
Keesokan harinya.
Karin datang ke Perusahaan lama, tempat ia bekerja. Ia menemui Presdir Chand untuk memberitahukan, bahwa tugasnya sudah selesai.
“Presdir Chand, penambahan syarat pada kontrak kerjasama dengan Perusahaan Leoparadise telah aku selesaikan dengan baik.”
“Terima kasih banyak, Karin.”
“Kemarin, Presdir Leon juga sudah memberikan kontrak kerjasama yang sudah ditandatangani.”
“Baguslah kalau begitu, tugasku sudah selesai.” Ujar Karin, bernafas lega.
“Bagaimana hubunganmu dengan Presdir Leon?” Tanya Presdir Chand dengan ekspresi yang menggoda Karin.
“Apa maksudmu?”
“Kau inikan sudah menjadi tunangannya, apakah kehidupanmu menjadi lebih baik?”
Pertanyaan yang diajukan Presdir Chand, membuat Karin mengingat kembali apa yang telah terjadi. Semua semakin terasa buruk, ia juga merasa jika jarak diantara dirinya dan Leon semakin merenggang.
Namun, ia merasa semua sesuai rencananya pada kontrak yang telah disepakati bersama Leon.
“Entah apa yang ia lakukan bersama Maira.” Gumamnya dalam hati.
“Ah, untuk apa aku memikirkannya? Aku tidak perlu mempedulikan mereka. Bukankah hal itu bagus, agar aku segera terlepas dari si brengsek itu.” Ujarnya dalam hati, sambil mengerucutkan bibirnya.
“Hey, apa yang kau pikirkan?” Tanya Presdir Chand, yang merasa heran dengan ekspresi Karin.
“Hah?”
“A-ah, ti-tidak.” Sahut Karin tergagap, sambil menyengirkan giginya dan menggaruk kepalanya.
Setelah perbincangan antara dirinya dan Presdir Chand usai, Karin bergegas keluar dari Perusahaan untuk melanjutkan langkah kakinya menuju tempat yang ingin ia kunjungi selanjutnya.
Kini, ia berdiri di tepi jalan menunggu bus yang mengarah ke tempat tujuannya tiba. Tak disangka, ia tak sengaja melihat Leon dan Maira.
Mereka berada di seberang jalan, baru saja keluar dari sebuah butik dan hendak melangkah menghampiri mobil mewah Leon yang terparkir ditepi jalan.
Ia juga melihat, bahwa mereka terlihat sangat mesra dan juga serasi. Leon pun juga memperlakukan Maira dengan sangat perhatian, bahkan terlihat jika ia memperlakukan Maira selayaknya seorang ratu.
Tak lama kemudian, bus yang Karin tunggu telah tiba. Ia langsung memalingkan pandangannya dari Leon dan Maira, untuk bergegas masuk kedalam bus.
Sambil duduk di kursi penumpang yang ada di dalam bus, matanya tidak pernah berlari dari pandangan kepada Leon dan Maira. Lalu, perlahan bus yang ia naiki perlahan bergerak.
“Dengan begini, aku tidak akan menikahi pria itu.” Ujarnya dalam hati, sambil berkacak pinggang dan tersenyum.
...----------------...
Beberapa saat kemudian, Karin tiba di sebuah tempat yang terlihat seperti studio yang sangat besar.
Perlahan ia melangkahkan kedua kakinya, untuk masuk kedalam tempat itu.
“Hey Karin.”
“Kak Eiden, maaf aku terlambat.” Sahut Karin, sambil membungkukkan tubuhnya di hadapan Eiden.
“Tidak apa, aku juga baru saja tiba.” Sahut Eiden dengan santai.
Ternyata, Karin pergi ke tempat kerja Eiden sang fotografer. Mengingat hari ini, adalah hari di mana kerjasama antara mereka akan dimulai.
“Karin.”
“Loh? Dokter Dylan, mengapa kau juga di sini?” Tanya Karin, yang sontak terkejut melihat kehadiran Dokter Dylan di sana.
“Untuk memberimu batasan dan mengontrol kesehatanmu.” Sahut Dokter Dylan.
“Hey, apa-apaan kalian? Bikin suasana menjadi sangat buruk saja.” Celetuk Eiden, yang merasa aroma kehampaan pada suasana saat itu.
“Hey Karin, bukankah caramu memanggil Dylan terdengar sangat formal?” Tanya Eiden, dengan terheran.
“Eh?” Gumam Karin, melebarkan kedua matanya menatap Eiden.
“Apa yang kau kat-“ Ujar Dokter Dylan.
“Ssssstttt. Kau sangat berisik.” Sahut Eiden, memotong kalimat Dokter Dylan.
“A-ah, tidak.. tidak.”
“Aku sudah terbiasa memanggilnya Dokter Dylan.”
“Hemm. Lagipula, ini adalah di luar lingkungan rumah sakit. Tidak ada salahnya kan?”
“Eh?” Gumam Karin dengan mata yang melotot, tak bisa menggerakan seluruh tubuhnya. Hanya salivanya yang dapat bergerak, seraya menahan kecemasan dan rasa tidak enak kepada Dokter Dylan.
Sementara itu, Dokter Dylan merasa bahwa suasana malah semakin menegang.
“Sudahlah, lupakan saja. Kalian malah terlihat seperti orang bodoh.” Ujar Eiden, menghela nafas seraya berniat menyerah.
“Ayo Karin, ikutlah denganku.” Ujar Eiden, ua mengambil pergelangan tangan Karin dan menuntunnya masuk kedalam studio itu. Lalu, Dokter Dylan mengikuti mereka dari belakang.
Mereka melewati koridor yang ada di dalam studio itu, terlihat banyak sekali ruangan yang berhadapan diantara koridor itu.
Beberapa saat kemudian, tibalah mereka pada sebuah ruangan. Lalu, Eiden langsung membawa Karin masuk kedalam ruangan itu.
“Waaaah. Cantiknya.” Ujar Karin yang merasa terkejut, saat melihat apa yang ada di dalam ruangan itu.
Terlihat sebuah ruangan yang sangat elegan yang memiliki lemari besar berisikan kostum-kostum mewah, untuk dipakai sang model saat pemotretan. Di sana juga terdapat beberapa wanita cantik, yang berprofesi sebagai penata rias sang model. Terdapat pula banyak meja rias yang sangat besar dan elegan, dengan berhadapan dengan cermin besar untuk sang model bercermin melihat hasil karya dari para penata rias.
“Ema, ini adalah Karin. Ia yang akan menjadi model, untuk projectku kali ini.” Ujar Eiden kepada salah satu penata rias yang ada di sana.
“Wah, perfect girl.” Sahut Ema, yang langsung menghampiri Karin dan mengelilingi Karin untuk melihat tubuh Karin dari segala sisi.
“Tolong rias Karin, untuk tema pemotretan yang pertama.” Ujar Eiden, sambil berkacak pinggang. Terlihat ekspresi sombong yang terpampang di wajah Eiden, saat Ema mengatakan Karin sebagai perfect girl.
“Serahkan saja padaku, aku akan menunjukkan hasil karyaku.” Sahut Ema.
Kemudian, Eiden membawa Dokter Dylan keluar dari ruangan itu. Bersamaan dengan itu, Ema membawa Karin pada kursi di meja rias.
“Baiklah, Karin. Tenang saja, aku akan mengubah penampilanmu menjadi layaknya seorang wanita yang elegan.” Ujar Ema. Lalu, Ema dan para penata rias yang lain mulai melakukan pekerjaan mereka.
...----------------...
Beberapa lama kemudian, Ema dan penata rias yang lain selesai merias Karin. Lalu, ia membawa Karin keluar dari dalam ruangan untuk menuju ke ruang pemotretan.
Saat tiba di ruang pemotretan,
“Eiden, lihatlah.” Ujar Ema, sambil menunjukkan Karin.
Sontak saja, Eiden dan Dokter Dylan sangat terkejut melihat penampilan Karin yang sangat menawan saat ini.
Berdandan seraya wanita elegan dengan warna lipstik merah muda yang merona, rambut yang terurai dan ikal bergelombang. Ditambah perpaduan, gaun hitam manik berkilau. Hanya di kaitkan dengan dua tali, yang melingkar dan mengikat di pundaknya sebagai penopang gaun itu. Sehingga bahu dan lengannya, terlihat sangat jelas keindahannya. Selain itu, terdapat beberapa perhiasan yang melingkar di leher, tangan dan juga telinganya. Sebagai penghias tubuh, dan untuk memperkuat penampilan elegannya.
“Sangat cantik.” Ujar Eiden, yang melotot tak menyangka bahwa Karin sangat cantik saat berdandan.
“Benarkan, Dylan?” Tanya Eiden kepada Dokter Dylan.
Akan tetapi, Dokter Dylan masih terpana melihat Karin yang saat ini sangat amat cantik. Pandangan matanya tidak berpaling sedikitpun dari Karin, bahkan kelopak matanya seraya tak rela berkedip untuk melewatkan kecantikan Karin saat ini walau hanya untuk sedetik saja.
“Hey, sudahlah. Jangan terus menatapnya seperti itu, Bodoh.” Ujar Eiden, memukul bahu Dokter Dylan. Agar ia tersadar dari lamunannya.
“Hah?” Sontak Dokter Dylan terkejut. Dirinya tergagap, dan gugup.
“Ya ampun, apa kau tidak mendengarkanku?”
“Lihatlah, bukankah Karin terlihat sangat cantik?” Tanya Eiden, memegang kedua pipi Dokter Dylan mengarahkan wajah dan matanya melihat ke arah Karin.
“A-ah, ya. Cantik.” Sahut Dokter Dylan tergagap.
“Sungguh?” Tanya Karin, dengan ekspresi semangat sambil berlari menghampiri Eiden dan Dokter Dylan.
“Sangat cantik, Karin.” Ujar Eiden, perlahan melepaskan tangannya dari kedua pipi Dokter Dylan dan berdiri di hadapan Karin.
“Syukurlah, kalau kau berkata seperti itu. Aku merasa, sedikit ragu pada diriku sendiri sebelumnya.” Ujar Karin, sambil menundukkan kepalanya.
“Hey, kau harus mempercayai dirimu sendiri.” Ujar Eiden, menyemangati Karin.
“Ayo, kita lakukan pemotretannya. Tema yang pertama ini, adalah Wanita Cantik dan Elegan di Tempat yang Sederhana.” Ujar Eiden, dengan rasa semangat.
Lalu, tanpa basa-basi lagi. Eiden membawa Karin ke tengah-tengah tempat pemotretan.