
Malam itu di sebuah klub malam, Karin duduk di kursi yang berada di sudut ruangan klub. Karin datang bersama Jean, sahabatnya.
"Aku akan memberitahumu tentang kelakuan Morgan yang diam-diam sering membohongimu, Karin." Ucap Jean di depan wajah Karin.
"Aku sangat ragu, Jean." Ujar Karin, dengan ekspresi ragu.
Suara musik dari permainan Disc Jokey terdengar sangat keras, hingga membuat jantung Karin berdegup semakin kencang karena tekanan dari musik bervolume tinggi.
Ia berkeringat dan gemetar, seakan tidak sanggup menahan lebih lama dalam suasana itu.
30 menit telah berlalu, Karin merasa semua sia-sia saja dan apa yang dikatakan Jean hanya bualan biasa. Karin semakin gelisah, bukan karena takut apa yang dikatakan Jean adalah sebuah fakta.
Akan tetapi, ia merasa sudah tidak sanggup mendengar suara musik bervolume tinggi di dalam klub itu.
Jean tersadar jika Karin merasa tidak nyaman. "Tunggulah dulu, aku akan memesan minuman" Ujar Jean.
Kemudian, Jean pergi meninggalkan Karin untuk memesan minuman.
Tak lama setelah Jean beranjak pergi, Karin melihat Morgan berjalan di depannya dengan seorang wanita berpakaian seksi yang menonjolkan buah dada dan pahanya.
Morgan terlihat merangkul wanita itu dengan sangat mesra, tanpa menyadari jika Karin sedang melihatnya dari sisi belakang dengan tersaru lampu ruangan yang cukup gelap.
Karin terkejut tanpa bicara, wajahnya datar tak berekspresi.
Diam-diam Karin bergegas mengikuti Morgan perlahan dari belakang. Hingga tibalah Morgan dan wanita itu berhenti di sebuah sisi ruangan dengan terpampang sebuah papan bertuliskan "Party Hot” di sudut dinding, Morgan menggenggam tangan wanita itu dan menghimpitnya pada dinding yang ada di belakang wanita itu.
Lalu, terlihat Morgan mencium leher wanita itu hingga ke arah buah dadanya, sontak tangan Morgan mengarah ke dada wanita itu dan meremas buah dadanya.
Karin melihat kesegala sisi ruangan Party Hot itu, banyak sekali orang-orang melakukan hal yang sama seperti yang Morgan lakukan bersama wanita itu.
Karin sangat terkejut menyaksikan hal itu, bagaimana tidak? Morgan adalah kekasihnya yang sudah bersama dengannya selama 7 Tahun terakhir. Di depan Karin, Morgan terlihat seperti sosok laki-laki yang baik dan tidak sekalipun menunjukan kebrengsekannya.
Pernah sesekali Morgan meraba tubuh Karin saat berdua, namun Karin menolak dengan berkata "Kita akan melakukannya setelah menikah, jadi tunggulah dulu"
Setiap kali Karin berkata seperti itu kepada Morgan, Morgan selalu memberikan reaksi seolah pengertian dan menerima perkataan Karin dengan senyuman serta candaan. Membuat Karin berpikir kalau Morgan adalah laki-laki yang baik untuk kehidupannya.
Kini, semua kepercayaan telah Karin hancur. Tubuh Karin gemetar dan sangat berkeringat, sontak saja ia menangis dan berlari menjauhi sisi ruangan itu.
Kemudian, ia berhenti pada sebuah meja dengan penuh minuman beralkohol di atas meja itu. Tanpa berpikir panjang, Karin meminum salah satu minuman itu langsung dari botolnya hingga habis tanpa jeda waktu.
Beberapa menit kemudian, Karin merasa kepalanya sangat pusing dan perlahan hilang kesadarannya. Kemudian, Karin duduk dengan menyandarkan kepalanya di bahu seseorang yang ada di sebelahnya sambil menangis. Karin mengira jika ia sudah kembali ke mejanya dan orang yang menjadi tempatnya bersandar saat itu adalah Jean, sahabatnya.
Ternyata Karin salah, Karin tidak kembali ke mejanya dan bersandar pada Jean. Melainkan Karin mendatangi meja seorang pria asing, yang bernama Leon.
Saat itu, Leon sedang mentraktir 2 orang koleganya dengan ditemani oleh asistennya yaitu Sean.
Leon dan asistennya, Sean. serta 2 orang koleganya hanya terdiam melongo melihat Karin menghabiskan 1 botol minuman beralkohol tinggi tanpa jeda waktu dan tiba-tiba bersandar pada dada Leon karena mabuk.
Karin juga menangis dan berkata, "Morgan begitu sangat brengsek! ia selingkuh di belakangku. Apakah kamu tau? Aku melihatnya mencium wanita itu, hingga meremas buah dada wanita itu di sudut sana. Itu sangat menyakitkan, Jean! Aku kehilangan kepercayaanku. Morgan tidak pernah menunjukkan sifat brengseknya kepadaku. Bahkan tidak pernah memaksaku, saat aku menolak melakukan hal itu sampai nanti menikah. Dia selalu berjanji padaku, jika ia tidak akan pernah berselingkuh ataupun menyakitiku dan bodohnya aku telah mempercayainya. Itu sangat menyakitkan" Karin menangis, sambil memukuli dada Leon tanpa sadar.
"Jean, ayo ikut denganku! Aku ingin menampar Morgan dan wanita itu!" Ujar Karin menatap ke arah wajah Leon.
Karin sudah terlalu mabuk hingga tidak bisa melihat dan membedakan wajah seseorang dengan jelas, yang saat ini ada di kepalanya hanya wajah Morgan dan Wanita itu.
Sontak Karin menarik tangan Leon secara paksa dan menuntun Leon mengarah ke sisi ruangan Party Hot, yang di mana Morgan berada di sana.
Setelah tiba di dekat Morgan dan wanita yang bersamanya, ternyata Morgan sudah setengah menelanjangi wanita itu. Bibir Morgan sedang menggigiti bagian dada dari wanita itu.
Karin menarik bahu Morgan dengan sangat keras, dan menampar Morgan dengan sangat keras. Morgan terkejut, karena tiba-tiba ada yang menamparnya. Lalu, Morgan melihat ke arah orang yang menamparnya, kemudian ia tersadar bahwa orang itu adalah Karin, kekasihnya.
Sontak saja, Morgan terkejut saat ia mengetahui bahwa itu adalah Karin. Ia berkata "Karin, aku bisa menjelaskannya!" Terlihat ekspresi panik di wajah Morgan.
"Kau sudah sangat menjelaskannya, Morgan! Aku tidak membutuhkan penjelasanmu! Kau begitu sangat bajingan!" Ujar Karin.
Morgan juga berkata, "Kalau bukan karena orangtuaku memiliki hutang budi dengan mendiang ayahmu, aku jijik bertahan dengan wanita jelek sepertimu!"
Karin sangat syok mendengar semua perkataan dan penghinaan Morgan, sekali lagi Karin menampar Morgan dengan sangat keras.
‘Plaaak’ suara tamparan kedua itu terdengar sangat keras.
Lalu, Morgan merasa tidak terima dan ingin menampar balik Karin. Sontak Leon yang berdiri di belakang Karin itu, maju satu langkah dan menepis tangan Morgan yang hampir melayang ke pipi Karin.
Morgan menatap wajah Leon. Lalu, Leon menghempaskan tangan Morgan.
Morgan terkejut, ia menyadari jika Karin datang bersama seorang pria. Lalu ia berkata, "Oh, ternyata kau sama saja denganku, Karin! Kau juga datang ke tempat ini, bersama pria lain. Apakah tubuhmu juga sudah diraba oleh pria ini? Dasar kau pelacur yang merasa dirimu suci!"
"Tutup mulutmu, dasar sampah!" Teriak Leon dengan melayangkan satu pukulan, ke arah wajah Morgan. Setelah menerima pukulan itu, Morgan pun terjatuh dan mendapati luka pada bagian hidungnya.
Setelahnya, Leon menarik pergelangan tangan Karin untuk meninggalkan ruangan itu.
Karin terkejut. Ia berpikir kalau saat ini, ia bersama dengan Jean dan bukan dengan seorang pria asing yang dikatakan Morgan.
Sesekali, Karin berusaha memfokuskan pandangannya untuk melihat jelas orang yang saat ini bersamanya.
Benar saja, ia mulai melihat dengan jelas. Jika orang yang saat ini bersamanya, adalah seorang pria dengan mengenakan Jas berwarna abu-abu. Lalu, penglihatan Karin seakan kembali buram karena pengaruh alkohol yang sebelumnya ia minum.
Leon membawanya kembali ke meja yang dipesan Leon untuk mentraktir 2 orang koleganya.
Lalu, Leon berkata pada Karin, "Aku tidak tau darimana kau berasal. Jadi, silahkan pergi."
Karin pun menundukkan kepala di hadapan, Leon dan mulai berjalan perlahan meninggalkannya.
Karin merasa, jika kepalanya sangat pusing akibat minuman beralkohol yang sebelumnya ia minum. Langkah kaki Karin sudah tidak beraturan, hingga beberapa kali menabrak orang yang berada di depannya.
Leon tetap memperhatikan Karin dari mejanya, tanpa berkata dan melakukan apapun.
Perlahan, Karin hilang dari pandangan Leon.
Beberapa saat kemudian, Leon bergegas pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil. Tak sengaja ia melihat Karin dalam situasi yang tidak baik, Karin dikelilingi banyak pria yang mencoba meraba tubuh Karin.
Leon melihat seakan Karin tidak lagi bisa melawan, karena pengaruh dari alkohol yang Karin minum sebelumnya. Sontak saja, Leon menghampiri Karin dan memukul pria-pria yang hendak ingin meraba tubuh Karin.
Setelah berhasil memukul pria-pria itu, Leon bergegas menarik tangan Karin kembali ke mejanya sambil berkata, "Dasar menyusahkan!"
Sesampainya di meja, Leon dengan wajah yang sangat kesal mengambil botol minuman dan menghabiskan satu botol minuman beralkohol tinggi tanpa jeda waktu.
Setelah itu, Leon mengambil tas miliknya yang ada di mejanya dan meminta kepada Sean untuk mengantarnya pulang. Sean pun bergegas keluar dari klub malam itu untuk mengambil mobil.
Leon berkata pada kedua orang koleganya, "Kalian nikmatilah malam ini, aku harus pergi."
Leon pun terus menggenggam dan menuntun tangan Karin yang sudah hampir tidak sadarkan diri, untuk keluar dari klub malam itu.
Tibalah mereka di depan klub, menunggu Sean mengambil mobil dari tempat parkiran.
Saat menunggu Sean, Karin tiba-tiba kembali menangis mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
Ia menatap tajam ke arah wajah Leon dan berkata, "Kenapa kau menolongku dari pria-pria brengsek yang akan melecehkanku tadi? Kenapa kau tidak biarkan saja aku mati karena dilecehkan? Apa kau tau? Tujuh Tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk dilalui. Tujuh Tahun-ku sia-sia hanya untuk dia!" Teriak Karin menangis, dengan tubuh yang sempoyongan.
"Terima kasih telah membantuku. Jadi, tinggalkanlah aku! Aku tidak akan menyusahkanmu dan kau, tidak perlu membantuku lagi!" Ucap Karin melepaskan genggaman tangan Leon secara paksa, dan mencoba menjauhi Leon.
Leon tidak bicara sepatah katapun, ia hanya memandangi Karin dengan ekspresi heran.
Tiba-tiba Sean datang mengendarai mobil yang di ambilnya dari parkiran, sontak saja Leon langsung menarik tangan Karin dan menggendongnya masuk ke dalam mobil.
Lalu, Leon meminta Sean langsung bergegas menancap gas mobil meninggal tempat itu.