
"Sungguh kejamnya mereka." Ujar Karin, ia berkacak pinggang menatap Eiden dengan sangat serius.
"Aku tidak merasa seperti itu. Dulu, rumah sakit Landy's Health ini sangat kecil. Memang benar peralatan untuk melakukan operasi tidak lengkap, ditambah lagi anggota kedokteran yang bekerja di sini sangat sedikit." Ujar Eiden, menjelaskan kondisi rumah sakit saat dulu.
"Eh, benarkah begitu?" Tanya Karin, melebarkan kedua matanya.
"Hemm." Eiden mengangguk.
"Saat berlangsungnya operasiku, Dylan membutuhkan waktu 10 jam lamanya."
"Akan tetapi, operasi itu berhasil. Dylan menyelamatkan hidupku." Ujar Eiden, sambil tersenyum.
"Aku sudah menduganya, Dokter Dylan sangat hebat. Ia pasti akan berjuang keras." Sahut Karin dengan ekspresi yang sangat lega.
"Kau benar, Ia tidak ingin kejadian sebelumnya terulang." Sahut Eiden. Karin melihat ke arah matanya yang berbinar, ia memahami bahwa Eiden sedang merasakan kepedihan atas kenangan menyakitkan itu.
"Sudahlah, yang penting saat ini aku merasa bangga pada adikku itu. Selain menjadi seorang dokter yang hebat, ia juga dapat membeli rumah sakit ini dengan bertujuan untuk mengembangkan rumah sakit ini." Ujar Eiden, dengan wajah yang sumringah.
"Eh. Jadi, rumah sakit ini milik Dokter Dylan?" Tanya Karin dengan sangat terkejut.
"Tentu saja, apakah Dylan tidak mengatakannya kepadamu?" Tanya Eiden.
"Tidak." Sahut Karin menggelengkan kepalanya.
"Ah tentu saja begitu, ia bukan orang yang banyak bicara sepertiku." Gumam Eiden, sambil tertawa.
Sejenak mereka berhenti berbincang dan memandang ke arah luar jendela, untuk beberapa saat.
"Eh, kau belum sarapan kan? Bagaimana jika kita ke kantin untuk sarapan?" Ajakan Eiden kepada Karin, yang menawarkan untuk sarapan bersama.
"Kau benar, Ayo." Ujar Karin, yang ternyata ia sudah melangkahkan kakinya hingga ke pintu.
Melihat hal itu, sontak Eiden terkejut dan tertawa. Tidak disangka bahwa Karin melakukan tingkah yang sangat lucu seperti ini. Ia pun bergegas melangkahkan kakinya menyusul Karin. Lalu, mereka secara bersama-sama bergegas menuju kantin rumah sakit untuk sarapan bersama.
Sesampainya di kantin, Eiden dan Karin langsung memesan makanan.
Sambil menunggu pesanan mereka tiba, mereka sempat berbincang-bincang. Bahkan, Karin juga sempat bertanya kepada Eiden tentang kerjasama pemotretan antara mereka.
Tidak lama kemudian, pesanan mereka pun tiba.
“Silahkan, dinikmati.” Ujar pelayan yang mengantarkan pesanan mereka.
Lalu tanpa menunggu waktu lama, mereka langsung menyantapnya dengan sangat lahap.
...----------------...
Setelah mereka selesai sarapan di kantin, Karin kembali ke ruang perawatannya. Sementara Eiden, sedang menjawab telepon dari seseorang di tempat lain.
Karin perlahan duduk di sofa, untuk lanjut membaca kontrak kerjasamanya dengan Eiden.
Ia membacanya dengan sangat teliti dan berhati-hati.
“Wah, apakah kak Eiden tidak salah menulis nominal bayaranku di dalam kontrak ini?” Tanyanya, sambil melotot dan mendekatkan surat kontrak itu ke matanya.
‘Setelah pemotretan dengan 3 tema selesai, Karin berhak menerima penghasilan sebesar 500.000.000’ keterangan yang tertulis di dalam kontrak.
“Bayaran di dalam kontrak apa maksudmu?” Terdengar suara seseorang dari arah pintu ruangan.
Segera saja, Karin memalingkan pandangannya ke arah pintu.
“Le-“
“Le-“
“Le-“ Ujar Karin tergagap.
“Le apa? Lele? Kau pikir aku ikan lele?”
“Leon.” Ucap Karin, dengan mata melotot dan ekspresinya seraya melihat setan sambil menunjuk ke arah seseorang itu.
“Kenapa kau sangat terkejut saat melihatku?” Tanya Leon dengan tatapan mata yang sangat sinis.
Lalu, ia melangkahkan kakinya secara perlahan untuk menghampiri Karin.
“Berkas apa yang ada di tanganmu itu?” Tanya Leon yang matanya jelalatan, melihat ke arah berkas yang di tangan Karin.
Karin melirik ke arah berkas yang ada di tangannya, dengan wajah yang terlihat sangat gugup. Lalu, ia bergegas menyembunyikan berkas itu dibalik badannya.
“Bukan apa-apa, ini bukanlah urusanmu.”
“Jangan lupa, kau masih menjadi tunanganku.” Ujar Leon, menegaskan kalimatnya di depan wajah Karin.
Karin berkeringat gugup, sambil menelan ludah.
“Jaga batasanmu.” Sahut Karin memberanikan diri, ia juga mendorong Leon menjauh dari dirinya.
“Heem?” Gumam Leon, melengkungkan sebagian bibirnya sambil menatap tajam ke arah Karin.
“Mau apa kau datang ke sini?”
“Kau pikir aku mau apa? Ya jelas mau menjenguk tunanganku.”
Leon memalingkan tubuhnya dan melihat ke seluruh ruangan kamar pasien itu.
“Apakah kau merasa nyaman?” Tanya Leon, dengan nada bicara yang terdengar sedikit aneh. Sambil melihat-lihat ke seluruh ruangan kamar itu.
“Apa maksudmu?”
Lalu, Leon memalingkan pandangannya ke arah Karin.
“Berselingkuh dengan seorang dokter.” Ujarnya dengan tatapan mata yang buas.
Karin merasakan suasana yang mencekam, Leon terlihat seperti seseorang yang sangat buat dan juga angkuh.
“Omong kosong.” Sahut Karin, sambil perlahan menelan ludah.
Perlahan Leon mengarahkan tubuhnya, untuk duduk di samping Karin.
“Bermalam di rumah lamamu bersama pria asing, tertawa dan bercanda. Hingga akhirnya menginap beberapa hari di rumah sakit ini, bukankah kau merasa nyaman?” Ucap Leon, sambil menyandarkan punggungnya ke sofa dan meregangkan kedua lengannya di sandaran sofa.
“Tidak waras! Atas dasar apa kau menuduhku seperti itu?”
“Aku tidak menuduhmu, aku melihatnya secara langsung.” Sahut Leon.
Karin merasa, jika Leon telah menghina dirinya dengan kalimat Leon yang mengatakan bahwa dirinya bermalam dengan pria asing. Sontak saja, ia mengerutkan dahi dan menggertakkan gigi sambil menatap tajam ke arah wajah Leon.
“Jangan mencampuri urusanku!”
“Hey jaga sikapmu, kau adalah tunanganku.” Ujar Leon, menunjukkan jari telunjuknya ke arah wajah Karin.
Merasa tertekan, Karin langsung menghempaskan tangan Leon yang menunjuk dirinya.
“Bukankah, dirimu yang beberapa hari bersama wanita lain?” Tanya Karin, tertawa kecil sambil menatap ke arah Leon.
“Dengar, aku sudah menyelesaikan pekerjaanku untuk merevisi kontrak kerjasama perusahaanmu dengan perusahaan Presdir Chand.”
“Selain itu, kontrak pertunangan antara kita akan segera berakhir.”
“Jadi, urusan kita akan segera selesai!” Ujar Karin, dengan merasa sangat kesal kepada Leon.
“Heh.” Leon tertawa kecil, ia memalingkan wajahnya sejenak ke arah lain.
“Sungguh naifnya dirimu.” Ujarnya, sambil menatap ke arah Karin kembali dengan sangat tajam.
“Bukankah Mama sudah memberitahumu lebih dulu, bahwa pernikahan kita akan ditunda selama 2 bulan ke depan?”
“Eh?” Karin terkejut, dengan apa yang dikatakan Leon barusan.
“Bukankah kita sudah menandatangani kontrak yang telah kita buat?”
“Perjanjian nomor 37 pada kontrak. Menerangkan bahwa, kedua belah pihak setuju untuk terjalin status hubungan pertunangan demi sebuah alasan. Hingga akan tiba acara pernikahan.” Ujar Leon, sambil mengeluarkan sebuah berkas dari dalam jasnya.
Karin hanya melongo, seperti orang dungu.
“Tanda tanganilah, kontrak akan di perpanjang untuk 2 bulan ke depan.” Ujar Leon, memberikan berkas itu dan sebuah pena kepada Karin.
“Apa yang ia katakan memang benar, semua perjanjian itu sangat jelas tertuai di dalam kontrak.”
“Sebelumnya, antara kita jelas tidak ada yang menyangka bahwa semua malah menjadi seperti ini.” Ujar Karin dalam hati, sambil memandangi berkas yang diberikan oleh Leon.
“Sudahlah, aku juga tidak tahu mengapa semua bisa terjadi.” Ujar Leon, berusaha menyadarkan Karin dari renungannya sendiri.
“Kau tenang saja, syarat dalam kontrak tidak akan berubah. Aku juga tidak akan mencampuri urusanmu.” Ujar Leon.
“Hem, rasanya aku ingin cepat-cepat keluar dari penjara yang kau buat!” Sahut Karin, yang tanpa basa-basi mengambil pena untuk menandatangani kontrak mereka yang akan diperpanjang selama 2 bulan ke depan.