
Asisten Sean sempat kembali kedalam mobilnya, untuk mengambil barang-barang milik Karin yang sudah ia bawa. Kemudian, ia kembali menemui Karin di kantin rumah sakit.
Saat itu, tidak sengaja ia melihat Karin sedang diam termenung dan melamun. Di wajahnya terpancar seperti ada kekhawatiran yang tertahan, namun tidak bisa diungkapkan.
Sean menghampirinya, sambil membawa barang-barang itu.
“Karin, ini barang-barang yang kubawa untukmu.”
Sontak saja, Karin terlihat sedikit terkejut dan buru-buru merubah ekspresinya menjadi terlihat sangat bahagia. Dengan senyuman yang ia pancarkan, dan tingkah layaknya seperti tidak ada beban pikiran.
“Wah. Terima kasih banyak, Asisten Sean.”
Setelah itu, Sean bergegas pamit untuk kembali ke Perusahaan Leoparadise dan meninggalkan Karin.
Saat yang bersamaan, Karin perlahan melangkahkan kaki menuju kamar rawat inapnya.
Sesampainya didalam kamar, ia merebahkan tubuhnya di atas kasur pasien. Ia merenung, sambil memandangi langit-langit ruangan itu.
“Lebih baik, aku segera menyelesaikan pekerjaanku.” Gumamnya.
Kemudian, ia bergegas mengambil laptop miliknya yang telah dibawakan oleh Sean. Di saat yang bersamaan, Dokter Dylan masuk kedalam kamarnya dengan membawa tas laptop.
“Karin, ini laptop milikku. Kau bisa menggunakan-“
“Ti-tidak perlu, Dokter Dylan. Terima kasih, maaf sudah merepotkanmu.”
“Akan tetapi, Asisten Sean telah membawa laptop milikku.” Ujarnya kepada Dokter Dylan, sambil tersenyum.
“Oh, begitu ya. Baiklah, kalau kau butuh sesuatu. Segera katakan ya.” Ujar Dokter Dylan, sambil memberikan senyuman.
“Terima kasih banyak, Dokter Dylan.”
Lalu, Dokter Dylan pun keluar dari ruangan itu untuk melakukan pekerjaannya. Yaitu, memeriksa pasien-pasien lain yang membutuhkan dirinya. Sementara itu, Karin bergegas menyalakan laptopnya untuk segera menyelesaikan pekerjaannya.
...----------------...
Tak terasa, sudah pukul 07:00 malam.
“Huaah, hanya tinggal memasukan syarat yang ada di dalam berkas berwarna hijau ini. Maka, pekerjaanku dan keterlibatanku dengan Perusahaan Leoparadise dan pemiliknya akan segera berakhir.” Gumamnya.
“Huh, aku akan menyelesaikannya besok.” Ujarnya, sambil memijit leher bagian belakang.
Di saat yang bersamaan tiba-tiba Dokter Dylan masuk kedalam kamar inap Karin, untuk memeriksanya. Ia juga memberikan makan malam, serta memberikan obat yang harus diminum Karin.
“Baiklah, keadaanmu sudah jauh lebih baik.”
“Makanlah yang teratur, dan minum obatmu. Agar kau segera pulih.” Ujar Dokter Dylan, setelah ia memeriksa Karin.
“Terima kasih banyak, Dokter Dylan.”
“Tidurlah lebih awal, selamat malam.” Ujar Dokter Dylan. Lalu, ia keluar dari kamar itu meninggalkan Karin sendirian.
Karin perlahan turun dari ranjangnya, ia melangkahkan kakinya perlahan menuju ke arah jendela. Lalu, ia melihat ke luar jendela sambil berkacak pinggang.
Tatapannya terlihat sedang merasa cemas, seperti ada perasaan yang tertekan dalam dirinya.
Tak lama kemudian, ia kembali ke ranjangnya. Lalu, menghabiskan makan malamnya. Setelah itu, ia meminum obat yang telah disiapkan Dokter Dylan. Setelahnya, ia bergegas untuk tidur.
...----------------...
Keesokan harinya.
Karin telah bangun sejak pukul 5 pagi. Ia sengaja melakukan hal itu, untuk segera menyelesaikan pekerjaannya.
“Ah, akhirnya selesai juga.” Ujarnya, sambil meregangkan kedua tangannya.
Ia melihat ke arah jam dinding.
“Pukul 8 pagi, apakah kak Eiden sudah datang?” Gumamnya.
Di saat yang bersamaan, ponselnya tiba-tiba saja berdering. Bergegas ia mengambil ponselnya dari saku baju, terlihat bahwa orang yang menelponnya adalah Nyonya Meilan. Yaitu, Ibu dari Leon.
“Ha-hallo.” Ujarnya, mengangkat telepon.
“Karin, apa kabarmu sayang?” Tanya Nyonya Meilan, di dalam telepon.
“A-aku baik, Ma. Bagaimana dengamu?”
“Syukurlah. Aku juga baik.” Sahut Nyonya Meilan, dengan suara yang terdengar merasa lega.
Karin sempat termenung sejenak.
“Apa yang harus kukatakan?” Tanyanya dalam hati, dengan rasa bimbang.
“Karin, apa kau mendengarkanku?” Terdengar suara Nyonya Meilan, yang kembali bertanya.
“Y-ya, Ma. Aku mendengarkanmu, a-aku ada di perusahaan. Namun-“ Sahutnya tergagap.
“Saat ini, Leon sedang pergi bersama klien untuk melakukan suatu pekerjaan penting. Apakah ada yang ingin kau katakan kepadanya? Aku akan menyampaikan kepadanya, setelah ia kembali.”
“Dasar anak bodoh, pantas saja sangat sulit dihubungi.” Sahut Nyonya Meilan.
“Baiklah, dengarkan ini Karin. Aku minta maaf, karena memberikan kabar buruk. Aku masih memiliki pekerjaan penting, sehingga aku menunda kepulanganku. Maka dari itu, aku juga menunda acara pernikahan kalian sampai 2 bulan kedepan.” Ujar Nyonya Meilan, dengan suara yang terdengar sedikit lemas.
“A-apa, Ma?” Tanya Karin, yang langsung terkejut.
“Aku tutup dulu teleponnya ya, nanti akan kuhubungi lagi. Aku harus naik pesawat, dan terbang ke negara lain untuk melakukan pekerjaan. Sampai jumpa, sayang. Tunggu Mama kembali ya, setelah itu kalian akan menikah. Dan kau akan menjadi menantuku.” Ujar Nyonya Meilan, yang suaranya terdengar sangat senang.
Kemudian, ia bergegas menutup sambungan telepon itu.
Sementara Karin, dengan tubuh terlihat lemas ia tertatih untuk duduk di kasur pasiennya. Tatapan matanya sangat kosong, ia pun memikirkan sesuatu di dalam kepalanya.
“2 bu-bulan? Ini sungguh kabar yang buruk.”
“A-aku tidak ingin terlibat semakin jauh, dan semakin lama lagi.”
“A-aku tidak ingin, sampai ada yang tahu kalau aku-“
Secara tiba-tiba, Dokter Dylan masuk kedalam kamarnya.
“Selamat pagi, Karin.” Ujarnya menyapa Karin. Namun, Karin terlihat seperti tidak menyadari kehadirannya.
Ia melihat ekspresi wajah Karin sangat tertekan, seluruh wajah Karin juga berkeringat. Bergegas ia melangkahkan kakinya menghampiri Karin.
“Karin, apakah ada masalah?”
Sontak Karin memalingkan pandangannya, ke arah Dokter Dylan.
“Do-Dokter Dylan.” Ujarnya tergugup.
“Apa yang mengganggu pikiranmu?”
“Ah, tidak ada.” Sahut Karin, sambil nyengir dan menggaruk kepalanya.
Dokter Dylan menyadari dengan jelas, bahwa ekspresi Karin menunjukkan ketidakjujurannya.
“Dokter Dylan, kau datang untuk memeriksaku?” Tanyanya, yang terlihat jelas mengalihkan pembicaraan.
“Ya, aku harus memeriksa kesehatanmu. Untuk mengetahui, perkembangan ke-“
“Baiklah, silahkan.” Sahut Karin, yang buru-buru memotong kalimat Dokter Dylan dengan memberikan lengannya kepada Dokter Dylan untuk segera diperiksa.
Dokter Dylan hanya dapat memandangi Karin, tanpa bicara. Kemudian, ia menggenggam lengan Karin untuk melakukan pemeriksaan terhadapnya.
...----------------...
15 menit telah berlalu.
Pemeriksaan terhadap Karin telah selesai, terlihat pancaran senyum yang merona dari wajah Dokter Dylan saat menatap Karin. Ia sedikit merasa heran, dengan sikap dan ekspresi yang ditunjukkan oleh Dokter Dylan kepadanya saat itu.
“Mengapa kau tersenyum?”
“Keadaanmu sudah cukup pulih, kau bisa mulai beraktivitas kembali.” Sahut Dokter Dylan, sambil tersenyum.
“Sungguh?”
“Hemm.”
“Apa aku bilang, aku sudah merasa jauh lebih baik sejak kemarin. Akan tetapi, kau sangat keras kepala dan selalu menganggapku selalu lemah.” Ujar Karin, sambil berkacak pinggang dan memonyongkan bibirnya yang sedang menggerutu.
Melihat tingkah Karin yang seperti itu, membuat Dokter Dylan merasa lucu. Hingga, ia tidak dapat menahan tawanya.
Di saat yang bersamaan, tiba-tiba seseorang masuk kedalam ruangan. Karin dan Dokter Dylan, segera memalingkan pandangannya ke arah pintu.
“Yo, selamat pagi.” Sapa seseorang yang masuk itu.
“Kak Eiden.” Ujar Karin, sambil menunjukkan ekspresi semangatnya.