
Dokter Dylan menatap ke arah kakaknya sambil menaikkan satu alis mata dan berkata, “Kak Eiden. Apa yang kau lakukan di sini?”
Eiden langsung melangkahkan kakinya, menghampiri Dokter Dylan dan merangkul lehernya. Ia pun menjawab pertanyaan sang adik, “Jelas untuk menemui Karin. Kau jangan terlalu percaya diri, aku tidak berniat menemuimu.” Ia sambil menjulurkan lidahnya kepada Dokter Dylan, bermaksud untuk meledeknya.
Melihat keakraban kedua kakak beradik ini, membuat Karin tertawa.
“Sungguh, kalian terlihat sangat lucu.”
“Ya kau benar, Karin. Dylan memang sangat lucu.” Ujar Eiden, sambil melepaskan rangkulannya dari leher Dokter Dylan.
“Omong kosong.” Gerutu Dokter Dylan.
“Baiklah, aku tidak suka basa-basi.” Ujar Eiden.
“Karin, bisakah kira membicarakan tentang kontrak kerjasama kita?” Tanya Eiden yang langsung berterus terang.
“Tentu saja bisa. Kau datang sangat tepat waktu, kak Eiden.” Sahut Karin, mengeluarkan ekspresi yang gembira.
“Ada apa?” Tanya Eiden.
“Pagi ini, aku telah menyelesaikan pekerjaanku. Lalu-“ Karin menarik lengan Eiden, untuk berbisik di telinganya.
“Adikmu baru saja memberitahuku. Bahwa keadaanku saat ini, sudah pulih.” Ujarnya berbisik di telinga Eiden, sambil tersenyum lebar.
Eiden bergegas menarik tubuhnya, dengan rasa semangat mendengar apa yang dikatakan Karin. Ia pun berkata, “Wah, itu sangat bagus. Jadi kita bisa mempercepat kerjasamanya.”
“Hey, tetap saja. Aku akan mengawasi Karin.” Celetuk Dokter Dylan, sambil mengernyitkan dahinya.
“Hahaha.” Mereka tertawa secara bersamaan, saat melihat ekspresi keposesifan dari seorang Dokter Dylan terhadap pasiennya.
Setelah beberapa saat, mereka berpindah tempat dengan duduk di sofa yang ada di dalam kamar itu. Karin sedang membaca kontrak kerjasama, yang telah diberikan Eiden kepada dirinya. Sedangkan Eiden dan Dokter Dylan sedang berbincang, sambil melihat ke arah layar laptop milik Eiden untuk memilih tema pemotretan.
Tiba-tiba, seorang perawat masuk kedalam dengan tergesa-gesa sambil berteriak. “Dokter Dylan.”
Sontak saja mereka memalingkan pandangannya, ke arah perawat itu.
“Ada apa?” Tanya Dokter Dylan, kepada perawat itu.
Wajah dari perawat itu sangat berkeringat, nafasnya pun terengah-engah karena tergesa-gesa. Ia berkata, “Pasien kamar 304, kondisinya sangat menurun.”
Mendengar hal itu, sontak membuat Dokter Dylan terkejut.
“Baiklah, aku akan segera ke sana.” Ujarnya.
Tanpa berpikir panjang, ia pun berlari keluar ruangan bersama perawat itu dengan sangat tergesa-gesa. Karin dan Eiden hanya dapat melihat, saat Dokter Dylan berlari tergesa-gesa meninggalkan mereka dengan ekspresi yang cemas.
Kemudian, Eiden melengkungkan bibirnya ke bawah sambil berkacak pinggang.
“Begitulah seorang Dylan.” Ujarnya.
Karin memalingkan pandangannya ke arah Eiden, sambil mengeluarkan ekspresi yang merasa bingung dengan kalimat yang dikatakan oleh Eiden.
“Sejak kami masih kecil, ia tidak pernah berniat untuk menjadi seorang Dokter.” Ujar Eiden, menatap ke arah Karin.
“Eh?” Gumam Karin terheran.
“Bahkan, ia sangat membenci pekerjaan seorang Dokter.”
“Ya, kau benar. Tidak hanya menjadi Dokter yang memiliki satu keahlian, bahkan ia bersikeras menjadi seorang Dokter yang bisa menangani beberapa macam keahlian. Mulai dari, menangani pasien kanker. Hingga, menjadi seorang Dokter yang menangani pasien melahirkan.” Sahut Eiden. Kemudian, ia bangun dari kursi dan melangkahkan kakinya secara perlahan menuju jendela untuk melihat keluar jendela.
Karin sejenak berpikir, dan berkata dalam benaknya. “Kak Eiden benar, Dokter Dylan memang menangani segalanya.”
“Apa kau tahu? Ia bersikeras akan hal itu, ia selalu bertekad agar bisa menolong para pasien yang mengalami berbagai penyakit.” Ujar Eiden.
Karin menatap ke arahnya, ia ikut bangun dari kursi dan menghampiri Eiden. Ia merasa penasaran dengan apa yang dikatakan Eiden, tentang Dokter Dylan.
“Apa yang terjadi, sampai ia sangat bersikeras seperti itu?”
Mendengar pertanyaan itu, membuat Eiden memalingkan pandangannya ke arah Karin yang saat ini berada di sampingnya. Ia pun tersenyum dan sedikit tertawa, lalu memalingkan pandangannya kembali ke arah luar jendela.
“Saat usianya 8 tahun. Kami harus menerima kenyataan bahwa kedua orang tua kami mengalami kecelakaan tragis, dan harus dilarikan ke rumah sakit.”
“Saat itu, keadaan Papa kami masih bisa di selamatkan. Karena tidak mengalami luka yang serius. Akan tetapi, kami harus kehilangan seorang Mama yang sangat kami sayangi.” Ujar Eiden, menceritakan masalalunya dan Dokter Dylan.
Mendengar hal itu, sontak saja Karin terkejut. Ekspresinya terlihat sangat cemas, ia seperti merasakan kesakitan yang dialami oleh mereka.
“Mengapa hal itu terjadi?” Tanya Karin dengan sangat penasaran.
“Saat itu, sudah tengah malam. Tidak ada dokter bedah di rumah sakit. Hanya ada, seorang dokter kandungan saja. Bahkan, pihak rumah sakit tidak mau mengusahakan untuk memanggil dokter bedah.”
Lalu, Eiden melanjutkan kalimatnya. “15 menit berdebat dengan pihak rumah sakit, ternyata Mama kami sudah tidak bernafas. Akibat benda tajam yang menusuk di perutnya, karena kecelakaan maut itu.” Eiden sambil menutupkan matanya, seperti sedang merasakan kembali kesakitan pada luka lama itu.
“Sungguh teganya pihak rumah sakit, apakah mereka tidak merasa sakit saat melihat Mama kalian menderita saat itu?” Tanya Karin dengan ekspresi yang kesal.
“Tidak ada yang bisa dilakukan, Karin. Bahkan Dylan juga hanya bisa menangis histeris, ia sangat terpukul. Sejak saat itu, ia sangat membenci dokter dan pekerjaan yang dilakukan dokter.”
“Namun, kebenciannya itu berubah menjadi ambisi untuknya. Karena lagi-lagi kepahitan terulang, saat aku hampir saja mati karena di vonis tumor otak.”
“A-apa? Kau tumor otak?” Tanya Karin yang sangat terkejut, ekspresinya berubah menjadi sangat cemas.
Eiden membuka kedua matanya, untuk menatap Karin.
“Tenanglah, itu sudah berlalu. Saat ini, aku sudah baik-baik saja.”
“Semua itu juga berkat dirinya.” Ujar Eiden.
“Saat dulu, pihak rumah sakit selalu saja memberikan banyak arahan kepada keluarga kami. Mereka juga beralasan bahwa tidak ada dokter yang bisa menangani, ditambah lagi dengan peralatan rumah sakit yang ada di kota ini selalu saja memberikan alasan bahwa peralatan tidak cukup lengkap.”
“Beruntungnya, aku dapat bertahan sangat lama. Dengan tumor yang bersarang itu.”
“Setelah lulus SMA, tanpa berpikir banyak Dylan mengambil sekolah kedokteran dan bahkan ia meraup semua ilmu kedokteran. Tujuannya, agar ia dapat menangani segala penyakit yang diderita setiap pasien yang menemuinya.”
“Awalnya, kukira aku akan mati setelah menyaksikan kelulusannya dari sekolah kedokteran itu.”
“Benar saja, saat acara kelulusannya selesai. Aku sudah tidak sadarkan diri, dan dilarikan ke rumah sakit.”
Karin merasa terbawa suasana dalam cerita Eiden, wajahnya terlihat sangat cemas. Ia merasa sangat penasaran, dan bertanya. “Lalu, apa yang terjadi setelahnya?”
“Para dokter terlalu payah, mereka beralasan jika tumorku sudah terlalu lama. Pastinya akan memiliki resiko yang sangat besar. Lagi-lagi, Dylan merasa sangat kesal dengan alasan yang diberikan oleh para dokter itu. Ia pun berkata seperti ini,”
‘Minggirlah kalian, aku akan mengoperasinya dengan tanganku sendiri.’
“Lalu, ia membawaku ke ruang operasi rumah sakit ini untuk melakukan pengangkatan tumor di dalam kepalaku tanpa bantuan dokter dan juga para perawat.”