
“Dan kapan kau kembali dari perjalanan bisnismu, kak Eiden?”
Eiden, adalah kakak dari Dokter Dylan. Ia sangatlah tampan, bulu matanya lentik, beralis tebal, bibir tipis yang merah merona, hidungnya sangat mancung dihiasi dengan lesung pipit di pipinya. Tidak hanya itu, postur tubuhnya tinggi semampai seperti Dokter Dylan. Berkulit putih, bagian dadanya bidang dengan dihiasi rambut panjang sebahu yang diikat setengah.
Selain itu, Eiden adalah seorang fotografer terkenal di kota mereka.
“Aku baru saja tiba, pukul 5 dini hari.”
“Oh ya. Asistenmu sedang tidak enak badan, karena menungguku sepanjang malam di bandara. Jadi, sengaja aku yang mengantarkan pakaianmu sekalian ingin melihatmu.”
“Apa kau tidak merindukanku?” Tanya Eiden kepada Dokter Dylan, dengan senyuman menawan.
Kemudian, Dokter Dylan bangun dari kursinya menghampiri Eiden. Seketika, Eiden langsung memeluknya dengan sangat erat. Namun, Dokter Dylan tidak membalas pelukannya. Ia hanya diam berdiri dan mematung, sambil mengeluarkan ekspresi datar.
“Hey, mengapa kau seperti tidak bersemangat? Wahai adik kecilku.” Ujar Eiden, yang menatap ke arah wajah Dokte Dylan.
“Kak, kau selalu memperlakukan diriku seperti aku masih anak kecil. Aku sudah dewasa, sungguh.” Sahut Dokter Dylan, dengan memberikan ekspresi wajah tertekan.
Eiden hanya menatap wajah Dokter Dylan, sambil menaikan satu alis matanya. Ekpresi di wajah Eiden, terlihat sangat heran kepada Dokter Dylan.
“Aku juga tidak rindu padamu, hampir setiap hari kau menghubungiku lewat panggilan video. Malahan jujur saja, aku sangat mual melihatmu.” Ujar Dokter Dylan, sambil mengeluarkan lidahnya. Ia berlagak seperti ingin muntah, dan tertawa kecil di hadapan Eiden.
“Dasar anak nakal.” Sahut Eiden, sambil tertawa memukul kepala Dokter Dylan. Tidak disangka, mereka terlihat sangat dekat dan akrab.
Tentu saja terlihat seperti itu, Dylan adalah satu-satunya adik yang sangat Eiden sayangi. Meski Dylan sudah tumbuh dewasa, bagi Eiden tetaplah ia seorang adik kecil di matanya.
Di saat yang bersamaan, tiba-tiba Karin masuk kedalam ruangan itu.
“Dokter Dylan.” Ujar Karin, sambil membuka pintu ruangan. Ia masuk kedalam ruangan Dokter Dylan, dengan penampilan yang memakai baju pasien.
“Ada apa Karin?” Tanya Dokter Dylan, saat Karin masuk kedalam.
Melihat ada Eiden di dalam ruangan itu, membuat Karin merasa bahwa Dokter Dylan sedang sibuk memeriksa pasien lain.
“Ma-maafkan aku, Dokter Dylan. Aku tidak tahu, kalau kau sedang memeriksa pasien juga.”
“A-aku akan kembali, saat kau sudah luang.” Ujar Karin tergagap.
Saat itu, Eiden tertawa sangat lebar. Ia merasa terkejut, karena Karin menganggapnya seorang pasien.
“Hey, dengan tubuhku yang segar bugar seperti ini. Apakah terlihat seperti, orang yang sedang sakit?” Tanya Eiden, ia melangkahkan kakinya menghampiri Karin.
“Eh?” Gumam Karin, terkejut saat mendengar Eiden berkata seperti itu.
Lalu, Eiden menggenggam pergelangan tangan Karin dan membawanya masuk kedalam ruangan itu untuk menghampiri Dokter Dylan. Sontak Karin merasa terkejut dan juga bingung, ia tidak memahami situasi di sana.
“Karin, ini adalah kakakku. Namanya, Eiden.” Ujar Dokter Dylan kepada Karin, memperkenalkan Eiden.
“A-apa?” Tanya Karin terkejut, ia merasa perbedaan antara Dokter Dylan dan Eiden sangatlah jauh. Meskipun mereka sama-sama sangat tampan, namun dari gaya mereka terlihat sangan berbeda.
“Dokter Dylan, terlihat sangat rapih. Sedangkan kakaknya, terlihat sangat santai. Karakter mereka jauh berbeda.” Gumamnya dalam hati.
Saat itu, Eiden menatap ke arah Karin sambil memutarinya. Ia juga berkacak pinggang, saat memperhatikan Karin.
“Kak Eiden, ini adalah Karin. Salah satu dari pasienku.” Ujar Dokter Dylan kepada Eiden. Eiden tidak berekspresi apa-apa, dan juga tidak menghiraukan apa yang dikatakan Dokter Dylan.
Mendengar hal itu, Karin dan Dokter Dylan merasa sangat terkejut.
“A-apa?” Tanya mereka secara bersamaan.
Segera Eiden memalingkan tatapan matanya, untuk melihat ke arah mereka berdua.
“Mengapa kalian sangat terkejut?” Tanya Eiden, sambil mengerutkan dahinya.
“Apakah kau seorang fotografer?” Tanya Karin.
“Kak, jangan gila. Karin sedang sakit, ia juga bukan seorang model.” Ujar Dokter Dylan.
Akan tetapi, Eiden sama sekali tidak menghiraukan perkataan dari adiknya. Malah ia menggenggam pergelangan tangan Karin dan mengangkatnya. Kemudian, ia memutarkan tubuh Karin layaknya seperti sedang menari.
Karin hanya terdiam, dan tidak dapat berkata apa-apa.
“Sungguh, kau sangat cocok seperti kriteria model yang sedang kucari untuk kujadikan model.” Ujar Eiden, sambil menghentikan tangannya yang memutar tubuh Karin.
“Ta-tapi, aku tidak pandai bergaya di depan kamera.” Sahut Karin, sambil menyengirkan giginya.
“Tenang saja, aku sudah menganalisa dirimu. Meskipun kau tidak bergaya, kau terlihat sangat baik pada pose kakumu.”
“Kumohon, bantulah aku. Jadilah model untuk pemotretanku. Aku sudah mencari kemana-mana, seorang model yang sesuai dengan tema pemotretanku. Bahkan, sudah kujelajahi seluruh dunia ini.” Ujar Eiden, sambil bertekuk lutut di hadapan Karin dengan kedua tangan merapat untuk memohon kepada Karin. Ekspresi wajahnya juga terlihat memilukan, dengan mata berbinar yang terlihat sangat lebay.
Dokter Dylan terngaga melihat kelakuan kakaknya yang saat ini, terlihat seperti orang bodoh. Ia hanya dapat menepuk jidadnya, menggunakan tangan kanannya.
“Eh, kau tidak perlu memohon seperti itu.” Ujar Karin, yang merasa tidak enak dengan situasinya saat Eiden bertekuk lutut di hadapannya.
“Kalau dipikirkan, tidak ada salahnya aku membantu kakak dari Dokter Dylan. Karena, Dokter Dylan juga sudah sangat sering membantuku. Lagipula, sejak kecil aku memang ingin sekali mencoba untuk menjadi seorang model.” Gumam Karin dalam hati, sambil sesekali melihat ke arah Dokter Dylan.
“Kak, berhentilah berperilaku seperti orang bodoh. Karin juga sedang sakit, tidak mungkin ia melakukan hal itu.” Ujar Dokter Dylan. Namun, Eiden sama sekali tidak menghiraukannya.
“Kak, Eiden. Aku akan memikirkannya, bolehkah kita berbincang lebih lanjut dulu tentang pemotretan yang kau katakan?” Tanya Karin, sambil mengeluarkan ekspresi yang penasaran terhadap dunia model.
Sontak saja, Eiden langsung berdiri berhadapan dengan Karin. Ekspresi wajahnya terlihat sangat senang, ia juga memberikan senyuman sumringah kepada Karin.
“Tentu saja, aku akan menunjukkan beberapa hasil pemotretanku dan menjelaskannya satu persatu.” Sahut Eiden dengan rasa semangat.
Lalu, dengan sangat cepat Eiden membawa Karin duduk di sofa yang ada di dalam ruangan itu. Kemudian, Eiden mengeluarkan laptop yang ia bawa di dalam tasnya. Ia meletakkan laptop itu di atas meja, lalu ia memperlihatkan hasil pemotretannya kepada Karin.
Dokter Dylan yang melihat hal itu, hanya diam melongo tanpa berkata-kata. Tidak disangka, Karin menunjukkan ekspresi ketertarikannya pada dunia model.
“Wah sungguh kak Eiden, hasil fotomu sangat indah. Ini terlihat sangat profesional. Model-model ini, terlihat sangat menawan.” Ujar Karin dengan ekspresi kagum, sambil mengeluarkan mata yang berbinar.
“Ah, Karin. Kau terlalu berlebihan memujiku.” Sahut Eiden.
Dalam waktu sekejap mata, mereka terlihat sangat akrab. Meskipun baru saja bertemu, bahkan mereka juga terlihat sangat nyambung saat berbincang tentang hasil pemotretan yang Eiden tunjukkan.
Tidak disangka, ekspresi Karin terlihat semakin tertarik pada hasil pemotretan yang ditunjukkan Eiden.
Sementara itu, Dokter Dylan hanya diam mematung dan tidak bersuara. Mereka hanya asik berdua, tanpa menghiraukan keberadaan Dokter Dylan di dekat mereka.
“Aku akan ganti pakaian sebentar.” Ujar Dokter Dylan. Namun, tidak ada yang menghiraukannya. Menyadari hal itu, ia bergegas pergi kedalam sebuah kamar yang ada di ruangan itu sambil membawa tote bag kecil yang Eiden berikan kepadanya.