Fall In Love With Mr. Leon

Fall In Love With Mr. Leon
Tenggelam kehangatan



Keesokan harinya.


Sinar matahari di pagi hari menyorot wajah Karin dari luar jendela, hal itu membuat Karin terbangun dari tidur lelapnya.


“Huuaaam.” Gumamnya menguap.


Tanpa disadari, ternyata ia tertidur di samping ranjang Leon. Karena semalam Leon tidak henti-hentinya muntah, membuat Karin merasa harus menjaganya sepanjang malam.


Matanya melirik ke arah Leon yang terbaring lemah di atas ranjang, wajahnya terlihat pucat dengan mata yang masih terpejam. Tak sengaja, jemari tangannya menyentuh lengan Leon.


“Panas sekali.” Ujarnya setelah tak sengaja menyentuh lengan Leon.


Lalu, buru-buru ia melayangkan tangannya untuk memegang dahi Leon.


“Astaga, suhu tubuhnya sangat tinggi.” Ujarnya, sambil mengeluarkan ekspresi cemas.


“Leon, apa kau baik-baik saja?”


“Kau demam tinggi.” Ujarnya perlahan menggoyangkan bahu Leon, dengan maksud membangunkannya.


“Ehm.” Gumam Leon, dengan suara yang sangat lemah.


“Tunggulah di sini, aku akan memanggil dokter.” Tutur Karin, sambil berusaha bergegas pergi.


Namun, jemari tangan Leon lekas menangkap pergelangan tangan Karin. Menahannya, agar Karin tidak pergi meninggalkannya.


“Te-temani aku di sini.” Ujar Leon dengan suara yang sangat lemah.


Karin memalingkan wajahnya, melihat ke arah Leon yang memohon padanya agar ia tidak pergi.


“Kau sedang sakit, aku harus segera memanggil dokter.” Ujarnya, memberi pengertian kepada Leon.


“Ti-tidak, kumohon. Jangan pergi.” Sahut Leon.


Karin melihat ke arah Leon, ia berpikir mungkin Leon sedang mengigau. Karena saat ia bicara, matanya tetap terpejam.


Mencoba mengerti perasaan Leon, ia pun kembali duduk di sebelah ranjang Leon. Dengan rasa cemas, ia juga membelai lembut dahi Leon. Hal itu membuat Leon merasa, teramat sangat nyaman dengan belaian lembut dari tangan Leon.


Beberapa saat kemudian, dokter kepercayaan keluarga Kaivan pun datang. Karena Karin telah menghubunginya, saat Leon mulai tertidur kembali dalam belaian tangan Karin.


“Dokter, silahkan masuk.” Sambut Karin, kepada dokter itu.


Dokter langsung memeriksa Leon. Sementara itu, Karin keluar dari kamar Leon karena mendapatkan panggilan telepon dari Eiden.


“Kak Eiden, maaf sebelumnya. Apakah bisa, untuk pemotretan hari ini ditunda dulu?”


“Apakah ada masalah, Karin?” Tanya Eiden dari dalam panggilan.


“Eum, y-ya.”


“Aku memiliki sedikit urusan, yang tidak bisa aku tinggalkan hari ini. Apakah itu tidak apa?”


“Baiklah, Karin. Jaga dirimu baik-baik.”


“Terima kasih banyak, karena telah memahamiku. Sekali lagi maafkan aku, kak Eiden.” Ujar Karin, dengan perasaan tidak enak hati.


“Tenang saja, jangan khawatir.”


Di saat yang bersamaan, dokter keluar dari kamar Leon untuk menemui Karin. Karin bergegas menutup panggilan teleponnya, untuk berbincang dengan dokter itu.


“Bagaimana keadaannya, Dok?”


“Ia begitu sangat kelelahan, dan juga stress. Tapi, semua baik-baik saja.”


“Syukurlah, kalau begitu.”


“Ini obat-obatan yang harus ia minum, agar kesehatannya segera membaik.” Tutur dokter itu, sambil memberikan bungkusan obat-obatan kepada Karin.


“Terima kasih banyak, Dok.” Sahut Karin, sambil menerima obat-obatan itu.


“Oh ya, untuk beberapa hari ke depan. Tolong diperhatikan pola makannya.”


“Baiklah, Dok.”


Setelah perbincangan itu, dokter kepercayaan keluarga Kaivan pergi. Sedangkan Karin, langsung bergegas ke dapur membuatkan bubur untuk Leon.


“Aku sedang membuat bubur untuk Leon.” Sahut Karin sambil tersenyum saat mengaduk bubur itu dengan menggunakan centong.


“Nona, bi-biar aku saja.” Ujar asisten rumah tangga itu.


“Tidak apa, ini sudah selesai kok.” Sahut Karin, memindahkan bubur itu ke mangkuk. Lalu, Karin bergegas membawanya ke kamar Leon.


Sesampainya di kamar, Karin melihat Leon hendak mengambil segelas air di atas meja yang berada di samping ranjangnya dengan sangat tertatih-tatih. Hingga akhirnya, gelas itu malah terjatuh ke lantai dan pecah berantakan.


“Ya ampun, apa yang kau lakukan?” Tanya Karin, sambil bergegas menghampiri Leon.


Ia pun meletakkan mangkuk bubur yang ia bawa di atas meja, dan membantu Leon kembali berbaring di ranjangnya.


“Kau bisa memanggilku, kalau kau membutuhkan sesuatu.” Ujar Karin, sambil merapihkan pecahan gelas yang berserakan di lantai.


“Tunggu sebentar di sini.” Ujar Karin, membawa pecahan gelas itu keluar dari kamar Leon.


Tak lama kemudian, ia kembali kedalam kamar Leon. Ia duduk di sebelah Leon sambil menggenggam segelas air.


“Minumlah.” Ujar Karin, memberikan gelas itu. Leon pun langsung meminumnya.


Setelah itu, Karin meletakkan gelas itu di atas meja dan mengambil mangkuk bubur yang sebelumnya ia bawa.


“Ayo, kau harus makan. Setelah itu, kau harus minum obat dan kembali istirahat.” Ujar Karin, sambil menyuapi sesendok demi sesendok bubur kedalam mulut Leon.


Tanpa perlawanan dan penolakan, Leon menuruti perintah dari Karin. Saat Karin menyuapi bubur itu, ia pun hanya bisa menganga menerima suapan bubur dan menelannya.


Beberapa saat kemudian, bubur yang ada di mangkuk itu telah habis dilahap oleh Leon. Tanpa menunggu lama, Karin langsung mengambil bungkusan obat-obatan yang diberikan oleh dokter dan memberikannya kepada Leon untuk diminum.


“Minumlah obat ini, agar kesehatanmu cepat pulih.” Ujar Karin, sambil memberikan obat-obatan yang sudah ia ambilkan untuk Leon.


Setelah Leon meminum obat-obatan itu, ia terlihat hendak ingin turun dari ranjangnya.


“Apa yang kau lakukan?” Tanya Karin, dengan rasa heran.


“A-aku harus datang ke Perusahaan.” Sahut Leon dengan suara yang lemas.


“Dasar gila.”


“Apa kau tidak melihat dirimu sendiri yang sedang sakit ini? Istirahatlah!” Ujar Karin, dengan marah. Ia pun memaksa tubuh Leon untuk berbaring kembali di atas ranjangnya.


“Akan tetapi, ada rapat penting hari ini.” Ujar Leon.


“Tidak bisakah kau meminta Asisten Sean yang menggantikanmu?”


“Ti-tidak. Karena, aku yang harus menghadirinya sendiri.”


“Tapi kau sedang tidak sehat!”


“Ka-Karin, rapat ini sangat penting untuk Perusahaanku.” Ujar Leon. Terlihat dari raut wajahnya, bahwa apa yang ia katakan memang tidak main-main. Meskipun ia tahu kesehatannya sedang tidak baik, akan tetapi ia tetap bersikeras untuk pergi ke Perusahaan. Hal itu menandakan, bahwa rapat itu memang sangat penting baginya.


Karin pun tidak bisa menahannya, karena ia melihat Leon sangat bersikeras dengan perkataannya itu.


“Baiklah. Namun, aku akan menemanimu.” Ujar Karin dengan sangat tegas.


“I-itu tidak perlu, aku baik-baik saja.”


“Jangan membantah! Di mata Mamamu, aku adalah tunanganmu. Jika terjadi sesuatu padamu, itu pasti akan mengecewakan perasaannya.” Ujar Karin, mengungkit tentang Nyonya Meilan.


Hal itu dilakukan Karin agar Leon tidak menolak perkataannya. Sebenarnya, didalam hati kecil Karin. Ia juga merasa sangat khawatir dengan keadaan Leon saat ini, ia hanya ingin memastikan agar Leon baik-baik saja dan ada yang mengurusnya.


Ia juga mengingat apa yang dikatakan oleh Sean semalam.


‘Mungkin tidak ada salahnya, aku sedikit memperhatikannya.’ Gumam Karin di dalam hati, sambil menatap Leon yang terlihat sangat lemah.


Saat itu, Leon menyetujui apa yang dikatakan oleh Karin. Tidak ada salahnya juga, jika ia mengandalkan Karin saat ini. Apalagi, apa yang diucapkan Karin memang benar. Tentang yang diketahui Ibunya adalah status mereka yang terikat dalam status pertunangan. Lagi pula, dalam hati kecil Leon pun mengakui. Bahwa saat seperti ini, ia membutuhkan sosok Karin yang berada di sampingnya.


Tanpa basa-basi, mereka berdua bersiap-siap untuk berangkat ke Perusahaan.


Beberapa lama kemudian, Karin kembali ke kamar Leon dengan penampilan yang sudah siap berangkat. Namun, saat itu Leon masih terlihat sangat lemah. Sehingga untuk memakai kemeja, dasi dan jasnya saja sangat lamban. Karin yang menyadari keadaan Leon saat ini, tanpa berpikir panjang langsung mengambil alih tangan Leon untuk memakai pakaian kerjanya.


Tanpa saling bicara dan hanya saling memandang, Leon merasa tercengang melihat Karin memakaikan kemeja, dasi dan jas kepadanya. Wajah Karin terlihat sangat cantik saat ditatap dari dekat, hal itu membuat Leon tersadar. Bahwa Karin, memang sangat cantik dan berbeda dari wanita lainnya.