
Keesokan harinya, Leon dan Sean sedang makan siang di kantin sambil berbincang.
"Aku memiliki dua tiket nonton secara gratis. Apa kau tahu? Aku tidak memiliki kekasih, untuk diajak nonton bersama" Ujar Sean dengan wajah yang murung, menunjukkan tiket itu kepada Leon.
"Hey, bagaimana kalau bersamaku" Ujar Karin, yang mengambil satu tiket itu secara tiba-tiba.
Leon dan Sean terkejut melihat kedatangan Karin yang secara tiba-tiba.
"Ide yang bagus, apakah kau mau nonton bioskop bersamaku?" Tanya Sean dengan rasa semangat.
"Tentu saja, sore ini aku luang" Ujar Karin.
Saat itu, ekspresi wajah Leon terlihat sangat aneh.
"Sean, bukankah kau sibuk sore ini untuk mengerjakan sebuah proposal project?" Tanya Leon.
"Hah, Proposal yang mana? Bukankah, semua sudah selesai?" Sahut Sean.
Sontak Leon menginjak kaki Sean di bawah meja memberikan isyarat.
"Aduh, sakit" Teriak Sean.
Leon berkedip mata kepada Sean, seakan memberikan isyarat.
"Maksudku, Aduh aku lupa ada satu proposal yang belum selesai. Sore ini aku sibuk, Karin" Ujar Sean, sambil menahan rasa sakit di kakinya akibat diinjak oleh Leon.
"Baiklah, bagaimana kalau dua tiket ini untuk kami saja. Aku akan membayarnya" Ujar Leon mengambil satu tiket lagi dari tangan Sean.
"Baiklah kalau begitu, segeralah transfer ke rekeningku ya" Sahut Sean, dengan ekspresi yang merasa senang saat Leon berkata akan membayarnya.
Lalu, Leon mengirim bukti transfer nya ke ponsel Sean.
"Sudah kukirim ya, lihatlah sendiri" Ujar Leon.
"Ayo Karin" Ujar Leon menarik pergelangan tangan Karin.
Saat itu, Sean melihat ponsel dan bukti transfer yang diberikan oleh Leon. Di sana juga tertulis sebuah keterangan yang berisi kalimat 'Aku akan memotong gajimu'
Lalu, dengan seketika Sean menggerutu.
"Dasar bos yang kikir" Gumamnya, dengan mengerutkan bibirnya.
Sementara itu, Leon membawa Karin masuk ke dalam mobilnya.
"Eh, tapi di tiket ini tertulis bahwa filmnya akan dimulai pukul empat sore. Sekarang baru jam dua belas lewat tiga puluh menit siang. Terlalu lama, jika kita menunggu di sana" Ujar Karin.
Leon terdiam dan berpikir, betul apa yang dikatakan Karin. Ia terlalu tergesa-gesa membawa Karin pergi.
"Aku menemukan solusinya" Sahut Leon.
Karin hanya menatap Leon, dengan sangat penasaran. Kemudian, Leon menginjak gas mobilnya untuk membawa Karin pergi.
Tidak lama kemudian, mereka sampai di sebuah Mall. Dengan rasa semangat, Leon membawa Karin masuk ke tempat permainan Timezone.
"Waaaah, Timezone" Teriak Karin dengan terkejut.
Ekspresi di wajah Karin, terlihat sangat senang. Sontak saja ia yang lebih bersemangat, ia menarik tangan Leon untuk menghampiri kasir untuk membeli tiket bermain.
Tak di sangka Leon, membeli banyak sekali tiket mesin permainan.
"Hallo, aku ingin membeli tiket sejumlah 1.000.000" Ujar Leon kepada penjaga Kasir.
Sontak saja penjaga kasir itu terkejut, Karin juga ikut terkejut.
"Bodoh, untuk apa membeli terlalu banyak?" Ujar Karin.
Sebelumnya Leon tidak pernah membeli tiket Timezone, makanya ia mengira jika sejumlah uang tersebut dianggap sedikit untuk membeli tiket.
"Kami akan membeli 300.000 saja" Ujar Karin.
Setelah mendapat tiket, mereka bergegas mengitari Timezone itu untuk mulai bermain.
Dimulai dari permainan capit boneka, berlanjut melempar bola basket, hingga memainkan permainan arena balapan.
"Hey lihatlah, aku akan segera membalapmu!" Ujar Karin kepada Leon, saat mereka memainkan permainan arena balapan.
Keceriaan di wajah mereka terlihat sangat natural, tanpa ada paksaan atau memikirkan kontrak yang telah mereka tandatangani bersama.
Sesekali Leon menatap ke arah wajah Karin yang terus saja tertawa dan tersenyum selama memainkan banyak permainan, hal itu membuat Leon ikut bahagia melihat kebahagiaan yang terukir di wajah Karin.
Setelah lelah memainkan permainan di Timezone dengan sangat puas, Leon membawa Karin ke restoran yang ada di dalam mall itu untuk istirahat sejenak dan menikmati makanan sebelum waktu untuk menonton bioskop dimulai.
"Hey, apakah kau tahu? Aku senang sekali hari ini" Ujar Karin menceritakan kesenangannya, yang terjadi hari ini.
Leon hanya tersenyum sambil menatap wajah Karin.
"Jarang sekali rasanya, aku bisa bersantai seperti ini. Bahkan saat aku di Perusahaan tempatku bekerja, seharipun aku tidak dapat merasakan waktu bersantai seperti ini. Karena, di hari weekend tetap saja aku melakukan pekerjaanku dalam membuat proposal ataupun melakukan analisis perkembangan Perusahaan" Ujar Karin, sambil meminum minuman di gelasnya menggunakan sedotan.
Mendengar hal itu, membuat Leon sedikit tersadar. Jika pegawai juga membutuhkan waktu untuk bersantai, ia juga teringat perlakuan dirinya terhadap para pegawainya.
Selain ia adalah Presdir yang galak, kikir dan kejam. Ia bahkan tidak memberikan para pegawainya waktu untuk bersantai, Karena ia menyadari, bahwa ia selalu memberikan banyak pekerjaan untuk dikerjakan di Perusahaan maupun untuk dikerjakan di rumah mereka masing-masing. Karinlah yang menyadarkan keegoisannya menjadi seorang Presdir, hal itu sangat menampar perasaannya.
"Hey, ayo cepat habiskan makanannya. Sebentar lagi film akan segera dimulai" Ujar Karin, menyadarkan Leon dari lamunannya.
"Ba-baiklah" Sahut Leon.
Lalu, mereka segera menghabiskan makanan mereka agar tidak terlambat menyaksikan film yang ingin mereka tonton di bioskop.
Beberapa saat kemudian setelah mereka selesai makan, tepat pukul lima belas lewat lima belas menit. Mereka masuk kedalam studio bioskop, untuk segera menyaksikan film yang ingin mereka tonton itu.
'*Para pengunjung di dalam studio bioskop, diharapkan dapat menyaksikan film ini dengan nyaman. Bagi yang masih berada di luar studio, diharapkan untuk segera memasuki ruang studio. Karena, film akan segera dimulai*' Suara pengumuman dari dalam studio bioskop.
Beruntungnya, Karin dan Leon datang lima menit lebih awal.
Tidak lama kemudian, lampu studiopun redup dan film yang akan mereka tonton mulai terlihat di layar depan studio.
Tidak disangka bahwa film yang akan mereka tonton adalah film bergenre romansa, yang sangat cocok untuk ditonton oleh para penonton yang sedang menjalin sebuah hubungan.
Selama berjalannya film, ekspresi Karin dan Leon berubah-ubah mengikuti alur cerita film itu. Bahkan mereka juga sempat menangis tersedu-sedu karena terbawa suasana film, saat sang aktor pemeran utama berada dalam sebuah adegan perpisahan yang menyakiti kekasihnya. Mereka juga tertawa bersama, saat adegan sedih berpindah menjadi adegan lucu.
Satu jam film berjalan, saat sedang asyiknya menonton. Leon melihat ke arah Karin yang saat ini sudah bersandar di bahunya, karena tidak sengaja tertidur pulas saat film masih berjalan. Leon terus menatap wajah Karin, kemudian ia mengelus pipi Karin dengan sangat lembut dan membiarkan Karin semakin tertidur pulas di bahunya itu.
Tergambar jelas di wajah Leon, ekspresi bahagianya dengan berkali-kali tersenyum melihat ke arah Karin. Ia merasakan kenyamanan saat bersama Karin, meskipun saat ini bahunya terasa pegal karena kepala Karin yang cukup berat.
Namun, hal itu tidak membuat Leon tega mengusik Karin yang sedang tertidur pulas. Bukan membangunkannya, ia malah menyelimuti tubuh Karin menggunakan jasnya agar Karin tidak kedinginan karena udara dingin dari AC di dalam studio bioskop itu.