Fall In Love With Mr. Leon

Fall In Love With Mr. Leon
Malam Yang Panjang



Setelah beberapa lama menempuh perjalanan, akhirnya mobil yang dikendarai Sean berhenti pada sebuah apartemen.


Kemudian, Leon turun dari mobil itu dengan memapah Karin yang mabuk.


Leon berkata pada Sean, "Kau bisa kembali." Sean menjawab, “Jika terjadi sesuatu, segera hubungi aku."


Lalu, Leon bergegas membawa Karin masuk ke dalam apartemen.


Sesampainya di dalam apartemen, Leon membawa Karin masuk kedalam sebuah kamar kosong dan merebahkannya di atas kasur.


"A-apa yang akan kau lakukan?" Tanya Karin, dengan tubuh yang sempoyongan.


"Jangan berpikir banyak, istirahatlah. Setelah kau sadar besok, akan kuantar kau pulang ke rumahmu." Ujar Leon.


"Jangan mengambil keuntungan sendiri! Apa kau sengaja menolongku dari pria-pria yang akan melecehkanku, untuk kau nikmati sendiri?!" Ujar Karin, sambil memeluk dadanya dengan kedua tangannya.


Leon mendekatkan wajahnya pada wajah Karin dan berkata, "Aku tidak sembarangan melakukan hal itu! Apalagi dengan wanita asing sepertimu! Tidurlah, besok Sean akan mengantarmu pulang." Leon keluar dari kamar itu, dan menutup pintu kamar itu.


Kemudian, Leon masuk ke kamar yang lainnya untuk membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya yang sudah sangat tercium aroma alkohol.


Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Leon keluar dari kamar bermaksud untuk mengambil air mineral dan cemilan untuk ia makan.


Tak disangka, ia malah menemukan Karin di ruang TV sedang meminum bir sambil menangis.


Leon terkejut dan bergegas menghampirinya. "Sudah cukup, kau sudah sangat mabuk." Ujar Leon, sambil merebut botol bir yang digenggam Karin.


"Jangan pedulikan aku. Pria bajingan itu berkata, bahwa aku jelek. Aku tidak seksi seperti, wanita yang bersamanya tadi. Dia juga bilang, kalau aku adalah wanita yang tidak bisa memberi kepuasan." Ujar Karin dengan kesadaran yang hampir hilang sepenuhnya, karena pengaruh alkohol.


Leon duduk di samping Karin, tanpa mengeluarkan ekspresi apapun. Ia juga merasa kasihan kepada Karin, atas apa yang Karin terima dari kekasihnya itu.


"Apa kau tahu? 7 tahun waktuku sia-sia, hanya untuk pria bajingan seperti dia. Sungguh sangat melelahkan, sungguh aku wanita yang sangat bodoh." Ujar Karin menangis.


Saat itu, Leon hanya terdiam. Lalu, Karin merebut kembali botol bir yang sebelumnya diambil oleh Leon dan Karin segera meminumnya hingga hampir habis.


Melihat hal itu, Leon merampas botol birnya kembali. Kemudian, ia meminum sisa bir dari botol itu untuk bertujuan agar Karin tidak memiliki kesempatan untuk meminumnya lagi. Leon merasa kepalanya agak pusing, dan pandangan matanya mulai kabur. Ternyata, mereka telah meminum bir beralkohol yang berkadar sangat tinggi.


Tiba-tiba, Karin mendorong Leon hingga punggung Leon terjatuh di sofa dan tengkuk lehernya tertopang oleh tepi sofa.


Karin naik ke atas tubuh Leon dengan membuka bajunya, hingga tubuh bagian atasnya hanya ditutupi oleh bra renda berwarna merah.


Bra itu sangat ketat melekat di dada Karin, membuat bagian dada Karin terlihat sangat seksi.


Karin berkata pada Leon, "Kujadikan kau saksi, kalau aku juga bisa memberikan kepuasan. Dan akan kubuktikan padamu, bahwa apa yang pria bajingan itu ucapkan adalah kesalahan besar!" Ujar Karin membungkukkan tubuhnya, dan mendekatkan wajahnya ke wajah Leon.


Leon terkejut, namun tidak terkendali dengan Karin saat ini.


Karin membuka mantel handuk yang digunakan oleh Leon, lalu ia meraba dada Leon sambil menekannya.


Karin mengarahkan wajahnya pada dada Leon, mencium dadanya sambil mengendus perlahan menggunakan hidungnya yang mancung. Seakan hasrat Karin tiba-tiba timbul, Karin semakin terlihat liar saat melepaskan jeday yang mengikat di rambutnya hingga rambutnya terurai berjatuhan perlahan ke dada Leon.


Karin menunjukan wajah seksi yang sangat liar dan menggoda, sambil kembali mencium dada Leon hingga menjalar ke leher Leon.


Seketika Leon membuka mulutnya perlahan, suara hembusan nafasnya terasa berat. Karin tidak menghentikan tindakannya, malah semakin meliar.


Jemari tangan Karin meraba perut Leon yang berotot kotak-kotak seperti roti sobek, ia membelai halus dan semakin mengarahkan sentuhannya ke arah bagian sensitif pada tubuh Leon. Leon merasa tidak tertahankan.


Leon membangunkan tubuhnya dan menggendong Karin untuk membawanya kedalam kamar.


Leon merebahkan Karin di atas ranjangnya, merekapun saling bersentuhan dan saling memberi kehangatan satu-sama lain.


Karin terus memberikan kehangatan dan kelembutan yang luar biasa untuk dirasakan oleh Leon, Leon mengakui dalam hatinya jika setiap sentuhan dari jemari tangan Karin membuatnya merasakan hal yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.


Sementara itu, Karin yang sedang di bawah pengaruh alkohol seakan tidak menyadari apa yang sedang ia lakukan saat ini. Seakan inilah rasa kebencian yang ia pendam, seakan inilah yang ingin ia tunjukkan pada semua orang. Bahwa apa yang dikatakan Morgan, tentang dirinya adalah kesalahan besar.


Karin tidak memberikan kesempatan untuk Leon mengakhiri permainan ini, ia terus memaksa dan merayu Leon. Hingga Leon tidak berdaya, dan terus mengikuti kemauan Karin. Bagaimana Leon dapat menahannya? Leon juga terpengaruh efek alkohol yang merusak akal sehatnya, ditambah lagi Karin sangat agresif karena alkohol yang mengendalikannya.


Malam itupun menjadi malam pertama, bagi dua orang asing yang tidak saling mengenal satu sama lain sebelumnya.


...----------------...


Malam pun berganti pagi hari, cahaya matahari menembus masuk menyorot wajah Karin dari jendela kamar Leon.


Perlahan kedua mata Karin terbuka, jemari tangan Karin memegang kepalanya. Ia masih merasa sangat pusing akibat pengaruh alkohol semalam.


Karin terkejut saat membuka matanya dengan lebar, ia tidak mengenali suasana kamar ini. Ia menjambak halus rambutnya berusaha mengingat apa yang sudah terjadi tadi malam, untungnya bayang-bayang yang telah terjadi tadi malam masih bisa ia ingat.


Sontak ia memalingkan wajah ke sisi kanannya, ia melihat Leon masih tertidur pulas di sampingnya dengan kedua mata tertutup pada wajahnya yang sangat tampan.


Namun, Karin sangat terkejut dan hampir mengeluarkan suara bising dari mulutnya. Segera ia membekap mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangannya.


Kemudian, sontak ia segera membuka selimut yang menutupi tubuhnya, dan benar saja. Ia masih dalam keadaan tak berbusana.


Karin perlahan turun dari ranjang Leon, mengambil pakaian miliknya yang berserakan di lantai.


Segera ia masuk ke dalam kamar mandi untuk memakai kembali pakaiannya, setelah itu. Karin merasa, jika ialah yang memaksa Leon malam tadi saat mengingat dan menyadari kelakuannya.


Karin menulis secarik kertas dan meninggalkan sejumlah uang bersamaan dengan kertas itu, ia meletakkannya di atas meja di samping ranjang tempat Leon tertidur.


Lalu, ia bergegas meninggalkan Leon dan Apartemen itu tanpa meninggalkan jejak lain.


...----------------...


Satu jam kemudian, Leon terbangun dari tidur lelapnya karena mendengar dering telepon panggilan masuk dari ponselnya. Leon mengambil ponselnya dengan mata yang masih terpejam, untuk menjawab panggilan masuk itu.


“Hallo.." Ujarnya.


"......" Seseorang mengatakan hal genting, dalam telepon.


Mendengar itu, Leon langsung membuka kedua matanya.


“Aku akan segera ke sana." Ujar Leon, kemudian ia langsung mematikan telepon.


Leon mengarahkan pandangannya pada sisi kiri ranjangnya, ia terkejut karena Karin sudah tidak ada di ranjangnya.


Sontak ia bergegas memakai mantel handuknya dan mencari Karin, ke seluruh ruangan di apartemen.


Sayangnya, ia tidak menemukan keberadaan Karin. Ia bergegas kembali ke kamarnya, lalu menemukan secarik kertas berisikan surat singkat yang tertulis.


“Maaf telah merepotkanmu. Anggap saja, uang ini sebagai ganti rugi untukmu." Membaca isi pesan itu membuat Leon merasa sangat kesal, ia meremas keras kertas itu.


Leon melihat ke arah uang yang ditinggalkan oleh Karin dengan tatapan yang sangat marah.


Leon mengambil ponselnya dan segera menelpon Sean, asisten pribadi sekaligus teman baginya. "Hallo, Sean.. Cari tahu keberadaan wanita semalam, aku ingin kabar secepatnya." Ujar Leon, dengan nada emosi.


"Apa yang terjadi?" Tanya Sean, dari dalam panggilan.


"Lakukan saja apa yang ku katakan! Kau harus menemukannya hari ini juga!" Ujar Leon, ia pun menutup panggilan itu.


Leon melihat, ke arah seprai ranjangnya.


Banyak noda merah pada seprainya, ia pun berkata. "Jadi, wanita itu benar-benar belum melakukan itu sebelumnya."