
Dua hari telah berlalu, Karin menyadari jika Leon tidak pulang ke rumah utama selama dua hari ini. Karin juga tidak bisa keluar dari rumah karena permintaan dari Nyonya Meilan. Saat itu, Karin sedang sarapan dengan Nyonya Meilan di meja makan.
"Karin, besok Ibu akan melakukan perjalanan bisnis ke Thailand untuk 2 Minggu ke depan. Jagalah dirimu baik-baik, dan ku titipkan putra bodoh ku itu kepada mu. Ikuti setiap gerak-geriknya, apa kau mengerti?" Ujar Nyonya Meilan.
"Baik Ma, serahkan saja ia kepadaku" Sahut Karin dengan wajah semangat.
"Baiklah" Ujar Nyonya Meilan.
"Tapi, Ma. Bukankah kata dokter Shui kau harus banyak istirahat?" Tanya Karin mengkhawatirkan kesehatan Nyonya Meilan. Saat itu Nyonya Meilan tersenyum bahagia dan ia membelai rambut Karin.
"Tidak apa, lagi pula jika aku bermalas-malasan. Aku tidak akan bisa mengalahkan penyakit itu, jadi aku harus melawannya. Tenang saja, Dokter Shui juga ikut bersamaku" Ujar Nyonya Meilan. Karin merasa sedikit lega mendengar Dokter Shui akan ikut bersama Nyonya Meilan. Kekhawatirannya sedikit lega.
"Ingat jangan terlalu memaksakan diri ya, Ma. Jaga pola makan dan kesehatanmu, aku akan marah jika kau tidak menjaga semua itu" Ujar Karin sambil memanyunkan bibirnya. Sontak Nyonya Meilan tertawa melihat tingkah Karin yang seperti itu.
"Tenang saja" Ujar Nyonya Meilan sambil mengelus pipi Karin. Karin merasa sedikit lega mendapatkan jawaban itu darinya.
Terlebih lagi, Karin merasa bahwa itu adalah sebuah kesempatan baginya dan Leon untuk mencarikan Leon kekasih yang baru sebelum acara pernikahan dilangsungkan satu bulan lagi, dalam waktu 2 Minggu itu Karin berpikir akan membantu Leon mencarikan kekasih yang sesuai kriterianya.
"Oh ya, Ma" Ujar Karin yang tiba-tiba mengingat sesuatu.
"Hemm?" Gumam Nyonya Meilan.
"Hari ini bolehkah aku kembali ke rumah ku? Karena Jean juga akan pergi keluar kota untuk melakukan perjalanan kerja hari ini. Aku ingin mengantarnya hingga ke bandara" Ujar Karin memohon.
"Baiklah, aku akan mengirim supir untuk mengantarmu" Ujar Nyonya Meilan. Ternyata Nyonya Meilan mengizinkannya tanpa menahannya dengan alasan Karin sedang terluka.
"Ti-tidak perlu, aku akan memesan taksi saja. Karena aku akan menghabiskan waktu bersama Jean sebelum ia pergi" Sahutnya.
"Baiklah, jaga dirimu" Ujar Nyonya Meilan dengan senyum.
Lalu, Karin langsung bergegas untuk bersiap-siap pergi ke rumah lamanya. Kemudian setelah selesai bersiap, Karin langsung berangkat ke rumah lamanya menggunakan taksi.
"Jean" Teriak Karin dari depan rumah. Saat itu, Jean sedang berada di teras sedang melamun.
“Karin” Teriak Jean saat menyadari ada Karin di hadapannya.
Mereka berlari dan saling berpelukan melepaskan rindu sekaligus salam perpisahan kepada Jean yang akan melakukan perjalanan kerja di luar kota.
“Aku sangat merindukanmu” Ujar Karin saat memeluk Jean dengan erat.
“Aku juga sangat merindukanmu, rumah ini begitu sangat sepi tanpa adanya dirimu. Aku tidak berhenti memikirkan dirimu” Ujar Jean. Jean melepaskan pelukan itu dan menggenggam kedua bahu Karin untuk menatap wajah Karin.
“Apakah Presdir Leon dan keluarganya menindasmu? Apakah mereka membully mu?” Tanya Jean dengan rasa khawatir.
“Mereka tidak menindasku, Nyonya Meilan sangatlah baik kepadaku. Kalau Leon..” Sahut Karin, Karin terhening sebentar saat menyebut nama Leon.
“Ada apa?” Tanya Jean.
“Dasar Presdir Leon itu, teganya ia membuat tunangannya merasa khawatir seperti ini” Sahut Jean.
Karin teringat, Jean memang tidak tahu tentang perjanjian kontrak antara dirinya dan Leon. Leon juga tidak memberikannya izin untuk memberitahu yang sebenarnya kepada Jean. Jadi, Jean tidak akan memahami situasinya saat ini.
“Ehmm, kau benar. Mungkin aku akan membatalkan pertunangan dengannya, agar ia merasakan akibatnya karena telah menelantarkan ku” Sahut Karin dengan memberikan ekspresi bercanda.
“Kau benar, dan akan ku hajar ia jika masih menelantarkanmu dan a....” Sahut Jean. Namun, Jean menghentikan kalimatnya saat menatap wajah Karin.
“Sudahlah, lupakan saja. Lebih baik kita menghabiskan waktu siang ini hanya berdua” Ujar Jean.
“Kau benar, ayo” Sahut Karin dengan rasa semangat.
“Eh tunggu dulu, kapan jadwal penerbanganmu?” Tanya Karin.
“Malam ini jam 7, tenanglah masih ada banyak waktu untuk kita bersama sebelum jadwal penerbanganku” Ujar Jean.
Kemudian, mereka berdua pun bergegas menghabisakan waktu siang itu bersama-sama dengan berkunjung ke mall untuk berbelanja, bermain timezone, pergi ke salon dan makan di kedai hotpot langganan mereka.
Kebersamaan mereka sangatlah seru dan mengasyikan, terukir canda tawa yang sangat natural dari wajah Karin dan Jean. Tak terasa sudah pukul 6 sore, Karin dan Jean pun sudah berada di bandara.
“Aku akan sangat merindukanmu” Ujar Jean yang akan berpisah dengan Karin.
“Aku juga akan sangat sangat sangat merindukanmu” Ujar Karin. Mereka saling berpelukan dan menangis sebelum berpisah.
“Karin, ingatlah untuk jaga kesehatan dan suasana hatimu” Ujar Jean.
“Kau juga, jagalah pola makan mu. Jangan terlalu banyak meminum kopi, kau juga harus lebih memperhatikan dirimu sendiri. Selama ini kau selalu saja hanya memperhatikanku, saat ini kau harus memperhatikan dirimu sendiri” Ujar Karin.
Setelah beberapa saat saling memberikan pesan dan salam perpisahan, Jean pun perlahan jalan menggerek kopernya untuk masuk ke dalam bandara untuk segera naik ke pesawat.
Dari pintu masuk bandara Karin melambaikan tangan kepada Jean yang berjalan masuk ke dalam bandara. Saat itu, Jean tidak menoleh kepada Karin karena ia menyembunyikan air mata.
"Dasar gadis bodoh, sampai kapan kau akan menyembunyikan itu dariku?" Ujar Jean, kalimatnya itu di tuturkan untuk Karin. Namun ia tidak berani berkata langsung kepada Karin. Jean tetap berjalan tanpa menoleh kebelakang, sambil mengusap air matanya. Ia mempercepat langkah kakinya hingga Karin hilang dari pandangan matanya dan Jean Hilang dari pandangan mata Karin.
Setelah itu, Karin membalikkan tubuhnya dengan ekspresi murung dan bergegas untuk pulang ke kediaman keluarga Kaivan.
Sesampainya di rumah, Karin merasa heran karena ia tidak mendengar suara Nyonya Meilan. Lantas, ia bertanya kepada asisten di rumah itu.
"Bibi Elena, kenapa rumah sepi sekali? Kemana Ibu?" Tanya Karin kepada Asisten Elena wanita paruh baya yang menjadi Asisten Rumah Tangga kepercayaan keluarga Kaivan.
"Karin, Nyonya Meilan mempercepat perjalanannya. Sore tadi ia sudah pergi ke bandara untuk penerbangan menuju Thailand" Sahut Bibi Elena dengan sangat lembut memberikan penjelasan kepada Karin.
"A-apa? Mengapa Ibu tidak menghubungiku? Aku sangat ingin mengantarnya ke bandara. Mengapa Ibu melakukan itu kepadaku?" Tanya Karin dengan raut wajah yang sangat sedih. Kemudian, Bibi Elena menghampirinya dan mengelus punggung Karin.
"Nyonya Meilan, tidak ingin mengganggu waktu perpisahan mu dengan sahabatmu itu" Ujar Bibi Elena. Kemudian, Bibi Elena pergi meninggalkan Karin. Karin hanya diam termenung tanpa suara untuk beberapa saat.