
Sejak kepergian Nyonya Meilan dan Jean yang secara bersamaan, membuat Karin merasa sangat kesepian yang hanya berdiam diri di rumah utama milik keluarga Leon. Sudah 4 hari pula Leon tidak kembali ke rumah itu, Karin dengan rasa penasarannya memaksakan diri pada pagi ini untuk menemui Leon di Perusahaan.
"Hey kau, beraninya kau menelantarkan ku!" Ujar Karin saat memasuki ruangan Leon, Karin berjalan menghampiri Leon sambil melayangkan jari telunjuknya kearah wajah Leon. Leon terkejut melihat kedatangan Karin secara tiba-tiba.
"Hehe aku hanya bercanda, tidak ada hubungannya juga denganku kalau kau menelantarkan ku" Ujar Karin sambil tertawa saat tiba di hadapan Leon. Leon yang kala itu merasa tegang, langsung lega saat mengetahui bahwa Karin hanya bergurau.
"Ke-kenapa kau datang ke sini? Bukankah Dokter Nora menyuruhmu untuk beristirahat?" Tanya Leon.
"Eh, bahkan kau tahu Dokter Nora memeriksa ku ya?"
"Tentu saja, saat ibu pergi aku yang mengantarnya" Ujar Leon.
"Jadi begitu, teganya kalian tidak memberitahu aku" Sahut Karin.
"Sudahlah lupakan" Ujar Leon.
"Lalu, mengapa kau ke sini?" Tanya Leon.
"Aku merasa bosan hanya berdiam diri di rumah keluargamu, lagipula kaki ku sudah baik-baik saja. Aku juga teringat bahwa aku masih memiliki tanggung jawab pekerjaan pada perusahaan mu dan perusahaan tempatku bekerja, aku ingin segera kembali ke perusahaan tempat ku bekerja" Ujar Karin. Karin melangkah perlahan duduk di sofa ruangan itu.
Leon merasa sedikit kasihan dengan Karin, pasti ia memang merasa bosan hanya berdiam diri saja.
"Baiklah jika itu mau mu, aku akan meminta Sean menyiapkan ruangan kerja untukmu" Ujar Leon. Mendengar hal itu, Karin terlihat sangat bersemangat.
"Benarkah? Cepatlah, aku ingin menyelesaikannya mulai hari ini" Ujar Karin.
Kemudian, Leon menghubungi Sean dari telepon.
"Baik, beritahu aku jika sudah selesai" Ujar Leon dari dalam telepon kepada Sean.
"Aku sudah menghubungi Sean, kau bisa menemuinya" Ujar Leon kepada Karin.
"Sungguh?" Tanya Karin dengan penuh semangat.
"Hemm" Sahut Leon mengangguk. Karin langsung bergegas akan keluar ruangan Leon. Namun langkah kakinya terhenti di depan pintu, ia membalikkan tubuhnya dan kembali menghampiri Leon.
"Hey, ingatlah pada perjanjian kita. Kau harus menemukan kekasih dalam waktu satu bulan, aku ingin segera mengakhiri semua kebohongan ini. Aku terus merasa bersalah kepada Ibu" Ujar Karin. Leon terdiam sambil memandang kearah wajah Karin.
"Jangan menatapku seperti itu!"
"Baiklah, tenang saja"
"Bagus, aku akan membantumu mencarikan kekasih. Beritahu aku seperti apa wanita yang kau inginkan" Ujar Karin. Karin mengeluarkan buku catatan kecil dan pena dari dalam tasnya. Saat itu Karin siap untuk mencatat apa yang keluar dari mulut Leon tentang kriteria wanita idamannya. Namun, Leon hanya diam melamun.
"Ayo katakan!" Ujar Karin menyadarkan Leon dari lamunannya. Sontak Leon tersadar karena suara Karin yang begitu bising.
"Kriteria ku ya?" Sahut Leon. Leon terus memandangi Karin dengan tatapan kosong sambil perlahan mengucapkan kriteria wanita yang ia inginkan.
"Aku ingin wanita yang sederhana, yang ceria, lembut dan sangat perhatian. Aku menginginkan wanita yang bisa mandiri, hangat dan lugu. Tidak masalah jika ia sedikit ceroboh dan memiliki emosi yang tidak stabil, meski ia juga sering mengajakku bertengkar aku akan memahaminya" Ujar Leon secara amat perlahan, Karin sambil mencatatnya.
"Eh, sulitnya. Semua ini tentang sifat, bagaimana dengan penampilannya?" Tanya Karin.
"Penampilannya?" Tanya Leon.
"Hemm" Sahut Karin sambil mencatat.
"Eh, sangat sulit sekali. Di mana bisa menemukan wanita seperti ini? Wanita sekarang sangat elegan dan mewah, apa kau tidak menyukai wanita seperti itu?" Tanya Karin.
"Aku tidak menyukai wanita elegan dan mewah" Sahut Karin.
"Hemm, di mana bisa menemukan wanita yang sesuai kriteria mu ya?" Tanya Karin, sambil mengetuk dahinya menggunakan pena karena merasa bingung.
"Ada, wanita itu ada" Ujar Leon dengan tatapan kosong.
"Kau benar, pasti ada. Aku akan membantumu menemukannya. Baiklah, semua sudah ku catat. Aku akan seleksi secara perlahan" Ujar Karin. Karin memasukkan buku catatan dan penanya ke dalam tasnya.
"Baiklah, aku akan pergi menemui Sean untuk melihat ruang kerjaku" Ujar Karin dengan semangat. Lalu, Karin pergi meninggalkan Leon dengan wajah yang sangat ceria. Leon hanya dapat memandangi Karin dari belakang sambil tersenyum kecil.
Saat tiba di depan ruangan Sean, lagi-lagi Karin berpas-pasan dengan Maira. Hanya saja, Karin belum mengetahui bahwa itu adalah Maira yang di mana Maira adalah mantan kekasih Leon. Saat mereka berpas-pasan, mereka hanya saling tersenyum. Kemudian, Karin lanjut masuk ke dalam ruangan Sean dan Maira lanjut melangkahkan kakinya yang sudah pasti akan keruangan Leon.
"Eh, wanita itu sepertinya cocok dengan si bodoh" Gumam Karin sambil mengintip Maira dari dalam ruangan Sean.
"Karin, kau sedang menguntit siapa?" Tanya Sean yang ternyata sudah berdiri di belakangnya. Sontak Karin langsung terkejut.
"Aaaaah" Teriak Karin. Karin mendorong Sean dengan sangat keras. Hingga Sean terpental dan hidungnya terbentur meja hingga berdarah.
"Kau sangat kuat" Ujar Sean sambil memegang hidungnya yang keluar darah.
"Sean maafkan aku" Ujar Karin. Ia langsung membantu Sean mengobati luka di hidungnya.
"Diamlah, aku akan mengobati hidungmu" Ujar Karin. Setelah beberapa saat, Karin pun selesai mengobati hidung Sean.
"Nah, sudah selesai. Lihatlah" Ujar Karin memberikan cermin kepada Sean.
"Astaga" Ujar Sean. Terkejut. Ternyata Karin memberi plester bergambar Hello Kitty di hidung Sean.
"Sudahlah, itu sangat bagus di hidungmu" Ujar Karin sambil tertawa. Sean tidak bisa mengelak dari Karin, dan mengiyakan saja apa yang dikatakan Karin.
Setelah beberapa saat dari kejadian itu, Sean membawa Karin ke sebuah ruangan yang akan ia kenakan untuk bekerja. Selama berjalan di koridor perusahaan, Sean selalu ditertawakan oleh pegawai yang berpas-pasan dengan mereka karena melihat plester yang ada di hidung Sean.
"Lihatlah, semua orang menertawakan ku" Gumam Sean.
"Sudahlah, jangan mengeluh. Luka di hidungmu sangat parah jika plester itu di buka" Sahut Karin dengan ekspresi yang menyeramkan.
Kemudian, mereka melanjutkan langkah kaki mereka dan tiba pada ruangan yang mereka tuju.
"Baiklah, kita sudah sampai. Ini ruangan yang akan menjadi ruang kerjamu" Ujar Sean.
"Waaaah, ini luas sekali" Ujar Karin saat melihat ruangan itu. Karin langsung masuk ke dalam dan melihat-lihat sekeliling ruangan itu. Fasilitasnya telah tersedia lengkap di ruangan itu, sehingga Karin tidak membutuhkan apa-apa lagi. Karin duduk di kursi meja yang akan menjadi tempatnya bekerja.
"Rasanya nyaman sekali duduk di kursi ini" Ujar Karin dengan sangat senang.
"Baiklah, kau bisa menggunakannya. Aku harus kembali ke ruangan ku untuk menyelesaikan pekerjaanku" Ujar Sean.
"Baiklah, terima kasih Sean" Ujar Karin. Lalu, Sean meninggalkan Karin di ruangan itu. Sedangkan Karin lanjut melihat-lihat sekeliling untuk beradaptasi. Ia membuka gorden jendela ruangannya, terlihat pemandangan kota yang sangat indah dari luar jendela. Ia menjadi sangat bersemangat.
"Baiklah, ayo kita mulai" Ujarnya. Ia kembali duduk di kursinya dan mulai melakukan pekerjaannya.