Fall In Love With Mr. Leon

Fall In Love With Mr. Leon
Ingin sekali terlepas darimu, Presdir Leon.



Setelah selesai menandatangani perpanjang kontrak antara dirinya dan Leon, bergegas ia mengembalikan berkas itu kepada Leon.


"Nih, sudah aku tandatangani. Pergilah."


Leon menatap Karin, sambil menaikkan satu alis matanya.


"Seenaknya saja mengusir orang."


"Apakah kau sangat tidak ingin diganggu, saat bersama dengan dokter itu?" Tanyanya, sambil memiringkan kepala dan menopangnya dengan telapak tangan yang mengepal.


"Omong kosong." Sahut Karin, sambil tersenyum menyeleneh dan memalingkan pandangannya ke arah lain.


Tiba-tiba, Dokter Dylan datang ke ruangan itu.


"Karin, saatnya kau-" Ujarnya, saat ia memasuki ruangan.


Sontak saja ia terkejut, saat melihat ada Leon di dalam ruangan itu.


"Hemm, baru saja dibicarakan."


"Selingkuhanmu sudah datang." Bisik Leon, di telinga Karin.


Kemudian, Leon bergegas bangun dari kursi. Lalu, ia bergegas melangkahkan kakinya menuju pintu ruangan yang terdapat Dokter Dylan di sana.


Langkahnya terhenti di hadapan Dokter Dylan, ia juga menatap Dokter Dylan dengan tatapan mata yang sangat angkuh dan sombong.


"Bisakah kau beritahu aku, sebenarnya apa yang terjadi dengan Karin?" Tanya Leon kepada Dokter Dylan, dengan suara yang pelan.


Lalu, Dokter Dylan tersenyum menatap ke arah Leon. Ia mendekatkan dirinya kepada Leon, dan ia menjawab pertanyaan yang diajukan Leon. "Tenanglah, tidak ada hal yang serius. Hanya bermasalah di bagian lambungnya, dan tidak terlalu mengkhawatirkan." Bisik Dokter Dylan, sambil memegang bahu Leon.


"Kalau tidak ada hal yang serius, mengapa ia harus dirawat berhari-hari?"


Sontak Dokter Dylan langsung menatap kedua mata Leon, sambil tersenyum.


"Karena-"


"Aku ingin menjaganya."


"Jika kau tidak bisa, menjaganya dengan baik. Maka, aku yang akan menjaganya." Ujar Dokter Dylan, seraya terlihat memperingati Leon.


Leon tersenyum menyeleneh, sempat berkedip sejenak dan menurunkan pandangan matanya.


"Ternyata seperti itu." Ujar Leon. Lalu, ia kembali menatap Dokter Dylan dengan tatapan mata yang sangat tajam.


"Coba saja kalau kau bisa." Ujar Leon.


Mereka saling menatapkan tatapan mata yang sangat tajam, seperti ada yang tersirat dalam benak mereka.


Tak lama kemudian, Leon bergegas melanjutkan langkah kakinya dan keluar dari pintu ruangan itu. Meninggalkan Karin, dan juga Dokter Dylan.


Lalu, Dokter Dylan perlahan melangkahkan kakinya menghampiri Karin.


"Hey, apa yang kalian bicarakan tadi?" Tanya Karin.


"Tidak ada hal yang penting, tenanglah. Aku hanya memberitahu kepadanya, bahwa lambungmu bermasalah." Sahut Dokter Dylan, sambil tersenyum.


"Oh seperti itu." Gumam Karin, sambil menaikkan kedua alis matanya. Lalu, ia mengeluarkan kontrak kerjasamanya bersama Eiden yang sebelum ya ia sembunyikan saat ada Leon.


"Ini obatmu, minumlah." Ujar Dokter Dylan, memberikan obat-obatan untuk Karin.


"Terima kasih, Dokter Dylan." Sahut Karin, tersenyum sambil mengambil obat-obatan itu dan juga mengambil segelas air yang ada di atas meja sebelah kasurnya. Lalu, ia langsung meminumnya.


Kemudian setelah meletakkan gelas air di atas meja kembali, Karin kembali membaca kontrak kerjasamanya dengan Eiden.


Dokter Dylan mendekatkan dirinya ke samping Karin, untuk ikut membaca isi dari kontrak kerjasama itu.


Beberapa saat kemudian, tiba-tiba angin berhembus menyapu rambut Karin secara perlahan. Sontak saja, Dokter Dylan memalingkan pandangannya melihat ke arah wajah Karin dari samping.


Raut wajahnya terdiam, sedikit terkejut. Tatapan matanya terpana memandangi wajah Karin dari samping, terlihat seperti merasa kagum.


"Cantik." Gumamnya di dalam hati.


Karin memalingkan pandangannya ke arah Dokter Dylan, dengan tatapan mata yang sangat hangat dan lembut.


Hal itu membuat Dokter Dylan semakin terpana, dan terdiam dalam kekagumannya pada raut wajah Karin.


"Dokter Dylan." Ujar Karin, memanggil Dokter Dylan dengan suara yang lembut.


Namun, Dokter Dylan sama sekali tidak mendengarkannya. Ia tetap saja bertahan, pada lamunannya itu.


"Dokter Dylan?" Ujar Karin, memiringkan kepalanya dan melebarkan kedua matanya menatap ke arah Dokter Dylan.


Sontak saja, Dokter Dylan tersadar dari lamunannya saat melihat Karin melebarkan kedua mata.


"Y-ya?" Sahutnya tergagap, dan terlihat salah tingkah. Lalu, ia berkedip dan mengucak mata dengan menggunakan ibu jarinya.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Karin, sambil tertawa kecil.


"Ti-tidak ada." Sahutnya, tergagap.


"Ada apa, Karin?" Tanyanya, yang buru-buru mengalihkan salah tingkahnya itu.


Kemudian, Karin memalingkan pandangannya menatap ke arah kontrak kerjasama.


"Eh, apakah kau sudah tidak betah?" Tanya Dokter Dylan, yang sedikit merasa terkejut.


Karin menoleh ke arah wajahnya, dan berkata. "Aku sangat ingin mencoba pemotretan ini."


Wajah Karin terlihat sangat bersungguh-sungguh, atas apa yang ia katakan. Melihat hal itu, membuat Dokter Dylan merasa bersalah kepadanya. Karena ia tahu betul, bahwa kondisi Karin sudah membaik. Tidak ada alasan baginya, untuk menahan Karin lebih lama lagi.


Sejenak ia menghela nafas, dan tersenyum menatap ke arah wajah Karin. Lalu, ia mengelus kepala Karin secara perlahan.


"Besok kau sudah bisa pulang ke rumahmu, kau juga bisa langsung melakukan pemotretan itu." Ujarnya, sambil tersenyum. Kemudian, ia melepaskan tangannya dari kepala Karin.


"Sungguh?" Tanya Karin, dengan tatapan mata yang berbinar-binar.


"Hemm." Gumamnya, menganggukkan kepala kepada Karin.


"Terima kasih banyak, Dokter Dylan."


"Aku akan menandatangani kontrak kerjasama ini." Ujar Karin, dengan rasa semangat.


Kemudian, ia bergegas mengambil pena dan menandatangani kontrak kerjasama pemotretan itu.


Setelah selesai menandatanganinya, kembali ia menatap ke arah Dokter Dylan sambil tersenyum lebar.


"Aku akan mencari kak Eiden, dan memberikan kontrak kerjasama ini." Ujarnya.


"Hemm." Sahut Dokter Dylan, sambil tersenyum. Ia ikut merasa bahagia, saat melihat Karin tersenyum lebar.


Kemudian, Karin bangun dari kursi dan bergegas keluar dari ruangan itu untuk mencari Eiden. Terlihat bahwa dirinya, sangat bersemangat.


Dokter Dylan hanya diam dan tersenyum, melihat Karin yang sangat excited dengan pemotretan itu. Ia ikut merasa bahagia, saat melihat Karin merasa bahagia.


...----------------...


Sementara itu.


Karin bergegas menemui Eiden, di taman yang ada di luar rumah sakit.


Ia melihat Eiden sedang duduk termenung, pada sebuah kursi yang ada di taman itu. Buru-buru ia berlari menghampiri Eiden, sambil membawa kontrak kerjasama pemotretan di tangannya.


Sesampainya di belakang tubuh Eiden, langkah kaki Karin seketika berhenti. Ia melihat ke arah Eiden, yang saat itu sedang melamun. Perlahan ia menghampiri Eiden semakin dekat, dan duduk di samping Eiden.


Karin sedikit merasa bingung, ia melihat Eiden sedang melamun. Bahkan terasa jelas, bahwa Eiden tidak menyadari keberadaan dirinya.


Saat itu, raut wajah Eiden terlihat sangat stress dan frustasi. Entah apa yang sedang dipikirkan olehnya, sehingga membuatnya melamun dan tidak menyadari keberadaan Karin.


"Kak Eiden." Ujar Karin, memanggil Eiden secara perlahan.


Sontak saja, Eiden terkejut. Ia langsung tersadar dari lamunannya, dan memalingkan pandangan matanya ke arah Karin.


"Ka-Karin, sejak kapan kau ada di sini?" Tanyanya, dengan gugup.


"Baru saja."


"Apakah ada masalah yang terjadi?" Tanya Karin, yang merasa khawatir.


"Tenanglah."


"Aku hanya sedang menikmati udara segar, di taman rumah sakit ini." Sahut Eiden, sambil tersenyum.


"Ada apa kau datang ke sini?" Tanya Eiden, mengalihkan pembicaraan.


"Ini." Sahut Karin, sambil memberikan kontrak kerjasama pemotretan.


Lalu, Eiden mengambilnya secara perlahan dengan tangan gemetar. Raut wajahnya terlihat sangat lesu, dan tidak berdaya.


"Tidak apa-apa, Karin. Aku mengerti, kau-"


"Aku sudah menandatanganinya, Kak Eiden."


"Besok, aku sudah bisa melakukan kerjasama antara kita." Ujar Karin, memotong kalimat Eiden sambil tersenyum.


Karin memahami, kalau Eiden mengira bahwa dirinya tidak menyetujui kontrak kerjasama itu.


"Eh?" Gumam Eiden, yang terkejut.


Karin tersenyum lebar kepadanya, sambil sedikit menganggukkan kepala.


"Apa kau serius ingin membantuku?" Tanya Eiden, memastikan kembali.


"Emm." Gumam Karin, mengangguk.


Sontak saja, ekspresi wajah Eiden berubah sangat gembira. Ia langsung bangun dari duduknya, dan meregangkan kedua lengannya.


"Terima kasih, Karin." Ujar Eiden, menatap wajah Karin dengan mata yang berbinar.


Lalu, Karin ikut bangun dari duduknya. Ia menghadap ke arah Eiden, sambil mengulurkan tangannya. Bermaksud mengajak Eiden untuk bersalaman.


Eiden sempat merasa bingung, melihat Karin mengulurkan tangannya. Tanpa basa-basi, Karin mengambil tangan Eiden untuk bersalaman.


"Mohon bantuannya, untuk kerjasama ini." Ujar Karin, sambil tersenyum saat menggenggam tangan Eiden.