Fall In Love With Mr. Leon

Fall In Love With Mr. Leon
Dalam Ingatanku



2 jam berlalu.


Karin selesai membersihkan tubuhnya, dan telah selesai mengganti pakaiannya.


Kemudian, ia perlahan melangkahkan kaki sambil menundukkan kepala menuju meja makan. Saat itu, Jean sedang memasak makanan di dapur yang berhadapan dengan meja makan.


Jean yang menyadari, bahwa Karin sedang melangkah ke arahnya. Sontak saja, ia segera memasang wajah ceria yang seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Agar Karin tidak terlalu menyesali, segala yang telah terjadi.


Ia bergegas lari ke arah Karin, kemudian menarik pergelangan tangan Karin dan menuntunnya ke meja makan.


"Karin, cicipilah. Aku membuatkan makanan, kesukaanmu." Ujarnya, dengan ekspresi wajah yang ceria.


Jean meletakkan piring berisikan makanan yang disukai Karin, di atas meja yang ada di hadapan Karin. Karin menatap ke arah Jean, dengan mata yang berkaca-kaca.


"Sudahlah, cepat habiskan makananmu. Setelah ini, aku akan berangkat kerja. Apa kau tahu? Pekerjaanku hari ini, sangat banyak." Ujar Jean, dengan rasa penuh semangat.


"Mungkin, aku akan pulang larut malam. Jadi, jangan kemana-mana sampai aku pulang ya!" Ujarnya lagi kepada Karin, dengan ekspresi ceria.


Jelas terlihat, bahwa ia memasang ekspresi ceria hanya untuk menutupi rasa sedih dan bersalahnya. Ia juga tidak mau menunjukkan kesedihannya, di depan Karin. Karena ia ingin membuat Karin, merasa lebih baik.


"Ta-tapi aku juga harus pergi bekerja, Jean." Sahut Karin, dengan tergagap.


"Kau istirahat saja, selama beberapa hari. Aku akan mengajukan cuti untuk mu kepada Presdir Chand, setelah aku tiba di Perusahaan." Ujar Jean memberikan usul.


"A-akan tetapi-" Sahut Karin tergagap.


"Tenang saja, Karin." Ujar Jean, sambil mengelus lembut rambut Karin.


Kemudian Karin diam menganggukkan kepalanya, menuruti perintah dan usul dari Jean.


Setelah itu, mereka menyantap perlahan makanan yang sudah disiapkan oleh Jean.


...----------------...


"Huaah, kenyangnya!" Ujar Jean, sambil mengusap perutnya yang membuncit karena kekenyangan.


"Baiklah, aku akan bersiap dan berangkat" Ujarnya lagi.


Ia membawa piring kotor itu ke dapur, untuk segera dibersihkan. Lalu setelahnya, ia meninggalkan meja makan untuk bersiap berangkat kerja.


Saat itu, Karin perlahan melangkahkan kakinya meninggalkan meja makan untuk menuju ke kamar.


Ia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, dengan kedua lengannya yang menyilang menutupi kedua matanya.


Dari cermin rias di dalam kamar itu, Jean melihat ke arah Karin yang terlihat sangat terpuruk. Ia hanya dapat terdiam, melihat Karin sedang menutupi penderitaannya.


Setelah itu, Jean mencoba untuk berpamitan kepada Karin.


"Karin, aku berangkat ya. Tunggu aku kembali, ya!" Ujarnya kepada Karin, setelah selesai merias wajahnya.


"Hati-hati dijalan, Jean." Ujar Karin sejenak melihat ke arah Jean.


Jean melangkah perlahan, meninggalkan Karin untuk berangkat ke tempat kerjanya.


Bersamaan dengan itu, Karin kembali menangis dalam keterpurukannya. Ia terus membayangkan segala hal, yang telah terjadi padanya. Ia merasa jika hidupnya sudah hancur setelah ia kehilangan kehormatannya, ia merasa jika ia tidak akan bisa bersama dengan pria manapun dengan keadaannya yang seperti ini. Ia juga merasa jika dirinya telah tidak memiliki harga diri lagi, ia merasa jika tidak ada bedanya mengenai dirinya dengan wanita brengsek yang bersama Morgan semalam.


"Tidak ada harapan lagi untukku, aku sama saja seperti wanita itu." Ujarnya pada diri sendiri, sambil menangis.


...----------------...


Sementara itu, Jean tiba di perusahaan tempat ia bekerja. Ia pun segera mengajukan cuti, untuk Karin kepada pihak HRD.


"Pak, saya ingin membantu Karin mengajukan cuti untuk beberapa waktu. Saat ini, kesehatannya kurang baik." Ujarnya kepada pihak HRD.


"Baiklah, aku akan membuat berkas cutinya." Sahut pihak HRD.


"Terima kasih." Ujarnya.


Lalu, Jean melangkahkan kaki menuju ke ruangan kerja untuk menyelesaikan pekerjaannya. Agar ia dapat segera pulang, untuk menemani Karin.


...----------------...


4 Hari telah berlalu.


Semenjak kejadian itu, Karin masih tidak diperbolehkan keluar rumah oleh Jean. Tujuan Jean, agar Karin dapat menenangkan pikirannya terlebih dulu. Sedangkan Jean, tetap menjalankan aktivitasnya seperti biasa.


"Jean, aku sudah baik-baik saja." Ujar Karin, saat Jean hendak pergi ke perusahaan.


"Dengar, tunggulah beberapa hari lagi." Sahut Jean, sambil menggenggam tangan Karin.


...----------------...


Hari ke-5


Jean datang ke Perusahaan, untuk melakukan pekerjaannya seperti biasa.


Tepat pukul 14:00


Asisten Presdir di Perusahaan tempat Jean dan Karin bekerja, datang ke ruangan Jean.


"Jean, di manakah Karin?" Tanya Asisten Presdir itu, yang bernama Kevin.


"Asisten Kevin, Karin masih tidak enak badan. Jadi, ia belum dapat datang ke Perusahaan. Apakah ada yang harus dikerjakan oleh Karin? Saya akan menggantikan pekerjaan yang akan diberikan untuk Karin, Asisten Kevin." Ujar Jean.


"Baiklah, ada beberapa file penting yang sebelumnya sudah dikerjakan oleh Karin. Pelajarilah dalam 1 jam ini, karena jam 15:30 kita akan meeting dengan Presdir dari Perusahaan terkenal. Yaitu, Perusahaan Leoparadise" Ujar Asisten Kevin.


"Baik, akan segera saya pelajari." Ujar Jean, tanpa rasa ragu.


Jean sedikit kebingungan mencari file penting yang dikatakan oleh Asisten Kevin itu, ia mencari di setiap laci dan loker pada meja kerja Karin.


Namun, ia tetap tidak bisa menemukannya. Kemudian, ia memutuskan untuk menelpon Karin saat itu.


"Karin, sore ini akan ada meeting dengan Perusahaan terkenal. Apa kau bisa memberitahu padaku, file penting yang sebelumnya sudah kau kerjakan?" Tanyanya, pada Karin ditelepon.


"File itu ada di loker paling bawah, tertumpuk dengan file berwarna hijau dan biru. Sampul map pada file itu berwarna orange, Jean." Ujar Karin dari dalam telepon.


Saat yang bersamaan, Jean sambil mencari file penting itu berdasarkan arahan yang diucapkan Karin.


"Yeah, aku menemukannya. Terima kasih, Karin." Ujarnya, sambil memegang berkas yang telah ditemukannya.


"Jean, apa kau kesulitan karena diriku? Aku akan datang ke Perusahaan, untuk menyelesaikan pekerjaan yang harusnya menjadi tanggung jawabku." Ujar Karin dari dalam telepon.


"Tenanglah, kau bisa mengandalkanku." Sahutnya, dengan nada semangat yang tinggi.


"Je-jean. Ma-maaf, sudah selalu merepotkanmu." Ujar Karin, dari dalam telepon.


"Sudahlah, jangan terlalu banyak berpikir yang aneh." Sahutnya.


"Ya sudah, aku harus segera mempelajari file penting ini. Aku tutup teleponnya dulu, ya. Jaga dirimu baik-baik, di rumah. Sampai nanti, Karin." Ujarnya, ia pun segera menutup telepon.


Sempat sesaat ia termenung, masih memikirkan Karin. Kemudian, ia coba melupakannya dengan bergegas fokus pada pekerjaannya.


Waktu telah menunjukkan pukul 15:30, Asisten Kevin kembali memanggil Jean dan memintanya untuk segera ikut ke ruang meeting.


Lalu, saat Jean memasuki ruangan itu. Jean seketika terdiam, matanya terpana pada satu hal yang membuat dirinya kehilangan fokus. Tatapan matanya itu, terpana pada seorang pria yang duduk di ujung kiri berdampingan dengan Presdir Chand. (Presdir Chand adalah CEO Perusahaannya).


Seorang pria dengan penampilan elegan yang mengenakan jas berwarna hitam dipadukan dengan kemeja krem dan celana bahan berwarna hitam, dasinya berwarna orange belang hitam seperti zebra cross. Wajahnya sangat tampan, mulus dan terawat. Bagian matanya sangat indah dengan bulu mata lentik, hidung mancung dan bibir tipis berwarna merah muda. Penampilannya terlihat sempurna, dengan gaya potongan rambut Short Style with Messy Bangs.


"Sungguh, tampannya pria itu." Gumamnya, dalam hati.


Ia duduk di sudut kanan kursi bagian ujung, bersebelahan dengan Asisten Kevin.


Lalu, Presdir Chand CEO dari Perusahaannya berkata, "Baiklah, kita akan mulai rapatnya kali ini."


"Sebelum memulai rapat ini, perlu kalian ketahui. Seseorang yang duduk di sampingku ini adalah Presdir Leon, CEO dari Perusahaan Leoparadise yang sudah sangat terkenal dalam dunia bisnis." Ujar Presdir Chand memperkenalkan Presdir dari Perusahaan Leoparadise itu, yang ternyata adalah Leon.


Semua orang memberi sambutan, dan memberikan salam kepada Leon.


Setelah itu, mereka semua memulai rapatnya, dengan seluruh anggota yang hadir di ruangan itu.


...****************...


Beberapa lama kemudian, tepat pukul 19:00 Rapat baru dapat selesai. Dikarenakan masih banyak kendala dalam pembuatan file yang sebelumnya dikerjakan oleh Karin, yang harus diwakilkan oleh Jean.


Sebelum semua orang keluar dari ruang rapat, pria tampan yang dikatakan Jean berkata pada Jean, "Aku harap isi detail file ini, bisa segera diperbaiki. Agar, bisa segera kita mulai kerjasamanya." Ujarnya.


Lalu, ia menambahkan kalimatnya. "Oh ya, aku tahu jika file ini bukan kau yang mengerjakannya. Makanya kau terlihat kebingungan, dalam mempresentasikan detailnya. Akan lebih baik, jika yang membuatnyalah yang mempresentasikan. Agar dapat dipresentasikan, dengan jelas dan rinci." Ujarnya, menatapkan tatapan tajam pada Jean.


Jean hanya menganggukkan kepala, dengan tangan yang gemetar. Karena sejak berjalannya proses rapat, Leon selalu mengkritiknya dengan sikap yang dingin.


Akan tetapi, Jean membenarkan sarannya. Karena, Jean memang tidak terlalu memahami poin penting dari file yang dikerjakan Karin pada file ini.


"Baiklah, Presdir Leon. Akan segera kami perbaiki, detail file nya. Terima kasih banyak, atas perhatian anda." Ujar Presdir Chand.


"Baiklah kalau begitu, minggu depan aku akan kembali. Presdir Chand, aku harap kerjasama kita kali ini bisa cepat berjalan." Ujar Leon, kepada Presdir Chand.


Lalu setelah obrolan itu, mereka semuapun bubar dari ruang rapat itu dan pulang ke rumah masing-masing.


...----------------...


Sesampainya Jean di rumah, Jean melihat Karin sedang duduk termenung menatap keluar jendela kamarnya.


"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanyanya, kepada Karin.


"Tidak, Aku hanya terdiam saja." Jawab Karin, dengan ekspresi penuh tekanan pada pikirannya.


Jean menyadari hal itu, ia pun berusaha untuk menghibur Karin.


"Hey, apa kau tahu? Hari ini, CEO dari Perusahaan Leoparadise datang membicarakan perihal kerjasamanya dengan Perusahaan tempat kita bekerja." Ujarnya, menceritakan yang terjadi hari ini kepada Karin.


"Dan apa kau tahu? CEO dari perusahaan itu, sangatlah tampan. Akan tetapi dia terlalu dingin dan sedikit angkuh, tapi dia juga membuat hatiku bergetar." Ujarnya lagi, berusaha mengubah suasana Karin yang tertekan itu.


"Apakah dia menindasmu?" Tanya Karin, dengan ekspresi wajah yang terlihat tertarik pada cerita Jean.


"Dia tidak menindasku, apa yang dia katakan memang benar. Aku tidak bisa mempresentasikan isi filemu, dengan benar. Lalu, di pertemuan rapat selanjutnya mereka memintamu untuk mempresentasikannya sendiri." Ujar Jean, sambil mengerutkan hidungnya dan duduk di atas ranjang.


"Sudah kubilang, harusnya aku tidak merepotkanmu. Lagipula, aku baik-baik saja." Ujar Karin, meyakinkan Jean tentang keadaannya.


Jean menatap Karin, dengan penuh perhatian dan memegang kedua bahunya dengan penuh kasih sayang.


"Karin, aku tahu apa yang sedang kau pikirkan dan apa yang sedang kau sesali. Percayalah ini bukan akhir dari kehidupanmu, meskipun seluruh dunia menolakmu. Kau masih ada aku, sejak kecil kita sudah bersama." Ujarnya kepada Karin.


"Bagiku, kau seperti adikku sendiri. Apapun keadaannya, aku tidak akan meninggalkanmu." Ujarnya lagi.


Karin reflek mengeluarkan air mata, dan langsung memeluk erat Jean.


"Karin, lupakanlah yang sudah terjadi. Mari, kita melanjutkan kehidupan."


"Te-terima kasih, Jean." Sahut Karin, terharu.


Jean berharap, malam itu dapat meringankan beban di dalam hati Karin. Walaupun ia tahu, bahwa itu tidak akan membuat Karin cepat pulih.