
Beberapa harinya, Karin melanjutkan pekerjaannya di perusahaan Leoparadise. Karin juga semakin sering melihat Maira datang berkunjung ke Perusahaan Leoparadise untuk menemui Leon, sontak para pegawai mulai saling bergosip tentang hubungan rumit mereka. Bahkan, saat sedang makan siangpun Maira tetap menempel pada Leon.
Malam hari tiba, Karin kembali ke rumah utama dan masuk ke kamarnya. Tak disangka saat ia sedang membersihkan tubuhnya, tiba-tiba listrik mati karena ada pemadaman. Sontak ia berteriak karena ketakutan.
"Leon!" Teriaknya. Kala itu, Leon baru saja tiba, baru saja membuka jas dan kemeja kerjanya sehingga saat ini Leon dalam keadaan telanjang dada.
Mendengar Karin berteriak, membuat Leon merasa khawatir. Leon segera berlari ke kamar Karin untuk mencari Karin.
"Leon, aku takut" Teriak Karin. Suara Karin terdengar seperti sedang menangis. Leon mengetahui asal suara itu, dan langsung menerobos masuk kedalam kamar mandi.
Ia menemukan Karin sedang berjongkok di sudut dinding sambil menundukkan kepalanya.
"Karin, tenanglah" Ujar Leon yang menghampiri Karin saat keadaan gelap itu. Lalu, Karin langsung memeluk Leon saat Leon menggenggam bahunya. Karena suasana gelap, secara tak sengaja Karin menabrakkan bibirnya kepada bibir Leon karena sangat ketakutan saat itu.
Suasana menjadi hening, mereka menyadari bahwa saat ini mereka sedang berciuman. Ditambah lagi, Karin yang dalam ketakutan itu memeluk tubuh Leon dengan sangat keras. Suasana mereka saat itu terasa sangat canggung, merekapun saling melepaskan ciuman itu. Namun, Karin tidak melepaskan pelukannya karena ia sangat takut pada kegelapan. Leon membawanya secara perlahan keluar dari dalam kamar mandi menuju ranjang Karin.
Mereka melangkahkan kaki secara perlahan, Karin semakin erat memeluk Leon karena merasa sangat takut. Saat tiba di ranjangnya, Leon bermaksud untuk menyuruh Karin duduk di ranjang itu. Namun sesuatu malah terjadi, Leon tidak sengaja menginjak tali handuk mantel Karin yang tergerai di lantai. Lalu, Leon terjatuh meniban tubuh Karin di atas ranjang, secara bersamaan ikatan pada tali handuk mantel Karin terlepas akibat tak sengaja diinjak oleh Leon hingga menyebabkan handuk mantel itu terlepas dari tubuhnya. Saat mereka terjatuh di ranjang, Leon secara tidak sengaja mendaratkan bibirnya tepat di bibir Karin. Tubuhnya saling berdempetan sehingga Leon merasa ada sesuatu yang menonjol tertekan oleh dadanya. Tubuh mereka saling mengeluarkan hawa panas, ditambah lagi dengan keadaan AC yang mati karena listrik padam. Jantung mereka terdengar saling berdegup dengan cepat, nafas Karin terengah-engah. Leon tidak melepaskan bibirnya dari Karin, Karin juga tidak memberontak. Suasana sepeti ini terasa seperti saat ia baru pertama kali bertemu saat itu.
Leon mendengar Karin meringis karena menangis dalam gelap, dalam benaknya. Karin merasa ketakutan dalam gelap. Lalu, Leon perlahan menopang tubuhnya dengan kedua tangannya untuk mengangkat tubuhnya dari tubuh Karin dan perlahan melepaskan bibirnya dari bibir Karin. Namun, kedua tangan Karin sontak memeluk erat leher dan punggung Leon untuk menariknya kembali hingga kembali Leon mencium bibir Karin.
"Tetaplah seperti ini untuk beberapa saat" Ujar Karin sambil menangis.
"Apa kau sedang mabuk?" Tanya Leon.
"Ya, aku mabuk. Temani aku, aku sangat takut" Sahut Karin menangis sambil berbohong kepada Leon.
Leon menyadari jika Karin berbohong kepadanya, karena ia tidak sedikitpun mencium aroma alkohol dari tubuh Karin.
15 menit telah berlalu, namun listrik tak kunjung hidup. Karin juga tetap memeluk Leon dengan posisi yang tidak berubah. Tubuh Leon semakin berkeringat saat saling menempel. Karin merasakan sesuatu yang menonjol di bagian bawah. Lalu, Karin semakin memeluk Leon dengan sangat erat. Jemari tangannya merayap pada punggung Leon. Menyadari hal itu, Leon langsung menyeret Karin ke tengah ranjang. Mereka, saling meraba dan menggoda dengan sangat panas dalam suasana gelap karena listrik padam. Mereka semakin saling terhanyut dan terus terhanyut dalam situasi yang menegangkan, keduanya saling bersemangat.
"Aaaaaah" Teriak Karin dengan sangat kuat, saat Leon menekan tubuh Karin bagian bawah.
Malam itu semakin panjang, listrik tak kunjung menyala. Leon sudah sangat terengah-engah karena sudah bercinta selama 5 jam, namun Karin seakan enggan melepaskan Leon. Ia terus menangis saat Leon hendak menjauh darinya untuk beristirahat sejenak. Bahkan Karin tidak membiarkan Leon pergi dari dirinya hanya untuk mengambil air minum. Karin terus memaksa Leon melakukannya tanpa henti, Leon pun semakin merasa bersemangat. Lagi dan lagi tanpa henti, Karin tetap enggan melepaskan Leon. Entah apa yang merasuki Karin saat ini, Leon semakin merasa bingung. Karena saat ia lihat jam, waktu sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Namun, Karin tetap tidak mau melepaskannya dan terus memeluknya.
"Karin, apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Leon karena merasa ada yang aneh dengan Karin.
"Ti-tidak ada, terus lakukan itu. Kumohon" Ujar Karin sambil menangis.
Lalu, Leon terus melanjutkannya. Bahkan, Leon semakin bersikap kasar dalam melakukan hal itu. Tepat pukul 5 pagi, tiba-tiba Leon menyadari jika Karin ternyata sudah tidak bersuara karena tertidur pulas. Leon mengangkat tubuhnya dari atas tubuh Karin dan tergeletak beberapa saat di samping Karin.
Kemudian, tiba-tiba listrik telah menyala. Leon langsung memakaikan pakaian Karin dan menyelimutinya, agar Karin tertidur dengan nyaman. Setelah itu, Leon kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap berangkat ke Perusahaan.
Sebelum berangkat, Leon sarapan dulu di meja makan dengan ditemani bibi Elena.
"Bibi Elena, tolong buatkan Karin bubur saat ia bangun. Keadaan fisiknya sedang kurang baik" Ujar Leon sambil menyantap sarapannya.
"Ya memanglah anak muda" Sahut Bibi Elena sambil tersenyum kecil. Sontak melihat tingkah Bibi Elena yang menggodanya, membuat Leon merasa malu dan canggung.
"A-apa yang kau katakan, Bibi Elena" Ujar Leon dengan wajah yang memerah.
"Baiklah, aku tidak akan menggodamu lagi" Sahut Bibi Elena sambil sedikit tertawa.
"Tak terasa kau sudah dewasa. Saat pertama kali aku datang ke rumah ini, kau masih sangat kecil. Kau juga masih sering ngompol di pangkuanku. Kini, kau sudah dewasa dan aku sudah semakin tua. Kau tidak membutuhkanku lagi" Ujar Bibi Elena.
"Bibi, kau berkata apa. Aku masih selalu membutuhkanmu, kau seperti seorang nenek bagiku" Sahut Leon.
Kenyataan itu memang benar, sejak kecil Bibi Elenalah yang lebih sering berada di samping Leon menemani masa kecilnya hingga dewasa. Ibunya telah sangat bekerja keras semenjak kematian mendiang Ayahnya. Meski begitu, ibunya tetaplah sangat menyayanginya walaupun jarang menemani masa kecilnya. Bagi Leon, Bibi Elena lebih dari seorang Asisten kepercayaan. Melainkan seorang nenek yang sangat ia sayangi, Nyonya Meilan juga mempercayai semua keputusan di rumah ini berada di tangan Bibi Elena saat ia sedang tidak ada di rumah.
"Baiklah Bibi, aku akan segera berangkat" Ujar Leon.
"Hati-hati di jalan ya" Sahut Bibi Elena. Lalu, Leon bergegas pergi meninggalkan rumah.