Fall In Love With Mr. Leon

Fall In Love With Mr. Leon
Bersama Dokter Dylan



Setelah beberapa saat, Leon membawa Maira masuk kedalam rumah sakin Landy'S Health yang tempatnya tidak jauh dari keberadaan mereka sebelumnya. Lalu, Karin turun dari taksi dan bergegas masuk kedalam rumah sakit itu untuk menyusul Leon dan Maira.


Saat Karin hendak masuk kedalam, rupanya Leon dan Maira terlihat sedang berjalan perlahan menuju pintu keluar rumah sakit. Sontak saja, Karin buru-buru bersembunyi dari pintu keluar agar tidak bertemu mereka.


Karin melihat Leon dan Maira jalan berdampingan dengan sangat mesra. Terlihat jika Leon juga memeluk bahu Maira dengan sangat lembut, begitupun dengan Maira. Ia memeluk erat punggung Leon.


"Apa yang sedang kau lihat?" Tanya seseorang dari belakang tubuh Karin.


Karin merasa terkejut dan langsung melihat ke arah seseorang itu. 


"Dokter Dylan" Ujar Karin. Ternyata itu adalah Dokter Dylan.


Kemudian, Dokter Dylan memalingkan pandangannya untuk melihat ke arah Leon dan Maira.


"Oh jadi kau sedang melihat mereka." Ujarnya. Lalu, ia memalingkan pandangannya ke arah Karin.


"Apakah ia adalah pria yang telah-" 


"Sssst, jangan mengungkitnya. Aku tidak ingin membahas yang tidak perlu dibahas" Ujar Karin yang tiba-tiba membekap mulut Dokter Dylan sambil menatap ke arah wajahnya.


Karin dan Dokter Dylan saling bertatap mata, dengan tatapan yang hangat dari mata Dokter Dylan. Karin merasa gugup, melihat tatapan mata itu. Sontak saja ia melepaskan tangannya, yang membekap mulut Dokter Dylan. Kemudian, Karin memalingkan pandangan matanya dari tatapan mata Dokter Dylan.


"A-apakah, saat ini kesehatanmu terasa baik?" Tanya Dokter Dylan dengan tergagap. Gerak-gerik tubuhnya terlihat aneh, jelas sekali bahwa dirinya sedang merasa salah tingkah di depan Karin.


"A-aku baik-baik saja" Sahut Karin yang juga tergagap. 


Suasana terasa sangat canggung, setelah mereka saling bertatap mata. Karin dan Dokter Dylan sama-sama menunjukkan bahasa tubuh yang terlihat seperti sedang salah tingkah.


"Ini sudah cukup malam, apakah kau sudah makan malam?" Tanya Dokter Dylan yang berusaha memperbaiki suasana canggung itu.


"A-aku sudah makan" Sahut Karin. Di saat yang bersamaan, tiba-tiba perut Karin berbunyi. 


"Hehe, bahkan kau sangat payah untuk berbohong" Ujar Dokter Dylan. Karin menatap ke arah wajah Dokter Dylan, sambil menyengirkan giginya dengan merasa sangat malu.


"Ayo, kita makan malam bersama. Kau harus sangat menjaga kesehatanmu." Ujar Dokter Dylan. Lalu, Karin pun menganggukkan kepalanya sambil menyengirkan gigi.


Dokter Dylan bergegas membawa Karin pada sebuah restoran yang berada di dekat rumah sakit itu. Lalu, mereka duduk di dalam restoran itu sambil melihat menu makanan untuk di pesan.


"Aku ingin memesan salad sayur satu porsi, Steak panggang dua porsi, Ikan Gurame bakar dua porsi dan juga chicken wings panggang satu porsi." Ujar Dylan kepada pelayan yang berdiri di dekat meja mereka, sambil mencatat pesanan mereka.


"Karin, apakah kau ingin menambahkan sesuatu?" Tanya Dokter Dylan kepada Karin.


"Bolehkah, aku memesan Mie Laoshi?" Tanya Karin kepada Dokter Dylan.


"Bukankah sebelumnya sudah kukatakan, bahwa itu tidak baik untuk ke-" Ujar Dokter Dylan kepada Karin. Namun, di saat yang bersamaan ekspresi Karin seketika terlihat murung dan menundukkan kepalanya. Melihat ekspresi Karin yang seperti itu, Dokter Dylan merasa tidak tega.


"Baiklah, tolong 1 porsi Mie Laoshi. Oh ya, jangan pedas ya." Ujar Dokter Dylan kepada pelayan itu.


"Untuk minumnya, tolong berikan Nona ini air mineral dan jus alpukat. Oh ya, dengan satu air mineral untukku" Ujar Dokter Dylan. Lalu, ia mengembalikan menu makanan itu kepada pelayan. Kemudian, pelayan itu pergi meninggalkan mereka untuk menyajikan pesanan.


Sambil menunggu pesanan mereka datang, merekapun saling berbincang membicarakan tentang perkembangan kesehatan Karin.


Tak lama kemudian, pesanan mereka tiba dan disajikan oleh para pelayan di atas meja mereka.


"Wah, banyak sekali. Apakah kau memang makan sebanyak ini, Dokter Dylan?" Tanya Karin dengan mata yang berbinar, saat melihat pesanan yang disajikan sangat banyak.


"Emm, tidak. Ini semua untukmu, kau harus banyak memakan makanan yang bergizi. Terutama salad sayur, dan ikan ini." Sahut Dokter Dylan, sambil menyodorkan mangkuk salad sayur dan piring ikan gurame.


"Selamat makan" Sahut Karin, dengan ekspresi ngiler saat melihat banyak makanan.


Sontak saja, pertama yang ia makan adalah Mie Laoshi kesukaannya.


Melihat Karin memakan Mie Laoshi, Dokter Dylan mengambilkan beberapa makanan lain dan diletakkan di atas piring Karin.


"Makanlah yang lain juga. Bukankah sudah ku katakan, untuk makan makanan bergizi. Apakah kau melupakannya, Karin?" Tanyanya, sambil tersenyum setelah meletakkan beberapa makanan di atas piring Karin yang ia ambil menggunakan sumpitnya.


Karin hanya menatap ke arah wajahnya, sambil tersenyum dan mengerutkan hidungnya.


"Haha." Dokter Dylan tertawa kecil, melihat ekspresi Karin yang sangat lucu.


Kemudian, mereka lanjut menyantap makanan yang ada di atas meja itu.


...----------------...


Setelah selesai makan malam, tak terasa sudah menunjukkan pukul 10 malam.


“Karin, aku akan mengantarmu pulang. Ini sudah terlalu malam, tidak baik jika kau pulang sendirian.” Ujar Dokter Dylan, sambil tersenyum menawan.


“Tidak apa-apa, Dokter Dylan. Aku tidak ingin, merepotkanmu.” Sahut Karin menolak dengan melebarkan kedua telapak tangannya ke hadapan Dokter Dylan, sambil sedikit menggelengkan kepalanya.


“Itu tidak merepotkan, ayo.” Ujar Dokter Dylan, ia pun bangun dari duduknya dan mengajak Karin.


“Eh, te-terima kasih. Dokter Dylan.” Sahutnya yang ikut bangun dan sedikit menundukkan kepala di hadapan Dokter Dylan.


“Jangan seperti itu, sudah seharusnya aku bertanggung jawab atas pasienku.” Ujar Dokter Dylan, sambil tersenyum.


Kemudian, mereka jalan berdampingan keluar dari restoran.


Setelah sampai di pintu keluar restoran. Dokter Dylan berkata, "Karin, tunggulah di sini sebentar. Aku akan mengambil mobilku, yang terparkir di parkiran rumah sakit."


"Emm." Sahut Karin menganggukan kepalanya.


"Ingatlah, jangan kemana-mana. Tunggu sebentar." Ujar Dokter Dylan, ia mengangkat jari telunjuknya ke hadapan Karin. Untuk memberi isyarat, agar Karin tetap menunggunya.


Kemudian, Dokter Dylan bergegas mengambil mobilnya dari parkiran rumah sakit.


Karin tetap menunggu Dokter Dylan, di depan restoran. Tidak lama kemudian, Dokter Dylan kembali dengan membawa mobilnya dan berhenti tepat di hadapan Karin.


Ia turun dari kursi penumpang, melintasi kap mobil depan untuk menghampiri Karin. Setelah itu, ia membukakan pintu pada kursi penumpang yang ada di samping kursi kemudi.


"Duduklah." Ujarnya mempersilahkan Karin masuk. Tidak hanya itu, ia bahkan melayangkan telapak tangannya di atas kepala Karin. Dengan maksud, agar kepala Karin tidak terbentur oleh kap atas mobil.


Karin hanya memandangi pergerakan tangan dari Dokter Dylan yang terlihat sangat menjaga dirinya itu.


"Sungguh sangat perhatiannya. Tidak hanya pintar dan tampan, bahkan ia juga sangat mempedulikan orang lain." -Gumamnya dalam hati.


"Seandainya saja, aku tidak ada di situasi seperti ini." Lanjut gumamnya.


"Tidak, tidak, tidak, Karin. Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanyanya dalam hati. Ia juga bereaksi menggelengkan kepalanya, secara perlahan.


Setelah menutup pintu kursi penumpang, Dokter Dylan bergegas masuk kedalam kursi kemudi.


Tanpa basa-basi, Dokter Dylan menancapkan gas mobilnya untuk meninggalkan tempat itu.