
Setelah selesai menonton film di bioskop, Leon membawa Karin untuk mengitari Mall terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah.
"Apakah ada sesuatu yang ingin kau beli?" Tanya Karin.
"Ehem, aku ingin membeli beberapa jas, kemeja dan juga dasi. Tolong bantu aku untuk memilih semua itu" Sahut Leon. Lalu ia menggenggam pergelangan tangan Karin dan membawanya masuk ke salah satu butik, yang ada di dekat mereka.
"Selamat datang, Tuan dan Nyonya. Apakah kalian sedang membutuhkan sesuatu? Kami akan mem-" Ujar salah satu pelayan butik, menyapa Leon dan Karin.
"Tidak perlu, terima Kasih. Kami akan memilihnya sendiri" Ujar Leon, dengan sangat dingin kepada pelayan butik itu. Lalu, Leon melangkahkan kakinya masuk kedalam butik untuk melihat-lihat sambil disusul oleh Karin dari belakangnya.
Saat berada di dalam butik itu, Leon terlihat sangat bingung dalam memilih jas dan kemeja yang cocok untuk dirinya. Karin yang menyadari hal itu, langsung melangkahkan kaki menghampiri Leon dan berdiri di hadapan Leon dengan memberikan senyuman manis kepada Leon. Kemudian, Karin menarik lengan Leon untuk mengarah ke ruang ganti. Karin juga sambil mengambil beberapa jas dan kemeja yang ada di sana, saat mengarah ke ruang ganti.
"Baiklah, aku sudah memilihkan beberapa jas dan kemeja ini. Cobalah" Ujar Karin kepada Leon, sambil tersenyum. Lalu, Leon bergegas masuk kedalam ruang ganti dengan membawa beberapa jas dan kemeja yang telah dipilihkan oleh Karin.
Setelah beberapa saat di dalam ruang ganti, Leon pun keluar dengan memakai jas dan kemeja pilihan Karin yang pertama untuk ditunjukkan kepada Karin. Hal itu dilakukan berulang dengan mencoba jan dan kemeja yang lainnya. Terlihat suasana yang sangat bahagia, mereka tertawa saat melihat beberapa dari jas dan kemeja yang tidak cocok di tubuh Leon. Kemudian, mereka juga saling mendukung satu sama lain saat melihat beberapa jas dan kemeja yang dicoba oleh Leon terlihat sangat cocok di tubuhnya.
Setelah beberapa lama memilih, akhirnya mereka menemukan lima pasang jas dan kemeja yang sangat cocok di tubuh Leon. Kemudian, mereka berlanjut untuk memilih beberapa dasi untuk dipadukan dengan lima pasang jas dan kemeja yang sudah mereka beli.
Lagi-lagi, terlihat suasana yang sangat menyenangkan. Saat sedang memilih beberapa dasi, mereka sambil bercanda dan tertawa bersama-sama.karena melihat beberapa dasi yang warna dan gambarnya terlihat sangat aneh.
"Ah, akhirnya keinginanmu sudah terpenuhi" Ujar Karin, dengan memberikan ekspresi wajah yang merasa puas. Leon hanya tersenyum di sampingnya, sambil membawa kantung belanjaan.
"Apa kau ingin membeli sesuatu?" Tanya Leon, kepada Karin. Sontak saja, Karin menolehkan kepalanya untuk menatap ke arah Leon. Kemudian, Karin menggelengkan kepala sambil tersenyum.
"Tidak" Sahut Karin. Lalu, merekapun melanjutkan langkah kaki mereka untuk menuju ke pintu keluar Mall.
Saat hampir sampai di pintu keluar, tak sengaja Karin melihat sebuah toko perhiasan di samping kanannya. Saat itu, matanya langsung terpana pada sesuatu yang berkilau di lemari pajangan toko perhiasan itu. Karin pun segera menghampiri sesuatu yang menjadi pusat perhatian matanya itu. Leon mengikuti langkah kaki Karin dari belakang.
"Wah, cantiknya" Ujar Karin, sambil menempelkan kedua telapak tangannya pada lemari pajangan itu.
Ternyata, Karin melihat sebuah kalung berlian dengan liontin berbentuk bulan sabit yang terpajang di dalam lemari pajangan itu.
"Apa kau ingin membelinya?" Tanya Leon.
Karin tidak menoleh ke arah Leon, ia tetap memandangi kalung itu. Kemudian, ia melihat label harga kalung itu.
"Mana mungkin aku ingin membelinya? Lihatlah, harganya setara dengan biaya hidupku selama sepuluh tahun" Sahut Karin.
"Kau benar, orang miskin sepertimu pasti tidak akan sanggup membelinya"
Terdengar suara seorang wanita, dari samping kiri mereka. Sontak saja Karin dan Leon memalingkan pandangannya secara bersamaan, untuk melihat ke arah wanita itu.
Ternyata suara itu adalah suara dari Maira, yang saat ini sedang berdiri di samping mereka sambil berkacak pinggang.
"Mengapa kau ada di sini?" Tanya Leon, kepada Maira.
"Jelas saja untuk berbelanja, tak sengaja bertemu kalian. Namun, bukankah status kalian sebagai Presdir dan Asisten? Mengapa kalian bisa jalan bersama?" Tanya Maira, sambil menatap tajam ke arah Karin. Karin hanya dapat menundukkan kepala, tanpa berkata apapun.
"Kau jangan keterlaluan!" Ujar Leon.
"Aku keterlaluan? Bukankah, Asisten murahan ini yang keterlaluan. Karena telah merayu kekasih orang lain?" Tanya Maira, dengan menatap tajam pada wajah Karin.
"Maira, kau-" Ujar Leon, dengan sangat marah.
"Hey. Sebelum kau merayu seorang Presdir, berkacalah terlebih dahulu. Dan saat kau menginginkan sebuah berlian, lihatlah status sosialmu lebih dulu. Jangan sampai, kau mempermalukan dirimu sendiri" Ujar Maira kepada Karin.
"Oh, aku mengerti. Jangan-jangan kau sengaja merayu Leon atau kau menjual tubuhmu kepadanya, agar kau dapat memanfaatkannya untuk membelikanmu barang-barang mewah?" Ujar Maira kepada Karin, dengan kalimat yang tidak pantas.
"Maira, tutup mulutmu! Karin tidak se-" Ujar Leon.
Di saat yang bersamaan, sontak Karin berlari dengan sangat cepat keluar dari dalam Mall meninggalkan mereka tanpa berkata apa-apa. Karin juga menangis sambil berlari, karena merasa hatinya tersakiti oleh perkataan Maira yang menghina dirinya.
"Maira, mulutmu sangatlah kejam" Ujar Leon, sambil mengacungkan jari telinjuk ke arah wajah Maira. Lalu, Leon langsung bergegas pergi untuk menyusul Karin.
Sesampainya di luar Mall, Leon melihat bahwa Karin terus berlari tanpa henti melintasi zebra cross di depan jalan. Tak disangka, bahkan Karin tidak memperhatikan lampu penyebrangan saat berlari melintasi zebra cross itu. Terlihat ada sebuah mobil truk dengan kecepatan tinggi, hendak melintas.
"Tin-Tin" Terdengar suara klakson mobil truk itu, dengan sangat keras.
Sontak saja, Karin terkejut dan berhenti di tengah jalan sambil melihat ke arah truk itu. Semua orang yang ada di sekitarnya sangat terkejut, sambil berteriak melihat ke arah Karin yang akan di tabrak oleh truk itu.
"Karin" Teriak Leon yang sangat panik, melihat situasi saat itu. Ia pun langsung berlari dengan sekuat tenaga untuk berusaha menyelamatkan Karin.
"Aaaaaaaa" Teriak semua orang yang ada di sana, saat melihat truk semakin mendekati Karin.
"Nyiiiiiiiiit" Terdengar suara rem dari truk itu yang diinjak secara paksa, sehingga truk berhenti tepat di atas zebra cross itu.
Kaki Leon terhenti dengan seketika, saat melihat truk itu telah berhenti tepat di atas zebra cross. Wajahnya berkeringat dengan ekspresi yang sangat terkejut. Ia merasa, bahwa dirinya terlalu lambat untuk menyelamatkan Karin. Kini, kakinya terasa lemas dan tidak memiliki tenaga untuk melangkah.
Kemudian, truk itu kembali melanjutkan perjalanannya. Ternyata, Karin sudah berada di seberang jalan dengan tubuh yang terjatuh sambil di peluk seorang pria yang menolongnya. Melihat hal itu, Leon bergegas melangkahkan kakinya kembali dengan sangat cepat untuk menghampiri Karin dan pria itu.
"Do-Dokter Dylan" Ujar Karin kepada pria yang menolongnya itu.