
Setelah beberapa lama kemudian, Karin kembali ke ruangan Leon dengan membawa 3 bungkus Mie Laoshi. Karin juga membawa 3 bir kaleng untuk pelengkap saat memakan Mie Laoshi yang ekstra pedas dan bau siput yang menyengat.
"Baiklah, sebaiknya kita makan dulu" Ujar Karin, sambil mengeluarkan Mie Laoshi dari kantung plastik dan diberikan kepada masing-masing orang, bersamaan dengan bir yang sudah ia beli.
"Wah, kelihatannya sangat enak" Ujar Sean dengan semangat.
"Mari makan" Ujar Karin. Karin dan Sean pun menyantap Mie Laoshi itu dengan sangat lahap di sela dengan meminum bir kaleng, agar rasa pedas dan bau siput dari Mie itu tidak terlalu menyengat di mulut mereka. Sementara itu, Leon hanya menatap mereka dengan ekspresi wajah yang tertekan sambil menelan ludah. Karin memalingkan pandangan matanya.
"Hey, ayo makanlah" Ujar Karin. Menyadari hal itu, Sean ikut menatap ke arah Leon.
"Presdir belum pernah memakan Mie Laoshi sebelumnya, Karin" Ujar Sean.
"Apa?" Tanya Karin terkejut. Leon hanya diam menelan ludah, ia merasa aneh dengan tekstur Mienya yang terlihat seperti cacing tanah. Padahal perutnya juga merasa keroncongan. Karin menyadari hal itu, Leon juga sama sepertinya yang belum makan dari pagi.
"A-aku akan memesan makanan lain" Ujar Leon. Karin meletakkan sumpitnya dengan sangat keras, saat melihat Leon seperti itu.
"Dasar payah, kau harus makan sekarang. Jangan sampai di hari pertunangan kita besok, kau menyusahkan semua orang" Ujar Karin menggerutu sambil membuka bungkus Mie Laoshi milik Leon. Lalu, Karin mengambil Mie itu menggunakan sumpit dan mengarahkan sumpit itu mendekati mulut Leon. Karin berniat untuk menyuapi Leon secara spontan.
"Buka mulutmu! Atau aku akan membunuhmu" Ujar Karin, memasang ekspresi seperti ingin menikam mangsanya.
Melihat sikap Karin yang sangat galak, membuat Sean terkejut dan mangap. Leon tak bisa berkutik melihat wajah Karin yang galak itu, iapun menurut dan membuka mulutnya.
"Aaaa.. " Leon membuka mulutnya. Lalu, Karin memasukkan Mie Laoshi itu kedalam mulutnya. Leon mengunyah nya secara perlahan dengan ekspresi yang amat sangat tertekan.
"Lihatlah! Kau tidak akan mati hanya karena memakan makanan dari kedai pinggiran" Ujar Karin sambil terus menyuapi Leon. Lama-kelamaan, Leon terbiasa dan lugas membuka mulutnya untuk memakan Mie Laoshi itu.
"I-ini tidak buruk" Ujar Leon sambil mengunyah. Lalu, Leon mengambil sumpit dari tangan Karin dan memakan Mie itu dengan sangat lahap. Karin dan Sean pun tersenyum melihat Leon memakannya sangat lahap. Akhirnya mereka makan bersama sambil tertawa-tawa.
Beberapa saat kemudian setelah selesai makan bersama, Leon memberikan surat kontrak perjanjian yang sudah selesai dibuat oleh Sean kepada Karin untuk ditandatangani kedua belah pihak. Tanpa membaca secara rinci isi syarat dari Leon, Karin pun langsung menandatanganinya.
"Karin, setelah ini kau akan ikut pulang bersamaku ke rumah utama. Kau akan menginap sampai besok acara pertunangan selesai" Ujar Leon.
"Tunggu, aku harus kembali ke rumahku lebih dulu untuk mengambil pakaianku dan memberitahu kepada Jean. Aku yakin dia pasti sangat khawatir denganku." Ujar Karin.
"Baiklah, aku akan menemanimu. Akan tetapi, kau tidak boleh memberitahu siapapun tentang pertunangan kita yang palsu ini. Katakan saja seakan-akan pertunangan ini adalah asli, sampai hari di mana kita akan mengakhirinya" Ujar Leon.
"Tapi Jean adalah sahabatku, ia berhak mengetahuinya" Ujar Karin dengan sangat terkejut dengan yang dikatakan Leon.
"Syarat dariku tertulis pada perjanjian kontrak nomor 21. Tidak ada pihak lain yang mengetahui bahwa pertunangan kita adalah palsu selain pihak pertama, pihak kedua dan pihak yang membantu untuk pembuatan kontrak" Ujar Leon.
"A-apakah kau menuliskan syarat itu?" Tanya Karin. Karin sedikit terkejut karena tidak melihat secara rinci syarat yang diberikan oleh Leon.
"Silahkan kau lihat kembali" Ujar Leon memberikan berkas perjanjian kontrak mereka. Setelah dilihat oleh Karin, ternyata benar syarat itu tertulis di sana. Karin tidak dapat berkata apapun selain menyetujuinya, karena ia telah menandatangani kontrak itu.
Kemudian, mereka bergegas untuk pergi menuju rumah Karin. Sean yang mengantarkan mereka berdua.
Saat dalam perjalanan, Leon mendapat panggilan dari Ibunya yang memberitahu kalau persiapan acara pertunangan di gedung sudah selesai dipersiapkan oleh orang-orang suruhannya. Bahkan, hingga susunan acara dan juga hidangan telah diselesaikan dalam waktu yang singkat. Jika dipikirkan dengan akal sehat, semua seperti tidak mungkin dapat diselesaikan dalam hitungan jam. Namun, keluarga mereka amat sangat kaya, sehingga dapat membayar banyak orang untuk membantu mereka. Lalu, Nyonya Meilan memberitahukan padanya. Jika saat ini ia sudah ada di rumah dan mendapat izin untuk menjalani perawatan di luar rumah sakit dari Dokter Shui.
"Ibu mengatakan jika persiapan gedung telah selesai, dan undangan untuk semua orang yang kita kenal juga sudah selesai dikirimkan. Saat ini, kita hanya harus ke butik kepercayaannya untuk mengambil pakaian dan membeli sedikit perlengkapan yang dibutuhkan untuk acara pertunangan besok" Ujar Leon.
"A-apa? Bagaimana bisa? Bahkan Mereka tidak tahu ukuran bajuku" Tanya Karin bingung.
"Ibu pasti mengambil fotomu secara diam-diam, saat kau bersamanya. Pengamatannya tentang ukuran baju juga sangat detail" Ujar Leon.
"Aku merasa sangat gugup dan bersalah" Ujar Karin.
"Sudahlah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan" Ujar Leon. Karin hanya diam dan memainkan kukunya. Terlihat sangat jelas bahwa Karin sangat merasa khawatir dengan semua ini, terlebih lagi ia dan Leon membuat rencana untuk pertunangan palsu. Leon menyadari hal itu, ia memegang erat bahu Karin.
"Tenanglah, aku berjanji akan segera menyelesaikan permasalahan ini" Ujar Leon yang berusaha menenangkan Karin.
"*Semua ini sangat mendadak, aku bahkan hanya dapat berpikir dalam waktu beberapa jam. Sesungguhnya, bukan ini yang kuinginkan, aku menemui dirimu juga untuk pekerjaan. Mengapa malah seperti ini jadinya? Oh Penguasa alam semesta, entah apa yang harus kuucapkan nanti kepada Jean. Semua ini benar-benar sangat di luar kendali ku*" Ujar Karin dalam hati.
"*Tenanglah Karin, ini hanya berlangsung selama satu bulan. Setelah itu, kau tidak akan berhubungan dengan pria ini lagi*" Ujar Karin dalam hati menenangkan dirinya sendiri.
Setelah mengambil pakaian pertunangan mereka di butik yang di arahkan oleh Nyonya Meilan dan membeli beberapa barang yang dibutuhkan. Mereka tiba di depan rumah Karin dan Jean tepat pukul 11 malam. Benar saja, Jean sudah menunggu kedatangan Karin di teras rumah. Jean yang melihat mobil Leon berhenti di depan rumahnya, langsung bergegas menghampirinya. Saat itu, Karin turun dari mobil dan langsung bergegas menghampiri Jean untuk memeluknya.
"Kenapa kau pulang sangat larut? Apakah Presdir Leon menindasmu?" Tanya Jean.
"Aku baik-baik saja, Jean. Dia tidak menindasku" Jawab Karin.
"Syukurlah. Apa kau sudah makan? Aku sudah memasakkan makanan kesukaanmu, ayo masuk kedalam dan kita makan bersama" Ujar Jean. Karin yang melihat sikap Jean itu, merasa sangat sedih dan bingung cara menjelaskan masalah yang terjadi secara mendadak ini. Mau tidak mau, Karin harus mengatakannya. Apalagi, malam ini ia harus pergi ke rumah keluarga Leon. Leon dan Sean turun dari mobil menghampiri Karin dan Jean.
"Jean, ada hal penting yang harus kubicarakan" Ujar Karin dengan ekspresi yang sedih.
"Ada apa, Karin?" Tanya Jean.
"Kita bicarakan di dalam saja" Ujar Karin.
Kemudian, mereka semua masuk kedalam rumah dan duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Lalu, dengan berat hati Karin membicarakan hal ini kepada Jean.
"Jean, malam ini aku akan pergi ke rumah keluarga Presdir Leon. Karena besok pagi, aku dan Presdir Leon akan melangsungkan pertunangan" Ujar Karin dengan tubuh yang panas, dingin dan gemetar menyampaikan hal itu kepada Jean. Mendengar hal itu, sontak Jean sangat amat terkejut.
"A-apa???!!" Tanya Jean dengan sangat amat terkejut.