Fall In Love With Mr. Leon

Fall In Love With Mr. Leon
Merasa Sangat Aman dalam Pelukan Presdir Leon.



Tak terasa hari sudah malam, tamu undangan satu persatu pamit pulang. Hingga hanya tersisa sekumpulan teman-teman dari Karin dan Leon, saat itu Nyonya Meilan juga sudah sangat merasa lelah karena menyambut para rekan koleganya. Jadi, Nyonya Meilan memutuskan untuk kembali ke rumah lebih dulu.


"Mama akan kembali ke rumah, sepertinya Mamah kelelahan" Ujar Nyonya Meilan kepada Leon yang saat itu menemani Karin yang masih berkumpul dengan teman-teman nya. Leon dan Karin pun mempersilahkan Nyonya Meilan pulang ke rumah lebih dulu, karena mengingat bahwa kesehatannya juga sedang kurang baik.


Tiba-tiba, Karin merasa hendak ingin buang air kecil. Ia pun bangun dari kursinya dengan tubuh yang sedikit sempoyongan karena terlalu banyak meminum bir yang disajikan.


"Kau mau kemana?" Tanya Leon yang meregangkan tangan kirinya untuk bersiap-siap menangkap Karin bila ia terjatuh.


"Tenanglah Presdir Leon tunangan ku, aku hanya harus ke toilet. Jangan khawatirkan aku" Ujar Karin melantur sambil memukul dada Leon perlahan. Teman-teman mereka tertawa melihat tingkah lucu Karin yang sedang mabuk.


Lalu, Karin melangkahkan kakinya perlahan dengan tubuh sempoyongan untuk menuju ke toilet.


Saat ia melewati koridor hotel yang ada di gedung itu untuk ke kamar mandi, tiba-tiba seseorang menggenggam erat pergelangan tangannya dan di seret masuk ke dalam salah satu kamar hotel yang ada di sana. Karin yang saat itu sedang dalam keadaan mabuk, tidak dapat melihat dengan jelas orang yang menyeretnya. Ditambah lagi lampu kamar itu sengaja dimatikan, seakan sengaja agar Karin tidak dapat melihat siapa yang menyeretnya.


Lalu, seseorang itu melempar Karin ke kasur dan menibani tubuh Karin. Ternyata yang menyeretnya adalah seorang pria. Pria itu meregangkan tangan Karin dan menggenggam erat kedua telapak tangan Karin, sontak ia menyadari itu bukan telapak tangan Leon. Ia dapat merasakannya perbedaannya, lalu ia berusaha menyadarkan dirinya dan berteriak meminta pertolongan.


"Lepaskan aku! Siapa kau?" Tanya Karin sambil berusaha memberontak.


"Tutup mulutmu! Kau milikku, seluruh tubuhmu juga milikku. Sampai kapanpun kau adalah milikku" Ujar Pria itu. Karin mengenali suaranya yang ternyata suara pria itu adalah suara Morgan. Lalu, ia mencium leher Karin secara paksa. Sontak saja Karin sekuat tenaga memberontak dan terus berteriak meminta pertolongan.


"Lepaskan aku! Siapa saja, tolong aku!" Teriak Karin. Morgan yang merasa bahwa jika Karin terus berteriak, orang di luar akan merasa curiga. Ia pun dengan sengaja menampar Karin dengan sangat keras.


'Plak!' Suara dari tamparan tangan Morgan pada pipi Karin.


Perlakuan kasar Morgan terhadap Karin tidak membuat Karin menutup mulutnya, justru ia semakin berteriak kencang.


"Leon!!!" Teriak Karin sekuat tenaga.


Sementara itu, ternyata Leon memang sedang mencari Karin karena Karin tidak kembali dari toilet dengan waktu yang cukup lama. Hal itu membuat Leon memiliki firasat jika terjadi sesuatu kepada Karin. Ia menyusuri seluruh toilet yang ada di gedung itu, hingga akhirnya ia berada di koridor tempat Karin terakhir kali lewat sebelum di seret masuk ke dalam kamar hotel oleh Morgan. Beruntungnya teriakan terakhir Karin yang memanggil nama Leon sangatlah kuat, hingga Leon dapat mendengarnya walaupun suara teriakan itu sudah mulai samar menghilang.


Kemudian situasi di dalam kamar, Karin sudah mulai tidak memiliki tenaga karena Morgan terus menampar nya dengan sangat keras berulang kali. Lalu, Morgan hendak menyobek gaun Karin di bagian dadanya dan memulai aksinya yang berniat memperkosa Karin.


'Braaak' Suara pintu terbuka dengan sangat keras karena di dobrak paksa dari luar. Ternyata itu adalah Leon. Beruntungnya Leon datang tepat waktu pada situasi itu.


"Brengsek!" Teriak Leon bergegas menghampiri Morgan. Leon menarik baju Morgan secara paksa hingga Morgan menyingkir dari tubuh Karin. Lalu, ia menghajar Morgan dengan sangat keras. Hingga Morgan terjatuh dilantai hampir tidak berdaya.


"Sean, tutup semua pintu keluar masuk gedung. Temukan seorang pria yang menggunakan topi hitam dengan slayer yang menutupi wajahnya" Ujar Leon.


Saat yang bersamaan, Karin tergeletak lemas di ranjang karena di tampar berulang kali oleh Morgan.


"Le-Leon.. " Ujar Karin dengan suara lemas. Leon langsung bangun menyalakan lampu dan menghampiri Karin.


"Karin!" Teriak Leon. Ia memegang lengan Karin hendak membantunya untuk bangun. Lalu, Karin malah langsung memeluk Leon dengan sangat erat.


"Leon, a-aku sangat takut" Ujar Karin dengan rasa yang sangat ketakutan, tubuhnya gemetar tak karuan dan ia juga menangis di pelukan Leon.


"Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Aku ada di sini bersamamu" Ujar Leon memeluk Karin kembali dengan erat sambil membelai rambut Karin.


Setelah beberapa saat mereka saling berpelukan, Leon melihat wajah Karin yang sudah terdapat luka memar. Leon merasa sangat marah di dalam hatinya, wajahnya memerah karena terpancing emosi melihat kondisi wajah Karin.


"Brengsek! Aku akan memberikan perhitungan pada orang itu" Gumam Leon. Karin merasakan amarah Leon dari suhu tubuhnya yang memanas.


"Leon" Ujar Karin dengan lembut yang berusaha menenangkan Leon. Beruntungnya Karin belum sempat diperkosa oleh Morgan karena Leon datang dengan tepat waktu, hal itu membuat Karin merasa tenang dan aman.


Lalu, Leon menggendong Karin keluar dari kamar itu melewati koridor untuk membawanya pulang ke rumah.


"Le-Leon, Mama pasti akan sangat khawatir saat melihatku seperti ini. Aku tidak ingin membuatnya memiliki banyak pikiran, mengingat saat ini Mama juga sedang kurang sehat" Ujar Karin. Leon pun tetap melangkahkan kakinya tanpa henti.


"Le-Leon, bisakah kau antarkan aku ke rumah Jean saja? Aku sungguh tidak ingin membuat Mamamu khawatir" Ujar Karin. Karin masih mabuk karena efek dari alkohol yang ia minum saat di acara pertunangan tadi. hal itu yang membuat Leon tidak menghiraukan kata-kata Karin dan tetap membawanya masuk ke dalam mobil untuk meninggalkan gedung itu.


Ternyata, Leon membawa Karin ke apartemen pribadi miliknya. Leon tidak ingin membawa Karin ke rumah Jean karena takut akan terjadi sesuatu lagi dengannya.


"Tunggulah di sini, aku akan mengambil air dan kotak P3K untuk mengobati memar di wajahmu" Ujar Leon setelah meletakkan Karin di ranjangnya dan bergegas pergi mengambil air dan kotak P3K.


Leon kembali dengan segelas air dan membawa kotak P3K ke kamar, ternyata Karin sudah tertidur saat itu dengan penampilan yang masih berantakan dan masih menggunakan gaun pertunangan. Leon berpikir, bahwa Karin pasti sangat kelelahan dan juga ketakutan setelah apa yang terjadi pada dirinya baru ini. Leon perlahan duduk di tepi ranjang untuk berusaha membersihkan luka di wajah Karin secara perlahan tanpa membangunkannya.


Leon juga melihat luka di kaki Karin akibat insiden semalam di kamar mandi rumah utama, ternyata luka itu bertambah parah hingga sudah berlumuran darah dikarenakan tali sepatu high heels yang mengikat pergelangan kakinya di bagian luka itu dengan sangat kencang.


"Dasar Bodoh, kenapa kau lakukan itu? Kau memaksakan diri untuk memakai sepatu ini pasti untuk menjaga penampilan dan nama baik keluargaku kan? Karena kau tau kita akan menjadi sorotan para rekan kolegaku maupun Mama" Gumam Leon perlahan sambil memegang kaki Karin yang terluka dan memandang ke wajah Karin. Perasaan Leon saat ini campur aduk, ia merasa terharu, khawatir dan juga merasa kesal dengan semua yang terjadi pada Karin.