Fall In Love With Mr. Leon

Fall In Love With Mr. Leon
Hari Pertunangan Presdir Leon dan Karin



Keesokan paginya, semua sudah berkumpul di gedung acara pertunangan. Karin masih di ruangan make over, sedang dalam proses merias wajahnya dengan penata rias terkenal yang di sewa oleh Nyonya Meilan. Penampilan Karin pagi ini amat sangat cantik, yang menggunakan gaun elegan berwana putih dengan dihiasi manik-manik renda berlian di bagian punggung dan dadanya. Rambutnya di sanggul, di hiasi sebuah mahkota berlian berukuran kecil dengan hiasan jepitan bunga yang melingkari seluruh sanggul nya. Riasan di wajahnya, sangatlah cocok dengan dirinya. Ditambah goresan lipstik berwana merah jambu, membuat bibirnya terlihat sangat merona. Pagi ini, Karin terlihat seperti seorang ratu dari kerajaan. Sampai-sampai ia sendiri pangling, melihat wajah dan penampilannya yang berubah menjadi sangat cantik.


"Ya ampun, Karin. Kau terlihat sangat cantik. Aku tidak salah memilihmu menjadi putri menantuku, aku sangat senang pagi ini" Ujar Nyonya Meilan memegang kedua bahu Karin sambil memandangi wajah Karin.


"Ma, semua ini berkat dirimu. Sebelumnya, aku tidak pernah berdandan seperti ini. Terimakasih, Ma." Ujar Karin dengan ekspresi yang sangat senang.


Mengingat jika kaki Karin sedang terluka, Nyonya Meilan menyarankannya untuk tidak memakai sepatu high heels yang sebelumnya sudah di siapkan. Karena itu pasti akan melukai kaki Karin.


"Karin, kau pakailah sandal bulu halus ini. Agar lukamu tidak tambah parah" Ujar Nyonya Meilan. Karin berpikir, jika ia menggunakan sandal itu mungkin rekan-rekan dari Nyonya Meilan akan mengejek Nyonya Meilan. Apalagi acara pertunangan ini dihadiri orang-orang penting, pasti ia akan menjadi sorotan para tamu undangan.


"Baiklah, Ma" Ujar Karin berbohong seakan menurut apa yang disarankan oleh Nyonya Meilan.


Di saat yang bersamaan, Jean masuk ke ruang make over itu untuk menemui Karin.


"Ya ampun Karin. Lihatlah dirimu yang sangat menawan ini, aku sampai tidak mengenalimu!" Ujar Jean dari belakang Karin. Sontak Karin langsung memalingkan tubuhnya.


"Jean.. " Teriaknya saat melihat Jean. Lalu, mereka saling berpelukkan. Nyonya Meilan yang melihat kedatangan Jean merasa bingung. Karin pun memperkenalkan Jean kepada Nyonya Meilan.


"Ma, ini Jean sahabat dari kecil ku yang ku ceritakan semalam" Ujar Karin memperkenalkan Jean kepada Nyonya Meilan.


"Jean, ini Mamanya Leon. Nyonya Meilan. Mama sangat amat baik" Ujar Karin memperkenalkan Nyonya Meilan kepada Jean.


"Hallo, Jean. Senang bisa melihatmu. Karin sudah menceritakan banyak hal tentangmu" Ujar Nyonya Meilan dengan sangat ramah. Nyonya Meilan bersalaman dengan Jean sambil memeluknya beberapa saat.


"Hallo Nyonya, senang bisa berkenalan denganmu. Terimakasih banyak Nyonya. Aku titipkan gadis kecil ku yang bodoh ini ya, Nyonya. Marahi saja dia, kalau dia nakal" Ujar Jean memberikan salam kembali dan menambahkan sedikit gurauan kepada Nyonya Meilan tentang Karin. Nyonya Meilan pun tertawa.


Kemudian, mengingat bahwa rekan koleganya sudah tiba di aula. Nyonya Meilan berniat untuk meninggalkan karin dan menunggunya di aula. Nyonya Meilan juga merasa tenang, karena saat ini sudah ada Jean di sisinya Karin yang pasti akan menemani Karin.


"Mama akan menunggumu di bawah, cepatlah bersiap untuk datang ke aula pertunangan" Ujar Nyonya Meilan. Lalu, ia pun pergi keluar ruangan itu untuk menunggu di aula.


Kemudian, Karin tidak menggunakan sandal bulu yang disarankan oleh Nyonya Meilan. Ia tetap memaksakan diri untuk menggunakan high heels yang sudah di siapkan sebelumnya. Meski saat memakainya pun terasa sakit karena tergores tali sepatunya, ia tetap memaksakan dirinya agar tidak membuat malu Nyonya Meilan dalam acara pertunangan itu.


Keadaan di aula pertunangan sudah ramai di isi dengan para tamu undangan yang sudah hadir semua, Leon juga berada di aula untuk menyambut tamu-tamu dari rekan koleganya yang hadir. Begitupun dengan Nyonya Meilan.


Acara akan segera dimulai, Karin melangkahkan kakinya perlahan menuruni anak tangga dengan dituntun oleh Jean. Suara ketukan sepatu high heels yang dikenakannya, membuat para tamu memalingkan pandangan ke arah asal suara ketukan itu. Leon ikut memalingkan pandangannya bersama tamu undangan yang lain, untuk menatap ke arah Karin.


"Wah, cantiknya" Gumam beberapa tamu undangan secara bersamaan.


Bahkan, Leon pun ikut terkejut melihat penampilan Karin saat itu. Matanya tidak berkedip sedikit pun, tubuhnya diam mematung sambil memegang segelas bir beralkohol rendah di tangannya.


"Wah, Karin sangat cantik" Ujar Sean dari samping Leon. Leon melirik ke arah Sean beberapa detik dan kembali memusatkan pandangannya kepada Karin.


Akan tetapi, pada saat itu Nyonya Meilan menyadari jika sepatu yang di kenakan Karin adalah sepatu high heels yang sudah di persiapkan. Karin tidak memakan sandal bulu yang ia berikan. Saat itu, Nyonya Meilan sangat terharu karena ia mengetahui maksud Karin yang memaksakan diri itu. Namun, karena masih memiliki rasa khawatir. Sontak ia menghampiri Leon dan mendorong pelan lengannya.


"Leon, tuntun lah Karin sampai aula. Lihatlah, ia memaksakan diri menggunakan sepatu high heels pada kakinya." Ujar Nyonya Meilan berbisik kecil di telinga Leon. Ia pun melihat ke bagian kaki Karin yang terluka, benar saja yang di katakan Ibunya.


Menyadari hal itu, sontak Leon langsung meletakkan gelas birnya di atas meja dan langsung menghampiri Karin di pertengahan tangga itu untuk meraih telapak tangan Karin. Semua orang semakin terpana melihat mereka berdua, dan memberikan tepuk tangan yang meriah kepada mereka. Kemudian, Leon dan Karin menuruni anak tangga perlahan dengan diikuti Jean dari belakang.


"Sshh" Gumam Karin merintih kesakitan dengan suara kecil.


"ehm" Sahut Karin mengangguk perlahan.


Sesampainya di aula, Nyonya Meilan langsung memperkenalkan Karin kepada seluruh koleganya.


"Ini putri menantuku, lihatlah. Bukankah ia sangat cantik?" Ujar Nyonya Meilan kepada rekan-rekan koleganya.


"Sangat cantik, ia terlihat serasi dengan putra anda, Presdir Leon" Ujar salah satu rekan koleganya.


"Terimakasih" Ujar Karin dengan malu.


Setelah Nyonya Meilan memperkenalkan Karin ke seluruh rekan-rekan koleganya, MC acara pertunangan pun memberitahukan kepada seluruh orang bahwa acara pertunangan akan segera dilaksanakan.


Karin dan Leon naik ke panggung aula pertunangan, untuk melakukan pemasangan cincin.


"Nona Karina Mouri, dengan ini kau akan resmi menjadi milikku. Apakah kau bersedia menerima cincin ini?" Tanya Leon kepada Karin di depan semua orang. Karin melihat sekelilingnya, semua orang menatap dengan penuh haru. Tak lama kemudian, ia pun menganggukkan kepalanya dihadapan Leon memberi isyarat jika ia bersedia menerimanya. Lalu, Leon segera memasangkan cincin itu ke jari manis pada tangan kiri Karin. Semua para tamu undangan pun memberikan tepuk tangan yang meriah, Nyonya Meilan menangis bahagia sambil memeluk Jean.


"Akting mu cukup bagus" Bisik Leon di telinga Karin.


"Jangan meremehkan ku" Sahut Karin dengan suara pelan.


"Dengar, semua ini harus sesuai rencana kita. Setelah ini, segeralah kau mencari kekasih aslimu" Bisik Karin kepada Leon. Leon menatap wajah Karin dalam diam beberapa saat.


"Ehm" Sahut Leon menganggukkan kepalanya pelan.


"Setelah pemasangan cincin selesai, sang pria di persilahkan untuk mencium kening sang wanita tunangannya" Ujar MC dengan menggunakan microphone hingga semua para tamu undangan yang hadir mendengar.


"A-apa?" Teriak Karin kepada MC itu. Karena ia merasa terkejut kalau ada sesi mencium kening.


"Cium.. Cium.. " Serentak semua orang bersorak secara bersamaan.


Saat itu ekspresi Karin berubah seketika saat melihat semua orang bersorak. Dalam kontrak perjanjian yang ia buat dengan Leon sudah tertulis, bahwa pihak pertama tidak boleh berkontak fisik selain berpegangan tangan dengan pihak kedua.


'Leon, lihat saja kalau kau melanggar perjanjian kontrak. Aku akan membuat perhitungan denganmu' Gumamnya dalam hati sambil menatap Leon. Namun, semua orang di sana terus bersorak dan mendesak mereka.


Tanpa bicara, Leon menggenggam pergelangan tangan Karin dan menariknya dengan sangat kuat hingga Karin terjatuh pada pelukannya. Wajah Karin mendongak saling bertatapan dengan wajah Leon. Lalu, Leon mendorong kan wajahnya perlahan dan mengarahkan bibirnya mencium kening Karin tanpa rasa ragu. Saat itu, Karin memejamkan matanya karena tak kuasa menatap wajah Leon. Tubuhnya bergetar dan hatinya sedikit merasa kesal, karena Leon telah berani melanggar perjanjian kontrak yang mereka buat.


Leon melepaskan bibirnya dari kening Karin dan mengarahkan bibirnya dekat dengan telinga Karin. Namun, saat Leon melepaskan ciuman kening itu. Karin masih saja belum membuka matanya.


"Bukalah matamu, ciumannya telah usai. Nanti, kau bisa membuat perhitungan denganku karena aku telah melanggar perjanjian kontrak" Ujar Leon berbisik kecil di telinga Karin.


Mendengar bisikan dari Leon, Karin baru membuka matanya dan langsung berdiri tegak di sebelah Leon. Wajahnya memerah, dan gerak-geriknya terlihat gugup.


Sementara itu, semua orang pun bersorak terharu melihat betapa manisnya ciuman kening yang diberikan Leon untuk Karin.


Sesi acara pertunangan pun selesai, semua para tamu undangan menikmati hidangan yang disajikan.


Leon dan Karin berkumpul bersama teman-teman mereka sambil menikmati hidangan dan juga meminum bir yang disajikan.