Fall In Love With Mr. Leon

Fall In Love With Mr. Leon
Hasil dari kebodohanku



Sementara itu, Karin berjalan kaki seorang diri menuju ke arah rumah yang ditinggali oleh dirinya dan juga sahabatnya. Yaitu, Jean.


Dalam perjalanan menuju rumah, Karin termenung dan mengingat apa yang dia lakukan semalam.


"Apa yang sudah kau lakukan, Karin?" Tanyanya pada diri sendiri.


"Kau begitu bodoh, dan sangat menjijikan! Kau menjaga kehormatanmu itu seumur hidupmu ini, hanya untuk diberikan pada pria asing yang bahkan tidak kau kenal sama sekali. Bahkan, pria yang tidak pernah menjadi kekasihmu! Dasar bodoh!" Gumamnya, sambil memukul-mukul kepalanya sendiri.


Setelah menghabiskan beberapa waktu dalam perjalanan, Karin tiba di depan rumah.


Saat itu, Jean duduk di teras rumah dengan ekspresi cemas. Saat ia melihat Karin di depan rumah, sontak ia segera berlari ke arah Karin dan memeluknya sambil menangis.


"Bodoh! kemana saja kau semalam? Aku mencari dirimu, ke seluruh ruangan di klub! Aku juga sudah menghubungi polisi, untuk mencarimu!" Ujar Jean memeluk erat Karin, Karin ikut menangis, dalam pelukan Jean.


"Aku berkali-kali menghubungi ponselmu, aku sangat mengkhawatirkanmu, bodoh!"


"Maafkan aku, Jean. Ponselku kehabisan baterai. Sehingga, aku juga tidak dapat memberi kabar kepadamu." Sahut Karin, sambil menangis dalam pelukan Jean.


"Aku sangat lega, saat melihatmu baik-baik saja. Ayo masuk kedalam, ceritakan apa saja yang terjadi padamu semalam. Sampai tiba-tiba, kau menghilang begitu saja." Ujar Jean, melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu Karin.


Kemudian, ia membawa Karin masuk kedalam kamar mereka.


Karin dan Jean duduk di ranjang kamar mereka, Karin menundukkan kepalanya sambil menangis.


Melihat ekspresi Karin, yang seperti itu. membuatnya merasa, jika ada yang salah pada Karin. Tanpa basa-basi, ia mengajukan pertanyaan kepada Karin.


"Karin, apa yang terjadi padamu?" Tanyanya, sambil memegang kedua bahu Karin.


Mereka duduk di tepi ranjang, dengan saling berhadapan. Namun, Karin tetap menundukkan kepalanya karena merasa malu untuk menunjukkan wajahnya kepada Jean.


Perlahan Jean mengangkat dagu Karin, menggunakan telapak tangan kanannya. Karin menatap wajahnya, dengan ekspresi yang terlihat sangat tertekan dan memilukan.


Melihat ekspresi wajah Karin yang seperti itu. Sontak saja, Jean langsung memeluknya dengan sangat erat.


"Apapun itu. Ceritakan saja padaku, Karin." Ujar Jean, saat memeluknya.


Tangisan Karin semakin pecah, dalam pelukan Jean. Ia langsung membalas pelukan Jean, dengan sangat erat.


Perlahan Karin menceritakan, tentang apa yang terjadi padanya semalam.


"Aku melihat Morgan semalam di klub bersama wanita lain, bahkan aku melihatnya melakukan hal gila bersama wanita itu di sebuah ruangan klub yang terpampang papan Party Hot. Aku melihatnya bercumbu, dengan wanita itu! Rasanya sangat menyakitkan, Jean." Ujarnya. Saat ia mulai menceritakan tentang apa yang ia lihat dari kekasihnya, Morgan.


Jean terkejut mendengar cerita Karin, ia memeluk Karin dengan semakin erat. Ia pun ikut merasakan, kepedihan di hati Karin.


"Tidak hanya itu, Jean. Morgan juga menghinaku dan mengatakan hal buruk."


"Ia bilang kalau aku jelek, pelacur, dan tidak bisa memberi kepuasan seperti wanita yang bersamanya semalam. Aku sangat dipermalukan, olehnya." Ujar Karin, melanjutkan ceritanya.


"Aku sudah menduga, jika Morgan itu adalah pria yang brengsek! Pantasnya dia mati, dan hilang ditelan bumi." Ujar Jean yang emosi, hingga ia menggerutu tentang Morgan.


"Jean, terima kasih karena telah menyadarkan ku tentang Morgan. Maaf, karena sebelumnya aku tidak mempercayaimu." Ujar Karin, perlahan melepaskan pelukannya agar ia dapat berbicara di hadapan wajah Jean.


Ekspresinya terlihat sangat sedih dan juga tertekan, Jean merasa tak tega melihat ekspresi Karin yang memilukan itu.


"Aku tidak ingin kau menyia-nyiakan waktumu lagi, hanya untuk pria brengsek seperti Morgan, Karin." Ujarnya, yang kembali memeluk Karin.


Namun di saat yang bersamaan, tiba-tiba Jean teringat saat Karin menghilang semalam. Ia melepaskan pelukannya, dengan mengarahkan kedua tangannya memegang kedua bahu Karin untuk menatap ke arah wajah Karin.


Lalu, sontak ia juga langsung mengajukan beberapa pertanyaan kepada Karin.


"Tunggu dulu, semalam kau melawan Morgan sendirian. Apakah dia melukaimu, Karin? Lalu, semalam kau ke mana saja dan mengapa tidak pulang?" Tanyanya, dengan alis mata yang menaik.


"Aku tidak sendirian, saat itu. Kemudian, aku juga sempat salah mengenali orang. Sebelumnya kukira, aku sudah kembali bersamamu." Ujar Karin, dengan tangan yang gemetar.


"Lalu, aku menarik tangan orang asing yang kukira itu dirimu untuk kembali menemui Morgan dan menamparnya. Setelah, aku berhasil menampar Morgan. Tiba-tiba, Morgan hendak ingin menamparku kembali."


"Namun, orang asing itu melindungiku. Dia juga yang melindungiku, saat aku akan dilecehkan oleh beberapa pria di dalam klub setelah selesai bertengkar dengan Morgan." Ujar Karin, menceritakan kejadian yang ia alami.


"Dia seorang wanita, atau pria?" Tanya Jean, dengan ekspresi penasaran.


"D-Dia, seorang pria." Jawab Karin, dengan tergagap.


"Apakah kau bersama dengannya, sepanjang malam? Apakah dia melukaimu?" Jean kembali bertanya.


Karin menundukkan kepala, dengan ekspresi yang terlihat sangat murung.


"Ka-kau yang melukainya? Apa maksudmu, Karin?" Tanya Jean lagi, kepada sahabatnya itu.


"Jean, aku sungguh bodoh. Semalam aku terbawa rasa kebencian, dan meminum banyak sekali alkohol. Dia sama sekali tidak berniat melecehkan diriku, ia membawaku ke apartemen agar aku bisa istirahat."


"Mungkin ia tidak bisa mengantarkan aku pulang, karena tidak tahu di mana aku tinggal."


"Saat itu, aku memaksanya melakukan hal itu. Aku yang memaksanya, Jean! Betapa sangat bodohnya aku, memberikan Keperawananku pada pria asing. Aku terbawa pada kebencian atas penghinaan dari Morgan!" Ujar Karin, sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Karin menangis, dan merasa sangat menyesal.


Mendengar pengakuan Karin, membuat Jean sangat terkejut. Jean memeluk erat Karin, dan kembali ikut menangis bersama Karin.


"Karin, ini bukan sepenuhnya salahmu."


"Aku juga bersalah, karena meninggalkanmu sendiri. Aku tidak ada saat Morgan menghinamu, semalam aku juga tidak dapat menemukanmu. Ditambah lagi, karena penghinaan dari pria keparat seperti Morgan yang telah menghinamu yang mendesak dirimu hingga kau kehilangan pikiran jernihmu."


"Maafkan aku, Karin. Maaf aku tidak bisa menjadi sahabat yang baik, yang bisa melindungimu saat itu." Ujar Jean, sambil menangis karena merasa bersalah kepada Karin.


"Aku sudah kehilangan segalanya, Jean."


"Ibarat sudah jatuh dari tangga, dan ditambah tertimpa tangga itu."


"Aku merasa jijik dengan diriku saat ini, aku sudah tidak pantas untuk pria manapun saat ini, inii salahku sepenuhnya." Ucap Karin, sambil memukul kepala.


Melihat hal itu, Jean melepaskan pelukannya. Sontak ia memegang kedua bahu Karin, dan menatap wajah Karin. Namun, Karin tetap memukul kepalanya sendiri secara berulang-ulang.


"Apa yang kau lakukan, Karin?"


Jean berusaha menenangkan Karin, ia menggenggam erat kedua pergelangan tangan Karin. Ia berusaha menghentikan reaksi tangan Karin, yang memukul kepalanya sendiri.


Jean kembali memeluk erat Karin dan berkata, "Tidak apa, Karin. Semuanya, akan baik-baik saja."


"Aku juga bersalah, atas yang terjadi padamu. Maafkan aku, Karin. Aku tidak bisa menjagamu, dengan baik."


Karin hanya terus menangis, menyesali kebodohannya.


Setelah beberapa saat, Jean perlahan melepaskan pelukannya. Ia memegang kedua bahu Karin dan melayangkan kedua tangannya, untuk menyentuk kedua pipi Karin. kemudian, secara perlahan. Ia menghapus air mata yang jatuh di pipi Karin, menggunakan ibu jarinya.


"Sekarang lebih baik kau mandi dulu, seluruh tubuhmu tercium bau alkohol."


"Aku akan menyiapkan sarapan untukmu."


"Tenangkan dirimu, Karin. Semuanya, akan baik-baik saja" Ujar Jean.


Kemudian, ia bergegas membawa Karin ke kamar mandi.


Setelah Karin masuk ke dalam kamar mandi, kembali Karin menangis. Lalu, ia membuka air shower dan berdiri di bawah kucuran air shower, agar air shower itu mengalir ke seluruh tubuhnya dan membasahi seluruh tubuhnya.


Kemudian, perlahan Karin menekukkan kedua kakinya di bawah kucuran air shower. Ia pun kembali menangis sangat kencang, sambil memeluk kedua lututnya. Ia merasa, betapa menjijikkan dirinya saat ini.


Suara tangisannya terdengar sangat keras, hingga luar pintu kamar mandi. Jean yang mendengar suara tangisannya dari luar pintu kamar mandi, merasakan penderitaan yang dialami olehnya.


Jean duduk di lantai, menyandarkan punggungnya pada dinding di sebelah kamar mandi. Ia menangis histeris, sambil membekap mulutnya agar tidak diketahui Karin.


Jean juga menampari wajahnya sendiri, ia merasa jika dirinya tidak berguna menjadi seorang sahabat sekaligus kakak seorang untuk Karin. Ia juga merasa, jika apa yang telah dialami Karin adalah kesalahannya karena tidak berusaha keras menjaga Karin semalam. Ia sangat merasa terpukul, saat mendengar suara tangis penderitaan Karin dari dalam kamar mandi itu.


Jean merasa tidak bisa menepati janjinya kepada mendiang kedua orangtua Karin, yang di mana sebelum kedua orangtua Karin meninggal pernah berpesan padanya.


"Jean, Karin akan hidup seorang diri. Hanya kau yang Karin miliki, kami titipkan Karin padamu. Bisakah kau anggap ia seperti adik kandung mu? Dia sedikit ceroboh dan bodoh, tolong bimbing ia dan marahi saja kalau dia nakal. Marahi dia seperti kau memarahi adikmu sendiri" Ujar kedua orangtua Karin sebelum meninggal, pada 12 Tahun silam.


"Jangan mengkhawatirkannya, aku berjanji akan menjaga dan melindunginya. Seperti, adikku sendiri. Aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi, pada Karin." Janji yang ia ucapkan, kepada mendiang kedua orangtua Karin saat itu.


Jean dan Karin telah bersahabat sejak usia mereka masih 5 tahun. Para orangtua mereka bersahabat dekat, serta menjadi kolega dalam dunia bisnis. Mereka berdua sama-sama anak tunggal dan kedua orangtua mereka sama-sama telah meninggal dunia, dengan jarak waktu yang berdekatan.


Sejak saat itu, mereka berjanji untuk saling menjaga seperti seorang kakak dan adik.


Itulah yang membuat Jean sangat merasa bersalah dan menganggap dirinya bodoh, karena, membiarkan Karin merasakan penderitaan ini.


Dari luar kamar mandi, Jean menangis dan terus memukul wajah dan kepalanya menyesali kelalaiannya saat ini. Karena ini pertama kalinya, ia melakukan kelalaian yang sangat fatal untuk Karin.


Dari dalam kamar mandi, Karin juga terus menangis di bawah kucuran air shower. Hingga, berjam-jam lamanya.