Fall In Love With Mr. Leon

Fall In Love With Mr. Leon
Terbelenggu



Setelah beberapa saat kemudian, Dokter Dylan keluar dari ruangan dengan pakaian yang berbeda. Saat itu, ia melihat Karin dan Eiden sedang berdiskusi.


“Apa yang sedang kalian bicarakan?” Tanya Dokter Dylan, yang perlahan melangkah menghampiri mereka.


Sontak saja mereka memalingkan pandangannya, ke arah Dikter Dylan.


“Dokter Dylan, aku dan kak Eiden sedang berdiskusi mengenai pemotretan. Aku akan membantunya.” Ujar Karin secara tiba-tiba, dengan ekspresi yang terlihat sangat senang.


“Apa kau bilang?” Tanya Dokter Dylan, yang merasa terkejut.


“Ya, besok kami akan tanda tangan kontrak kerja sama.” Ujar Eiden, dengan raut wajah yang merasa bahagia.


“Tidak, Karin. Kondisimu belum pulih.” Sahut Dokter Dylan, sambil bertolak pinggang. Layaknya sedang memarahi Karin.


Kemudian, Karin bangun dari kursi menghampiri Dokter Dylan.


“Dokter Dylan, aku rasa itu tidak akan terlalu melelahkan.”


“Lagi pula, aku hanya akan berdiri dan duduk saja di depan kamera.” Ujar Karin, meyakinkan Dokter Dylan bahwa kesehatannya sudah baik-baik saja.


“Tapi, Karin-“


“Kumohon, percayalah padaku.” Ujar Karin, yang kembali meyakinkan Dokter Dylan. Tak hanya itu, ia pun menempelkan kedua telapak tangannya. Layaknya, seperti seseorang yang sedang memohon.


Di saat yang bersamaan, Eiden perlahan menghampiri Dokter Dylan.


“Dylan, kau tidak boleh egois. Lagipula, Karin juga ingin mencobanya.” Ujar Eiden, yang membantu Karin merayu adiknya.


“Tapi, kak-“


“Percayalah, aku berjanji tidak akan membuatnya kelelahan.”


“Kau juga bisa ikut bersama kami saat pemotretan, jika kau merasa cemas dengan kesehatan Karin.” Ujar Eiden, sambil menepuk bahu adiknya itu.


Melihat mereka yang memohon kepadanya, dan melihat tatapan Karin yang penuh harap. Pertahanan Dokter Dylan pun runtuh, ia menyadari bahwa tatapan mata Karin memang ingin sekali melakukan pemotretan itu.


“Mungkin, itu juga bisa membantu pemulihannya.” Gumam Dokter Dylan dalam hati, saat menatap ke arah Karin.


“Baiklah, jika itu maumu. Tapi ingat, tidak boleh dilakukan besok. Tunggulah sampai kesehatanmu, benar-benar sudah membaik.”


“Tapi aku sudah merasa baik-baik saja, Dokter Dylan.” Sahut Karin.


“Dylan, tenanglah. Besok hanya dilakukan tanda tangan kontrak kerjasamaku dengan Karin, untuk pemotretannya dilakukan lusa.” Ujar Eiden.


“Baiklah kalau begitu, namun kau tetap di bawah pengawasanku.” Ujar Dokter Dylan, sambil menatap ke arah Karin.


“Siap, bos.” Sahut Karin dengan ekspresi sumringah. Ia juga memberikan hormat kepada Dokter Dylan, sambil berdiri tegak di hadapan Dokter Dylan.


Setelah perbincangan antara mereka di ruang kerja Dokter Dylan selesai, mereka pun bubar dari ruangan itu.


“Baiklah. Sampai jumpa, Karin.”


“Sampai jumpa adikku, yang sangat egois.” Ujar Eiden, tang berpamitan kepada mereka. Kemudian, Eiden melangkahkan perlahan kakinya untuk meninggalkan mereka dan meninggalkan rumah sakit Landy’s.


Lalu, Dokter Dylan membawa Karin kembali ke ruang perawatannya.


Saat dalam perjalanan menuju ruang rawat inapnya, Karin memalingkan pandangan matanya ke arah Dokter Dylan.


“Hey, aku hampir lupa tentang tujuanku untuk menemuimu tadi.” Ujar Karin.


“Ya, kau benar. Katakanlah, apa kamu membutuhkan sesuatu?” Tanya Dokter Dylan.


“Iya. Sebenarnya, aku memiliki sebuah pekerjaan yang harus segera kuselesaikan. Akan tetapi, aku tidak membawa laptop milikku.”


“Aku berniat, ingin meminjam laptop milikmu.” Ujar Karin, sambil jalan berdampingan dengan Dokter Dylan.


Di saat yang bersamaan, mereka juga tiba di depan ruang rawat inap Karin. Terlihat di sana ada Asisten Sean, sedang duduk di kursi yang ada di luar ruang rawat inap.


Hal itu membuat Karin sangat terkejut, dan buru-buru ia menghampiri Sean.


“Asisten Sean. Mengapa kau bisa ada di sini?” Tanya Karin, yang sedang merasa heran.


Namun, Sean hanya datang sendiri tanpa Leon di sisinya.


“Tidak, aku hanya memastikan keadaanmu saja. Ya memang aku akui, Presdir Leon, yang menyuruhku.” Sahut Sean, sambil bangun dari kursinya.


“Presdir Leon tidak dapat menghubungi, ataupun datang sendiri ke sini.” Ujar Sean.


Saat mendengar kata-kata yang dikeluarkan dari mulutnya, membuat Karin berhenti melihat ke seluruh sekitar sana.


Di saat yang bersamaan, Dokter Dylan menghampiri Sean. Menyadari hal itu, Karin bergegas memperkenalkan mereka.


“Dokter Dylan, ini adalah Sean.”


“Asisten Sean, ini adalah Dokter Dylan yang menangani soal kesehatanku.”


Dokter Dylan dan Sean pun saling berjabat tangan.


"Hallo, salam kenal." Ujar Dokter Dylan.


"Hallo, salam kenal." Ujar Sean.


Setelah saling berjabat tangan, Sean memalingkan pandangannya ke arah Karin.


"Karin, bisakah kita berbicara?"


"Apakah ada masalah?"


"Baiklah kalau begitu, aku akan memeriksa pasien yang lain. Aku tidak akan mengganggu." Ujar Dokter Dylan, sambil tersenyum kepada mereka. Lalu, ia bergegas pergi meninggalkan mereka.


Sementara itu, Karin dan Sean melangkahkan kaki menuju kantin yang ada di rumah sakit itu untuk berbincang.


Raut wajah Sean terlihat tidak biasa, seperti merasa khawatir dan juga seperti sedang menyembunyikan sesuatu.


"Asisten Sean, ada apa?" Tanya Karin, kepada Sean. Saat mereka sudah berada di kantin rumah sakit.


"Karin, sebenarnya apa yang terjadi padamu?" Tanya Sean.


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, aku hanya kelelahan saja."


"Syukurlah, kalau begitu." Sahut Sean, dengan tangan yang sedikit gemetar.


"Sebenarnya, apa yang ingin kau bicarakan?"


"Be-begini, Karin. Presdir Leon, mungkin tidak akan bisa menemuimu untuk beberapa hari." Ujar Sean, dengan tergagap.


"Oh begitu, aku tidak peduli." Sahut Karin, sambil tersenyum.


Sean merasa heran dengan sikap Karin, ia terlihat seperti benar-benar tidak peduli dengan hal yang ia beritahukan. Bahkan Karin juga tidak bertanya, alasan Leon tidak akan menemuinya.


"Apa kau tidak ingin mengetahui alasannya?" Tanya Sean.


"Hemm?" Gumam Karin, dengan sedikit memiringkan kepalanya.


"Ya, Maira meminta ia untuk menemaninya pergi ke luar kota untuk beberapa hari." Ujar Sean, dengan raut wajah yang terlihat sangat ketakutan.


"Ah, biarkan saja. Tidak ada hubungannya denganku." Ujar Karin, sambil menopang pipi dengan satu tangannya.


"Meskipun, kau tahu mereka pergi hanya berdua?"


"Hemm." Gumam Karin mengangguk.


"Asisten Sean, kau bahkan mengetahui status hubunganku dan Leon. Maka, jika ia memang pergi bersama Maira. Aku tidak akan, mencampuri urusannya."


"Lagipula, sebentar lagi hubunganku dengannya akan segera berakhir." Ujar Karin, memalingkan pandangan matanya ke bawah.


"Tenanglah, tidak ada yang harus dikhawatirkan. Bukankah, pada kontrak itu Leon memang harus menemui kekasih sesungguhnya. Kau tidak mungkin lupa kan?" Tanya Karin, sambil berdiri dan menatap Sean dengan tersenyum.


Namun, Sean hanya diam saja tidak berbicara apa-apa. Karena ia merasa, bahwa apa yang Karin katakan soal kontrak memanglah kenyataannya.


Namun, Sean merasa sedih. Karena melihat hubungan sulit dan rumit, antara Karin dan Leon.


"Sudahlah, kau tidak perlu repot-repot datang ke sini untuk memberitahu hal itu." Ujar Karin. Ia membalikkan tubuhnya membelakangi Sean, sambil merenggangkan kedua tangannya seakan sedang menghirup udara bebas.


"Oh ya, Asisten Sean. Apakah kau bisa bantu meminjamkan laptop milikmu, kepadaku? Aku ingin segera, menyelesaikan pekerjaanku." Ujar Karin. Memalingkan wajahnya kembali, ke arah Sean.


"Tentu, aku juga sudah membawakan laptopmu dan juga barang-barang yang mungkin akan kau butuhkan di sini." Ujar Sean.


"Waaah, terima kasih banyak. Kau sangat baik, Asisten Sean." Sahut Karin, dengan sangat gembira.