Fall In Love With Mr. Leon

Fall In Love With Mr. Leon
Perasaan yang tersimpan



“Presdir, tidak bisakah kau beri aku waktu untuk istirahat?” Tanya Sean mengeluh pada Leon, yang saat itu Leon sedang duduk di sebuah kursi yang ada didalam bar.


“Duduklah!” Seru Leon, dengan ekspresi wajah yang terlihat frustasi. Lalu, Sean pun duduk di sebelahnya.


Saat itu, Leon sedang meminum segelas bir. Raut wajahnya terlihat sangat kusut dan juga frustasi, keadaannya pun sudah setengah mabuk akibat meminum segelas bir yang ada di hadapannya.


“Apakah ada masalah?” Tanya Sean, merasa cemas dengan gelagat Leon saat ini.


“Tidak, hanya saja sedikit rumit.” Sahut Leon, sambil menenggak bir.


Sean melihat ada rasa kekhawatiran dan kegelisahan didalam diri Leon, ini juga pertama kalinya bagi Sean melihat Leon yang bersikap aneh.


“Sean, apa kau tahu?”


“Tidak tahu.” Sahut Sean dengan spontan.


“Kurang ajar, aku bahkan belum memberitahumu.” Ujar Leon, menatap tajam ke arah Sean.


“Baiklah, baiklah.” Sahut Sean, mengalah pada kegelisahan dari seorang Presdir Leon.


“Dengar,”


“Sungguh, aku sama sekali tidak mengerti apa yang ada didalam pikiran wanita. Mereka sangat rumit, sehingga ingin rasanya kubunuh saja.” Tutur Leon, sambil memijat dahinya.


“Tunggu dulu-“


“Ini soal, Maira?”


“Atau Karin?” Tanya Sean, memastikan wanita yang dimaksud oleh Leon.


“Tentu saja Karin!” Seru Leon, menegaskan kepada Sean.


“Oh, Karin.” Gumam Sean, sambil menopang dagunya dengan tangan sebelah kanan.


“Begini, Presdir Leon yang terhormat.”


“Menurutku, Karin adalah tipe wanita yang sangat berbeda dengan yang lainnya. Ia cukup keras kepala pada pendiriannya, dan juga tidak mudah untuk diatur.” Ujar Sean, dengan perasaan yang sok tahu.


Saat itu, Leon hanya menatap Sean dengan tatapan serius sambil memasang ekspresi bodohnya.


“Aku rasa kau benar, Sean.” Sahut Leon, membenarkan apa yang dikatakan oleh Sean. Jelas saja kali ini ia membenarkan kata-kata Asistennya, karena ia sedang terpengaruh oleh alkohol.


“Rasanya sangat sulit membuat dia mengerti.” Gumam Leon.


“Eh, tunggu dulu-“ Tutur Sean, memotong pembicaraan Leon.


“Apakah kau benar-benar sudah jatuh hati pada Karin?” Tanya Sean, sambil berlagak mengamati lewat raut wajah Leon yang berekspresi dungu itu.


Sontak Leon tersadar, bahwa ia mengatakan hal yang tidak seharusnya ia katakan.


“Ma-“


“Mana mungkin aku jatuh hati pada wanita itu!” Seru Leon, dengan bibir yang mengerucut. Sikapnya juga terlihat salah tingkah, dan terlihat semakin gelisah.


“Sebenarnya, jika kau memang jatuh hati pada Karin juga tidak apa.” Tutur Sean, sambil mengerutkan dahinya.


“Akan tetapi, aku mengerti situasimu. Kau pasti sangat kesulitan dengan kehadiran, Maira.”


“Yang di mana, ia adalah cinta pertamamu. Bukankah begitu?” Tanya Sean.


Sejenak Leon termenung, memikirkan apa yang dikatakan oleh Sean ada benarnya juga. Apalagi saat ini, Maira sangat sering menemui dirinya dan memohon padanya agar hubungan mereka berlanjut.


Sementara itu, ia kembali memikirkan apa yang dikatakan oleh Karin sebelumnya pada perjanjian yang ada didalam kontrak mereka. Bahwa ia harus menemukan pasangan yang sesungguhnya, untuk menikah.


“Apakah ia tidak sedikitpun memiliki perasaan untukku?” Tanya Leon, didalam hatinya sambil melamun.


“Presdir, sejujurnya kau memang harus mengakhiri semua ini. Semua pekerja di Perusahaan, tidak bisa selalu menutupi kebenarannya antara kau dan Karin di depan Maira. Apalagi, banyak kolega yang sudah mengetahui bahwa kau telah bertunangan dengan Karin.”


“Belum lagi soal Nyonya Meilan, ibumu.”


“Ia kan sangat membenci Maira, karena Maira pernah menyakitimu.” Ujar Sean.


Leon semakin termenung dalam lamunannya, memikirkan permasalahan yang terjadi dalam kehidupannya.


Ia merasa diambang kebingungan yang membuat akal sehatnya tumbang. Didalam hati kecilnya, masih tersimpan perasaan untuk Maira. Namun, saat ini perasaannya terhadap Karin semakin melekat. Meskipun, belum terasa sangat jelas.


Frustasinya semakin menjadi-jadi, karena memikirkan tentang perasaannya itu. Leon pun menenggak habis bir yang ada didalam gelasnya, dan bahkan ia memesan bir lagi.


“Oh ya, Presdir Leon. Aku mendapatkan informasi, bahwa Karin saat ini sedang menjalankan karir barunya.” Ujar Sean.


Sontak Leon terkejut, ia langsung menatap Sean dengan rasa penasaran.


“Apa itu?” Tanyanya dengan sangat serius.


“Ia menjalani kontrak sebagai model.” Sahut Sean.


“Di mana dan dengan siapa?” Tanya Leon, dengan sangat penasaran.


“Mendekatlah, akan kuberitahu.” Sahut Sean. Lalu, Leon mendekatkan telinganya kepada Sean. Sean pun, membisikan jawaban dari pertanyaan Leon itu.


“Apa kau serius?” Tanya Leon menegaskan jawaban yang dibisikan oleh Sean.


“Hmm.” Sahut Sean menganggukkan kepala.


Sementara itu, ternyata Maira sejak lama berada di belakang mereka dengan bersembunyi di balik dinding ruangan yang ada di dekat mereka.


Maira telah mendengar segala pembicaraan mereka berdua, dan saat itulah Maira tahu bahwa Leon dan Karin sudah bertunangan.


Saat itu, ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh Maira tidak mengarah pada pengunduran diri. Melainkan, terlihat tatapan mata yang penuh dengan amarah dan dendam. Lalu, Maira bergegas pergi meninggalkan tempat itu.


Setelah beberapa lama berbincang dengan Sean, tanpa disadari bahwa Leon sudah sangat mabuk berat karena merasa frustasi pada pikirannya.


Mau tidak mau, Seanlah yang mengantarnya untuk pulang ke rumah. Karena Sean melihat, bahwa Leon sudah sangat sempoyongan. Jangankan untuk mengemudikan mobil, bahkan untuk berdiri tegak saja sudah tidak memiliki tenaga.


Sean pun mengemudikan mobil Leon, dan melajukan mobil itu ke arah rumah keluarga Kaivan.


...----------------...


“Asisten Sean, apa yang terjadi dengannya?” Tanya Karin, saat membukakan pintu rumah karena mendengar suara bel berbunyi.


Saat itu, mereka sudah berdiri di depan pintu dengan tubuh Leon yang dipapah oleh Sean.


“Presdir Leon terlalu banyak meminum bir, sehingga saat ini ia sedang mabuk berat.” Sahut Sean.


“Karin, tolong bantu aku membawanya ke kamar.” Tutur Sean, dengan wajah berkeringat dan merasa lelah karena menopang tubuh Leon yang sangat berat.


“Baiklah, biar aku bantu.” Sahut Karin, yang sigap langsung membantu Sean memapah tubuh Leon dan membawanya masuk kedalam kamar.


Setelah mereka sampai di kamar Leon, dan sudah meletakkan Leon di atas ranjang. Sean pun langsung berpamitan untuk pulang, mengingat saat ini sudah sangat larut malam dan besok pagi juga sudah harus berangkat ke Perusahaan.


“Karin, tolong jaga Presdir Leon. Aku merasa jika ia, sedang dalam kegelisahan yang tidak stabil.” Ujar Sean.


“A-apa maksudmu?” Tanya Karin, yang merasa sedikit bingung.


“Tolong pahami perasaannya, nanti kau akan tahu mengapa ia tadi merasa gelisah yang tidak stabil.” Sahut Sean. Kemudian, ia pun meninggalkan Karin bersama Leon didalam kamar.


Tak dapat Karin mengerti dari kalimat yang diucapkan oleh Sean, hal itu membuatnya merasa kebingungan. Namun, kini ia harus mengesampingkan kebingungannya itu. Karena saat ini, Leon sedang muntah-muntah di atas ranjangnya.


‘Uweeeek.” Gemuruh suara muntahan yang Leon keluarkan dari rongga mulutnya.


“Ya ampun, apa yang terjadi padamu?” Tanya Karin, sambil bergegas lari menghampiri Leon.