Fall In Love With Mr. Leon

Fall In Love With Mr. Leon
Penculikan tak terduga.



"Kak Eiden, terima kasih untuk makan malamnya." Ujar Karin, sambil tersenyum pada Eiden yang sudah berada didalam mobilnya.


"Apakah kau yakin, tidak ingin aku antar?" Tanya Eiden dari dalam mobil, sambil menatap Karin dari dalam jendela mobilnya yang terbuka.


"Emm, aku ada sedikit urusan setelah ini. Kau pulang duluan saja." Ujar Karin.


Ada rasa cemas didalam hati Eiden, untuk meninggalkan Karin sendirian. Namun, Eiden tidak dapat memaksanya karena berkali-kali Karin berkata bahwa ada sedikit urusan.


"Baiklah kalau begitu. Segera kabari aku, jika terjadi sesuatu padamu. Kalau tidak, Dylan akan mencekik leherku." Ujar Eiden, sambil memberikan ekspresi melas saat memikirkan Dokter Dylan.


"Tenanglah." Sahut Karin.


Tidak lama kemudian, mobil Eiden pun perlahan beranjak pergi meninggalkan Karin. Lalu, Karin mulai memalingkan pandangannya dan melangkahkan kakinya menuju halte bus yang berada di seberang jalan.


Tak disangka, saat ia hendak menyeberang jalan. Tiba-tiba saja hujan turun dengan sangat lebat, sehingga ia tidak dapat segera menghindarinya.


Ia pun berlari dengan sangat cepat untuk menyebrang jalan, dan tergesa-gesa menuju ke halte bus.


Sesampainya di halte bus, terlihat ada seorang pria dari kejauhan yang berlari menuju halte itu. Seluruh baju yang Karin kenakan basah kuyup, sehingga membuat lekukan tubuhnya menjadi tembus pandang.


Kemudian, pria yang berlari itu tiba di halte yang saat ini menjadi tempat Karin berteduh. Tak disangka, pria itu langsung menatap ke arah Karin dengan tatapan mata yang sangat tajam.


"Sungguh tidak disangka, rupanya kita bertemu lagi. Karin." Ujar Pria itu.


"Mo-"


"Morgan." Sahut Karin tergagap, dengan ekspresi wajah yang sangat ketakutan.


Ternyata pria itu adalah Morgan, mantan kekasihnya.


Sontak saja, Morgan menghampiri Karin. Karin berusaha untuk pergi dari sana, akan tetapi Morgan bereaksi dengan sangat cepat. Ia pun menangkap lengan Karin yang hendak ingin berlari dari sana, ia juga menariknya dengan secara paksa.


"Le-"


"Lepaskan aku!" Teriak Karin, sambil memberontak.


"Hah? Melepaskanmu? Apa kau gila?" Tanya Morgan, sambil melihat tubuh Karin dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan aneh.


"Bajumu yang basah, membuat lekuk tubuhmu terlihat sangat jelas. Sungguh, Karin. Aku baru menyadari, bahwa tubuhmu sangat seksi sekali." Ujar Morgan, sambil menjulurkan lidah dan menggoreskan lidah itu pada bibir. Seraya ia merasakan kelezatan pada indra pengecapnya.


"Lepaskan aku!" Ujar Karin, menarik lengannya dengan paksa.


Namun, usahanya percuma saja. Morgan memiliki tenaga yang sangat kuat, sehingga Karin tidak dapat melepaskan genggaman tangan Morgan.


Kemudian, Morgan menarik lengan Karin agar lebih dekat dengannya. Lalu, ia memeluk Karin dari belakang.


"Tenanglah, sayangku. Aku tidak akan melukaimu. Justru aku akan memberikan kenikmatan padamu." Ujar Morgan, di telinga Karin.


Tanpa basa-basi, ia melayangkan kedua jemari tangannya sejajar dengan dada Karin. Tak disangka, jemari tangannya merobek sutra yang menutupi bagian dada Karin. Hingga, bra yang Karin kenakan terlihat dengan sangat jelas.


"Apa yang kau lakukan, dasar brengsek!" Ujar Karin, berusaha membalikkan badan dan menampar Morgan.


'Plaak!'


"Aww, kau menumbuhkan gairahku."


"Tak disangka, buah dadamu sangat besar. Kau benar-benar fantasiku." Ujar Morgan dengan tatapan mesum. Lalu, jemari tangannya melayang ke arah dada Karin layaknya ingin merampas sesuatu.


Tiba-tiba, dua tangan lain memegang buah dadanya dari arah belakang tubuhnya. Tangan-tangan itu, layaknya menutupi dada Karin yang sudah setengah telanjang karena sutra yang dirobek oleh Morgan sebelumnya.


Sontak Karin terkejut, Morgan juga terlihat sangat terkejut saat melihat ada kedua tangan yang mendahului jemari tangannya untuk memegang dada Karin.


"Sialan, siapa yang berani memegang barang milikku?" Ujar Morgan dengan sangat marah, ia memalingkan pandangannya kepada orang yang berada di belakang Karin.


Ternyata, orang itu adalah Leon.


"Kau-"


Dengan sangat cepat, Leon menarik tubuh Karin untuk menjauh dari hadapan Morgan. Kemudian, ia menutup tubuh Karin menggunakan jas yang ia kenakan. Lalu, ia memalingkan pandangannya ke arah Morgan.


"Dengar, Karin hanya milikku. Seluruh bagian yang ada di tubuhnya, juga hanya milikku."


"Hanya aku yang bisa menikmatinya, tidak ada orang lain yang bisa menikmatinya. Selain, aku." Ujar Leon dengan sangat tegas.


"Kurang ajar!" Gumam Morgan, dengan amarah yang sangat besar. Lalu, Morgan langsung melayangkan pukulan ke arah wajah Leon.


Tak disangka, pertahanan Leon terlihat sangat melemah. Sehingga, pukulan dari Morgan dapat mengenai wajahnya.


"Cih." Ujar Leon, meludah ke arah bawah. Terlihat ada sedikit darah yang keluar dari tepi bibirnya, akibat pukulan dari Morgan.


Namun, kekuatannya tetap tidak berubah. Ia langsung membalas pukulan Morgan, dengan bertubi-tubi. Hingga Morgan tergeletak di tanah dengan wajah yang babak belur.


"Berkali-kali sudah kuperingatkan. Kau tetap keras kepala, dan tetap saja mengganggu tunanganku. Sekali lagi kau mengganggunya, tak segan aku akan membunuhmu." Ujar Leon, memaki Morgan.


Morgan, langsung bergegas pergi dari sana meninggalkan Karin dan Leon.


Lalu, Leon memalingkan pandangannya ke arah Karin.


"Kemana Dokter yang layaknya seperti akan selalu menjagamu?" Tanya Leon dengan ketus.


"Tidak ada hubungannya denganmu." Sahut Karin, dengan lemah. Ia perlahan duduk pada kursi yang ada di halte bus itu.


"Leon, terima kasih banyak." Ujar Karin, sambil melihat ke arah bawah. Tidak berani menatap wajah Leon.


Tanpa basa-basi, Leon menggendong tubuh Karin di atas punggungnya.


"Eh, apa yang kau lakukan?" Tanya Karin, yang terkejut.


Leon tidak menghiraukan pertanyaan Karin, ia melangkahkan kakinya perlahan menuju mobilnya yang terparkir di seberang jalan.


"Hey, turunkan aku! Apa yang kau lakukan?" Teriak Karin, sambil memukul punggung Leon.


"Membawamu pulang."


"Jangan banyak mengoceh!" Sahut Leon, dengan ketus dan dingin.


Sesampainya di mobil, ia langsung memasukkan Karin pada kursi penumpang yang ada di sebelah kursi kemudi. Lalu, ia juga masuk kedalam kursi kemudinya.


Tanpa basa-basi, ia menancapkan gas mobilnya untuk beranjak pergi dari sana.


Selama dalam perjalanan, Leon melihat Karin seperti merasa kedinginan. Tanpa bertanya, ia langsung menyelimutinya dengan sebuah selimut yang ada didalam mobilnya itu.


"Bukalah bajumu yang basah itu, dan gunakan selimut ini. Kalau tidak, kau akan sakit." Ujar Leon.


Sontak Karin terkejut, ia melotot menatap ke arah wajah Leon.


"Apa kau sudah tidak waras? Aku melepaskan pakaianku dihadapanmu?" Tanya Karin.


"Ada apa? Hal itu bukan hanya terjadi sekali, jadi-"


"Hah? Apa maksudmu dengan kalimat 'bukan hanya terjadi sekali' itu?" Tanya Karin dengan heran.


"Ekhem, maksudku. Bukankah, kita juga sudah pernah melakukan hal intim. Jadi-"


"Sudahlah, jangan diungkit. Semua itu terjadi begitu saja, bahkan aku sudah berusaha melupakannya!." Sahut Karin dengan ketus.


Mendengar apa yang dikatakan Karin, membuat raut wajah Leon terlihat sangat marah. Lalu, ia menginjak pedal rem mobilnya secara tiba-tiba dan menarik rem tangannya dengan cepat. Hingga mobil itu, berhenti mendadak. Kemudian, ia juga memukul stir kemudinya dengan sangat keras.


Hal itu, membuat Karin merasa takut.


"A-apa yang terjadi?" Tanya Karin, dengan tergagap dan terbalut rasa ragu.


Leon memalingkan pandangannya ke arah Karin. Lalu, ia langsung menggenggam kedua bahu Karin. Kemudian, ia langsung mencium bibir Karin secara paksa.