Fall In Love With Mr. Leon

Fall In Love With Mr. Leon
Sebelum Hari Pertunangan



Karin hanya melongo mendengar apa yang dikatakan Leon.


"A-apakah kau serius?" Tanya Nyonya Meilan, dengan tatapan penuh harap kepada Leon.


" Ya, Ma. Aku serius" Ujar Leon dengan ekspresi yang sangat serius. Lalu, Leon menghampiri Karin.


"Aku sungguh, sungguh sangat senang mendengarnya" Ujar Nyonya Meilan, sambil berteriak dan melompat-lompat di atas kasur kegirangan. Melihat perilaku Nyonya Meilan yang seperti itu, semua orang yang ada di sana melongo dan menganga tercengang.


"M-Ma, kau jangan terlalu banyak bergerak dulu. Kau harus istirahat" Ujar Leon, sambil melayangkan kedua tangan kepada Ibunya yang melompat-lompat kegirangan.


"A-ah kau benar. A-aduh.." Ujar Ibunya. Nyonya Meilan kembali membaringkan tubuhnya di kasur. Lalu, Leon menatap ke arah Karin.


"Ada hal yang harus kubicarakan denganmu, Karin" Ujar Leon.


"Sean, tunggulah di sini sampai Asisten Nana datang untuk menjaga Ibuku." Ujar Leon kepada Sean.


"Baiklah, serahkan saja padaku" Sahut Sean.


Leon menggenggam pergelangan tangan Karin dan mengajaknya keluar ruang perawatan itu untuk menuju ke mobilnya.


Sesampainya di dalam mobil, Leon dan Karin saling berbincang.


"Karin.." Ujar Leon.


"Leon.." Ujar Karin. Mereka saling menyebut nama satu sama lain, ingin memulai pembicaraan. Melihat situasi yang sangat tegang, Leonpun membiarkan Karin untuk mengatakan yang ingin dikatakan lebih dulu.


"Katakanlah.. " Ujar Leon gugup.


"Tentu. Leon, apa yang kau katakan tadi cukup gila. Kau tahu bahwa kita tidak memiliki hubungan apapun, kita hanya orang asing yang tidak sengaja bertemu sebelumnya. Kita tidak memiliki hubungan apa-apa, namun sekarang? Kau berkata kita akan bertunangan?" Ujar Karin.


Mendengar hal itu, Leon menghela nafas memasang ekspresi yang bingung juga.


"Karin, dengar. Aku minta maaf karena telah membawamu pada situasi seperti ini. Kau tahu keadaannya, Ibuku sedang sakit. Ia sangat menyukaimu dan berharap kau menjadi menantunya. Aku juga tidak berniat untuk memaksamu ada di situasi ini, cobalah untuk memahami situasi Ibuku. Aku sangat menyayanginya" Ujar Leon. Ekspresi yang terpancar di wajah Leon terlihat sangat jelas, bahwa ia juga sangat tertekan, tak ada pilihan dan merasa sangat khawatir. Seketika, Karin yang melihat ekspresi Leon itu menyadari bahwa apa yang dikatakan Nyonya Meilan kalau Leon lebih suka memendam beban adalah sebuah kenyataan. Setelah itu, mereka saling berdiam diri satu sama lain untuk berpikir dengan matang dan jelas mencari jalan keluar untuk masalah ini.


Lalu, Karin berkata. "Baiklah, aku akan melakukannya. Tapi kau harus ingat, aku melakukan ini untuk Nyonya Meilan. Bukan karena aku memang ingin bertunangan denganmu!"


"Bahkan, aku juga tidak melakukan ini karena ingin bersamamu" Ujar Leon menggerutu pelan. Karin yang mendengar itu, langsung memukul bahu Leon dengan sangat keras. Dan akhirnya terlintas dalam pikiran Karin mengenai solusinya.


"Aku terlintas jalan keluarnya, antara kau dan aku tidak ada hubungan apapun. Kau harus membuat kontrak denganku, akan kuberitahu apa isi kontrak yang harus kau buat. Kau juga boleh menambahkan syarat dan ketentuannya dalam kontrak itu. Kemudian, Nyonya Meilan berkata bahwa satu bulan setelah pertunangan untuk kita melangsungkan pernikahan. Aku berpikir dalam waktu satu bulan itu, kau harus segera mendapatkan pasangan yang sesungguhnya. Lalu, kita akan putus dan berpisah" Ujar Karin. Leon merasa solusi yang diberikan oleh Karin cukup masuk akal. Tanpa berpikir panjang, Leonpun menyetujuinya.


"Baiklah, aku menyetujuinya. Kita akan membuat kontrak perjanjiannya malam ini" Ujar Leon.


"Baiklah, malam ini aku akan ikut denganmu ke ruang kerjamu. Sekalian aku membereskan pekerjaanku di Perusahaanmu" Ujar Karin.


"Lupakanlah soal pekerjaan, fokuslah soal masalah ini" Ujar Leon.


Setelah mencari solusi itu, mereka berdua kembali ke ruang perawatan Nyonya Meilan untuk mengatakan bahwa mereka berdua yang akan menyiapkan acara pertunangan besok. Mereka juga berjanji akan menyelesaikan persiapannya malam ini, agar besok pagi acara bisa dilangsungkan sesuai harapan Nyonya Meilan. Mendengar hal itu pun, Nyonya Meilan menyetujuinya dan membiarkan mereka menepati janjinya.


Setelah itu, tepat pukul 4 sore. Karin, Leon dan Sean berpamitan untuk kembali ke Perusahaan. Mereka berkata akan menyelesaikan pekerjaan mereka sebentar, sebelum mereka mempersiapkan acara pertunangan yang sangat dadakan itu.




Sesampainya di Perusahaan Leoparadise, Karin memberikan rincian syarat darinya untuk dimasukan ke dalam kontrak perjanjian pertunangan mereka. Sean membuatnya sesuai apa yang dikatakan oleh Karin, tanpa terlewat sedikitpun syarat yang diberikan oleh Karin.



"Baiklah, aku sudah menjelaskan syarat-syarat dariku. Sekarang giliranmu, Leon" Ujar Karin.



"Baiklah. Sean tolong catat syarat dariku tanpa ada yang kurang sedikitpun. Syarat pertama, pasangan pertunangan harus menyetujui untuk menemaniku dalam menghadiri acara demi menjaga nama baikku. Terutama agar Ibu mempercayai, bahwa kita benar-benar seperti pasangan yang bertunangan tanpa kebohongan." Ujar Leon. Sean pun mencatat apa yang diucapkan Leon.




"Leon, aku akan ke luar sebentar untuk mencari makanan yang bisa dimakan. Apa kau ingin menitip sesuatu?" Ujar Karin.



Sontak Leon menyadari, bahwa sejak pagi ia tidak memperhatikan bahwa Karin belum memakan sesuatu.



"Kau tidak perlu keluar ruangan ini, aku akan segera memesannya untukmu" Ujar Leon. Karin pun melangkah menghampirinya.



"Perjanjian kontrak nomor 14 Pihak pertama tidak boleh melarang apa yang ingin dilakukan oleh pihak kedua" Ujar Karin sambil menarik dasi Leon dan menatap wajah Leon dengan sangat tajam. Leon hanya diam menelan ludah tak mampu berkata apa-apa, karena perjanjian kontrakpun sudah dibuat.



Tujuan Leon hanya merasa khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan kepada Karin, mengingat bahwa kemarin kesehatan Karin juga sedang tidak baik. Namun, Karin telah memberikan syarat yang harus dituruti oleh Leon tanpa terkecuali.



"Asisten Sean, apakah kau ingin makan sesuatu? Aku akan sekalian membelikannya untukmu" Ujar Karin sambil melepaskan genggaman tangannya dari dasi Leon.



"Karin, kau sangat baik. Bahkan Presdirku, sangat sering membiarkanku hampir mati karena kelaparan. Aku ingin Mie Laoshi kalau kau tidak keberatan" Ujar Sean memasang wajah yang sangat melas.



"Sean.. " Teriak Leon dengan menancapkan tatapan tajam pada mata Asistennya itu, karena telah berbicara sembarangan mengenai dirinya. Sean langsung menyadari, jika Leon marah dengan ucapannya.



"Hehe, tidak. Aku hanya bercanda" Ujar Sean cengengesan.



"Dasar Presdir Sombong, tidak hanya sombong. Rupanya, kau juga seorang Presdir yang angkuh dan juga kikir. Pantas saja kau jomblo" Ujar Karin mengejek Leon sambil perlahan berjalan ke arah pintu ruangan.



"Diam kau, kau juga dasar wanita payah. Pantas saja kau diselingkuhi pacarmu yang bodoh itu" Ujar Leon balas mengejek Karin.



"Hey, dengar. Justru aku merasa beruntung karena si bodoh itu berselingkuh. Karena aku sudah muak dengannya. Huh!" Sahut Karin.



"Sudahlah, Kalian terlihat sangat serasi jika seperti ini" Ujar Sean.



"Apa? Serasi? Ih, tidak mungkin!" Ujar Karin dan Leon secara bersamaan.



"Lihatlah" Ujar Sean, menertawakan mereka berdua.



"Ah sudahlah, kalian sangat menyebalkan" Ujar Karin. Karin bergegas melangkah keluar dari pintu ruangan meninggalkan mereka.