangat senang" Ujar Karin. Sean menatap ke wajah Karin, Karin mengatakan hal itu dengan ekspresi sungguhan. Wajahnya terlihat sangat lega saat berasumsi bahwa Leon dan Maira menjadi sepasang kekasih.


Tak lama kemudian, taksi datang. Sean membantu membukakan pintu taksi bagian belakang dan Karin langsung masuk kedalamnya. Lalu, Karin melambaikan tangan dari jendela kepada Sean dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat amat senang. Sean hanya terdiam tanpa bicara menatap ke arah Karin yang perlahan menghilang dari pandangan matanya.


Setelah itu, Karin memalingkan wajah dari jendela dan menutup kaca jendela taksi itu. Ekspresi wajahnya seketika berubah menjadi hampa.


"Pak, tolong antarkan saya ke rumah sakit ya" Ujar Karin kepada supir taksi itu.


"Baik, Nona" Ujar supir taksi itu.