
“Bagus Karin.”
‘Cekrek..’
‘Cekrek..’
‘Cekrek..’
Terdengar suara potret dari kamera digital, yang kini ada di tangan Eiden.
“Cut.” Ujar Eiden, sambil memberikan isyarat kepada Karin yang bergaya di tengah panggung pemotretan.
“Kita istirahat dulu ya, setelah itu lanjut untuk kostum kedua.” Ujar Eiden pada seluruh kru.
Dokter Dylan menghampiri Karin dengan membawa sebotol air mineral.
“Fiuh.” Gumam Karin, menghela nafas.
“Apa kau merasa lelah?” Tanya Dokter Dylan, sambil memberikan sebotol air mineral kepada Karin.
Karin mengambil botol air mineral itu. Kemudian ia meminumnya, sambil menjawab pertanyaan dari Dokter Dylan. “Tidak, ini hanya terasa sangat sulit. Tapi-“
“Ini sangat menyenangkan.” Lanjut Karin, sambil tersenyum setelah meminum air mineral.
Eiden melihat ke arah Karin sambil tersenyum. Lalu, ia memanggil Karin untuk melihat hasil potonya.
“Karin, kemarilah.”
Karin dan Dokter Dylan memalingkan pandangan ke arah Eiden, lalu mereka melangkah secara perlahan menghampiri Eiden.
“Lihatlah, terlihat sangat sempurna.” Ujar Eiden menunjukkan kameranya kepada mereka berdua.
“Kurasa, kau sangat cocok menjadi seorang model.” Ujar Eiden, sambil menunjukkan hasil poto Karin yang lain.
“Idih.” Gumam Karin, mengeluarkan ekspresi jijik.
Sontak Eiden dan Dokter Dylan merasa heran.
“Kak Eiden, aku merasa seperti patung.” Ujarnya kepada Eiden.
“Hah?”
“Lihatlah, aku tidak bisa bergaya dengan benar. Tampangku terlihat sangat kaku, bukankah itu terlihat buruk?” Tanyanya yang merasa insecure.
“Dan lihatlah yang ini, terlihat seperti mayat hidup. Astaga, aku sangat jelek sekali.” Ujarnya lagi, sambil mengerutkan wajah dan mengerucutkan bibirnya.
“Hahaha.” Eiden tertawa.
“Ehem.” Gumam Dokter Dylan menahan tawa.
Karin melihat ke arah mereka berdua, sambil berkacak pinggang.
“Tuhkan, kalian tertawa.”
“Gadis bodoh, tema pertama pada kostum ini adalah wanita elegan. Menurutku, gaya dan ekspresimu sangat cocok.” Ujar Eiden.
“Makanya sejak tadi aku tidak mengarahkanmu untuk bergaya, aku menyesuaikan kostum dengan gaya.”
“Tenanglah, aku akan mengarahkanmu bergaya sesuai dengan kostum.” Ujar Eiden, mencoba untuk menenangkan Karin.
“Eh, jadi seperti itu ya?” Tanya Karin, yang baru saja memahami bahwa gaya dalam pemotretan juga disesuaikan dengan kostum yang sedang digunakan.
“Tentu saja. Percayalah padaku.” Sahut Eiden.
Di saat yang bersamaan, tiba-tiba ponsel Dokter Dylan berbunyi.
‘Kriing.. Kriing’
Bergegas ia mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya, lalu ia segera menjawab panggilan itu.
“Aku permisi sebentar.” Ujarnya kepada Karin dan Eiden, sambil menempelkan ponsel di telinganya.
“Emm.” Sahut Eiden dan Karin, sambil mengangguk.
Lalu, Dokter Dylan melangkah perlahan menjauhi mereka berdua untuk berbicara dengan orang yang menelponnya. Sementara itu, Karin dan Eiden terlihat sedang berbincang sambil melihat hasil poto yang lainnya.
“Hallo, ada apa?” Ujar Dokter Dylan, saat mengangkat telepon.
‘........’
“Baiklah, aku mengerti. Aku akan segera ke sana.” Sahut Dokter Dylan.
Setelah itu, ia menutup panggilan telepon dan kembali menghampiri mereka berdua.
“Karin, Kak Eiden. Aku harus segera ke rumah sakit.” Ujarnya dengan ekspresi cemas.
“Baiklah, kau harus segera pergi ke rumah sakit.” Ujar Eiden.
“Kak, tolong jaga Karin.”
“Dokter Dylan, tenanglah. Aku akan baik-baik saja, kau pergilah.” Sahut Karin.
Kemudian, dengan tergesa-gesa Dokter Dylan langsung meninggalkan mereka untuk pergi ke rumah sakit.
...----------------...
Beberapa saat setelah beristirahat, Karin dan Eiden melanjutkan pemotretannya. Penata rias langsung membawa Karin untuk berganti kostum dan makeup. Lalu setelahnya, Karin kembali ke ruang pemotretan.
“Sungguh, kau memang terlihat sangat cantik dan pas untuk menjadi seorang model.” Ujar Eiden, saat melihat penampilan Karin yang kedua.
“Kak Eiden, kau membuatku malu.” Sahut Karin.
Setelah berbincang, Eiden langsung membawa Karin ke panggung pemotretan.
“Baiklah, Kak Eiden. Mohon bantuannya.” Sahut Karin.
Lalu, Eiden membantu Karin untuk bergaya pada kostum kedua ini di depan kamera.
‘Cekrek..’
‘Cekrek..’
“Bagus Karin. Ganti gayamu, selayaknya kau sedang menghirup udara pagi. Sambil berdongak sedikit ke atas. Jangan lupa untuk pejamkan matamu.”
Karin mengikuti arahan dari Eiden. Ia mendongakkan sedikit kepalanya, sambil memejamkan mata dan layaknya sedang menghirup udara. Lengan kanannya sedikit melayang, dan jemari tangannya seraya ingin menggapai cahaya.
“Bagus, sempurna. Pertahankan seperti itu.”
‘Cekrek..’
‘Cekrek..’
“Ganti lagi, layaknya kau sedang mengambil aba-aba ingin menari. Lalu, hempaskan gaunmu secara perlahan.” Ujar Eiden.
Karin mulai memahami apa yang di arahkan oleh Eiden, ia pun semakin luwes untuk bergaya di depan kamera.
“Bagus.”
Suasana pemotretan semakin terasa hidup, dengan Karin yang mulai mahir dalam bergaya. Eiden juga merasa, bahwa Karin mulai mendalami situasi dan suasana pemotretan.
Setelah beberapa kali mengambil poto, Eiden memberitahu untuk lanjut pada kostum ketiga.
“Baiklah, ganti kostum.”
Bergegas para perias membawa Karin untuk mengganti kostumnya.
...----------------...
Kostum ketiga, membuat Karin harus dapat membawa dirinya pada sosok wanita yang seksi.
“Kak Eiden, kostum ini terasa sangat feminim dan mencekik seluruh tubuhku. Aku merasa tidak percaya diri.” Ujar Karin, dengan ekspresi ragu.
“Kau benar, gaunnya terlalu pendek.” Sahut Eiden, sambil berkacak pinggang. Ia memikirkan ide untuk memecahkan kecemasan Karin.
Memang benar permintaan klien pada kostum ketiga ini adalah tema wanita seksi, namun ia juga mengerti perasaan Karin yang belum terbiasa bersolek di depan kamera dengan pakaian feminim.
“Aha, aku punya ide.” Ujar Eiden, sambil berekspresi sumringah.
Lalu, ia bergegas meninggalkan Karin menuju ruang penata rias.
Setelah beberapa lama, ia kembali dengan membawa secarik kain renda berwarna hitam.
“Eiden, aku rasa ini tidak sesuai dengan permintaan klien.” Ujar salah satu kru yang ada di sana.
“Tenanglah, aku tidak akan merubah temanya. Hanya memberi sedikit hiasan.” Sahutnya. Lalu, ia menghampiri Karin dan melilitkan kain itu di pinggul Karin.
“Apa begini tidak apa-apa?” Tanya Eiden.
“Emm, aku rasa jauh lebih baik.” Sahut Karin menganggukkan kepala.
“Baguslah kalau begitu, lakukan pemotretannya dengan kau duduk di kursi ini. Agar tidak terlalu terlihat pada bagian kakimu.” Ujar Eiden.
“Eh, apakah tidak apa? Bagaimana jika klienmu komplain?” Tanya Karin.
“Percayalah padaku.” Sahut Eiden sambil tersenyum.
Mereka langsung melanjutkan pemotretan pada kostum ketiga, dengan sesuai pengarahan dari Eiden.
Semua berjalan lancar pada pemotretan kostum itu, meskipun Karin melihat bahwa ada sedikit kecemasan di wajah Eiden.
Setelahnya, mereka lanjut pada pemotretan dengan menggunakan kostum terakhir.
“Baiklah ini kostum yang terakhir pada tema pertama ini, setelahnya kita akan lanjut pada tema kedua di esok harinya.” Ujar Eiden.
Tanpa menunda waktu lagi, mereka melanjutkan pemotretan pada kostum terakhir itu. Agar pemotretan di hari itu cepat selesai.
...----------------...
Setelah selesai pada pemotretan yang terakhir, Karin bergegas mengganti pakaiannya.
Karin terlihat sangat menikmati percobaan karirnya yang baru ini, terlihat rasa bahagia yang terpancar di wajahnya.
“Terima kasih banyak atas bantuannya, Karin.” Ujar Eiden.
“Harusnya aku yang berterima kasih, karena kau telah memberiku kesempatan menjadi seorang model amatir.” Sahut Karin, sambil tersenyum.
“Haha, kau bisa saja.”
“Apa kau merasa lelah?”
“Tidak, ini sangat menyenangkan.”
“Syukurlah kalau kau merasa seperti itu.”
“Oh ya, aku akan mentraktirmu makan malam. Sebagai tanda terima kasihku, karena kau bersedia menjadi modelku.”
“Ah tidak perlu.” Sahut Karin untuk menolak tawaran Eiden, karena ia merasa akan merepotkan Eiden. Namun, perutnya tidak dapat diajak kompromi.
‘Krucuk.. Krucuk..’ Bunyi suara jeritan cacing dari lambungnya. Sontak ia langsung memegang perutnya, sambil memberikan ekspresi malu kepada Eiden.
“Haha, sudahlah. Jangan menolak.” Ujar Eiden, sambil tertawa lebar.
Lalu, mereka bergegas masuk kedalam mobil Eiden dan meninggalkan studio pemotretan untuk mencari restoran yang ada di dekat sana.