Fall In Love With Mr. Leon

Fall In Love With Mr. Leon
Rindu rumah lama



"Karin, di manakah alamat rumahmu?" Tanya Dokter Dylan, saat mereka sudah di pertengahan jalan.


Sejenak Karin terdiam dan berpikir.


"Aku tidak mungkin kembali ke rumah keluarga Kaivan setelah pertengkaranku dengan Leon. Apalagi, Leon dan Maira sedang bersama. Bagaimana jika saat ini, Maira ada di sana? Bukankah Maira akan curiga tentang statusku?" Tanyanya pada diri sendiri, di dalam pikirannya.


"Tidak-tidak, aku tidak boleh melakukan hal bodoh. Aku ingin cepat-cepat mengakhiri semuanya, aku tidak ingin terlibat lagi." Gumamnya dalam hati, sambil menggelengkan kepalanya dengan mulut yang tidak bersuara.


Melihat Karin yang tiba-tiba menggelengkan kepala tanpa menjawab pertanyaannya, membuat Dokter Dylan merasa heran sambil tertawa kecil.


"Hey, apa yang sedang kau pikirkan?"


"Eh.. A-anu.." Sahut Karin gelagapan tersadar dari lamunannya, saat mendengar suara Dokter Dylan.


"Hehe. Kau sangatlah lucu, Karin." Ujar Dokter Dylan, ia melengkungkan bibirnya sambil menatap Karin. Hingga wajahnya terlihat, sangat tampan.


Karin merasa sejuk di dalam hati, saat melihat senyuman dari seorang Dokter Dylan yang sangat merona.


"Jadi, di manakah alamat rumahmu?" Tanya Dokter Dylan lagi.


"Oh ya, kau benar. Alamatku di jalan xxxx nomor xx, seberang taman xx." Sahut Karin.


"Baiklah." Ujar Dokter Dylan.


Kemudian, Dokter Dylan mengarahkan stir kemudinya menuju alamat yang diberikan oleh Karin.


...----------------...


Sesampainya di jalan xxx.


"Dokter Dylan, kau bisa turunkan aku di sini saja." Ujar Karin, meminta Dokter Dylan memberhentikan mobil di depan gang menuju arah rumahnya.


"Tidak mungkin aku meninggalkanmu di jalanan sepi seperti ini, aku akan mengantarmu sampai depan rumah." Sahut Dokter Dylan.


Tatapan matanya melihat ke arah sekitar gang itu, jalanan terlihat sangat sepi. Sehingga membuatnya merasa khawatir dan cemas, kepada Karin.


"Eh, maaf jadi merepotkanmu." Ujar Karin.


"Tidak, aku yang menginginkannya." Sahut Dokter Dylan, sambil tersenyum.


Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka tiba di depan sebuah rumah. Ternyata, Karin tidak kembali pulang ke rumah keluarga Leon. Melainkan, ia pulang ke rumah lamanya bersama Jean.


"Baiklah, ini rumahku." Ujar Karin, menunjuk sebuah rumah yang terlihat gelap.


Rumah itu terlihat seperti, tidak terurus dan tidak terawat. Wajar saja, Jean sedang melakukan perjalanan kerjanya. Sedangkan Karin, sudah tinggal beberapa lama di rumah keluarga Leon. Jadi, tidak ada yang merawat rumah mereka lagi.


Ia dan Dokter Dylan turun dari dalam mobil, dan melangkah ke depan pintu masuk rumah. Saat itu, Dokter Dylan melihat ke arah sekeliling rumahnya yang terlihat gelap dan mulai kotor.


"Karin, apakah benar ini rumahmu?"


"Ya."


"Suasananya seperti sudah lama tidak ditinggali." Ujar Dokter Dylan.


"Ya, memang benar." Sahut Karin.


Kemudian, ia membuka pintu rumah menggunakan kunci ganda miliknya. Karin sempat termenung sejenak, seperti sedang memutar memorinya.


Memori kenangan di rumah ini bersama Jean. Terlihat bayang-bayang masa lalu bersama Jean di rumah itu, bayang-bayang saat mereka tertawa bersama, menonton televisi bersama, bergosip bersama, hingga menangis bersama.


"Jean, aku rindu suasana rumah ini dan aku sangat merindukanmu." Gumamnya dalam Hati.


"Karin, ada apa?" Tanya Dokter Dylan, saat melihat Karin merenung.


"Ah, ti-tidak." Sahutnya tergagap, ia tersadar dari perenungannya.


Lalu, dengan segera Karin menyalakan lampu-lampu yang ada di rumah itu.


"Silahkan masuk, Dokter Dylan." Ujarnya, mempersilahkan Dokter Dylan masuk.


Lalu, Dokter Dylan perlahan melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah Karin.


Terlihat keadaan rumah itu mulai berdebu, dan lembab. Pandangan mata Dokter Dylan, mengelilingi seluruh ruangan di dalam rumah.


"Dokter Dylan, mungkin aku tidak bisa menyajikan minuman yang enak. Karena, rumah ini memang sudah hampir satu bulan tidak dihuni. Mungkin saja, stok makanan dan minuman tidak ada yang tersisa." Ujar Karin, sambil menyengirkan giginya.


"Tidak apa, bolehkan segelas air putih?"


"Tentu saja, tunggu sebentar."


Kemudian, Karin bergegas ke dapur mengambilkan segelas air putih untuk Dokter Dylan.


"Mungkin ia tidak merasa nyaman." Gumamnya dalam hati.


"Dokter Dylan, ini air putih untukmu. Silahkan, diminum." Ujar Karin.


Dokter Dylan memalingkan pandangan matanya ke arah Karin, dan melangkahkan kakinya menuju segelas air putih yang diletakkan oleh Karin di atas meja. Lalu, ia meminumnya hingga habis.


Setelahnya, kembali ia menatap ke seluruh ruangan.


"Karin, kurasa ini belum terlalu malam. Aku akan membantumu, untuk membersihkan rumah ini." Ujar Dokter Dylan, sambil menyeretkan jari-jari tangannya di atas meja. Ia juga mengangkat jari-jari tangannya itu, ia melihat bahwa debu di atas meja pun sudah hampir menebal.


Saat itu Karin terkejut, sontak ia memandang Dokter Dylan sambil melebarkan kedua matanya.


"Eh." Ujarnya terkejut.


Dokter Dylan memalingkan pandangan matanya ke arah Karin, sambil tersenyum dan menyipitkan mata.


"Aku tidak akan membiarkan pasienku, tidur dengan keadaan rumah berantakan seperti ini."


"Kurasa tidak perlu, aku akan membersihkannya sendiri." Sahut Karin, sambil melebarkan kedua telapak tangannya di hadapan Dokter Dylan.


Ia bermaksud untuk menolak apa yang dikatakan oleh Dokter Dylan, karena ia merasa kalau itu tidak pantas. Ia juga merasa, kalau ia sudah sangat merepotkan Dokter Dylan sejak tadi.


"Sudahlah, kau tidak boleh membantah. Aku inikan Dokter yang mengurusmu." Ujar Dokter Dylan.


"Ta-tapi-" Sahut Karin tergagap.


Kemudian, Dokter Dylan melangkahkan kakinya masuk ke ruangan lain untuk mencari sapu, kain pel, dan juga lap. Lalu, ia kembali menghampiri Karin dan meletakkan alat-alat itu di dekat dinding.


"Dokter Dylan, kurasa ini tidak perlu. Sungguh." Ujar Karin, merasa tidak enak kepada Dokter Dylan.


"Kau sangat cerewet, duduk dan lihatlah. Kau jangan meremehkan aku, Karin." Sahutnya memarahi Karin, sambil melepaskan jas dokternya dan menggulung kemeja di bagian lengannya.


Tanpa banyak bicara dan berpikir, ia langsung membersihkan rumah itu. Tanpa banyak berpikir juga, Karin ikut membantunya.


Mereka membersihkan seluruh ruangan sambil tertawa dan bercanda, suasana terlihat sangat ramai karena suara tawa dari mereka berdua. Bahkan, mereka saling bercanda seolah-olah sedang berperang menggunakan senjata dari sapu dan kain pel yang mereka pegang masing-masing.


"Hey, jangan aku akan melumpuhkanmu dengan senjataku." Ujar Dokter Dylan menodongkan gagang kain pel kepada Karin. Sontak saja, Karin membalasnya.


"Dengar, apa yang bisa kau perbuat dengan batang pel itu?" Tanya Karin, sambil menodongkan gagang sapu.


"Karin, bisakah kau masuk kedalam aktingku? Anggaplah ini sebagai pedang, yang menjadi senjataku." Ujar Dokter Dylan, dengan mengerutkan wajahnya. Ia merasa, bahwa Karin tidak dapat masuk kedalam akting yang sedang ia perankan.


Karin pun tertawa sangat keras, melihat ekspresi lucu dari Dokter Dylan itu.


"Haha, baiklah. Maafkan aku, aku akan masuk kedalam aktingmu." Sahut Karin sambil tertawa.


"Nah, seperti itu dong." Ujar Dokter Dylan, yang kembali sumringah.


"Dengar, aku tidak akan kalah dengan pedang milikmu. Karena pedang milikku, jauh lebih tajam." Ujar Karin, yang membalas akting dari Dokter Dylan.


"Baiklah, mari kita buktikan." Sahut Dokter Dylan.


Mereka pun beradu batang pel dan batang sapu, seakan-akan mereka sedang berperang.


Sang.. sing.. sang.. sing.. ngising..


Suara beradu dari batang pel dan batang sapu yang seolah-olah menjadi pedang, dari tangan mereka.


Dengan candaan seperti itu, membuat Karin dan Dokter Dylan tertawa sangat geli.


...----------------...


Beberapa saat kemudian, mereka selesai membersihkan seluruh ruangan rumah. Lalu, mereka duduk di sofa ruang tamu untuk beristirahat sejenak. Terlihat keringat yang membasahi seluruh kemeja Dokter Dylan, ia juga terlihat sangat lelah.


Karin pergi ke dapur untuk mengambilkan air putih lagi, untuk Dokter Dylan. Setelah itu, buru-buru ia kembali untuk memberikan air itu kepada Dokter Dylan.


"Dokter Dylan, maaf sudah merepotkanmu." Ujarnya, sambil meletakkan segelas air untuk Dokter Dylan di atas meja.


"Tidak, ini sangat menyenangkan." Sahut Dokter Dylan, sambil tersenyum.


"Lagi-lagi, aku hanya bisa menyajikan segelas air putih. Kuharap, kau tidak keberatan."


"Tentu tidak, tenang saja."


"Baiklah kalau begitu, silahkan diminum."


"Terima kasih." Sahut Dokter Dylan, ia pun mengambil segelas air itu dan meminumnya.