Fall In Love With Mr. Leon

Fall In Love With Mr. Leon
Kau Terus Menjerat ku, Presdir Leon.



2 hari kemudian.


Jean hendak berangkat ke Perusahaan.


"Karin, apa yang kau lakukan? Istirahatlah. Aku sudah bicara dengan Asisten Kevin, agar kau istirahat dulu." Ujarnya yang melihat Karin sudah bersiap, untuk ikut dengannya pergi ke Perusahaan.


"Jean, aku sudah jauh lebih baik. Percayalah." Ujar Karin meyakinkan Jean, jika dirinya sudah baik-baik saja saat ini dan sudah bisa melakukan aktivitas yang biasa ia lakukan.


"Aku merasa sangat bosan, tolong kasihanilah aku. Nyonya Jeanny." Ujar Karin memohon kepada Jean dengan memasang wajah melas sambil memegang jari kelingking Jean, ia selalu melakukan perilaku tersebut saat merayu Jean.


Jean selalu merasa tidak tega, saat ia menunjukkan perilaku memohonnya itu.


"Baiklah, tapi berjanjilah tidak memaksakan diri untuk mengerjakan pekerjaan yang berat." Ujar Jean yang mengabulkan permohonannya, dengan memberikan syarat kepadanya.


Sontak ia menganggukkan kepala dengan mengubah ekspresi wajahnya, seperti wajah kucing yang sangat manja ke arah Jean. Kemudian, mereka segera bergegas berangkat ke tempat mereka bekerja.


...----------------...


Setelah beberapa saat kemudian, mereka tiba di ruangan kerja mereka.


Ketika mereka hendak melakukan pekerjaan, secara bersamaan Asisten Kevin datang ke ruangan mereka untuk berbicara dengan Karin.


"Karin, ikutlah denganku. Presdir Chand memanggilmu." Ujar Asisten Kevin, kepada Karin.


"Apakah ada masalah?" Tanya Jean, kepada Asisten Kevin.


"Aku tidak tahu, Jean. Presdir Chand hanya memintaku, untuk memanggil Karin." Sahut Asisten Kevin.


"Jika memang ada masalah dan ada pekerjaan yang cukup berat, kau bisa memberikannya kepadaku."Ujar Jean. Ia masih masih merasa khawatir, dengan kondisi fisik Karin saat ini.


"Jean, tenanglah." Ujar Karin, yang coba meredakan kekhawatiran Jean.


Karin memalingkan pandangannya, ke arah Asisten Kevin.


"Asisten Kevin, aku akan ikut denganmu." Ujarnya kepada Asisten Kevin.


Lalu, Asisten Kevin dan Karin meninggalkan ruangan itu, untuk bergegas ke ruangan Presdir Chand.


Sesampainya di pintu ruangan Presdir Chand, Karin bergegas masuk kedalam.


"Presdir Chand, Apa kau memanggilku?" Tanyanya, kepada Presdir Chand.


"Karin, duduklah." Sahut Presdir Chand, menyuruhnya duduk.


Lalu, ia bergegas duduk di kursi tepat yang berada di hadapan Presdir Chand.


"Ada apa kau memanggilku, Presdir Chand?" Tanyanya lagi, kepada Presdir Chand.


"Karin, terdapat sedikit kendala pada proses kerjasama antara Perusahaan kita dengan Perusahaan Leoparadise." Ujar Presdir Chand, sambil menatap ke arah wajah Karin.


"Presdir Leon memintamu untuk menyelesaikannya sesegera mungkin dalam waktu singkat, agar proses kerjasama dapat segera dijalankan." Ujarnya lagi, dengan wajah yang serius.


"Kendala apa yang terjadi, dan aku harus bagaimana untuk menyelesaikannya?" Tanya Karin kepada presdir Chand. Saat itu, ia sudah merasa tidak enak dalam hatinya.


"Pagi ini Presdir Leon menghubungiku, ia meminta proposal yang kita buat untuk dilakukan perubahan keterangan dalam proses kerjasama. Ia ingin menambahkan beberapa hal penting, di dalamnya."


"Baiklah, aku akan segera memperbaikinya. Kau bisa memberikan catatan penambahan keterangan untuk direvisi dalam proposalnya kepadaku. Aku akan segera kembali ke ruang kerjaku, untuk mengerjakannya, Presdir Chand." Ujar Karin.


Akan tetapi, Presdir Chand terlihat sangat gelisah saat itu.


"Be-begini, Karin. Presdir Leon memintamu untuk menyelesaikan kendala tersebut secara langsung. Ja-ja-ja.. " Ujar Presdir Chand dengan tergagap, dan terlihat sangat gugup. Sehingga, ia terbata-bata mengatakan apa yang ingin disampaikannya.


Melihat Presdir Chand yang bicara terbata-bata, membuat Karin ikut menganga dengan ekspresi wajah yang bodoh.


"Ja-ja-ja apa maksudmu, Presdir Chand? Aku tidak mengerti, apa yang kau bicarakan." Tanyanya, yang merasa bingung.


"Ja-ja-ja-jadi, ka-kau harus kukirim ke-ke Perusahaan Leoparadise untuk se-sementara waktu" Ujar Presdir Chand, sangat tergagap.


Karin merasa sangat terkejut, dengan pemberitahuan itu.


"Bukankah, bisa menyelesaikannya di sini? Mengapa aku harus kau kirim, ke Perusahaan Leoparadise?" Tanyanya kepada Presdir Chand, karena merasa bingung.


Lalu, Presdir Chand menarik nafas panjang untuk melegakan dirinya sebelum menjelaskan alasannya kepada Karin.


"Karin, aku tahu jika kau pasti akan menolaknya dengan banyak pertanyaan. Maka, akan kupersingkat." Ujar Presdir Chand.


"Presdir Leon tidak ingin melakukan kesalahan, apalagi dalam penambahan berkas pada proposal kerjasama ini."


"Jadi, ia ingin secara langsung memberitahu berkas apa saja yang akan ditambahkan dalam keterangan proposal itu."


"Kau tahu jelas, kalau Perusahaan kita butuh dukungan dari Perusahaan Leoparadise untuk menyelamatkan Perusahaan lewat kerjasama ini. Jadi, kumohon mengertilah." Ujar Presdir Chand, dengan memberikan ekspresi wajah yang melas.


Karin terdiam beberapa saat, ia merasa sangat keberatan dalam hati dengan permintaan yang diajukan oleh presdir Chand.


"Kapan kau akan mengirimku ke Perusahaan Leoparadise?" Tanya Karin, kepada Presdir Chand dengan raut wajah yang keberatan.


"Besok. Karena, ini sangat mendesak." Jawab Presdir Chand, tanpa keraguan


"Apakah ini semua, adalah akal-akalan pria aneh itu?" Tanya Karin dalam hati, pada diri sendiri.


"Baiklah, beri aku waktu. Aku akan segera memikirkannya." Sahut Karin, kepada Presdir Chand.


"Kumohon, Karin. Perusahaan kita ini, sangat membutuhkan dukungan dari Perusahaan Leoparadise." Ujar Presdir Chand, dengan ekspresi wajah yang memilukan.


...----------------...


Tak lama kemudian, Karin keluar dari ruangan Presdir Chand untuk kembali ke ruangan kerjanya.


Di saat itu, Karin melangkahkan kakinya melewati beberapa ruangan dari divisi yang berbeda-beda.


Sesekali, Karin memperhatikan para pegawai dari berbagai divisi yang sedang sibuk melakukan pekerjaan masing-masing.


Di sana Karin melihat, banyak para pegawai yang sudah tua dan seharusnya pensiun. Namun, mereka tetap berjuang dengan alasan mendapatkan penghasilan.


Selain itu, meski banyak pegawai yang sudah tua. Perusahaan tempat ia bekerja, tidak memberhentikan pegawai yang sudah semestinya pensiun.


Perusahaan melakukan hal itu karena Presdir Chand tahu, jika para pegawai yang sudah tua diberhentikan. Maka tidak akan mudah bagi mereka mendapatkan sebuah pekerjaan, karena faktor usia yang sangat berpengaruh.


Sejenak Karin terdiam untuk berpikir, karena mau bagaimanapun proposal itu adalah hasil kerja kerasnya bersama Jean dan para pegawai di Perusahaan ini.


Semua itu mereka lakukan, untuk kebaikan Perusahaan ini. Ditambah lagi, kondisi Perusahaan tempat mereka menghasilkan uang sedang diambang kehancuran.


Sementara itu, apabila perusahaan mereka mengalami kebangkrutan. Maka ia, Jean dan pegawai lainnya akan menjadi pengangguran di tengah kota yang sangat sulit mencari dan mendapatkan pekerjaan.


Karin berpikir, jika ia tidak boleh egois hanya karena urusan pribadinya. Sedangkan, para pegawai Perusahaan di sini adalah rekan kerjanya.


Banyak pula yang sudah berkeluarga dan anak-anak, sehingga memang sangat membutuhkan penghasilan untuk menghidupi diri dan keluarga mereka.


"Seharusnya, aku tidak boleh memikirkan diriku sendiri." Ujarnya pada diri sendiri, sambil melihat ke arah para pegawai yang sedang bekerja keras membantu permasalahan di Perusahaan.


...****************...


Hari itu telah usai, matahari telah berganti tugas dengan bulan.


Karin dan Jean sudah pulang ke rumah sejak 1 jam lalu.


Saat ini, Karin sedang duduk di ruang televisi dengan sedikit melamun.


Jean yang melihat perilaku aneh Karin, segera bertanya. "Apakah terjadi sesuatu yang serius?"


"Ti-tidak." Jawab Karin, sambil menatap ke arah Jean.


"Lalu, mengapa tadi Presdir Chand memanggilmu?"


"Tidak ada, hal yang serius. Hanya saja, Presdir Leon memintaku untuk menambahkan beberapa keterangan penting kedalam proposal yang sudah kita buat. Presdir Leon memintaku menyelesaikan nya di Perusahaan Leoparadise, mulai dari besok hingga beberapa waktu."


Jean sontak terkejut, mendengar hal tersebut.


"Eeh, sebenarnya ada apa antara kau dan Presdir Leon?"


"Kalian terlihat sangat akrab. Bahkan, di saat pertama bertemu di ruang meeting ia terus menatapmu."


'Lalu, saat kemarin di kedai hotpot. Bagaimana ceritanya ia bisa hadir di dekatmu?" Tanya Jean yang merasa bingung. Namun, ia juga bermaksud menggoda Karin karena terlihat sangat akrab dengan Presdir Leon.


"Jangan berpikir macam-macam, Jean. Semua itu, hanya kebetulan." Sahut Karin, pada semua pertanyaan Jean.


"Tapi, aku merasa heran. Kau terlihat tidak tertarik dengan Presdir Leon, padahal ia sangat tampan. Kalau dibandingkan dengan Morgan, ibarat sepatu dengan jas mahal. Morgan adalah sepatu dan Presdir Leon adalah Jas mahal itu." Ujar Jean, menggoda Karin dengan mulai bergosip.


"Sudahlah, kau mulai tidak waras." Ujar Karin tertawa, sambil memukul pelan dahi Jean.


"Aaaaa.. Memang begitu kenyataannya." Sahut Jean, sambil memegang dahinya dan mengerutkan wajahnya.


Lalu, Karin beranjak pergi meninggalkan Jean menuju teras rumah.


"Hey, kau mau kemana?"


"Aku akan menghubungi Presdir Chand" Sahut Karin.


......................


Kemudian, Karin berusaha menghubungi Presdir Chand saat di teras untuk mengatakan bahwa ia menyetujui untuk menyelesaikan pekerjaan di Perusahaan Leoparadise mulai besok.


Semua itu bukan karena Jean, yang mengatakan bualan tentang ketampanan Leon. Akan tetapi, Karin telah berpikir dengan penuh pertimbangan.


Beberapa saat kemudian, Presdir Chand menjawab telepon darinya dan memberikan alamat Perusahaan Leoparadise.


Sejenak ia duduk di kursi teras memandangi bulan, ia berpikir secara kritis. Bahwa masalah pekerjaan tidak ada hubungannya dengan masalah pribadinya pada Leon.


Ia juga tidak banyak berpikir terlalu jauh, tentang apa yang diumumkan oleh Leon beberapa hari lalu. Karena, menurutnya itu hanya tindakan Leon yang sedikit berlebihan untuk membantunya dari Morgan.


"Lagipula, ini hanya sebatas sampai proposal itu selesai. Lalu, aku akan benar-benar berhenti untuk berhubungan dengannya." Ujarnya pada diri sendiri.


Saat dalam lamunannya, tiba-tiba ia merasa sangat mual dan pusing kembali seperti sebelumnya. Sontak saja, ia bergegas menuju wastafel di dalam rumah.


Melihatnya yang masuk kedalam dengan berlari sangat cepat, membuat Jean sangat khawatir. Ia langsung berlari, mengikuti Karin dari belakang.


"Uweeek" Suara dari mulut Karin, yang hendak muntah di wastafel.


"Karin, ada apa?" Tanya Jean, yang langsung menghampiri Karin.


"Ti-tidak apa, Jean. Mungkin aku hanya kelelahan saja, seperti kemarin." Sahut Karin, sambil melebarkan telapak tangannya ke arah Jean.


Jean segera membawa Karin masuk kedalam kamar. Kemudian, ia mengambilkan segelas air dan memberikan obat dari dokter untuk Karin. Setelah itu, ia menyuruh Karin untuk istirahat lebih awal agar fisiknya segera membaik.