
Mereka tiba di rumah sakit. Semua orang menunggu di depan ruang perawatan, menunggu Dokter memberi kabar baik tentang keadaan Nyonya Meilan yang sedang ditangani di dalam ruang perawatan. Leon duduk diam tak bicara dan tidak mengeluarkan ekspresi apa-apa, Karin melihat ke arah tatapan mata Leon yang tidak bisa berbohong. Terlihat jelas dari mata Leon, bahwa dia sangat amat mengkhawatirkan keadaan ibunya. Karin duduk di samping Leon dan mengelus punggungnya, Karin berniat untuk menyemangati nya.
Kemudian, Dokter yang menangani Nyonya Meilan keluar dari ruangan.
"Dokter, bagaimana keadaan Ibuku?" Tanya Leon, yang langsung menghampiri Dokter itu. Karin dan Sean juga berdiri di belakang Leon.
"Leon, aku adalah Dokter Shui. Aku yang biasa menangani Nyonya Meilan selama ini, sudah saatnya aku memberitahu kepadamu" Ujar Dokter itu, yang ternyata adalah Dokter kepercayaan Nyonya Meilan, yaitu Dokter Shui.
"A-apa maksudmu?" Tanya Leon.
"Nyonya Meilan, selama ini telah mengidap penyakit kanker hati. Saat pemeriksaan kali ini, kanker itu sudah memasuki staduim 2" Ujar Dokter itu.
"A-apa?" Ujar semuanya dengan ekspresi yang sangat terkejut.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Dokter Shui, membuat Leon merasa tubuhnya sangat lemas. Karin menyadari hal itu dan sontak saja ia langsung berdiri sangat dekat dengan Leon dan langsung menggenggam bahu Leon untuk disandarkan pada dadanya.
"Ia sudah semakin rapuh. Aku hanya bisa mengatakan pada kalian, jangan membuatnya merasa kecewa dan sedih. Karena itu sangat mempengaruhi kesehatannya. Terlebih lagi, jangan biarkan Nyonya Meilan terlalu stress dan mendapatkan kabar buruk secara mendadak. Karena hal itu dapat membuatnya shock, sehingga organ tubuh tidak dapat mengendalikan hatinya untuk memompa peredaran darah" Ujar Dokter Shui.
"Aku harus pergi ke lab untuk memeriksa lebih lanjut kondisi Nyonya Meilan, kalian bisa menjenguknya. Aku hanya berpesan, jangan terlalu menunjukkan ekspresi sedih kalian saat mengetahui semua ini. Itu akan menjadi pikiran berat untuknya. Oh ya, Leon. Kau ikut denganku, masih ada yang harus kubicarakan kepadamu" Ujar Dokter Shui. Lalu, Dokter Shui bergegas pergi meninggalkan mereka dengan membawa berkas-berkas hasil pemeriksaan untuk diperiksa lebih lanjut. Leon mengikuti Dokter Shui dari belakang secara perlahan, dengan pikiran yang kacau dan rasa khawatir yang tinggi.
"Karin, tolong jaga Nyonya Meilan. Aku akan mengurus administrasi untuk perawatannya" Ujar Sean.
"Pergilah, kau jangan khawatir. Aku akan menjaganya" Ujar Karin.
Sementara itu, Sean bergegas pergi untuk membayar biaya administrasi perawatan dan mengajukan kamar perawatan VIP untuk proses perawatan Nyonya Meilan. Sedangkan Karin masuk kedalam ruangan untuk menemui Nyonya Meilan.
Karin melihatnya terbaring lemah, wajahnya terlihat sangat pucat tersorot dari pancaran sinar matahari jendela ruangan. Karin melangkahkan kakinya secara perlahan. Seketika, ia mengingat sebuah kejadian yang membuatnya sangat menderita, "Suasana ini sama seperti aku melihat mama terbaring sudah tidak bernyawa waktu itu, rasanya sangat sakit. Sungguh dadaku terasa sangat sesak saat ini"Gumamnya dalam hati, sambil melamun menatap Nyonya Meilan.
"Ka-Karin.." Ujar Nyonya Meilan memanggil namanya dengan suara yang sangat lembut. Karin langsung tersadar dari lamunannya, saat mendengar suara Nyonya Meilan memanggil namanya. Ia bergegas menghampiri Nyonya Meilan dan memeluknya. Karin tidak kuasa menahan air matanya, saat memeluk Nyonya Meilan.
"Suara itu, suara itu yang kuharap saat dulu. Namun, Mamaku tidak pernah lagi memanggil namaku" Gumam Karin dalam hati. Karin mengingat kenangan bagaimana ia menyaksikan kematian Ibu dan Ayahnya, suasana itu sama persis seperti ini. Hanya saja, Karin merasa lega karena Nyonya Meilan masih memanggil namanya. Suasana yang sangat diharapkan oleh Karin saat melihat Ibunya terbujur kamu dulu.
"Sudahlah, aku baik-baik saja. Jangan menangis lagi ya, kau terlihat sangat jelek kalau menangis begitu" Ujar Nyonya Meilan sambil mengelus lembut rambut Karin. Bukannya berhenti menangis, Karin justru semakin menangis keras.
"Hangat, sungguh hangatnya pelukan dan belaian ini. Mama, sentuhan Nyonya Meilan sama hangatnya seperti dirimu. Aku sangat merindukanmu, Mama" Ujar Karin dalam hati.
"Duduklah, sayang" Ujar Nyonya Meilan. Karin pun duduk pada kursi di samping kasur pasien berdekatan dengan Nyonya Meilan.
"Aku sangat senang melihatmu baik-baik saja" Ujar Karin.
"Yah, aku merasa baik-baik saja saat ini. Mungkin Dokter Shui sudah memberitahu kalian tadi, padahal aku sudah melarangnya memberitahu. Terutama, kepada Leon putraku yang bodoh itu. Karena aku tidak ingin melihatnya menangis, walaupun aku tahu jika ia sudah tidak pernah menangis sejak usianya 5 tahun" Ujar Nyonya Meilan.
"Matanya terlihat jelas, bahwa ia sangat mengkhawatirkanmu" Ujar Karin.
"Aku tahu, beban di hatinya sangat menyakitkan. Tapi ia tidak bisa menangis, dasar putra kesayanganku yang bodoh. Padahal jika ia ingin menangis, aku akan menyiapkan pangkuanku untuk dijadikannya tempat bersandar" Ujar Nyonya Meilan sambil mengeluarkan air mata.
Lalu, Nyonya Meilan menggenggam telapak tangan Karin.
"Karin, apa kau tahu saat aku melihat kalian pertama kali aku datang?" Tanya Nyonya Meilan. Karin menggelengkan kepala.
"Aku merasa amat sangat senang dan hatiku terasa sangat tenang. Karena, akhirnya ada seorang wanita yang ada di sisi nya. Aku memang tidak mengenalmu sebelumnya, namun hatiku berkata aku sangat tenang melihat putraku denganmu, Karin"
"Beban di hati Leon sangatlah banyak, beban yang ia pikul juga sangatlah banyak. Tapi sekalipun ia tidak pernah mengeluh atau menceritakannya kepadaku. Ia sangat tersiksa dan terkekang di dalam jiwanya" Ujar Nyonya Meilan sambil mengeluarkan air mata.
"Saat ini, tubuhku sudah melemah. Usiaku juga semakin tua. Aku sangat memikirkan Leon, bagaimana nanti jika aku memang sudah waktunya untuk pergi? Apakah putraku yang bodoh itu memiliki tempat untuk bersandar? Apakah ada yang mengurusi dan merasa peduli terhadap suasana hatinya?"
"Aku sangat memikirkan hal itu, sudah bertahun-tahun ia tidak pernah memiliki seorang pasangan semenjak hubungan terakhirnya yang sangat menyakitkan. Karena hal itu membuatku sangat tertekan memikirkan Leon, hingga akhirnya tak kusadari Dokter Shui berkata bahwa aku mengidap penyakit itu"
"Aku bahkan sudah berbicara dengannya, aku tidak meminta hal yang berat untuk bisa melihat cucuku. Mengingat mungkin hidupku hanya sebentar lagi. Aku berkata padanya, asalkan ia memiliki seorang istri yang bisa menjaganya. Melihat hal itu saja sudah membuatku sangat senang dan sangat amat tenang. Tapi putraku itu tidak pernah mengerti"
"Maka dari itu, saat pagi ini aku melihat kalian bersama. Aku langsung gegabah tanpa memikirkan hal lain. Maafkan aku, Karin" Ujar Nyonya Meilan menangis sangat keras. Karin merasa tak kuasa melihat Nyonya Meilan menangis seperti ini, Karin adalah seseorang yang tidak mampu melihat orangtua menangis. Sontak ia memeluk Nyonya Meilan dan berkata, "Aku akan memikirkan itu baik-baik dan aku akan bicarakan dengan Leon"
Tiba-tiba, Leon dan Sean masuk kedalam ruang perawatan itu.
"Tidak perlu dibicarakan lagi, besok kita akan melangsungkan pertunangannya!" Ujar Leon.
Semua orang yang ada di dalam ruangan itu terkejut dan melongo.